SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 2)


SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 2)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

PERBEDAAN SUNNI DAN SYIAH : AKIDAH USHULIYAH ATAU FURUIYYAH

Team Aswaja menulis : Menurut asy-Syahrastani dalam karyanya AL-MILAL WAN NIHAL :“Syiah adalah kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui wahyu dan wasiat dari Rasulullah SAW, baik secara terang (eksplisit) atau implisit. Mereka beranggapan bahwa Imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalan keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Imamah adalah masalah akidah yang menjadi tiang agama”. (Al-milal wan Nihal, hal 146, Darul Fikr).

Sedangkan menurut tokoh syiah sendiri, Syekh Mufid yang hidup diabad ke 5 H (wafat 413 H / 1022 M) mendefinisikan Syiah sebagai : “Syiah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih, atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinan-nya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui ke-imamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman)”. (Almufid, Awa’il al-Maqalat, hal 2-4).

Defenisi Almufid diatas secara tegas menunjukkan bahwa dia tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman secara utuh dan tertib urutannya.

Tanggapan :

# CR :  Tidak ada masalah dengan defenisi dan pemaknaan Syahrastani maupun Syaikh Mufid tentang syiah di atas. Syiah dengan tegas memang mengakui bahwa pasca Rasulullah saaw yang berhak menjadi imam/khalifah adalah Imam Ali as dan keturunannya. Jika syiah tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman tidaklah menjadikannya kafir. Atau team Aswaja berpendapat bahwa siapa yg tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Usman sebagai khalifah maka dikhukumi kafir??? Maka yg pertama harus dikafirkan oleh Team Aswaja adalah keluarga Rasulullah saaw sendiri, yakni Sayidah Fatimah Zahra as, karena beliau tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar.

Selain itu ini termasuk hal yg kontradiktif dalam pikiran Team Aswaja,  karena menurut Team Aswaja khilafah bukan merupakan bagian dari akidah yg harus diyakini—Ingatlah rukun Iman yang enam, tidak ada iman kepada kehalifahan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Lantas mengapa “mengkafirkan” syiah karena tidak meyakininya. Apakah untuk menjadi Islam seseorang harus bersyahadat dengan “Bersaksi bahwasanya Abu Bakr, Umar, Usman, Ali adalah khalifah Rasulullah”. Yang jika tidak bersaksi sedemikian rupa, maka ia belum masuk Islam???—Maaf saya tidak menuduh Team Aswaja ingin menambah syahadat, jangan disalah artikan.

Memang persoalan siapa yg berhak menjadi imam/khalifah pasca Nabi saaw adalah perbedaan antara sunni dan syiah, tetapi hal itu tidak menyebakan seseorang keluar dari jalur keislaman. Syiah meyakini yg berhak adalah Imam Ali as dan keturunannya, sedangkan sunni menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah, Yazid, dan lain-lainnya berhak juga atas kekhalifahan. Jika Team Aswaja Sumut mempertanyakan syiah mengapa Imam Ali as dan keturnanya yg berhak menjadi khalifah? Maka kaum syiah juga layak bertanya, siapa yang menyatakan bhw Abu Bakar, Umar, Usman, dan lannya tersebut berhak memangku khalifah? Jika Team Aswaja menyatakan punya dalil utk kekhalifahan mereka, maka kaum syiah juga punya segudang dalil utk kekhalifahan Imam Ali as dan keturunannya [].

=========

  • Team Aswaja kemudian Menulis : “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah. Sehingga tidak dapat dikatakan syiah sebagai mazhab yang berkonotasi dengan mazhab khilafiyah. Dan ini dikabarkan oleh kelompok syiah sebagai mazhab ahlul bait. Pada sejak timbul keyakinan dan ajaran ini, tidak dikenal sebagai mazhab ahlul bait. Ini salah satu propaganda mereka (di’ayah).”

 

Tanggapan :

# CR : Pertama, Team Aswaja kembali mengklaim ijmak, kesepakatan ulama Islam. Saya tidak tahu yang dimaksudnya ijmak ulama tersebut. Padahal, Risalah Amman tahun 2005 yang ditanda tangani ulama sedunia yang mayoritasnya adalah ahlussunnah wal jamaah, termasuk dari Indonesia, mensahkan dua mazhab syiah (yakni Ja’fari dan Zaidiyah) sebagai mazhab resmi dalam Islam dan terlarang mengkafirkannya. Jadi syiah Ja’fari yakni nama lain bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang meyakini pasca Rasulullah saaw terdapat 12 imam yang menjadi pengganti Rasul saaw memimpin umat yang dimulai dari Imam Ali as dan diakhiri dengan Imam Mahdi afs, adalah salah satu mazhab Islam yang sah diakui oleh Risalah Amman tersebut. Meskipun boleh jadi terdapat orang yang tidak sepakat dengan risalah Amman tersebut, tetapi hal itu tidak dapat digunakan untuk menolak risalah tersebut, apalagi dengan klaim ijmak ulama. Saya tuliskan salah satu isi dari risalah Amman berikut ini :

  • Poin (2) : “Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (ushuluddin).  Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa; percaya pada Alquran sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saaw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam; dua kalimat syahadat, kewajiban salat, zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah di Mekah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam; kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar Islam (ushul). Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ulama adalah hal yang baik.”

Cukuplah risalah itu sebagai bantahan untuk team Aswaja yang mengklaim adanya “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah.Ternyata perwakilan ulama Islam sedunia menganggap “perbedaan antara syiah dan sunni bersifat furuiyyah. Saya tidak tahu apakah team Aswaja sudah mengumpulkan ulama sedunia untuk membahas syiah dan sunni sehingga mengklaim adanya “kesepakatan”?

Kedua, adalah tentang afiliasi syiah sebagai mazhab ahlul bait. Apa yang menjadi keberatan team Aswaja kalau syiah mengklaim sebagai mazhab ahlul bait? Padahal syiah tidak mempermasalahkan team Aswaja sebagai mengaku penganut ahlussunnah—seolah hanya mereka saja pengikut sunnah.

Saya tidak ingin membahasnya dengan spesifik karena tanggapan disesuaikan dengan kondisi buletin. Sebagai gambaran singkat, sebuah penamaan mazhab itu adakalanya muncul karena peristiwa historis atau keterkaitannya dengan sumber yang diikuti (rujukan). Jika team Aswaja mengaku ahlussunnah dan mengklaim sebagai pengikut sunnah Nabi dan para sahabat sehingga dinamai Ahlussunnah wal jamaah; maka mengapa team Aswaja alergi jika syiah mengklaim sebagai penganut mazhab ahlul bait karena mereka merujukkan seluruh konsepsi ajarannya kepada Nabi saaw dan ahlul baitnya (keluarga suci Rasul). Jadi propaganda syiah bahwa mereka penganut mazhab ahlul bait terbukti dalam seluruh konsepsi ajaran yang mereka yakini sebagai bersumber dari Nabi saaw dan ahlul baitnya, baik akidah maupun ibadah. Silahkan pelajari mazhab syiah dengan seksama, dengan akal yang jernih dan hati yang bersih.

Begitu pula, syiah secara masyhur berpegang teguh pada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Aku tinggalkan bagi kamu dua hal yang berat, yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat selama-salamanya, yaitu kitabullah dan ahlul baitku”. Dengan demikian, karena mazhab syiah konsisten berpegang teguh pada ahlul bait maka sewajarnya mereka menamakan mazhabnya sebagai mazhab ahlul bait[]. (bersambung)

%d blogger menyukai ini: