SAHABATKU, JAGALAH LISAMU…!! (BAG 4)


SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 4)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

TENTANG KEPEMIMPINAN

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Percaya kepada para imam madzhab dan para ulama, tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam di kalangan umat Islam tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam dari kalangan para ulama pada setiap jaman, demikian akan bermunculan sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) orang atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

 

SYI`AH : Percaya kepada dua belas imam-Imam mereka itu termasuk rukun iman. Karena itu orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam mereka, dianggap kafir dan akan masuk neraka.


Tanggapan :

 # CR : Kerancuan pertama team Aswaja adalah tidak membedakan antara imam (khalifah, pemimpin) dengan ulama. Saya tdk ingin mengulasnya disini secara detil menurut konsepsi teologis syiah atau sunni. Agar mudah saya ingin berikan contoh saja. Ulama bisa saja banyak tetapi Imam/khalifah/pemimpin atau istilah yg sejenisnya itu satu secara aktual dlm setiap masa. Kalau sunni di tanya siapa pemimpin/khalifah/imam/amir setelah rasul wafat..? maka tentu dijawab adalah Abu Bakar pemimpinnya. Lalu klu ditanya siapa ulamanya di zaman itu..? maka tentu akan dijawab sangat banyak, mungkin seluruh atau sebagian besar sahabat adalah ulama2 ahli agama. Mungkin contoh itu mempermudah anda membedakan antara pemimpin/imam/khalifah dan ulama.

Silahkan sunni tidak memasukkan masalah kepemimpinan sebagai rukun iman, walaupun  meyakini kewajibannya. Bahkan, mungkin saja bagi sunni begitu pentingnya sehingga wajar bila Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya, medahulukan urusan memilih pemimpin daripada mengurusi jenazah Rasul saaw. Tapi di sini Team Aswaja kembali rancu, sebab kalau itu bukan rukun iman, lantas mengapa anda menyesatkan  org syiah yang tidak mempercayai kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman, dan lainnya?? Ini berarti bagi Aswaja, kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, Muawiyah, dll adalah sangat penting, shg yg tdk mempercayainya dihukumi bukan Islam. Saya mau tahu menurut Aswaja Sumut, Kafirkah org yg tidak percaya pd kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman…?

Kemudian, apakah imam dan ulama itu akan ada sampai kiamat..? jawabnya, Ya, akan senantiasa ada sampai kiamat. Apakah jumlah terbatas..? Menurut Team Aswaja, keduanya tidak terbatas sampai kiamat. Its ok…. Tapi bagi kaum syiah keduanya berbeda, mereka membatasi keimamahan, tetapi tidak membatasi keulamaan. Bagi syiah, imam sebagai pemimpin mutlak pengganti Rasul saaw hanya berjumlah 12 orang sampai kiamat yaitu Imam Ali as sampai Imam Mahdi afs (Imam Mahdi afs adalah imam syiah pd saat ini, bukan Imam Khamenei), sedangkan keulamaan tidak terbatas jumlahnya sampai kiamat. Jadi, selain dari 12 imam tsb adalah ulama-ulama, misalnya Imam Khomeini atau Imam Khamenei saat ini, dan banyak lagi ulama syiah yg muktabar lainnya.

Mengapa hanya di batasi 12 pemimpin saja? Jawabnya, karena begitulah yang disabdakan oleh Rasulullah saaw. Terdapat puluhan hadits di kitab-kitab sunni (dan tentu saja kitab2 syiah) yang menyebutkan ttg jumlah pemimpin pasca rasul saaw adalah 12 orang. Silahkan cek kitab Bukhari, Muslim, Abu Daud, Imam Ahmad, dan lainnya utk mendapatkan informasinya. Tentu ustadz team Ustadz Aswaja sangat mengetahui hadits2 tersebut di dalam kitab2 sunni tersebut. Kalau team Aswaja tidak membenarkan jumlah  12 ini, maka yang pertama harus anda salahkan adalah Rasulullah saaw yang membatasi dan membuat jumlah 12 tersebut. Bukhari dan Muslim misalnya meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 pemimpin dan khalifah.’ Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kudengar. Ayahku menyampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Quraysi’.” Apakah Tim Aswaja Sumut tdk percaya dgn hadits2 12 pemimpin ini..??

Karenanya, yang harus ditanyakan adalah sebaliknya, apa dalilnya team Aswaja mengatakan bahwa jumlah Imam atau khalifah (bukan ulama ya) tidak terbatas, sementara Rasul saaw, dengan jelas meyebutkan jumlahnya hanya 12 orang?

Lantas bagaimana hukumnya org yang tidak percaya pd keimamahan ke-12 imam tersebut..?? Sesuai dgn fatwa seluruh marja’ syiah yang saya ketahui, bahwa ahlussunnah adalah kaum Muslimin. Jadi, tuduhan anda di atas tdk berlaku bagi kaum syiah itu sendiri. Coba anda cek org syiah di Indonesia, saya yakin sebagian mereka masih memiliki org tua yg sunni, isteri yang sunni, saudara kandung yang sunni, dan paman atau bibi yg sunni. Tanyakan mereka apakah mereka menganggap org tuanya, isterinya, saudara, paman dan bibinya sebagai org2 kafir dan memberlakukan hukum kafir serta menyatakan masuk neraka…?? Naudzubillah

=========

 

  • Ø  Team Aswaja menulis :

ISLAM : Al-Khulafaurrasyidun setelah Nabi SAW wafat yang diakui sah adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali.

 

SYI`AH : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi thalib (padahal imam Ali sendiri membai`at dan mengakui kekhalifahan mereka bertiga).


Tanggapan

# CR : Sekarang saya ingin bertanya kpd team Aswaja, apa dalilnya bahwa Khulafa al-Rasyidin yang sah pasca Rasul saaw hanya dibatasi empat orang tersebut saja…?? Coba anda bawakan nas-nya.

Soal tidak mengakui Abu Bakar, Umar, Usman sebagai Khalifah sudah dikatakan di atas sbg masalah furu’ dan tidak menyebabkan kekafiran. Kalau anda menyatakan bahwa yang tidak mengakui ketiga khalifah itu sbg sesat dan kafir, maka yang pertama harus anda sesatkan adalah Sayidah Fatimah Zahra as. Karena seumur hidupnya tidak pernah membaiat Abu Bakar. Apakah menurut anda Sayidah Fatimah as sesat dan kafir..??? Begitu pula dengan Saad bin Ubadah yang merupakan salah seorang pemimpin Anshar, tidak membaiat Abu Bakar sampai wafatnya..?? Sesat dan kafirkah Saad bin Ubadah…??? Adapun tentang baiat Imam Ali as, hal itu telah dijelaskan beliau dalam Nahjul Balagah,khutbah ke-3 yang dikenal dengan khutbah Syiqsiqiyah, bahwa hal itu adalah keterpaksaan, demi menjaga keutuhan Islam dan persatuan kaum Muslimin.

Kita katakanlah bahwa Imam Ali as benar membaiat Abu Bakar, itupun setelah wafatnya Sayidah Fatimah as yang sekitar enam bulan pasca wafatnya Rasul saaw. Lalu apa hukum dan kedudukan Imam Ali selama enam bulan tidak berbaiat kpd Abu Bakar..??? Sesat dan kafirkah Imam Ali selama enam bulan tersebut..??

==========

  • Ø  Team Aswaja menulis :

ISLAM : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma`shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma`shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

 

SYI`AH : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma`shum, seperti para Nabi, yaitu tidak pernah berbuat salah.

 Tanggapan :

# CR : Kalau khalifah anda tidak maksum dan dapat berbuat salah/dosa/lupa, bisa tolong anda sebutkan masing-masing 3 hal saja kesalahan/kemaksiatan khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Usman..??? Bisakah anda sebutkan masing2 tiga hal saja ketidaktahuan khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman ttg hukum2 Islam..?? Kemudian anda menyatakan bahwa hanya Nabi yang maksum. Apa dalilnya bahwa kemaksuman hanya milik para Nabi, dan selain Nabi tidak bisa maksum…?

Kalau syiah meyakini kemaksuman imam dengan dalil2 yang ada pada mereka, mengapa anda keberatan. Bukankah hal ini hanya beda dalam penafsiran dan hal itu biasa dalam tradisi khazanah Islam. Kaum syiah misalnya menyatakan bahwa kedudukan Imamah/khalifah itu begitu tinggi sehingga dibutuhkan manusia sempurna yg secara ilmu dan amal tidak akan melakukan kesalahan. Sebab, fungsi imam itu melanjutkan fungsi kenabian yaitu menjelaskan, menafsirkan, mengamalkan, dan juga menjaga agama dari kesalahan. Lantas, bagaimana mungkin org yg bisa salah, melakukan tugas seperti itu.?? Bagaimana kita bisa percaya kepada org yg bisa salah, bahwa agama yg dijelaskan, ditafsirkan dan diamalkannya itu benar dan tidak mungkin salah…?? Itulah kenapa ayat “Atiullah, wa atiurrasul, wa ulil amri minkum” itu bersifat mutlak. Ketaatan kpd Allah, ketaatan kpd Nabi dan Ulil amri (pemimpin) bersifat mutlak. Dan bagi syiah kemutlakan ketaatan hanya boleh pd orang yang maksum, sebab org yg tidak maksum, kewajiban kpdnya tdk mungkin bersifat mutlak. Perhatikanlah bagaimana Allah mensejajarkan ketaatan kpd Nabi dgn ketaatan kpd ulil amri tanpa diselingi apapun. Saya rasa tak perlu diajukan dalil2 syiah baik secara nash maupun rasional ttg persoalan ini. Saya rasa sudah cukup banyak tulisan yg bisa anda baca utk mengetahuinya. Kalau Tim Aswaja berbeda dlm penafsiran, ya gak masalah. Semua berjalan sesuai dgn keyakinan masing2 dan saling menghormati. Itulah keindahan perbedaan dlm Islam… (bersambung)

%d blogger menyukai ini: