Training Aqidah/Ushuluddin di Yayasan Islam Abu Thalib: Bab Ketuhanan Sub-bab Mengenal Agama (1)


Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nAgama merupakan satu masalah yang sangat urgen dalam kehidupan manusia. Sebab, manusia yang berakal senantiasa mempergunakan akal pikirannya untuk mencari kebenaran demi menuju kesempurnaan yang abadi. Lantas, apakah agama menjamin kesempurnaan terhadap manusia? Dalam hal ini kita akan memulai pembahasan dari defenisi agama. Agama memiliki makna yang sangat beragam. Agama menurut kaidah bahasa Arab berasal dari kata “ad-din”, kata ini dapat diterjemahkan kedalam berbagai arti, diantaranya ialah ketaatan, kepasrahan, atau balasan. Ad-din dapat berarti balasan, sebab didalam agama sendiri terdapat balasan untuk kebaikan dan balasan untuk kejahatan. Balasan berbuat baik disebut pahala, sedangkan untuk kejahatan disebut dosa. Seperti perintah mendirikan shalat agar kita mendapat pahala, atau larangan terhadap perbuatan maksiat yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan dosa. Ad-din yang bermakna balasan juga terdapat didalam Al-Quran, seperti dalam ayat keempat surah Al-Fatihah yang artinya: “Tuhan yang menguasai hari pembalasan”. Ad-din pada ayat tersebut tidaklah diartikan sebagai agama, namun berubah menjadi pembalasan.

Pada dasarnya agama itu hanya berisi dua dimensi: dimensi teoritis dan dimensi praktis. Sisi teoritis agama disebut keyakinan/keimanan/akidah. Sementara sisi praktisnya disebut amalan/hukum/syari’ah. Dari seluruh defenisi agama yang diberikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa defenisi yang disepakati ialah yang terdiri dari dua aspek diatas, yakni sekumpulan keyakinan tentang pencipta alam semesta dan sekumpulan amalan yang sesuai dengan keyakinan. Jadi, teoritis agama ialah urusan keberadaan Tuhan, dan ukurannya benar/salah. Pertama, apakah kita memiliki keyakinan tentang keberadaan Tuhan? jika yakin barulah kemudian kita dapat memasuki bab penyembahan terhadap Tuhan. Seperti shalat, seseorang yang melakukan shalat hanyalah disebabkan dirinya telah yakin akan adanya Tuhan. Namun, meskipun orang tersebut yakin bahwa Tuhan itu ada, jika keyakinan tersebut tidak dibangun oleh pondasi pengetahuan yang bersifat filosofis, maka semakin lama keyakinan tersebut akan semakin pudar oleh suatu sebab tertentu. Sehingga perlu kiranya agar kita terlebih dahulu merekonstruksi keyakinan kita selama ini melalui suatu metode khusus yang disebut akidah filsafat, yakni akidah yang dilandasi paradigma filosofis, demi kokohnya bangunan keimanan seseorang didalam kehidupannya.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSisi praktis agama ialah urusan baik/buruk, jika seseorang tidak memiliki keyakinan yang baik terhadap Tuhan atau hari akhir, maka tiada gunanya beribadah. Sebab, keseluruhan ibadah itu hanya akan dilakukan jika dirinya memiliki keyakinan terhadap Tuhan dan hari pembalasan. Nah, sekarang tugas kita berikutnya ialah hendak menguji apakah Islam dapat disebut sebagai agama atau tidak melalui dua pendekatan yang dijelaskan tadi, yaitu teoritis dan praktis. Jika dilihat secara kritis dan eksplisit, maka akan ditemukan kedua dimensi asasi ini didalam agama Islam, bahwa Islam meyakini akan adanya Tuhan yang Satu, dan memerintahkan penganutnya untuk melakukan perbuatan baik, secara ritual, sosial dan intelektual. Bahkan selain Islam, terdapat banyak agama yang memenuhi kriteria diatas. Sebut saja Kristen atau Yahudi, Kristen juga meyakini bahwa adanya pencipta alam semesta, disamping itu, Kristen juga menekankan penganutnya agar berbuat baik, saling mencintai satu sama lain, dan berkorban di jalan yang benar. Yahudi memiliki keimanan terhadap Tuhan, dan memiliki hukum tersendiri bagi umatnya sebagai pedoman menuju jalan kebenaran. Bahkan Marxis juga dapat dikatakan sebagai agama, sebab Marxis juga memiliki keyakinan akan adanya pencipta, walaupun konsepsi ketuhanannya jauh berbeda dengan agama-agama diatas, juga memiliki hukum yang harus dijalankan oleh pengikutnya.

Diantara dua dimensi dasar agama tersebut, sisi teoritislah yang paling utama, sehingga posisinya sebagai pokok/prinsip dasar atau asas-asas yang dalam bahasa agama disebut Ushuluddin,. Sebab, tanpa adanya ushuluddin maka tidak akan pernah ada hukum praktis. Karena adanya hukum praktis tergantung oleh asas keyakinan/prinsip-prinsip agama, sementara hukum praktis sebagai cabangnya yang dalam bahasa agama disebut Furu’uddin (cabang-cabang agama). Jadi, ushuluddin merupakan landasan agar agama dapat diamalkan. Karenanya, ushuluddin tidak ada hubungannya dengan rukun iman, jika rukun iman dibatasi hanya sampai enam perkara saja, maka akan memberikan konsekwensi seluruh umat Muslim menjadi kafir, sebab, banyak hal yang harus diyakini tetapi tidak tergolong kedalam rukun iman, seperti iman kepada surga dan neraka, iman kepada siksa kubur, iman kepada jin/iblis, dan masih banyak lagi perkara yang harus diimani oleh setiap muslim tetapi tidak termaktub dalam doktrin rukun iman, oleh karenanya kita menyebutnya dengan Ushuluddin. Maksudnya ialah hal-hal apa saja yang menjadi prinsip dalam agama dan bersifat asasi diantara seluruh yang wajib diyakini. Jadi, adalah salah jika ada yang mengklaim kekufuran orang yang tidak menjadikan iman kepada kitab suci atau qadha dan takdir sebagai rukun imannya. Lantas kita akan menjawab bahwa ushuluddin tidak memiliki hubungan dengan rukun iman. Sebab iman kepada kitab suci atau iman kepada qadha dan takdir telah masuk kedalam divisi ushuluddin yang mana kedua hal tersebut menjadi sub-bab tertentu yang dibahas secara eksklusif. Seperti iman kepada kitab suci menjadi salah satu kajian dalam bab kenabian. Sebab, kitab suci tidak menjadi ushul dalam porsi ushuluddin, dan yang menjadi topik utamanya hanya terdiri dari lima tema sentral, yakni Ketuhanan, Kenabian, Keadilan, Imamah (kepemimpinan), dan Ma’ad (eskatologi/hari akhir). Sehingga kitab suci akan menjadi bahasan khusus pada bab kenabian, sementara qadha dan takdir termasuk kedalam bab keadilan. SAMSUNG CAMERA PICTURESKlaim “kafir” bagi yang tidak meyakini ushuluddin juga meniscayakan kekufuran bagi orang yang ingkar terhadap masalah furu’. Seperti keingkaran akan perintah shalat, puasa, zakat dan lainnya. Pada dasarnya ushuluddin tidak mengatakan kafirlah orang yang mengingkarinya, namun agama tidak mungkin dapat dijalankan jika tidak ada keyakinan dengan ushuluddin. Sebab, perkara keimanan sangat banyak, dan tidak semuanya disebutkan oleh dalil/nash secara total, baik dalam Kitab maupun hadits. Karena tema-tema keimanan sangat beragam, maka harus dicari diantaranya yang palingmendasar, dimana tidak mungkin menjalankan agama ini jika tidak meyakini perkara yang prinsipil tersebut.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU Sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi

%d blogger menyukai ini: