SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 2)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 2)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

PERBEDAAN SUNNI DAN SYIAH : AKIDAH USHULIYAH ATAU FURUIYYAH

Team Aswaja menulis : Menurut asy-Syahrastani dalam karyanya AL-MILAL WAN NIHAL :“Syiah adalah kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui wahyu dan wasiat dari Rasulullah SAW, baik secara terang (eksplisit) atau implisit. Mereka beranggapan bahwa Imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalan keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Imamah adalah masalah akidah yang menjadi tiang agama”. (Al-milal wan Nihal, hal 146, Darul Fikr).

Sedangkan menurut tokoh syiah sendiri, Syekh Mufid yang hidup diabad ke 5 H (wafat 413 H / 1022 M) mendefinisikan Syiah sebagai : “Syiah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih, atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinan-nya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui ke-imamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman)”. (Almufid, Awa’il al-Maqalat, hal 2-4).

Defenisi Almufid diatas secara tegas menunjukkan bahwa dia tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman secara utuh dan tertib urutannya.

Tanggapan :

# CR :  Tidak ada masalah dengan defenisi dan pemaknaan Syahrastani maupun Syaikh Mufid tentang syiah di atas. Syiah dengan tegas memang mengakui bahwa pasca Rasulullah saaw yang berhak menjadi imam/khalifah adalah Imam Ali as dan keturunannya. Jika syiah tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman tidaklah menjadikannya kafir. Atau team Aswaja berpendapat bahwa siapa yg tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Usman sebagai khalifah maka dikhukumi kafir??? Maka yg pertama harus dikafirkan oleh Team Aswaja adalah keluarga Rasulullah saaw sendiri, yakni Sayidah Fatimah Zahra as, karena beliau tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar.

Selain itu ini termasuk hal yg kontradiktif dalam pikiran Team Aswaja,  karena menurut Team Aswaja khilafah bukan merupakan bagian dari akidah yg harus diyakini—Ingatlah rukun Iman yang enam, tidak ada iman kepada kehalifahan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Lantas mengapa “mengkafirkan” syiah karena tidak meyakininya. Apakah untuk menjadi Islam seseorang harus bersyahadat dengan “Bersaksi bahwasanya Abu Bakr, Umar, Usman, Ali adalah khalifah Rasulullah”. Yang jika tidak bersaksi sedemikian rupa, maka ia belum masuk Islam???—Maaf saya tidak menuduh Team Aswaja ingin menambah syahadat, jangan disalah artikan.

Memang persoalan siapa yg berhak menjadi imam/khalifah pasca Nabi saaw adalah perbedaan antara sunni dan syiah, tetapi hal itu tidak menyebakan seseorang keluar dari jalur keislaman. Syiah meyakini yg berhak adalah Imam Ali as dan keturunannya, sedangkan sunni menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah, Yazid, dan lain-lainnya berhak juga atas kekhalifahan. Jika Team Aswaja Sumut mempertanyakan syiah mengapa Imam Ali as dan keturnanya yg berhak menjadi khalifah? Maka kaum syiah juga layak bertanya, siapa yang menyatakan bhw Abu Bakar, Umar, Usman, dan lannya tersebut berhak memangku khalifah? Jika Team Aswaja menyatakan punya dalil utk kekhalifahan mereka, maka kaum syiah juga punya segudang dalil utk kekhalifahan Imam Ali as dan keturunannya [].

=========

  • Team Aswaja kemudian Menulis : “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah. Sehingga tidak dapat dikatakan syiah sebagai mazhab yang berkonotasi dengan mazhab khilafiyah. Dan ini dikabarkan oleh kelompok syiah sebagai mazhab ahlul bait. Pada sejak timbul keyakinan dan ajaran ini, tidak dikenal sebagai mazhab ahlul bait. Ini salah satu propaganda mereka (di’ayah).”

 

Tanggapan :

# CR : Pertama, Team Aswaja kembali mengklaim ijmak, kesepakatan ulama Islam. Saya tidak tahu yang dimaksudnya ijmak ulama tersebut. Padahal, Risalah Amman tahun 2005 yang ditanda tangani ulama sedunia yang mayoritasnya adalah ahlussunnah wal jamaah, termasuk dari Indonesia, mensahkan dua mazhab syiah (yakni Ja’fari dan Zaidiyah) sebagai mazhab resmi dalam Islam dan terlarang mengkafirkannya. Jadi syiah Ja’fari yakni nama lain bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang meyakini pasca Rasulullah saaw terdapat 12 imam yang menjadi pengganti Rasul saaw memimpin umat yang dimulai dari Imam Ali as dan diakhiri dengan Imam Mahdi afs, adalah salah satu mazhab Islam yang sah diakui oleh Risalah Amman tersebut. Meskipun boleh jadi terdapat orang yang tidak sepakat dengan risalah Amman tersebut, tetapi hal itu tidak dapat digunakan untuk menolak risalah tersebut, apalagi dengan klaim ijmak ulama. Saya tuliskan salah satu isi dari risalah Amman berikut ini :

  • Poin (2) : “Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (ushuluddin).  Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa; percaya pada Alquran sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saaw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam; dua kalimat syahadat, kewajiban salat, zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah di Mekah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam; kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar Islam (ushul). Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ulama adalah hal yang baik.”

Cukuplah risalah itu sebagai bantahan untuk team Aswaja yang mengklaim adanya “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah.Ternyata perwakilan ulama Islam sedunia menganggap “perbedaan antara syiah dan sunni bersifat furuiyyah. Saya tidak tahu apakah team Aswaja sudah mengumpulkan ulama sedunia untuk membahas syiah dan sunni sehingga mengklaim adanya “kesepakatan”?

Kedua, adalah tentang afiliasi syiah sebagai mazhab ahlul bait. Apa yang menjadi keberatan team Aswaja kalau syiah mengklaim sebagai mazhab ahlul bait? Padahal syiah tidak mempermasalahkan team Aswaja sebagai mengaku penganut ahlussunnah—seolah hanya mereka saja pengikut sunnah.

Saya tidak ingin membahasnya dengan spesifik karena tanggapan disesuaikan dengan kondisi buletin. Sebagai gambaran singkat, sebuah penamaan mazhab itu adakalanya muncul karena peristiwa historis atau keterkaitannya dengan sumber yang diikuti (rujukan). Jika team Aswaja mengaku ahlussunnah dan mengklaim sebagai pengikut sunnah Nabi dan para sahabat sehingga dinamai Ahlussunnah wal jamaah; maka mengapa team Aswaja alergi jika syiah mengklaim sebagai penganut mazhab ahlul bait karena mereka merujukkan seluruh konsepsi ajarannya kepada Nabi saaw dan ahlul baitnya (keluarga suci Rasul). Jadi propaganda syiah bahwa mereka penganut mazhab ahlul bait terbukti dalam seluruh konsepsi ajaran yang mereka yakini sebagai bersumber dari Nabi saaw dan ahlul baitnya, baik akidah maupun ibadah. Silahkan pelajari mazhab syiah dengan seksama, dengan akal yang jernih dan hati yang bersih.

Begitu pula, syiah secara masyhur berpegang teguh pada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Aku tinggalkan bagi kamu dua hal yang berat, yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat selama-salamanya, yaitu kitabullah dan ahlul baitku”. Dengan demikian, karena mazhab syiah konsisten berpegang teguh pada ahlul bait maka sewajarnya mereka menamakan mazhabnya sebagai mazhab ahlul bait[]. (bersambung)

Iklan

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 1)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 1)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

Imam Ali as berkata, al-lisan mizan al-insan”, lisan merupakan nilai kemanusiaan. Maka seseorang sebaiknya menjaga lisannya agar selamat di dunia dan di akhirat. Tentu kita akan menilai buruk terhadap orang yang berkata-kata buruk, dan memuliakan orang yang berkata-kata mulia. Ada pepatah juga “diam adalah emas”, bagi orang yang tidak memperhatikan kebaikan perkataannya.

Pada hari jum’at  “Buletin Dakwah Aswaja Sumut”  nO. 17 Agustus 2013 menurunkan sebuah tulisan dengan judul “Anakku Jaga Akidahmu” (untuk versi FB lihat https://www.facebook.com/notes/ahlussunnah-waljamaah/anak-ku-jaga-aqidah-mu/165647613625086). Sebuah judul yang baik, dan saya berharap juga ditulis dengan niat yang baik. Karena tulisan itu menyebar secara tercetak dan disebarkan di Mesjid-Mesjid maupun Mushalla di Kota Medan, maka sebagai niat baik pula saya menanggapi tulisan dengan tulisan sebagai wujud pembelajaran dan melanjutkan tradisi munazharah keilmuwan Islam.

Mulanya saya berpikir bahwa buletin itu akan mengulas tema aqidah Islam yang valid dengan argumentasi yang memadai, tetapi begitu membacanya saya tak menemukan kaedah tersebut. Mungkin tulisan itu sebagai nasehat saja, yang lebih mempertimbangkan rasa daripada nalar, emosi daripada argumentasi. Karena itu mulanya saya tidak ingin memberikan tanggapan tertulis, karena tema yang diangkat tidak lebih sekedar dipaksakan dan mungkin “kopipaste” dari berbagai tulisan yang “miring” tentang syiah. Begitu pula, tulisan itu tidak memuat siapa penulisnya, tetapi bersifat team, dengan nama  Team Aswaja. Dan setelah melihat nama-namanya, saya mengenal sebagian asatidz yang terlibat di dalamnya, dan bahkan selama ini berhubungan baik dengan mereka. Sebut saja Ustad Syafii Umar Lubis yang menjadi pemimpin umumnya. Karena itu, saya membuat tanggapan ini, agar tidak ada saling salah pengertian antara saya para asatidz itu, karena boleh jadi akan ketemu di jalan atau di majelis pengajian. Jadi, Tanggapan ini saya lakukan sebagai wujud cinta saya kepada sahabat-sahabat saya dari ahlussunnah waljamaah, baik sahabat dalam mazhab, dalam organisasi maupun sahabat sebagai pribadi. Karena selain saya mengenal mazhab ahlussunnah, saya juga mengenal mereka para asatidz kota Medan. Semoga mereka masih ingat diskusi-diskusi yang mencerahkan dan penuh persahabatan di Yayasan Islam Abu Thalib Medan.

Sebelum saya menyikapai poin-poin yang ditulis oleh buletin tersebut, saya menemukan bahwa tulisan di buletin tersebut jauh dari sikap ahlussunnah wal jamaah dan ulama-ulamanya. Karena yang menulisnya adalah team aswaja, maka sayapun melayangkan tanggapan bukan kepada pribadi-pribadinya, tetapi kepada team tersebut. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat struktur tulisan team Aswaja Sumut tsb.

Pertama, team aswaja memonopoli Islam, karena menulis perbandingan Islam dan Syiah. Pola itu membuat team Aswaja melebihi kapasitasnya dengan “mengangkat” dirinya begitu tinggi dengan menyebut sebagai wakil Islam bukan wakil ahlussunnah wal jamaah atau sekedar wakil organisasinya. Padahal siapa saja yang mengkaji sedikit saja persoalan teologi Islam, tentu tahu beragam perbedaan dalam Islam—termasuk di dalam ahlussunnah itu sendiri, sehingga tidak layak untuk memonopoli Islam hanya milik team aswaja. Karena team aswaja membandingkan Islam dengan syiah, maka dalam hal ini muncul sudut pandang mereka tentang syiah yaitu, syiah dipandang bukan umat Islam (kafir)?

Kedua, team aswaja menggunakan kajian yang jauh dari ilmiah dan saya bisa memakluminya, mungkin dikarenakan sifat tulisan buletin jum’at. Namun alangkah bagusnya, jika buletin yang dibaca secara umum oleh khalayak yang tidak semuanya mengetahui perbedaan mazhab, ditulis dengan mengenalkan perbedaan untuk saling menghormati bukan saling mengkafirkan. Saya mengenal beberapa Ustadz team Aswaja ini sebagai orang yang anti jamaah takfiri (takfiri adalah sekelompok jamaah yang suka menuduh kafir, musyrik, sesat, kepada kelompok lain yang tidak sependapat dengan mereka yang belakangan ini marak di tengah-tengah umat Islam), bahkan mendedikasikan dirinya untuk menghambat perkembangan jamaah takfiri ini, namun saya heran mengapa pada buletin ini, terlihat model yang mirip propaganda jamaah takfiri. Apakah hal ini luput dari perhatian mereka?

Ketiga, judul tulisannya adalah “Anakku, Jaga Aqidahmu”, ini berarti tulisan tersebut ingin fokus pada pembahasan akidah, tetapi ternyata tidak demikian, karena tulisan ini juga memasukkan masalah literatur hadits, persoalan sahabat Nabi dan persoalan fikih. Padahal di awal pengantarnya, team aswaja mengarahkan pembaca pada persoalan tauhid yang merupakan kunci persoalan akidah. Alangkah baiknya bila team aswaja mengulas persoalan tauhid itu lebih spesifik untuk menunjukkan perbedaan antara syiah dan sunni dalam pembahasan tauhid. Namun, alih-alih mengulas tauhid, Team Aswaja melebarkan pembahasan kepada hal-hal lainnya.

Sesuai kapasitas tulisan di buletin, maka saya juga akan menanggapinya dengan kapasitas tersebut, tetapi mudah-mudahan dapat menambah wawasan team aswaja secara khusus dan masyarakat secara umum untuk lebih berhati-hati membuat tulisan. Sebab semua itu akan dipertanggungjaawabkan secara ilmiah dan secara amaliah dihadapan manusia dan dihadapan Allah swt, di dunia dan di akhirat. Saya berdoa semoga kita semua diampuni oleh Allah swt. (dalam format tulisan ini, tanggapan saya ditandai dengan  # CR, dan tulisan ini dibuat bersambung agar tidak terlalu panjang membacanya)

TERMINOLOGI AHLUSSUNNAH DAN SYIAH SERTA KLAIM KEBENARAN VERSI TEAM ASWAJA.

 

Team Aswaja menulis : “Pemahaman yang benar ialah bersumber dari Alquran (wahyu), dan diterangkan oleh Sunnah Rasul SAW, serta tidak melanggar ijmak ummah. Itulah ahlussunnah wal jamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang Yahudi telah berpecah belah menjadi 71 golongan, dan orang nasrani 72 golongan. Akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu.” Sahabat bertanya “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau SAW menjawab, “Golongan yang (dalam aqidah dan amaliyahnya) ada aku dan para sahabatku.” Jadi aqidah dan syariah yang benar, berdasarkan hadits Rasul SAW adalah ahlussunnah wal jamaah.”

Tanggapan :

# CR : Pertama, Team Aswaja mendefenisikan syiah tetapi tidak  mendefenisikan ahlussunnah. Dalam metodologi studi komparatif, jika kita ingin membandingkan sesuatu maka keduanya harus dimaknai secara relevan, agar tidak terjadi pengelabuan dan kesalahan yang disebut semantic fallacies. Mungkin team Aswaja kesulitan mendefenisikan ahlussunah sebagaiman dikatakan K.H. Said Agil Siradj bahwa pernyataan Aswaja (ahlussunnah wal jamaah) dalam berbagai pendapat hanyalah ‘klaim’ saja, karena sampai saat ini—diakui ataupun tidak—belum ada defenisi terminologis yang baku tentang ahlussunnah wal jamaah, meskipun hal ini disampaikan kepada orang yang mengaku/mengklaim dirinya sunni. Begitu pula istilah ahlussunnah wal jamaah tidak terdapat di dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun sunnah bahkan tidak terdapat di dalam referensi awal (maraji’ awwaliyah). Istilah ini dipopulerkan belakangan oleh ashab al-Asy’ari atau asy’ariyah seperti Baqillani, Juwaini, al-Ghazali atau Syarastani dan lebih nyata pada al-Zabidi.

Kedua, Team aswaja melakukan ‘jumping’ dengan membuat kriteria yang kurang valid sebab tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan ijmak ummah?  Tentang Alquran dan sunnah tidak perlu dipermasalahkan lagi, tetapi bagaimana dengan ijmak ummah? Apakah ijma’ mencakup keseluruhan umat atau segelintir umat, apakah keseluruhan sahabat atau segelintir sahabat, apakah seluruh ulama atau segelintir ulama? Tidak ada batasan jelas atas ijmak ini. Bukan hanya di dalam sunni, di dalam mazhab syiah juga dikenal istilah ijmak, yang pemaknaannya berbeda dengan ulama-ulama sunni. Bahkan di ulama sunni sendiri terjadi perbedaan tentang ijmak tersebut. Saya yakin para ustadz team Aswaja mengetahui perbedaan pendapat tersebut.

Ketiga, Tidak hanya sampai disitu, team Aswaja berusaha berdalil dengan hadits firqah an-najiyah bahwa satu-satunya yang selamat adalah ahlussunnah wal jamaah. Padahal tidak ada sama sekali kalimat di dalam hadits tersebut bahwa yang selamat adalah “ahlussunnah wal jamaah”. Kalau kalimat Rasul SAW yang menyatakan “golongan yang ada aku dan para sahabatku”, maka tentu saja kalimat itu bukanlah monopoli hak team Aswaja. Apakah team Aswaja merasa bahwa hanya merekalah yang mengikuti Rasul saaw dan sahabatnya? Apakah menurut team Aswaja orang syiah yang mengikuti Rasulullah SAAW, Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, sayidah Fatimah Zahra, as tidak termasuk kelompok yang selamat? Apakah team Aswaja tidak mengetahui bahwa di antara para sahabat juga terjadi perbedaan dan pertentangan bahkan konflik hingga saling berbunuhan? Lantas sahabat mana yang harus diikuti jika terjadi perbedaan, pertentangan, bahkan konflik dan saling bunuh? Bukankah perbedaan yang kita warisi pada dasarnya adalah perbedaan yang dimulai sejak zaman para sahabat Rasulullah saaw tersebut?

Jadi, tulisan team Aswaja di atas yang menyatakan , “Aqidah dan syariah yang benar, berdasarkan hadits Rasul SAW adalah ahlussunnah wal jamaah,” adalah klaim yang tidak memiliki relevansi valid dengan hadits tersebut.

Sebagai pengingat selayaknya saya kutipkan tulisan K.H. Said Agil Siradj dalam bukunya “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Lintas Sejarah” (1997: 6) sebagai berikut :

“Ahlussnnah wal jamaah, disingkat Aswaja, sering dinamakan pula dengan sunni. Terminologi ini, sesungguhnya sederhana, singkat dan sudah tidak asing lagi ditelinga kita,–diakui ataupun tidak—masih banyak mengundang salah persepsi. Sebagian memahami Aswaja identik dengan ‘Islam’. Sebagian yang lain melihat Aswaja hanya sebagai ‘mazhab’. Ada pula yang mengartikan Aswaja sebagai karakteristik komunitas kaum muslimin yang mengamalkan aktivitas tertentu, seperti ‘tahlilan’, selamatan, ‘berjanjenan’ (baca : maulid Nabi Muhammad SAW), baca doa qunut, dan sebagainya. Bahkan ada juga yang memakai term Aswaja sebagai langkah ‘purifikasi’ ajaran Islam (al-ishlah al-dini).

“Mengidentikkan Aswaja dengan ‘al-Islam’ berarti menganggap selainnya sebagai non-Islam, kuffar (begitu kira-kira). Sikap eksklusif dan fanatisme buta nampak sekali pada sakhsiyah (kepribadian) mereka. Disamping provokasi politik yang saling menghantam satu faksi dengan lainnya. Dengan demikian, pemahaman semacam ini secara tidak langsung menyeret Aswaja sebagai suatu alfirqah (partai politik). Secara historis, pemikiran tersebut sangat tepat diaplikasikan pada saat ketegangan antar faksi dalam Islam menajam, terutama antara sunni dan syii. Hal ini, terlihat pada pernyataan al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Mihal atau al-Isfirayini dalam al-Farqu baina al-Firaq. Sementara, pendahulunya seperti Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, Al-Baqillani, Al-Juwaini dan sebaginya, justru tidak menampakkan visi tersebut. Karenanya, relevankah identiknya Aswaja dengan al-Islam dalam era saat ini? Atau salahkah jika Aswaja tidak dipahami sebagai al-Islam, sebagaimana ulama sebelumnya? Semua ini akan bisa terjawab, jikalau kita paham lintasan sejarah umat Islam secara utuh, tidak sepotong-sepotong.

“Sementara, jika dipahami sebagai sebuah mazhab, eksistensi Aswaja semakin mengkristal menjadi suatu institusi. Jelas, pandangan ini paradoks dengan fakta sejarah kelahiran Aswaja. Begitu pula pengedepanan ta’rif bi al-mitsal bagi Aswaja. Ringkasnya, kedua performance di atas, menunjukkan pola berpikir yang sathi’ setengah-setengah atau ‘dangkal’. Sedangkan pola ‘purifikasi’ (al-ishlah al-dini) yang mengaku-aku sebagai penerus golongan salaf dan menamakan diri sebagai ahlussunnah wal jamaah, sungguh disayangkan justru kemudian bersikap ekstrim, men-takfir (mengkafirkan) sesama muslim dan sangat eksklusif. Mungkin karakter tersebut jika diperhatikan secara seksama, tidak berlebihan jika ada yang menyebut khawarij gaya baru (neo khawarij).”

Tulisan K.H, Said Agil Siradj di atas mudah-mudahan menjadi nasehat dan ingatan bagi kita semua secara umum dan kelompok “Aswaja” secara khusus untuk lebih proporsional dalam menilai perbedaan pendapat di antara kelompok-kelompok Islam. Jadi, Team Aswaja sumut sebaiknya memperlakukan dirinya sebagai salah satu kelompok Islam yang memiliki pemahaman yang boleh jadi berbeda dengan “Aswaja” itu sendiri, daripada mengklaim diri sebagai perwakilan absolut Islam… (Bersambung)