ABUL FADHL ABBAS : KSATRIA TANPA TANGANNYA


Oleh Candiki Repantu

abbas3Pada 4 Sya’ban 26 H, Imam Ali as mendapatkan seorang putra lagi yang juga kelak menjadi tumpuan keluarga Nabi. Itulah Abul Fadhl Abbas, sang Purnama Bani Hasyim, dari rahimnya Ummul Banin. Seolah telah ditakdirkan untuk selalu menjadi pendamping al-Husain. Bayangkan, ia dilahirkan pada bulan yang sama, dengan tangal yang hanya berbeda satu hari dari Imam Husain, dan wafatnya pada tanggal yang sama dengan al-Husain di tempat yang sama pula. Abul Fadhl Abbas, adalah simbol pendamping setia Sayidus Syuhada.

Ketika Imam Ali diberitahukan tentang kelahiran putra Ummul Banin ini, beliau segera kembali ke rumahnya dan diliputi rasa gembira. Ia mendekap sang bayi, mengumandangkan azan dan ikamah di telinganya. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, dan keberkahan kelahiran putranya, Imam Ali memberikan sedekah kepada kaum papa. Tak bosan Imam Ali memandangi wajah sang bayi. Ia melihat jiwa tangguh pemberani dan semangat yang utuh pada diri putranya ini. Abbas itulah nama yang pantas, pikirnya.

Abbas artinya singa, yang membuat takut setiap orang yang menghadapinya. Ayahnya juga adalah singa (Haidar) yang membuat gentar setiap lawan-lawanya. Ia mendapatkan kemuliaan di asuh oleh tiga imam, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain. Sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat fisiknya, tinggi akalnya, dan bersih jiwanya. Limpahan kemuliaan para imam, menjadikannya sebagai manusia pilih tanding di medan laga, dan pilih sanding di pengabdian agama. hidupnya begitu mulia dengan banyak ibadah, dan matinya juga mulia dengan menggapai syahadah.

Imam Ali Zainal Abidin, yang merupakan saksi karbala, bertutur tentang pamannya ini, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi membela saudaranya sehingga kedua tangannya tertebas. Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib. kedudukannya yang khusus inilah yang membuat iri para syuhada lainnya.”

Imam Ja’far Shadiq, sangat memuji pengorbanan Abul Fadl Abbas, “Pamanku Abbas bin Ali” kata Imam Ja’far suatu hari, “Memiliki penglihatan yang tajam dan iman yang menjulang. Ia tetap setia bersama Abu Abdillah (al-Husein) dan berjuang disampingnya, hingga ia menggapai syahadah yang sempurna. Pada kesempatan lainnya, Imam Ja’far menyampaikan salam kepadanya dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah dan para malaikat-Nya. Salam sejahtera bagi para nabi dan orang-orang saleh. Salam bagi seluruh syuhada dan orang-orang yang jujur. Salam sejahtera bagi Abbas bin Ali bin Abi Talib.”

Jadi, Imam Ali, Imam Hasan, dan juga Imam Husein mengetahui dengan jelas kemuliaan diri putra Ummul Banin ini, karena itu mereka dengan sepenuh hati mendidiknya. Dan Abul Fadhl Abbas juga tak menyia-nyiakan kebersamaannya dengan para imam mulia ini. Setiap ajaran mereka diserapnya dan diterapkannya, setiap perintah mereka dilaksanakannya, dan setiap amanat mereka ditunaikannya, inilah yang mengantarkannya pada derajat manusia sempurna.

Abul Fadhl Abbas sangat menghormati Imamnya. Suatu hal yang mengesankan, walaupun Imam Husian adalah saudaranya, tetapi Abul Fadhl Abbas, tak pernah memanggil al-Husain dengan panggilan kakak. Ia selalu memanggil al-Husain dengan sebutan Imam. Ia memang sangat bersyukur menjadi saudara sedarahnya Imam Husian as, tetapi ia juga merasa dirinya tak layak disandingkan dengan Imam Husain as. Konon ibunya, Ummul Banin, pernah mengingatkannya, “Wahai Abbas, engkau memang putranya Ali, saudara Hasan dan Husain, tetapi ingatlah engkau bukan putranya Sayidah Fatimah”. Ummul Banin menyadari bahwa dirinya bukanlah sebanding dengan Sayidah Fatimah, walaupun punya kedudukan yang sama sebagai istrinya Imam Ali.

Dengan penghormatannya yang tinggi itu, membuat Abbas mendudukkan dirinya pada posisi budak di hadapan tuannya. Tak pernah luput sekalipun ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikatakan, setiap keluarga Imam Husian meminta sesuatu, maka Abbas pasti mengabulkannya. Tak pernah sekalipun ia gagal membawakan hajat yang diinginkan keluarga imamnya. Hanya satu kali seumur hidupnya, ia gagal memenuhi permintaan keluarga imamnya, yaitu ketika Sukainah, dalam kehausan yang tiada tara, memintanya untuk mengambil air untuk membasahi tenggorokan mereka yang terbakar dahaga. Abbas meneteskan air matanya melihat permata Husain merana, dilanda dahaga di pinggir sunggai Efrat yang melimpah airnya. Ketika kuda-kuda bahkan anjing sekalipun dibiarkan meminum air sungai, namun keluarga Nabi dibiarkan kehausan hingga tubuh terkulai, sungguh manusia-manusia durjana yang biadab, tapi masih mau mengaku umatnya Muhammad.

Abbas tak mampu menahan haru, dengan izin imamnya, ia hentak kudanya menuju sungai Efrat dengan satu tekad, mengambil air untuk keluarga Muhammad. Tak perduli banyaknya musuh yang mengarahkan panah, tombak dan pedang kepadanya. Ia tunjukkan keahlian perangnya. Ia mengamuk bagai banteng ketaton memporak-porandakan barisan musuh yang berusaha menghadang. Setiap ia menggerakkan pedang, terdengarlah suara jeritan, disertai tubuh yang jatuh telentang. Usaha gigihnya tak sia-sia, musuh tak mampu menghadangnya, sampailah ia di pinggir sungai Efrat. Napas memburu, tenggorokan naik-turun melihat air bening mengalir tenang. Terbersit di hatinya, ingin meneguk air untuk membasahi kerongkongannya, tetapi benaknya diliputi wajah-wajah mulia Imam Husian dan putra-putrinya. Tak layak pikirnya, ia meneguk air menghilangkan dahaga, sementara sang Imam dan keluarganya, menanti dalam kehausan yang mendera.

Dengan segera ia mengisi kantong-kantong airnya, kembali menaiki kudanya menuju tenda tempat Sukainah menunggunya. Tapi, pasukan musuh sudah mengepungnya, tak memberi jalan bagi Abbas untuk melewatinya, tanpa perjuangan bersenjata. Abbas mengikat kantong-kantong air ditubuhnya. Dengan pedang di tangan kanan, ia menyongsong pasukan musuh yang beringas ingin membunuhnya. Tak kenal kasihan, ratusan tombak dan pedang digunakan untuk menghadang Abul Fadhl Abbas yang hanya sendirian. Hingga sebuah pedang berhasil menebas lengan Abbas yang sebelah kanan. Tangan kanan itu jatuh terpental, dan darah pun bertebaran, Abul Fadhl Abbas meringis menahan sakit, “Demi Allah!” kata Abbas, “Biarpun tangan kananku buntung, aku takkan berhenti bertarung, akan kubela al-Husain dengan tangan kiriku,,, Apalah arti sepotong tanganku untuk membela agama kakekku, karena aku telah serahkan jiwa demi tegaknya agama.”

Abbas terus berperang di tengah derasnya anak-anak panah yang dilontarkan,,,Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan pedang kembali menghantam, menebas tangan kirinya. Abbas mengerang, sakit mendera sekujur tubuhnya. Kegesitannya menghilang, keseimbangannya tak bisa dipertahankan. Abbas tetap berada di atas kudanya dalam keadaan putus kedua tangannya, darah melumuri bajunya, matanya hanya mampu menatap wajah-wajah durjana di sekitarnya. Ia masih berpikir, memperhatikan jalan keluar agar dapat mengantarkan kantong air kepada keluarga Imamnya, tapi apa nak dikata, sebatang anak panah mengenai matanya, luka merekah menebarkan banyak darah, tubuhnya tak mampu lagi bertahan di atas kudanya, ia jatuh tersungkur bebas, karena tak ada lagi tangan yang bisa menopangnya

Wajah Abbas yang berlumuran darah, semakin dilanda kalut dan sedih melihat kantong air putus dan airnya terbuang sia-sia di padang pasir karbala, ia meradang karena tak berhasil memenuhi permintaan keponakannya, Sukainah dan Atikah. Di sisa-sisa tenaganya, ia hanya mampu berteriak, “wahai Imam, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.”

Teriakannya sampai ditelinga al-Husian, al-Husain bergegas menyongsong Abbas, matanya menatap setiap mayat yang yang berserakan. Di manakah Abbas? Imam memperhatikan kesana-kemari, ia melihat sosok tubuh mengerang, semakin dekat semakin terlihat, itulah Abbas, “Abbas saudaraku, apa yang mereka lakukan terhadapmu?” kata al-Husain. Imam mengangkat kepala Abbas, meletakkannya di pangkuannya, tetapi Abbas menggeser kepalanya, meletakkan kembali di padang pasir Karbala. Imam mengangkat dan meletakkan kembali dipangkuannya, “Wahai Imam” kata Abbas, “aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak ada seorang pun yang memangku kepalamu, karena itu aku merasa lebih baik jika kepalaku tetap di atas pasir saat ajal menjemputku. Lagi pula, aku adalah hambamu dan engkau adalah imamku. Tak pantas bagiku meletakkan kepala dipangkuanmu”. Imam Husain tak mampu menahan haru, air mata menetes deras mengharu biru.

“Wahai Imam!”, lanjut Abbas, “waktu aku dilahrikan wajahmulah yang kupandang, maka diakhir hidupku ini, aku juga hanya ingin memandang wajahmu, namun, satu mataku tertusuk anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah. Tanganku sudah tiada, aku mohon padamu untuk membersihkan darah dari sebelah mataku agar aku dapat menatap wajahmu.” Tetesan air mata al-Husain semakin deras

“Wahai Imam!” kata Abbas lagi, “Aku masih ada permohonan padamu. Jika aku wafat, aku tidak ingin jenazahku dibawa ke tenda, karena aku telah berjanji pada Sukainah untuk membawa air kepadanya, tapi aku gagal, aku malu menemuinya sekalipun hanya jasadku saja, begitu pula janganlah engkau bawa Sukainah kemari untuk melihat keadaanku. Karena aku khawatir dirinya tak mampu menahan duka melihat tubuhku seperti ini. Jadi biarkanlah jasadku terbaring sendiri di sini.”

Imam Husian tak mampu berkata apapun, hanya air mata yg berderai, ia bersihkan darah dari wajah Abbas, untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Kedua saudara ini saling pandang, Imam Husain kemudian berkata, “Wahai Abbas!, aku juga punya permintaan padamu, sejak kanak-kanak, engkau selalu memanggilku imam, maka diakhir hayatmu ini, aku ingin sekali saja engkau memanggilku kakak.”

Abbas memandang Imam Husain, tubuhnya dan suaranyapun lemah, bibirnya berusaha membuka, imam Husian mendekatkan wajahnya, ia mendengar desahan lirih Abbas, “kakakku, kakakku!”, itulah kata terakhir yang mampu dikatakannya! Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Inilah kisah dua saudara, lahir ditanggal yang hampir sama pada bulan yang sama, dan mereguk syahadah di tempat dan waktu yang sama, mereka berdua memang ditakdirkan Tuhan sebagai pemilik simbol keberanian, kesetiaan, ketegaran, keteguhan, dan tentu saja kebenaran!

%d blogger menyukai ini: