Training Aqidah/Ushuluddin di Yayasan Islam Abu Thalib: Bab Ketuhanan Sub-bab Sarana Mengetahui Eksistensi Tuhan (2)


Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nPada kajian terdahulu kita telah membahas dan mengkaji secara kritis tentang asal mula keber-agama-an seseorang. Dimana agama tersebut sangat mempengaruhi pandangan dunianya sebagai seorang insan rasionalis. Setelah mengenal defenisi agama serta apa yang terkandung didalamnya, maka kini timbul pertanyaan, dari mana kita mengetahui adanya Tuhan/Pencipta? Melihat pertanyaan ini, umat islam terbagi kedalam dua kelompok, kelompok pertama mengatakan bahwa manusia mengetahui keberadaan Tuhan melalui Kitab Suci Al-Quran, di sisi lain terdapat kelompok yang berpedoman pada asumsi rasional, yaitu keberadaan Tuhan hanya dapat diketahui melalui akal murni (pure reason). Jika demikian adanya, kita akan memilih mana diantara kedua kelompok tersebut yang memenuhi kriteria kebenaran secara rasional. Sekarang kita lihat kepada kelompok yang berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya diperoleh melalui kitab suci. Pertanyaannya ialah manakah terlebih dahulu diyakini antara Tuhan atau kitab suci? Jika dikatakan Quran-lah yang lebih dahulu ada baru Tuhan, lantas dari mana percaya kalau Tuhan ada? Apakah dari kitab suci juga? Sementara mengetahui kitab suci didapat dari kepercayaan terhadap Tuhan terlebih dahulu. Hal tersebut tidak mampu menyelesaikan permasalahan, dan akan menyebabkan terjadinya tasalsul yaitu rentetan memanjang tiada akhir atau daur yakni rentetan berputar tiada akhir. Sebab, pendapat diatas hanya berkutat antara Kepercayaan antara Tuhan atau kitab suci yang harus didahulukan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKemudian kita lihat pendapat kedua yang mengatakan kepercayaan terhadap Tuhan hanya bersumber dari akal murni. Namun, sebelum kita menguji pendapat ini kita harus melihat terlebih dahulu sumber-sumber pengetahuan lain yang dapat dijadikan alat untuk mengetahui eksistensi Tuhan. Pertama, salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui Tuhan ialah indra. Indra yang dimiliki manusia terdiri atas lima jenis yang kerap disebut panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba. Setiap indra memiliki fungsi tersendiri dalam kerjanya, seperti mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar. Indra memiliki keterbatasan dalam menerima objek yang hendak dicapai. Sebab, ruang lingkup indra hanya terbatas pada objek material. Oleh karenanya, indra tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui keberadaan Tuhan, sebab Tuhan bersifat non-materi. Kedua, sarana selanjutnya yang dijadikan alat mengetahui kebenaran ialah hati. Hati berfungsi sebagai sarana mengetahui objek non-materi yang dilakukan melalui proses tazkiyatu an-nafs (pencucian jiwa). Karena metode pencucian jiwa membutuhkan bacaan-bacaan atau zikir-zikir khusus yang mana seluruhnya diketahui dengan mengenal Tuhan terlebih dahulu, maka tidak mungkin alat ini digunakan untuk mengetahui keberadaan Tuhan, sebab jika demikian maka akan mengakibatkan terjadinya tasalsul maupun daur. Disamping itu, hati (perasaan) hanya dapat digunakan oleh pribadi yang mengalaminya. Dan tidak boleh menghukumi orang lain dengan pengalaman yang dialaminya secara individual. Oleh karenanya proses tersebut hanya berlaku bagi orang yang berhubungan dengan hati (perasaan). Bahkan tidak mungkin seorang yang belum pernah bertemu dengan Tuhan tiba-tiba mengaku bertemu dengan-Nya, sementara tidak ada yang menjamin siapa yang dijumpainya ketika terjadi di alam perasaan. Apakah memang yang ditemuinya itu benar-benar Tuhan atau selain Tuhan? Kesimpulannya hati tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui Tuhan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKetiga, alat selanjutnya yang diajukan ialah Wahyu atau Al-Quran. Al-Quran juga tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui Tuhan, sebab kita akan bertanya dari mana datangnya Al-Quran? Siapa penciptanya? Apakah memang seluruh yang dikatakan Al-Quran itu merupakan wahyu yang bersumber dari penciptanya? Perlu dibuktikan terlebih dahulu siapa pembawa Al-Quran dan dari mana sumbernya. Jadi, lagi-lagi Al-Quran tidak dapat dijadikan bukti kuat untuk mengetahui adanya Tuhan. Selain itu Al-Quran hanya dapat dijadikan dalil hanya bagi orang Islam saja, dan tidak berlaku bagi orang diluar Islam. Keempat, sarana keempat yang hanya mungkin untuk dijadikan  sebagai alat mengetahui keberadaan Tuhan ialah akal. Akal dalam kerjanya melampaui ruang lingkup materi dan non-materi. Akal mampu mengetahui objek-objek non-materi sekalipun seperti Ruh, Jin, Malaikat bahkan Tuhan. Sebab, akal bersifat non-materi. Sehingga karena Tuhan bersifat non-materi, maka sarana untuk mengetahui-Nya haruslah yang sama yaitu akal. Hal tesebut karena akal dimiliki oleh semua manusia, tidak memandang agama apapun yang dianutnya. Sehingga dari pembahasan singkat ini satu-satunya alat yang digunakan sampai saat ini untuk mengetahui eksistensi Tuhan hanyalah akal. Bukan berarti wahyu atau hati tidak dapat dijadikan sarana, tetapi ada saatnya kedua sarana itu berfungsi dan harus digunakan. Mengenai sumber dan sarana pengetahuan ini dibahas secara lebih intens pada kajian Epistemologi.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU Sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi

%d blogger menyukai ini: