SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 6)


SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 6)

(Tangapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus  2013)

Oleh : Candiki Repantu

Tentang Kitab Rujukan dan Perubahan Alquran

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Kitab-kitab hadits yang dipergunakan sandaran dan rujukan utama adalah Kutubussittah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i. Kitab-kitab tersebut beredar di mana-mana dan dibaca oleh kaum muslimin seluruh dunia.

SYI`AH : Kitab-kitab rujukan Syiah ada empat : Al Kaafi, Al Istibshar, Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih, At-Tahdziib. Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab banyak berisi kebohongan, yang takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah.

 Tanggapan :

 # CR : Yang namanya beda mazhab ya beda rujukan. Jangankan kitab, persoalan khalifah saja sudah menunjukkan beda rujukannya, yaitu syiah mengutamakan merujuk kepada alul bait Nabi saaw, sedangkan sunni merujuk kepada semua sahabat tanpa seleksi apapun. Bahkan yang rujukannya samapun bisa beda mazhabnya, misalnya  sama-sama merujuk pada Alquran tetapi beda memahaminya. Sama-sama merujuk pada hadis yang sama, tetapi bisa berbeda memahaminya. Kemudian, saya juga heran mengapa Tim Aswaja mempersoalkan perbedaan kitab rujukan. Sebab penulisan kitab itu dapat berkembang kapan saja. Saya ambil contoh sederhana, apakah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali merujuk pad kitab2 hadits yang anda sebutkan? Apakah keempat imam mazhab sunni ini merujuk pada kitab Bukhari, Muslim, Abu daud, Turmudzi, Ibnu Majah dan an-Nasai…?? Apakah para Imam sunni ini dikatakan tidak Islam karena tidak merujuk pd kitab2 tersebut..?? Tentu saja pada dasarnya tidak ada persoalan dengan susunan kitab siapa yang digunakan, tetapi yang terpenting adalah kepada siapa rujukan itu berakhir.

Soal kitab2 syiah, Team aswaja, jangan melampaui kemampuannya dengan menyatakan bahwa kitab tersebut berisi kebohongan yang takut diketahui oleh pengikut-pengikut syiah. Datang saja anda ke Iran,  maka dengan mudah anda menemukan kitab-kitab itu diperjual belikan di toko-toko buku di sepanjang jalan di Iran yang penduduknya mayoritas syiah. Mereka tidak takut kalau orang syiah di Iran akan membacanya. Bahkan, saya saja di Medan punya keempat kitab tersebut. Terlebih lagi sudah beredar ke seluruh penjuru semesta melalui dunia maya. Jadi, anda berdusta menyatakan kitab itu tidak beredar..? Buktinya lagi, saat menyatakan syiah meyakini tahrif al-Quran anda mengutip dari kitab al-kafi. Ini saya tuliskan pernyataan Tim Aswaja di dalam buletin tersebut : “Seperti yang tertera pada Al-Kafi, juz 2, hal 634, no 27: Dari Ali bin Alhakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah AS berkata : Sesungguhnya Alquran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.”

Perhatikanlah..! Tim Aswaja Sumut menyatakan mengutip dari kitab Al-Kafi juz 2 hal.634, no.27. Pertanyaanya :

  • Benarkah Tim Aswaja mengutipnya dari kitab Al-Kafi..?? Jika memang benar, maka berarti kitab itu ada pd Tim Aswaja dan beredar. Ini berarti Tim Aswaja “berdusta” menyatakan kitabnya tidak beredar..??
  • Sebaliknya pula, jika Tim Aswaja tidak mengutipnya dari kitab al-Kafi, tetapi menyatakannya dari al-Kafi, maka Tim Aswaja juga telah “berdusta” pula..?

Jadi, Tim Aswaja menuduh kitab2 tersebut penuh kebohongan, sedangkan Tim Aswaja sendiri sedang melakukan “kebohongan” dalam tulisannya. Dalam pepatah ada istilah “maling teriak maling”, “lempar batu sembunyi tangan”.

Kalau anda beralasan karena tidak ada di toko-toko di Medan atau lainnya, maka itu hal wajar, karena penerbit dan toko buku memiliki orientasi konsumen, yang mana tidak layak menjual buku yang tidak dikonsumsi oleh konsumen yang memadai. Jangankan kitab-kitab syiah, kitab2 standar sunni saja tidak terlalu menjadi perhatian konsumen publik Indonesia utk membelinya, apalagi dgn harga yang tinggi dan berjilid-jilid. Kita semua tahu budaya baca bangsa kita..!!!

————————————————

Tentang Alquran

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Al-Quran 30 juz diyakini tetap orisinil, dan keautentikannya selalu dijaga oleh Allah sampai akhir jaman.

SYI`AH : Al-Quran yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah, sudah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah). Seperti yang tertera pada Al-Kafi, juz 2, hal 634, no 27: Dari Ali bin Alhakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah AS berkata : Sesungguhnya Alquran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.

Tanggapan :

# CR : Dalam hal ini saya bagi pada dua pembahasan, yaitu (1). Pandangan syiah tentang kemurnian Alquran; dan (2) Beberapa riwayat atau buku yg seolah-olah menisbatkan pada tahrif Alquran.

1.       Kemurnian Alquran menurut syiah

Imam Ja’far ash Shadiq as. berkata:

هو قول اللّه .. وهو الكتاب العزيز الذي لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيلٌ من حكيم حميد.

Artinya : “Dia (Alquran) adalah firman Allah… dia adalah Kitab al-Aziz yang kebatilan tidak akan datang kepadanya baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijak dan Maha Terpuji.” (Syaikh Shaduq, al-Amali: 326)

Tentang kemurnian Alquran juga telah ditegaskan oleh banyak ulama syiah dari sejak klasik dulu sampai saat ini. Di antaranya, pernyataan Syaikh shaduq (w. 381 H) tentang Alquran dalam kitab al-I’tiqadat bab 32 “I’tiqad tentang Alquran” menyatakan bahwa :

اعتقادنا في القرآن أنه كلام الله، ووحيه، وتنزيله، وقوله، وكتابه.وأنه لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه.

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله تعالى على نبيه محمد صلى الله عليه وآله وسلم هو ما بين الدفتين، وهو ما في أيدي الناس، ليس بأكثر من ذلك، ومبلغ سوره عند الناس مائة وأربع عشرة سورة....ومن نسب إلينا أنا نقول إنه أكثر من ذلك فهو كاذب. 

Akidah kami tentang Alquran sesungguhnya dia adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, tanzil-Nya, firman-Nya, dan kitab-Nya. Dan sesunguhnya, dia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun dari belakang…. akidah kami, sesungguhnya Alquran yang diturunkan Allah ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad saaaw adalah yang ada pada dua sampul, dan dia ada di antara manusia, tidaklah lebih banyak dari itu. Dan sampai surat di sisi manusia adalah 114 surat… dan siapa yang menisbatkan kepada kami lebih dari itu, maka dia berdusta.”

Syeikh Mufid (w.413 H) dalam Awail al-Maqalat : 55 juga dengan tegas menyatakan bahwa :

وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة

Jamaah imamiyah berpendapat Alquran tidak berkurang walaupun satu kalimat, satau ayat atau satu surah.” 

Syaikh al-Tusi (w. 460H) dalam pembukaan tafsirnya al-Tibyan jilid 1 hal. 3, menegaskan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa Alquran itu bertambah atau berkurang adalah tidak layak dan batil. (al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, I, hlm.3).

(وأما الكلام في زيادته ونقصانه فمما لايليق به ايضا، لان الزيادة فيه مجمع على بطلانها والنقصان منه)

Begitu pula At-Tabarsyi dalam tafsirnya Majma’ al-Bayan jilid 1 pada muqaddimah bagian kelima menjelaskan persoalan tahrif Alquran dengan megutip pendapat Syarif al-Murtadha serta menyimpulkan bahwa Alquran tetap terjaga, tersusun dengan rapi dan tidak mungkin terjadi penambahan  ataupun pengurangan. Dan riwayat-riwayat yang menyatakan adanya pengurangan adalah batil dan tidak dapat dibenarkan.

Begitu pula Syarafudin al-Musawi (w. 1377 H/ 1957 M) pengarang Buku Dialog Sunnah-Syiah yang terkenal itu, di dalam kitabnya yang lain, al-Fushul al-Muhimmah fi Ta’lif al-Ummah yang diterjemahkan ke Indonesia dengan judul “Ikhtilaf Sunnah Syiah”, 1989, hal.192, mengatakan : “al-Quran al-Hakim yang tiada tersenuth oleh kebatilan dari depan maupun dari belakangnya ialah seperti yang tercantum dalam mushaf yang sekarang beredar dan dimiliki oleh kaum muslimin, tidak lebih satu huruf dan tidak pula kurang satu huruf. Tidak ada pergantian atau perubahan kata dengan kata lainnya, atau huruf dengan huruf lainnya. Setiap huruf diantara huruf-hurufnya sampai kepada kita secara mutawatir pada setiap generasi, secara pasti dan qat’iy, terus menerus secara bersinambungan, dari masa wahyu dan nubuwah sampai masa kita sekarang.”

Demikian juga para penafsir dan ulama kotemporer syiah, seperti al-Allamah Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan dan Sayid al-Khu’i dalam Tafsir al-Quran al-‘Azim, Syaikh Nasir Makarim Sirazi dalam Tafsir al-Amsal, Baqir Hakim dalam Ulumul Quran, Ayatullah Hadi Ma’rifat dalam sejarah Alquran, dan lain-lainnya menegaskan bahwa al-Quran adalah murni dan tidak ada penyelewengan di dalamnya.

2. Beberapa riwayat atau buku yg seolah-olah menisbatkan pada tahrif Alquran.

Adapun tentang hadits 17.000 ayat yang anda bawakan, maka perlu anda ketahui Syaikh al-Kulaini memasukkan hadits di atas (no. 28 bukan no. 27) dalam bab an-Nawadir, yang berarti hadits-hadits yang janggal dan perlu penakwilan. Karena itu, Syaikh Shaduq dalam menjelaskan hadits ini menyebutkan bahwa :

بل نقول: إنه قد نزل الوحي الذي ليس بقرآن، ما لو جمع إلى القرآن لكان  

 مبلغه مقدار سبعة عشر ألف آية

Kami katakan, sesungguhnya diturunkan wahyu yang bukan Alquran, yang seandainya dikumpulkan mencapai 17.000 ayat lebih”.

Jadi 17 ribu ayat yang diturunkan itu bukanlah semuanya ayat Alquran, tetapi disertai takwilnya. Sederhananya ulama syiah tdk meyakini tahrif al-quran yaitu pengurangan atau penambahan pd ayat2 al-quran. Kalau ada waktu dan merasa perlu, Tim Aswaja bisa datangi aja rumah org syiah, cek alqurannya, beda atau sama dgn al-quran anda. Atau  datangi qari-qari Medan yg menginternasional dan pernah ke Iran tanya sama mereka ttg qari Iran dan para hafidz Iran yang syiah, beda gak ayat alqurannya..! Bahkan Sayid Thabathabai yang beberapa waktu lalu sempat menggemparkan dunia karena telah hapal Alquran sejak usia 5 tahun serta bisa menggunakan bahasa isyarat, diuji hapalan Alqurannya di negara-negara sunni dan oleh ulama-ulama sunni yg akhirnya mendapatkan gelar Doktor termuda di dunia.

Adapun di riwayat-riwayat sunni juga sangat banyak menunjukkan “perubahan Alquran”. Misalnya As-Syuyuthi di dalam ad-Dur al-Mansur menyebutkan riwayat dari Umar bin Khattab menyatakan bahwa Rasul berabda Alquran terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu (1.027.000) huruf.

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ،

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf…”

Perhatikan riwayat tersebut menyebutkan Alquran lebih dari sejuta huruf. Padahal Alquran yang ada sekarang ini hanya berjumlah sekitar tiga ratus ribu huruf lebih. Tapi hal itu tidak bisa dijadikan bukti utk menuduh sunni mempercayai tahrif Alquran. Apapun penjelasan ulama sunni ttg hal itu kita hanya terima dengan tanpa masalah. Yang ingin saya katakan bahwa, baik sunni maupun syiah memiliki sederetan riwayat-riwayat yang seolah-olah mengindikasikan perubahan Alquran, tetapi hal itu tidak bisa dituduhkan bahwa itulah keyakinan sunni maupun syiah. Sebab keduanya sepakat Alquran terjaga sampai kiamat. Disini lagi2 terdapat titik temu dan persamaan antara sunni dan syiah.

——————-

  • Team Aswaja Menulis : Padahal umat Islam seluruh dunia meyakini bahwa Kitab Suci Alquran milik umat Islam yang beredar sejak jaman para shahabat Nabi hingga saat ini, menurut pendapat termasyhur adalah berjumlah 6.666 ayat. Berarti Alquran Versi Syiah itu tiga kali lipat dari Alquran kitab suci umat Islam. Keyakinan mereka terhadap tahriiful Quran ini juga dibukukan pada kitab Syiah berjudul Fashlul khithaab fii tahriifi kitaabi rabbil arbaab.

Tanggapan :

# CR : Bolehkah Saya meminta Team Aswaja untuk menunjukkan cetakan Alquran anda yang ayatnya berjumlah 6666 ayat. Atau, sebutkan saja identitas Alqurannya, cetakan mana, tahun berapa, penerbitnya siapa, dimana diterbitkan, dll. Biar saya cari Alquran tersebut, dan kita buktikan apakah jumlah ayat Alquran yang dicetak itu mencapai 6666 ayat atau tidak…?? Jika tidak seperti itu jumlahnya, apakah anda mau saya tuduh telah memalsukan Alquran dan mengakui tahrifnya…??? Saya juga mau tahu, siapa ulama yang menghitung jumlah ayat Alquran itu 6666 ayat..?? Apakah ulama lain yang berbeda jumlah hitungannya berarti ia mengakui tahrif..???

Saya pribadi, sampai detik ini, memiliki beberapa versi cetakan Alquran dalam maupun luar negeri dan menghitungnya, belum menemukan jumlah ayatnya yang 6666 ayat…?? Tapi saya tidak ingin menuduh macam-macam terhadap para pencetak Alquran. Karena itu agar Team Aswaja Sumut tidak tertuduh pula sebagai orang yang memalsukan Alquran, silahkan hadirkan cetakan Alquran yang berisi 6666 ayat milik Aswaja Sumut.

Untuk kitab Fashlul Khitab, Agha Buzurk Tehrani yang merupakan murid dari penulis kitab tersebut yakni Mirza Husain Nuri, telah menjelaskan bahwa kitab itu bukan untuk menunjukkan tahrif Alquran, tetapi sebaliknya untuk menunjukkan keasliannya. Karena itu di dalam kitab tersebut di bahas riwayat-riwayat dari sunni maupun dari syiah yang menggambarkan seolah-olah terjadinya tahrif Alquran. Agha Buzurk Tehrani menceriatkan bahwa Mirza Husein Nuri berkata :

“Saya telah keliru dalam memberikan judul kitab tersebut. seharausnya kitab tersebut saya beri judl “Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab”, sebab dalam kitab tersebut saya telah membuktikan bahwa kitab suci Islam yaitu Alquran al-Karim, yang ada di antara dua sisi, yang telah tersebar di seluruh dunia adalah wahyu ilahi dengan semua surat, ayat dan kalimatnya. Tidak ada perubahan, penambahan atau pengurangan yang terjadi padanya sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Alquran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang sangat meyakinkan. Demikian pula saya telah melalaikan penjelasan yang tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut sehingga banyak kritikan dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan saya, karena kelalaian, telah menegaskan yang sebaliknya. Saya memberikan isyarat kepada tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab yang penting ialah timbulnya keyakinan bahwa tidak ada (ayat atau Alquran) yang lain selain yang terkumpul di antara dua sisi ini. Sebagaimana kami menukil permasalahan ini dari syaikh Mufid pada halaman 36. Keyakinan tidak ada yang lain ini tergantung pada penghapusan kemungkinan-kemungkinan aqliy yang enam. Kemudian masih ada satu lagi kemungkinan tersebut yang saya tinggalkan bagi siapa saja yang bersedia untuk meneliti dengan lebih mendalam dengan tanda-tanda dan dalil-dalil yang saya bawakan.”

Silahkan Tim Aswaja, jika rajin baca kembali kitab Fashlul Khitab tersebut dan poin-poin yang dibahas beliau dengan teliti. Selamat mengkaji..!! (bersambung)

%d blogger menyukai ini: