SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…(BAG 3)


SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 3)

 (Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17 Agustus 2013)

 Oleh : Candiki Repantu

TENTANG RUKUN IMAN DAN SYAHADAT

  • Team Aswaja menulis : Perbedaan aqidah/keyakinan umat islam dengan ajaran Syiah Imamiyah bisa kita lihat sebagai berikut : Rukun Iman bagi Umat Islam ada 6 yaitu : (1). Beriman kepada Allah; (2) Beriman kepada para malaikat; (3). Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul; (4). Beriman kepada para rasul; (5). Beriman kepada hari qiyamat; (6). Beriman kepada qadha` dan qadar, baik-buruknya dari Allah. Rukun Iman versi Syiah ada 5 : (1). Attauhid (keesaan Allah); (2). Annubuwwah (kenabian); (3). Al-imamah (pengganti Nabi Muhammad adalah 12 imam Syiah); (4). Al-adl (keadilan Allah); (5). Al-ma`ad (hari qiyamat).

Tanggapan :

# CR : Saya rasa tidak masalah dengan rukun Iman masing-masing mazhab. Walaupun mungkin kurang tepat disebut rukun iman dalam versi syiah, mereka lebih menyebutnya sebagai ushuluddin—dasar beragama yang dengan meyakininya agama akan diamalkan. Perlu diketahui pd dasarnya penyusunan rukun iman (ushuluddin) ini bersifat ijtihad, sehingga terdapat perbedaan di kalangan kaum muslimin. Benar bahwa ada nas-nas yang menyebutkannya, tetapi hal itu adalah konfirmasi akal dan wahyu yang kemudian di susun ulama sesuai dengan tingkat prioritasnya. Adakah yang salah dengan rukun iman syiah tersebut? Apakah kaum syiah yang meyakini lima rukun itu menyebabkannya menjadi “kafir”? Coba anda sebutkan diantara kelima rukun itu yg membuat syiah sesat dan kafir?

Mari kita  skemakan agar bisa dipahami dengan mudah. Dari komposisi di atas, maka terdapat tiga kesamaan rukun imannya secara lahir yaitu : Iman Kepada Allah, Imam kepada Kenabian, dan Iman Kepada Hari Kebangkitan. Inilah ushul Islam (dasar agama Islam) yang fundamental. Kemudian sunni menambahkan tiga lagi, yaitu iman kepada Malaikat, Kitab dan qadha-qadar. Apakah syiah tidak meyakini ketiga hal tersebut? Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa memahaminya dengan baik. Syiah meyakini keimanan pd malaikat dan kitab, hanya saja kedua hal itu dimasukkan dalam bab “Kenabian (Nubuwah)”. Karena kenabian itu menerima wahyu melalui malaikat. Jadi meskipun tidak disebutkan secara urutan, tetapi bukan berarti syiah menolaknya.

Kemudian tentang qada-qadar, syiah memasukkannnya pada bab keadilan, karena bagi syiah keadilanlah (al-Adl) yang menjadi dasar qadha dan qadar, bukan sebaliknya. Begitu pula sunni pada dasarnya percaya pada konsep keadilan, dan juga mengulasnya pada pembahasan qada-qadar dan ketauhidan. Jadi tinggal persoalan imamah, dan inilah yang membedakan secara signifikan antara sunni dan syiah. Karena itu imamah adalah ushulul mazhab (dasar kemazhaban) yang mana bagi yang tidak mempercayainya maka dia bukan mazhab syiah, tetapi dia tetap Islam. Itulah mengapa ulama syiah yang muktabar tidak pernah mengkafirkan orang sunni.

=======

  • Team Aswaja menulis Syiah tidak meyakini ketaatan para malaikat, karena mereka yakin bahwa malaikat Jibril itu salah/berkhianat saat menyampaikan wahyu, mereka meyakini semestinya wahyu Allah diturunkan kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib, tapi malaikat Jibril justru diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.”

Tanggapan :

# CR : Ini adalah salah satu tuduhan yang senantiasa diulang-ulang oleh sekelompok orang yang boleh jadi karena ketidaktahuan atau pula karena kebencian. Kalau karena ketidaktahuan, maka bisa dimaklumi, dan sebaiknya bagi yang tidak tahu adalah bertanya. Namun jika kebencian hati, Allah berfirman, “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”.

Sebagai tanggapan, saya meminta kepada team Aswaja untuk menunjukkan siapa ulama dan kitab syiah yang muktabar yang menyebutkan bahwa Jibril berkhianat saat menyampaikan wahyu? Jika tidak menemukannya di kitab syiah maka sebaiknya team Aswaja meminta maaf kepada kaum syiah karena telah menfitnah mereka. Seandainya pun ada, team Aswaja juga tidak berhak menisbatkannya kepada syiah, karena ribuan ulama syiah dari masa lalu dan masa kini tidak mengakui hal tersebut.

Kemudian hal ini juga menunjukkan kontradiktifnya pemikiran Team Aswaja Sumut. Bukankah, team Aswaja Sumut menyebutkan bahwa syahdat orang syiah itu tiga kali, yaitu bersyahadat  bahwa tiada Tuhan selain Allah, kemudian bersyahadat bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, dan bersaksi bahwa Ali  adalah wali Allah. Bukankah ini kontradiksi, disatu sisi team Aswaja menuduh syiah tidak percaya pada Nabi Muhammad saaw, karena kesalahan Jibril, tapi ditempat lain team Aswaja menyatakan bahwa orang syiah itu bersyahadat akan kenabian Muhammad saaw.

Begitu pula di atas, di antara lima rukun iman syiah yg dilansir oleh team Aswaja, jelas-jelas tercatat an-Nubuwah (kenabian) yang didalamnya tentu saja kenabian Muhammad saaw. Coba periksa buku teologi syiah yang besar maupun yg kecil, bagaimana para ulama syiah menyebutkan kedudukan Rasulullah saaw. Lantas kok tiba2 menuduh syiah tidak percaya pd kenabian Nabi Muhammad saaw.

Yang lebih mengherankan lagi, bukankah team Aswaja mendefenisikan syiah dgn mengutip Syahrastani (ulama Sunni) yang mengatakan: “Syiah adalah kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui wahyu dan wasiat dari Rasulullah SAW…” dan kemudian Mengutip Syaikh Mufid (Ulama syiah) yg menulis bahwa “Syiah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinan-nya (imamah) sesudah RASUL SAAW tanpa terputus…” ;  Lalu kok tiba2 melompat menuduh syiah tidak percaya kepada kenabian Muhammad saaw, padahal diantara dalil kepemimpinan Imam Ali as berasal dari sabda Rasul saaw. Bukankah ini kontradiktif… makanya pertimbangkanlah sebelum menulis. Jangan hanya berdasarkan selera pasar atau selera pemesan…!

Untuk lebih tahu, silahkan team Aswaja mendatangi majelis-majelis orang-orang syiah, maka anda akan mendengar  terus menerus salawat kepada rasul saaw dan ahlul baitnya menghiasi majelis tersebut.

=============

  • Team Aswaja menulis : Syahadat Umat Islam : Dua kalimat syahadat. Syahadat versi Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasululullah, masih ditambah menyebut nama-nama dua belas imam mereka.

Tanggapan

# CR : Agar tidak memperpanjang pembahasan saya sarankan kepada Team Aswaja mempelajari tata cara salat syiah, yang salah satu kewajiban di dlm salat adalah tasyahud dan membaca syahadat, maka anda akan jumpai bacaan syahadat org syiah dlm salat tersebut adalah sbb : “Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh”, tanpa ada tambahan apapun. Mengapa syahadat di dalam salat itu menjadi penting ukurannya? karena salat merupakan puncak penghambaan dan amalan utama Islam, yang tanpa syahadat itu maka salat menjadi batal. Tentu saja org syiah tdk mau salatnya batal jika meninggalkan syahadat ketiga yg anda katakan..! Tapi ternyata syahadat  ketiga itu tak pernah ada diajarkan di dalam salat-salat mazhab syiah. (Bersambung ke Bag 4)

Iklan
%d blogger menyukai ini: