Peringatan Haul (Wafat)-nya Ar-Rasul SAWW.


Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nAr-Rasul saw. Dan keluarga (Ahlulbait)-nya Merupakan manusia-manusia yang paling agung dan paling mulia diantara seluruh makhluk yang diciptakan Allah swt.  Maka dari itu, kita harus mengikuti jejak hidup mereka. Bagaimana kehidupan mereka, mati mereka, bahkan kebangkitan mereka di akhirat. Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam di seantero dunia bagi yang mengaku sebagai pengikut dan pencinta Rasulullah saw. Dan Ahlulbaitnya yang suci. Mereka memperingati hari ini sebagai hari duka terbesar karena terputusnya wahyu dari umat ini yang disebabkan oleh wafatnya pembawa misi Tuhan. Banyak orang yang mengklaim bahwa para pencinta ahlul bait (baca: Syiah Imamiyah) hanya memperingati hari Syahidnya Imam Husein dan menganggap hari tersebut adalah hari termulia diantara hari-hari yang diciptakan Tuhan. Kita sebagai pencinta mereka tidaklah bersikap demikian. Sebab, semua para manusia maksumin yang dimulai dari Ar-Rasul saw. Sampai kepada Imam Mahdi Al-Muntazhar memiliki peristiwa-peristiwa penting didalam perjalanan kehidupan mereka yang mulia. Dan seluruh perisitiwa-peristiwa dan kejadian penting mereka yang tercatat didalam kitab hadits maupun riwayat para ulama ahlul bait senantiasa kita peringati setiap momennya.

Para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa hari lahir dan wafatnya Ar-Rasul jatuh pada tanggal yang sama yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal. Sementara Ulama Ahlul Bait meriwayatkan bahwa hari kelahiran dan wafatnya Rasulullah saw. berbeda. Sebab hal tersebut menjadi mustahil jika kita memperingati dua hal yang berbeda didalam satu hari yang sama. Mayoritas dari Mereka (ulama Syiah) mengatakan hari lahirnya Rasulullah saw. Jatuh pada tanggal 17 Rabiul Awal selain Syaikh Kulaini yang mengatakan tanggal 12 Rabiul Awal, oleh karenanya Imam Khomeini mengatakan bahwa mulai tanggal 12-17 Rabiul Awal merupakan hari persatuan Umat Islam sedunia.  Sementara wafatnya Rasulullah saw. Jatuh pada tanggal 28 Safar sebagaimana yang kita peringati hari Sabtu 20 Desember 2014. Sehingga kita akan mengatakan bahwa bulan Muharram-Safar merupakan bulan dukacita terbesar bagi Umat Islam, karena ada empat orang manusia suci yang wafat pada bulan tersebut.

SAMSUNG CAMERA PICTURESWafatnya Rasulullah saw. Tidak terlepas dari peristiwa penting pasca menunaikan haji Wada’ (haji terakhir) tahun kesepuluh Hijrah. Selepas menyelesaikan seluruh rukun haji, Rasulullah dan ribuan sahabat beliau saw. Kembali ke Madinah, namun di pertengahan jalan yang tidak berapa jauh dari Makkah, Ar-Rasul saw. Memerintahkan kepada para sahabat untuk berhenti di suatu tempat yang nanti akan menjadi tempat paling bersejarah khususnya bagi para pengikut Ahlul Bait. Tempat tersebut diberi nama Ghadir Khum. Ketika Rasulullah saw. Tiba di tempat itu, beliau menyuruh para sahabat yang telah melewatinya agar segera kembali, dan menyuruh orang-orang yang masih di belakang agar segera mempercepat langkah mereka.

Hari itu jatuh pada tanggal 18 Zulhijjah. Cuaca disana panasnya mencekam, padang pasir nan tandus hampir merusak telapak kaki mereka yang berdiri. Ada yang melepaskan sorbannya untuk dijadikan alas kaki, bahkan sampai melepaskan pakaian mereka demi menghindari teriknya padang pasir saat itu. Kemudian Rasulullah menyuruh beberapa orang sahabat agar membuatkan sebuah mimbar untuk beliau berdiri diatasnya. Setelah semua selesai, Rasulullah saw. Langsung berdiri dan menjadikan Imam Ali as. Berdiri di sebelah kanan beliau. Beliau berkhutbah dengan kalimat yang sangat menakjubkan, membuat semua telinga yang mendengarnya merasakan kenikmatan luar biasa, sebab hari itu merupakan hari sempurnanya agama. Namun, diantara untaian kalimat beliau, terdapat sisi paling penting untuk dijadikan hujjah bahkan hingga saat ini. Kalimat tersebut berbunyi   من كنت مولاه فهذا علىّ مولاه  yang kurang lebih maknanya : “Barangsiapa yang menjadikan Aku (Rasul) sebagai walinya, maka ini Ali sebagai walinya”. Hadits tersebut tercatat di enam kitab induk Ahlussunah, yang mana telah diriwayatkan oleh 300 orang ulama Sunni-Syiah, yang disaksikan oleh 70.000 orang sahabat, bahkan ada yang mengatakan 90.000 orang, atau 114.000 orang bahkan sampai mencapai 124.000 orang sahabat waktu itu. Oleh karenanya benarlah apa yang dikatakan oleh seorang ulama Syiah yang bernama Ayatullah Mar’Asyi didalam kitabnya Hamaseh Ghadir bahwa jika hadits Ghadir Khum tidak diterima, maka tidak ada lagi hadits yang boleh kita terima. Sebab, ke-mutawatiran hadits tersebut mengalahkan seluruh hadits yang ada.

SAMSUNG CAMERA PICTURESPeristiwa Ghadir Khum merupakan peristiwa penunjukan orang yang berhak menggantikan posisi kenabian pasca wafatnya Rasulullah saw. Hanya saja orang itu tidak disebut sebagai Nabi, namun Imam/Khalifah. Sebab, tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Muhammad saw. Oleh karenanya penunjukan Imam Ali bin Abi Thalib as. sebagai pengganti Nabi Muhammad saw. Merupakan sinyal bagi kita bahwa Rasulullah saw. Akan meninggalkan dunia ini dan menghadap  Allah swt. Untuk selama-lamanya. Setelah dua bulan pasca pengangkatan Imam Ali as. Sebagai Khalifah pengganti Rasulullah saw. Maka beliau saw. Jatuh sakit, sakitnya beliau tidaklah disebabkan oleh apapun melainkan racun yang telah meresap dan bereaksi ke seluruh pembuluh darah sehingga membuat nadi-nadinya berputusan. Racun yang telah bersarang selama tiga tahun atau setidaknya sejak terjadi perang Khaibar.

Para sahabat sebenarnya mengerti akan wafatnya Rasulullah saw. Namun, hal tersebut mereka jadikan sebagai peluang untuk melakukan konspirasi politik demi merebut kekuasaan Islam dan menjadikannya sebagai otoritas sentral demi berjalannya keinginan serta pemerintahan yang akan mereka gilir. Bahkan sebagaimana riwayat mengatakan bahwa Ibnu Abbas ra. Pernah bertanya kepada Umar bin Khattab: “Bukankah kalian tahu bahwa Ali sebagai Khalifah yang ditunjuk oleh Allah dan Rasul-Nya?” Umar dengan santai menjawab: “Benar, kami tahu itu, namun kami hendak menggilir kepemimpinan ini bukan hanya berlaku di satu suku saja. Kami mengakui bahwa Nabi berada di suku Bani Hasyim, tetapi, kepemimpinan biarlah kami yang mengaturnya (pen.)”. Perkataan Umar ini memang benar-benar terjadi, kita lihat saja siapa khalifah yang mereka angkat pasca Rasul, Abu Bakar yang berasal dari Bani Taim, Umar dari Bani Adi, dan Utsman dari Bani Umayyah.

Di sisi lain, para pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as. Tidak mengakui kepemimpinan mereka. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang disiksa, dibunuh, dibakar hidup-hidup dsb. Ketika mengalami sakaratul maut, Rasulullah saw. Tidak lupa mewasiatkan kepada umat Islam saat itu. Namun, sebagian mereka tidak setuju akan kehendak Rasulullah saw. Yang ingin menulis wasiat di atas secarik kertas, ada yang berpendapat Rasul sedang mengigau, maracau, dsb. Padahal mereka tahu ayat yang berbunyi: “Dan tidaklah apa yang diucapkannya berasal dari Hawa Nafsu, melainkan kesemuanya itu ialah wahyu yang diwahyukan.”

Perisitwa wafatnya Rasulullah saw. Setidaknya mengajarkan kita beberapa hal:

  1. Bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan maut, bahkan manusia termulia sekalipun.
  2. Mengingatkan kita sebagai seorang muslim agar menuliskan wasiat bagi para ahli waris.
  3. Mengajarkan kita untuk memilih siapa panutan pasca wafatnya Rasulullah saw. Yang mampu menuntun umat ke jalan yang benar.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi.

%d blogger menyukai ini: