SAHABATKU, JAGALAH LISANMU (BAG 8, SELESAI)


SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 8, Selesai)

(Tanggapan Untuk Buletin Aswaja Sumut)

Oleh : Candiki Repantu

Tentang Mut’ah

  • Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Mut`ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Pengharaman kawin mut`ah banyak termaktub di dalam kitab-kitab hadits, salah satunya adalah pada Shahih Muslim.

SYI`AH : Mut`ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut`ah ini digunakan golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut`ah juga berlaku di jaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. WASPADALAH !!!!

 

Tanggapan :

# CR : Saya anjurkan untuk hati-hati dalam menuliskan sesuatu. Kalau Aswaja Sumut menuduh mut’ah adalah zina, maka Aswaja Sumut berarti menuduh para sahabat Nabi saaw itu melakukan zina. Apakah Aswaja Sumut tidak tahu bahwa para sahabat melakukan mut’ah (zina menurut Aswaja Sumut) dan lahir dari mereka anak-anak mut’ah (anak-anak zina menurut Aswaja Sumut)…??

Kemudian Aswaja Sumut menyatakan bahwa “Pengharaman kawin mut`ah banyak termaktub di dalam kitab-kitab hadits, salah satunya adalah pada Shahih Muslim”, maka saya katakan bahwa PENGHALALAN NIKAH MUT’AH JUGA BANYAK TERCANTUM DI KITAB-KITAB HADIS, TERMASUK DI SHAHIH BUKHARI DAN MUSLIM.

Nikah Mut’ah adalah pernikahan yang dipenuhi seluruh syarat2nya seperti nikah permanen (nikah daim) yang hanya saja didalam akadnya disebutkan jangka waktu tertentu. Misalnya, “saya menikah denganmu dengan mahar sekian dalam waktu sekian lama”. Nikah ini diakui sebagai salah satu model pernikahan di dalam Islam. Singkatnya, ada dua jenis pernikahan di dalam Islam. Pertama, Nikah Daim yaitu nikah tanpa jangka waktu tertentu untuk berpisah kecuali terjadi perceraian, kematian, khulu’, dan lainnya. Kedua, Nikah Mut’ah yaitu pernikahan dengan jangka waktu tertentu yg jika telah sampai waktunya maka terpisahlah dengan sendirinya kecuali kedua belah pihak berniat mempermanenkannya.

Para ulama syiah maupun sunni menyebutkan bahwa nikah mut’ah dihalalkan berdasarkan KITAB ALLAH ALQURAN (Q.S. an-Nisa : 24), SUNNAH RASULULLAH saaw, dan IJMA’ ULAMA, SERTA DIPRAKTEKKAN OLEH PARA SAHABAT DALAM BERBAGAI KESEMPATAN.

Allah berfirman :

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً

Artinya : “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban” (Q.S. an-Nisa : 24)

Q.S. an-Nisa di atas diakui oleh para ulama sebagai dalil Nikah Mut’ah, sebagamana disebutkan oleh para ahli tafsir, seperti at-Thabari, Qurthubi, As-Syuyuthi, Al-Jashhash; dan lainnya. at-Thabari misalnya dalam Tafsirnya dengan sanad dari Ibnu Mutsanna, dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Abi Maslamah, dari Abi Nadhrah yang berkata : “aku membacakan ayat ini kepada Ibnu Abbas “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka”, maka Ibnu bbas berkata, “sampai jangka waktu tertentu”. Aku berkata “aku tidak membacanya seperti itu”. Ibnu Abbas berkata “Demi Allah, seperti itulah wahyunya diturunkan Allah”. Ibnu Abbas mengucapkannya tiga kali. (lihat juga Mustadrak Al-Hakim juz 2 no 3192 dan Ibnu Abi Dawud dalam Al-Masahif no 185).

Diriwayatkan juga kalau Ubay bin Kaab, Said bin Jubair, Ibnu Mas’ud, Imran Bin Husain, dan lainnya memahami ayat tersebut sebagai nikah dengan jangka waktu tertentu (nikah mut’ah), yaitu dengan makna “ila ajalin musamma” (sampai jangka waktu tertentu). Ayat ini juga diakui sebagai ayat mut’ah oleh thabi’in seperti Mujahid, As-Suddiy dan Al-Hakam bin Utaibah, Hubaib bin Abi Tsabit, dan lainnya, serta para ahli tafsir baik sunni maupun syiah menyatakan bahwa tersebut berhubungan dengan nikah mut’ah.

Imam Bukhari dalam shahihnya no. 4518 (senada dgn itu Imam Muslim no 1226) meriwayatkan dari Imran bin Husain yang berkata, “Diturunkan ayat tentang mut’ah dalam kitab Allah, dan kami melakukannya sewaktu bersama rasulullah saaw dan tidak tidak ada ayat Alquran yang diturunkan untuk mengharamkan dan melarangnya sampai Rasul saaw wafat,  sampai seseorang berpendapat menurut keinginannya” (yang dimaksud dengan seseorang itu adalah Umar bin Khattab).”

Memang benar bahwa para ulama syiah mengindikasikan bahwa yg pernah mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bin Khattab. Hal ini disebutkn dalam berbagai hadits2 yang shahih yang diriwayatkan oleh para ulama syiah. Diantaranya adalah kritik Imam Ali as bahwa Umar lah yang mengharamkan mut’ah :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَقُولُ كَانَ عَلِيٌّ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ بَنِي الْخَطَّابِ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ .

“Dari Abdillah bin Sulaiman berkata, “Aku mendengar Abu Ja’far as berkata : Ali as berkata “Seandainya mut’ah tidak dilarang oleh Ibnu Khattab, maka tidak akan ada yang berbuat zina kecuali orang yang benar-benar celaka.” (lihat Furu’ al-Kafi juz. 5, bab Mut’ah, hadits no. 2 dan Wasa’il Syiah jilid 21 hal 5 riwayat no 26357).

Tetapi, pengharaman Umar bin Khattab atas nikah mut’ah juga populer di dalam riwayat2 ahlussunnah, Bahkan kalau anda membaca kitab shahih muslim anda akan temukan cerita mut’ahnya para sahabat dan penghraman yang dilakukan Umar. Contohnya :

أبو الزبير قال سمعت جابر بن عبدالله يقول كنا نستمتع بالقبضة من التمر والدقيق الأيام على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر حتى نهى عنه عمر في شأن عمرو بن حريث

Artinya : “Abu Zubair telah berkata, ‘Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata, “kami melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan gandum pada masa Rasulullah saaw, dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya dalam kasus Amr bin Huraits.” (Lihat Shahih Muslim, jilid 2 Kitab Nikah bab Nikah Mut’ah).

Dengan demikian maka jelaslah pengharaman mut’ah dilakukan oleh Umar bin Khattab telah masyhur di dalam kitab2 sunni maupun syiah. Dan tentu saja ijtihad Umar tersebut tidak menjadi hujjah bagi syiah.

Jadi, perlu anda ketahui bahwa kehalalan mut’ah adalah hal yang disepakati, tetapi keharamannyalah yang diperdebatkan. Artinya, baik sunni maupun syiah mengakui bahwa Mut’ah itu di jaman Rasulullah saaw halal dan dikerjakan oleh para sahabat, hanya saja kemudian diperdebatkan apakah diharamkan atau tidak setelahnya…??? Tentu saja, orang yang menyatakan haramlah yang harus membuktikannya, sebab dialah menuduh bahwa kehalalannya telah di batalkan…? Adapun orang syiah tidak perlu menunjukkan dalil kehalalannya, karena hal itu sudah diakui bersama. Meskipun begitu, kaum syiah telah menyusun banyak buku dan pembuktian akan tetapnya kehalalan nikah mut’ah. Sehingga bagi syiah umumnya, keharaman mut’ah adalah ijtihad salah seorang sahabat Nabi yang kemudian diberlakukannya kepada khalayaknya. Dan tentu saja ijtihad sahabat ini bagi syiah bukanlah hujjah yang harus diikuti.

Kemudian anda menyatakan Mut’ah itu sangat dianjurkan..? Mungkin kalau istilah fikihnya Sunnah muakkadah…?? dikitab fikih syiah yang mana anda ketemu hal tersebut…? ini adalah dusta (sebaiknya Aswaja Sumut meminta maaf, kecuali telah merasa sbg org-org suci). Sesuatu yg halal bukan berarti sangat dianjurkan. Bukankah poligami adalah hal yg halal menurut Aswaja, tetapi apakah hal itu juga SANGAT DIANJURKAN menurut Aswaja Sumut..?? Mut’ah itu hukum dasarnya adalah halal dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Kemudian, dgn tendensiusnya Aswaja Sumut menyebutkan bahwa mut’ah utk mempengaruhi para pemuda masuk syiah, hanyalah khayalannya saja dan sensitifitasnya pd kaum syiah..?? Beranikah Aswaja Sumut mengatakan bahwa halalnya poligami merupakan cara agar org-org kafir masuk Islam..? Coba anda lihat pengajian-pengajian syiah, apakah mereka membahas mut’ah dan menganjurkannya. Bahkan org-org yang “keliru dalam memahami” syiahlah—seperti Aswaja Sumut ini—yang sering mengulang tuduhan ttg mut’ah sehingga penganut syiah menjawabnya, dan mengulasnya…?? Coba anda tanya orang-orang yang menjadi syiah yang sebelumnya Ahlussunnah, apakah karena mut’ah mereka masuk syiah..?? Mut’ah dihalalkan, karena itu siapa yg ingin melakukannya ya silahkan– tentu dgn sayarat-syaratnya yang ada—, dan siapa yang tidak ingin juga silahkan. Mut’ah atau tidak, bukanlah menjadi ukuran kesyiahan seseorang. Lagi pula, apa masalahnya bagi anda jika para pemuda syiah menjaga diri mereka dgn sesuatu yg dihalalkan oleh Allah swt, sedangkan di sisi lain banyak umat Islam menyalurkan hasratnya dgn cara2 yg diharamkan oleh Allah swt.

Sebaliknya bagaimana pandangan Tim Aswaja terhadap pandangan Mazhab Hanafi berikut ini : “Para ulama/ahli fikih Mazhab Hanafi berpendapat: Jika seorang pria menyewa seorang wanita untuk dizinai lalu wanita itu menerima kontrak itu, lalu ia menzinainya, maka baginya tidak ada sangsi hukum Islam (hadd). Ia hanya dita’zir sesuai yang diputuskan penguasa.” (al-Al-fiqh Mazahibul Arbaa’ah, bab al-Hudud, hal.1193)

Jadi kalimat “WASPADALAH” diakhir tulisan Aswaja Sumut, ini pd dasarnya untuk diri Aswaja Sumut sendiri, saya katakan pada Anda “Waspadalah, jangan menebar fitnah, permusuhan dan kebencian di tengah-tengah kaum muslimin. Waspadalah dari lisan dan tulisan, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah swt”. Sahabatku, Jagalah Lisanmu…!! Allahumma shalli ‘ala Muhamamd wa aali Muhammad. Demikanlah bagian akhir tanggapan utk Buletin Aswaja Sumut yg “berlagak” seperti kaum takfiri dalam menyesatkan syiah. Mohon maaf, Wassalam.  (selesai)

———————————-

%d blogger menyukai ini: