BELAJAR SYIAH, MERAJUT UKHUWAH


BELAJAR SYIAH, MERAJUT UKHUWAH

Tanggapan Tulisan M. Nasir dan Fakhrurrazy Pulungan Tentang Syiah

Oleh : Candiki Repantu

(Ketua Yayasan Islam Abu Thalib)

 

Membaca tulisan Ustadz Nasir dan Ustadz Fachrurrazy Pulungan, terlihat adanya prasangka dan kesalahpahaman, tanpa bukti atau tanpa mengetahui dengan baik argument seseorang. Misalnya, tuduhan syiah memiliki syahadat tiga, menyatakan Alquran tidak asli, mencaci maki sahabat, emngkafirkan Aisyah ra. Ini namanya hasty generalization (generalisasi terburu-buru), sebuah kesalahan berpikir dalam menilai argumentasi seseorang.

Terlihat pula kontradiksi dalam tulisannya. Misalnya, Ustadz Nasir menulis, “Perbedaan dalam fikih dapat dimaafkan…akan tetapi persoalan akidah tidak dapat ditolerir…” Tetapi kemudian tulisannya memasukkan persoalan fikih. Lihatlah pada poin 12 (soal membaca ‘amiin’ dalam shalat), poin 13 (soal shalat jama’), dan poin 14 (soal shalat dhuha), semuanya adalah persoalan fikih. Sebagai exercise, apakah syiah sesat karena tidak membaca ‘amiin’ dalam shalat (padahal itu sunnah), menjama’ shalat (yang juga ada dalam sunni), dan tidak shalat dhuha (yang hukumnya sunnah). Saya mau Tanya kepada Ustadz Nasir apakah ketiga hal itu menyebabkan orang sesat dan tidak berakidah Islam?

Agar terhindar dari semantic fallacies—kesalahan berpikir akibat salah member makna atau menggunakan kata-kata—maka saya batasi makna syiah dimaksud adalah syiah imamiyah itsna asyariyah, yaitu syiah yang meyakini pasca Nabi SAW, pemimpin Islam adalah 12 imam dari keluarga Nabi yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad bin Hasan.

Tentang Abdullah bin Saba’

           

            Ustadz nasir menyebut Abdullah bin Saba’ (ibnu Saba’), “kuat dugaan perpecahan di tubuh umat Islam terjadi karena provokasi Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam)”.

            Pembahasan Ibnu Saba’ bias dinilai dari dua hal. Pertma, keberadaan Ibnu Saba’. Ulama syiah dan sunni ada yang menerimanya, ada yang menolaknya. Studi sistematis tentang Ibnu Saba’ dilakukan Murtadha al-Askari dalam bukunya Abdullah bin Saba’ wa Asathirul Ukhra yang nyaris mencapai 1000 halaman. Setelah meneliti sumber cerita Ibnu Saba’ dari syiah dan sunni, ia menyimpulkan Ibnu Saba’ adalah tokoh fiktif. Ulama sunni yang menganggap Ibnu Saba’ itu fiktif di antaranya adalah Thaha Husein, Dr. Hamid Hafna Daud, Hasan farhan al-Maliki, dan Abdul Aziz Halabi.

            Kedua, pendapat syiah tentang Ibnu Saba’. Kalaupun Ibnu Saba’ itu ada, tetapi ulama syiah tidak menganggap Ibnu Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali. Ulama syiah mengecam serta berlepas diri (tabarri) darinya. Jelaslah persoalan Ibnu Saba’ tidak ada kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah orang yang ditolak keberadaanya atau dikecam ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah? Sungguh kesimpulan yang gegabah.

Poin-poin Tanggapan

 

            Pertama, tentang syariat (ibadah). Ustadz Nasir (pada poin 1) dan Ustadz Fachrurrazy (pada bag. 2) menuliskan rukun Islam sunni dan syiah. Dari yang mereka tulis, maka terlihat persamaannya bukan perbedaan. Yakni sama-sama shalat 5 kali sehari semalam, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Ada dua perbedaan, yaitu persoalan syahadat dan wilayah (kepemimpinan).

            Syiah juga mengucapkan syahadat sebagaimana orang sunni mengucapkannya. Lebih jelas, pelajari shalat syiah, perhatikan bacaan tasyahud mereka yang di dalamnya ada syahadat, “Asyhadu an la ilaha illallah, wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu,” tanpa ada tambahan apapun. Jadi anggapan Ustadz Nasir (pada poin 3) bahwa syiah memiliki 3 kalimat syahadat sungguh keliru. Adapun persoalan wilayah (kepemimpinan ahlul bait), adalah komitmen syiah menerima ajaran Islam dari nabi dan ahlulbait-nya baik masalah akidah, hokum, ibadah dan lainnya. Salahkah, jika mengikuti ahlul bait Nabi?

            Kedua, tentang keimanan (akidah). Dalam syiah keimanan itu terbagi dua yakni ushuluddin (dasar agama) dan ushulul mazhab (dasar mazhab). Ushuluddin itu ada 3 yaitu Tauhid (ketuhanan), Nubuwah (kenabian), dan Ma’ad (kebangkitan di akhirat). Adapun ushulul mazhab ada dua yaitu al-adl (keadilan) dan Imamah (kepemimpinan). Inilah yang disebut ushulul khamsah (dasar yang lima) dalam syiah.

            Lantas, apakah syiah tidak percaya pada malaikat, kitab-kitab, dan takdir (qada dan qadar). Jangan gegabah menyimpulkannya! Syiah percaya semua itu. Syiah memasukkan kepercayaan pada malaikat dan kitab dalam bab kenabian, karena nabilah yang menerima wahyu melalui perantara malaikat. Silahkan baca seluruh kitab akidah syiah, maka Anda akan menemukan pembuktian atas kenabian, malaikat dan wahyu (kitab suci). Jadi syiah mempercayai kenabian, malaikat dan kitab suci. Adapun takdir dimasukkan syiah di bab keadilan, sebab keadilan adalah dasar keyakinan pada takdir.

            Ketiga, tentang sahabat dan Aisyah ra. Di antara yang sering dituduhkan adalah tentang shabat dan Aisyah ra.  Ustadz nasir pada poin 7 dan 8 menyebutkan bahwa syiah mencaci maki sahabat dan mengkafirkan Aisyah ra. Untuk menjawabnya, saya kutipkan fatwa resmi pemimpin syiah Ayatullah Ali Khamenei, “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah apalagi melontarkan tuduhan terhadap isteri Nabi dengan perkataan yang menodai kehormatannya, tindakan demikian harap dilakukan terhadap isteri para Nabi terutama Rasul termulia.”

            Keempat, tentang hadits syiah. Ustadz Nasir (poin ke-9) dan juga Ustadz Fachrurrazy mempersoalkan ilmu dan kitab hadits syiah. Ulama syiah menyusun keilmuan Islam di seluruh cabangnya, termasuk hadits. Salahkan syiah jika memiliki kumpulan hadits dari keluarga Nabi? Bagi syiah, riwayat dari 12 imam adalah hadits seperti hadis rasul, karena seluruh ilmu imam syiah bersumber dari Rasulullah. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Hadis yang aku riwayatkan adalah dari ayahku, yang didapat dari kakekku. Dan hadis kakekku adalah dari datukku Husein. Dan hadis Husein adalah juga hadis Hasan. Dan hadis Hasan berasal dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan hadis Ali berasal dari Rasulullah SAW. Dan hadits Rasulullah SAW berasal dari wahyu Allah ajja wa jalla.” (al-Kafi, juz 1). Ucapan imam Ja’far ini membantah Ustadz Fachrurrazy yang mengatakan, “semua hadis yang dikeluarkan para imam tidak perlu disandarkan kepada Nabi.”

            Kelima, tentang Alquran. Ustadz nasir (poin ke-10) dan juga Ustadz Fachrurrazy menganggap syiah meyakini Alquran tidak asli lagi. Ini tuduhan palsu. Ulama syiah menegaskan bahwa Alquran terjaga sampai kiamat. Syaikh Shaduq (w. 381 H) dalam kitabnya al-I’tiqadat hal. 83-84 menyatakan : “Keyakinan kami tentang Alquran, adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, firman dan kitab suci-Nya. Ia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun belakang…”

            Keenam,tentang surge dan cinta kepada Ali. Pada poin ke-11 Ustadz nasir menulis, “menurut syiah surge diperuntukkan bagi orang yang cinta kepada Imam Ali walaupun tidak taat kepada Rasulullah SAW, dan neraka diperuntukkan bagi orang yang memusuhi imam Ali, walaupun taat kepada Rasulullah.”  Sebagai tanggapan, Allah berfirman, “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri kalian” (Q.S. an-Nisa : 59). Pada ayat itu ada tiga ketaatan, yaitu taat pada Allah, Rasul, dan ulil amri (yang dalam penafsiran syiah adalah 12 imam). Lantas bagaimana mungkin syiah mempertentangkan kecintaan kepada Ali dan ketaatan pada Rasul?

            Syaikh Kulaini dalam al-Kafi meriwayatkan Imam Baqir berkata, “Apakah cukup seseorang menganggap dirinya syiah dengan hanya mengatakan kecintaan kepada kami, ahlul bait? Demi Allah, Tidak! Seseorang tidak termasuk syiah kami kecuali dia takut pada Allah dan menaati-Nya.”

Ketujuh,tentang Q.S. al-Maidah : 55. Ustadz Fachrurrazy mengulas Q.S. al-Maidah : 55 yang berbunyi, “sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’.”

Perhatikan, ayat tersebut menyebut 3 jenjang kewalian (kepemimpinan), yakni: 1). Allah, 2). Rasulullah, 3). Orang-orang yang beriman yang membayar zakat ketika ruku’. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa, “orang beriman yang mendirikan salat dan membayar zakat ketika ruku’” adalah Ali bin Abi Thalib. Banyak hadits menyatakan, “Pada saat ruku’ Ali memberikan cincinnya kepada pengemis, maka turunlah ayat tersebut, Q.S. al-Maidah: 55.” Banyak sahabat meriwayatkannya, seperti Abu Dzar, Anas, Ibnu Abbas, jabir dan Ali, yang tercatat di kitab-kitab sunni seperti Tafsir Ibnu Katsir, Asbab an-Nuzul al-Wahidi; Tafsir al-Kabir al-Razi, Tafsir Thabari, Syawahid at-Tanzil al-Hiskani, dan lainnya. Jadi, Ustadz Fachrurrazy menyatakan, “tidaklah mungkin ayat tersebut turun mengenai Ali bin Abi Thalib yang menjadi imam tertinggi, sementara Rasulullah SAW masih hidup dan menjadi Rasul” tertolak dengan hadits di atas. Kesimpulannya, bahwa Imam Ali telah dipilih sebagai wali (pemimpin) sejak masa Rasul masih hidup, dan secara total pasca wafatnya Rasul SAW. Wallahu a’lam. (Dimuat oleh Harian Waspada, Jum’at, 28 September 2012).      

%d blogger menyukai ini: