Taliban dan Berpikir Sistemik*


Oleh : Dina Y. Sulaeman

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

Brzezinski: Ya. Berdasarkan catatan resmi sejarah, bantuan CIA kepada Mujahidin dimulai pada 1980, setelah tentara Soviet menginvasi Afghanistan, 24 Desember 1979. Tetapi sebenarnya, secara rahasia, yang terjadi adalah sebaliknya. Sebenarnya pada 3 Juli 1979 Presiden Carter menandatangani perintah pertama pemberian bantuan rahasia kepada pihak oposisi pemerintah Kabul [pemerintah Kabul saat itu pro-Soviet]. Dan pada hari yang sama, saya menulis memo untuk presiden, yang di dalamnya saya jelaskan pemikiran saya, bahwa pemberian bantuan ini akan memicu intervensi militer Soviet.

Jurnalis:Meskipun ada resiko tersebut, Anda menjadi penasehat dari aksi rahasia ini. Mungkin Anda sendiri memang menginginkan masuknya Soviet ke perang ini dan ingin memprovokasinya?

Brzezinski:Tidak demikian. Kami tidak mendorong Rusian untuk intervensi, tetapi kami mengetahui ada kemungkinan demikian.

Jurnalis:Dan Anda juga tidak menyesal telah mendukung para jihadis, memberi senjata dan pembinaan kepada mereka yang kemudian menjadi teroris?

Brzezinski: Mana yang paling penting bagi sejarah dunia? Taliban atau runtuhnya Imperium Soviet? Segelintir Muslim yang ‘kacau’ atau liberalisasi Eropa Tengah dan berhentinya Perang Dingin?

Tahun 2011, saya menulis artikel ‘Pendidikan Jihad ala AS‘, di situ saya ceritakan bahwa Taliban justru dibentuk, didanai, dilatih oleh CIA, ISI (Dinas Rahasia Pakistan), dan Arab Saudi. Datanya valid, bersumber dari tulisan-tulisan orang AS sendiri. Ini foto tokoh-tokoh mujahidin diundang ke Gedung Putih, bertemu Reagan:

Kini, saya temukan bukti-bukti lainnya, yang mendukung artikel tsb. Saya copas dari sini:

Buku-buku pendidikan ‘jihad’ yang disebarkan di Afghanistan ternyata dibuat AS. Washington Post, 23 Maret 2002 menulis antara lain bahwa USAID menghabiskan 51 juta dollar untuk membiayai ‘program pendidikan di Afghanistan 1984-1994’ yang dilakukan oleh Universitas Nebraska. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa utama Afghan, Dari dan Pashtun, dibuat pada tahun 1980-an dengan dana dari USAID yang dihibahkan kepada Pusat Studi Afghanistan di Universitas Nebraska.

Buku-buku yang penuh dengan gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam militan itu disuplai ke anak-anak sekolah di Afghan, sebagai bagian dari operasi rahasia untuk menumbuhkan perlawanan terhadap penjajahan Soviet.

Buku-buku utama, yang dipenuhi pembicaraan tentang jihad dan berisi gambar-gambar senjata, peluru, tentara, dan ranjau, telah dipakai dalam kurikulum sekolah di Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika ini.

Gedung Putih membela konten ‘relijius’ itu dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Islam mempengaruhi kebudayaan Afghan dan bahwa buku-buku itu “sepenuhnya sesuai dengan hukum dan kebijakan AS.” Ahli hukum mempertanyakan apakah buku-buku ini tidak melanggar konstitusi AS yang melarang penggunaan uang pajak untuk mempromosikan agama.

Pejabat USAID (United States Agency for International Development) pun berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa mereka membiarkan konten ‘Islami’ itu karena mereka khawatir para guru di Afghan akan menolak buku itu bila tidak mengandung pemikiran muslim dalam ‘dosis yang kuat’. USAID menghapus logo lembaga tersebut dari buku-buku agama itu; kata Jubir USAID, Kathryn Stratos.

Contoh isi buku matematika produk AS:

-* Jika ada 10 atheis, 5 dibunuh oleh 1 Muslim, maka sisanya = 5
-* 5 pistol + 5 pistol = 10 pistol
-* 15 peluru– 10 peluru= 5 peluru.

sumber:

http://www.informationclearinghouse.info/article39942.htm#.VDu_8CZE1eY.facebook

http://newsrescue.com/genesis-of-islamic-radicalism-the-us-textbook-project-that-taught-afghan-children-terror/#axzz3EhfTfeDI

Ini penampakan salah satu buku yang dimaksud:

textbook-jihad

Kemudian, saya pernah menulis paper, mengemukakan konsep ‘politics of fear‘, apa tujuan dan keuntungan AS dalam membacking terorisme muslim; dan ada fakta ironis yang saya temukan: jumlah muslim yang tewas akibat terorisme atas nama Islam justru jauh lebih banyak dibanding non muslim. Silahkan baca atau unduh di sini.

Jangan lewatkan juga membaca ini, untuk mengetahui kekejian AS di Pakistan (sumber datanya hasil penelitian orang akademisi AS sendiri): Drone, Lebah Jantan Pembunuh Brutal

Nah, berpikir sistemik-nya itu dimana? Ya di sini: dengan melihat konflik secara utuh, bukan parsial. Intinya begini:

Pertama, terorisme digunakan untuk politik menakut-nakuti (politics of fear). Herman and O’Sullivan (1984) menulis, terorisme telah memberikan kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer, dan ini memberikan keuntungan besar bagi industrialis perang. Selanjutnya, ketika suatu negara hancur lebur akibat perang, proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak pun akan mengisi pundi-pundi para kapitalis Barat itu.

Kalau teori ini diaplikasikan di Indonesia, agaknya cocok juga. Mengapa pemerintah seolah tenang saja melihat fenomena Al Qaida-ISIS sedemikian merajalela? Baiat-baiat ISIS dibiarkan, bahkan di kampus-kampus. Media-media takfiri pendukung ISIS dan sejenisnya, tidak ditindak. Setelah AS berkoar-koar akan memerangi ISIS di Suriah (dan ironisnya, yang dibom oleh AS di Suriah justru fasilitas-fasilitas yang merugikan pemerintah Suriah, bukan benar-benar memburu ISIS), baru pemerintah Indonesia terlihat bergerak, meski tidak terlalu kelihatan apa hasilnya. Buktinya, media-media pro perang atas nama Islam dan kelompok-kelompok Islam radikal masih bebas bersuara. Mana itu kesadaran NKRI yang sering disebut-sebut pejabat, militer, dan polisi? Analisis saya, keberadaan kelompok-kelompok Islam radikal memang sengaja dibiarkan agar ada musuh abadi, yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan untuk pengalihan isu, militerisasi, dan sejenisnya.

Kedua, catatan untuk kaum muslimin sendiri. Tak bisa lagi dipungkiri, bahwa Taliban-Al Qaida-ISIS memang ada dan melakukan teror. Memang bila ditelusuri lagi, backing di belakang Al Qaida (bahkan, yang pertama kali membentuknya dan melatihnya) adalah CIA; kasus Libya dan Syria juga semakin membuka tabir siapa sebenarnya ‘sutradara’ di balik Al Qaida. Namun, siapa yang benar-benar terjun ke lapangan? Siapa yang angkat senjata atau melakukan berbagai aksi bom bunuh diri dan pengeboman jarak jauh? Tentu saja, jelas bukan bule-bule CIA, melainkan muslim yang merasa sedang berjihad. Artinya, kaum muslimin perlu mawas diri. Perhatikan lagi, berapa banyak yang tewas, dan siapa yang lebih banyak tewas gara-gara ada sekelompok muslim yang bergabung dengan Al Qaida (dan afiliasinya), atau menyebarluaskan narasi yang pro-Al Qaida, menshare berita-berita fitnah dan kebencian dari media-media takfiri.

Dengan berpikir sistemik begini, setiap orang, (termasuk para ibu rumah tangga muslimah yang sering saya dapati dengan ‘gagah berani’ dan merasa paling ngislam dengan menyebarluaskan kebencian, mengkafir-kafirkan orang lain, melalu media sosial), semoga bisa sadar, bahwa dunia ini sudah sedemikian mengglobal. Kebencian yang terucap di Indonesia -aneh tapi nyata- bisa menjadi bahan bakar peperangan di negara-negara lain. Bahan bakar dari Taliban, Al Qaeda, ISIS, dan sejenisnya itu adalah kebencian. Bagaimana mungkin mereka bisa membantai sesadis dan sebrutal itu bila tidak ada kebencian yang sedemikian menyala-nyala dalam hati mereka? (baca analisis mengapa sedemikian banyak simpatisan kelompok Islam pro-kekerasan di sini)

Para ‘pejuang’ ISIS, Taliban, dll itu dulunya adalah anak-anak, yang tumbuh besar menjadi pembantai. Bahkan di facebook dan grup WA pun, anak-anak Indonesia (terutama dari kalangan takfiri) dengan entengnya bicara soal pemenggalan kepala ala ISIS (baca: Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian). Jadi, bila Anda benar-benar ingin mengalahkan imperium kapitalis global yang menindas kaum muslimin, berhentilah menyebarkan kebencian terhadap sesama manusia.

UPDATE: Ada yang bertanya, apa beda Taliban-Al Qaida-ISIS-Al Nusra dll? (perhatikan juga, ormas Islam mana di Indonesia yang menjadi simpatisan berbagai organisasi teror tsb)

Perbedaan hanyalah di struktur organisasi, tetapi mereka semua memiliki ideologi yang sama, yaitu Wahabisme (yang antara lain berpaham takfirisme-semua yang berbeda dianggap kafir dan layak dibunuh). Mereka saling dukung, namun juga saling berseteru. Taliban memfokuskan ‘perjuangan’-nya di wilayah Afghan-Pakistan, sementara Al Qaida di seluruh dunia. Taliban secara terbuka menyatakan mendukung agenda Al Qaeda (dan Al Qaeda yang kaya raya, menyuplai dana untuk Taliban). Kelompok-kelompok pemberontak Libya dan Suriah adalah ‘cabang’ Al Qaida. Di Suriah, mereka berseteru, satu pihak (Al Nusra) berbaiat pada Ayman Al Zawahiri, pihak lain (ISIS) berbaiat pada Al Baghaday. Meski sama-sama mengaku mujahidin, mereka saling bantai secara brutal di Suriah (dan juga membantai pihak lain, Sunni, Syiah, Kristen, Kurdi, Druze). Jadi, jangan dibingungkan oleh nama, lihat saja ideologi dan cara kerjanya. Di Indonesia, sebagian besar simpatisan jihad ala Taliban dkk masih berusaha menampilkan diri sebagai kelompok modernis dan mengaku anti kekerasan, tapi sikap mereka terhadap konflik Suriah memunculkan watak asli mereka.

*Sumber : www. https://dinasulaeman.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: