DIN AL-ISLAM : ANALISIS PERSPEKTIF HADITS TEMATIS


AGAMA ISLAM (DĬN AL-ISLĂM)

Analisis Perspektif Hadis Tematis

Oleh : Salamuddin, MA


Pengertian Agama Islam (dĭn al-Islăm) tidak cukup dipahami lewat makna generik dengan merujuk kepada al-Qur`an, atau kepada sebagian ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadĭś saja, karena akan melahirkan pandangan yang tidak utuh, keliru dan menyesatkan. Agama Islam (dĭn al-Islăm) juga tidak sama dengan dĭn atau millah, sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholish Madjid dan Jaringan Islam Liberal (JIL), karena makna dĭn dan millah lebih umum dari agama Islam (dĭn al-Islăm). Hadĭś menggunakan istilah dĭn dan millah bagi Islam juga bagi agama lain, seperti dĭn Kuffãr Quraisy dan millah Abdul Muthalib.

Kata Kunci : Agama Islam (Dĭn al-Islăm), Din, Millah

Pendahuluan

Membincang pengertian agama Islam (dĭn al-Islăm) selalu menarik, mengigat posisinya sebagai agama terakhir dan dibawa oleh penutup para Nabi, Muhammad saw Berbagai pandangan tentang diskursus ini telah dikemukakan oleh para pemikir sesuai latar belakang, kapasitas keilmuan, atau kepentingannya.

Tulisan ini juga bermaksud manyajikan pengertian agama Islam (dĭn al-Islăm), tetapi ditinjau dari perspektif hadĭś tematik, yaitu dengan mengumpulkan hadĭś-hadĭś yang terkait, dianalisis, dirumuskan, dan dikaitkan dengan al-Qur`an sehingga ditemukan pengertian agama Islam (dĭn al-Islăm) yang dianggap sesuai dengan hadĭś dan al-Qur`an.

Berikutnya, temuan ini akan dibandingkan dengan pengetian agama Islam (dĭn al-Islăm) yang dikembangkan oleh Nurcholish Madjid dan Jaringan Islam Liberal (JIL) sehingga dapat dilihat sejauh mana keabsahan pandangan-pandangan mereka jika dikaitkan dengan hadĭś dan al-Qur`an.

B. Pengertian Agama Islam (dĭn al-Islăm)

Pengetian agama Islam (dĭn al-Islăm) dapat ditelusuri dalam berbagai kităb hadĭś. Di antaranya dalam kitab şahĭh Muslim, Sunan Abŭ Daud, dan Musnad Ahmad bin Hambal. Ketiga kitab itu meriwayatkan satu hadĭś yang matannya sama dan sanadnya juga sama mulai dari Kahmas ke atas. Bedanya, Muslim meriwayatkan hadĭś tersebut dari Abŭ Khaiśamah Zuhair bin Harbin dari Waki’, Abŭ Dăwud meriwayatkannya dari Ubaidullăh bin Ma’ăż dari ayahnya, sementara Ahmad bin Hambal meriwayatkannya dari Muhammad bin Ja’far.

Hadĭś tersebut berbunyi :

حَدَّثَنِي أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ وَهَذَا حَدِيثُهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ[1]

Ditinjau dari sisi sanad yang berjumlah tiga orang, maka hadĭś di atas dapat dikategorikan hadĭś masyhŭr, dan tergolong maqbŭl, karena sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang ădil lagi dăbit, terhindar dari kejanggalan (syużuż), dan tidak ada ‘illat yang mencacatkannya.[2]

Ditinjau dari sisi matan, hadĭś tersebut termasuk hadĭś marfŭ’, karena matannya berasal dari nabi Muhammad saw, dan kualitasnya maqbŭl ma’mul bih, tidak terdapat kejanggalan dalam matan dan tidak ada cacat atau ‘illat.[3] Ditinjau dari sisi şahĭh tidaknya, hadĭś tersebut digolongkan kepada şahĭh li żătih karena memiliki lima syarat, yaitu sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh răwi yang ădil, kedăbithan perăwinya sempurna, tidak ada cacat atau ‘illat, dan tidak janggal (syaż).[4] Dengan demikian ia dapat dijadikan hujjah.[5],

Hadĭś ini menguraikan pengertian agama Islam (dĭn al-Islam) sesuai dengan informasi Nabi dalam hadĭś tersebut bahwa Jibrĭl ingin mengajari para sahabat dĭn al-Islăm (فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ). Dĭn yang dibawa oleh Muhammad saw terdiri dari Islam, iman dan ihsan. Islam menurut hadĭś ini adalah mengucap dua kalimat syahădat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah. Iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat, kităb-kităb suci, para Rasul, hari akhir, dan qadar baik atau buruk yang datang dari Allah. Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu.

Mengomentari hadĭś ini, an-Nawawi, Abŭ ‘Amrin aş-Şalăh, dan Ibnu Hajar al-Asqalăni berpendapat bahwa dĭn merupakan penjabaran dari Islam, iman, dan ihsan. Kendati hadĭś tersebut terkesan membedakan iman dengan Islam, dan dari sisi matan memberi kesan bahwa amal lahir bukan aktualisasi iman. Tetapi pembedaan ini hanya merupakan penjelasan dari konsep dĭn. Konsepsi iman dan Islam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.[6] Seseorang disebut beriman manakala telah mengamalkan Islam secara menyeluruh, sebaliknya kepasrahan dan ketundukan seseorang dalam mengamalkan ajaran Islam merupakan refleksi dari iman, dan aktualisasi Islam dan iman akan melahirkan ihsan.[7]

Iman, Islam dan ihsan sering juga disebut tauhid, ibadah, dan akhlak dan berfungsi sebagai piranti dasar agama Islam (dĭn al-Islăm). Selain iman (tauhid), ihsan (akhlak) juga harus menjadi landasan bagi aktifitas (ibadah)[8] manusia baik dalam hubungannya dengan Allah, maupun dalam hubungannya dengan manusia. Dengan demikian dĭn al-Islăm merupakan agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Bentuk dan tata cara hubungan antara manusia dengan Allah, atau dengan sesamanya, atau dengan alam semesta dijelaskan dalam banyak hadĭś. Hadĭś yang terkait hubungan manusia dengan Allah antara lain adalah:[9]

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.[10]

Hadĭś ini menjelaskan bahwa sebagai Muslim harus mengucap dua kalimat syahădat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.

Hadĭś yang menjelaskan hubungan manusia dengan sesamanya di antaranya adalah:

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ، وَإِسْمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ وَقَالَ عَبْدُ الأَعْلَى عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏[11].

Hadĭś ini antara lain menjelaskan bahwa status Muslim diberikan hanya kepada orang yang berfungsi sebagai penebar kedamaian (salăm). Ia tidak menyakiti sesamanya baik lewat lisan maupun perbutan (tangan).

Hadĭś yang menjelaskan hubungan manusia dengan alam semesta di antaranya adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ[12]

Hadĭś ini menjelaskan motivasi Nabi kepada setiap Muslim supaya memanfaatkan alam (tanah) untuk mengembangkan pertanian demi kesejahteraan penduduk bumi (manusia dan binatang) dan ia akan diberi ganjaran sesuai hasil usahanya.

Pengelolaan alam (tanah) harus memenuhi prinsip keseimbangan dan tidak dibenarkan berbuat kerusakan karena akan merugikan manusia itu sendiri. Allah melarang manusia berbuat kerusakan karena berdampak buruk bagi ekosistem. Hal ini dijelaskan Allah dalam al-Qur`an surat al-Qaşaş ayat 77 sebagai berikut:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.

Masih banyak hadĭś yang menjelaskan tentang sisi lain dari kehidupan manusia, seperti siyăsah, jinăyah, iqtişădiyah, dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan dalam makalah ini karena keterbatasan tempat.

Penjelasan di atas memberi gambaran bahwa agama Islam (dĭn al-Islăm) bersifat universal dan mengatur setiap aspek kehidupan manusia, dan penulis kesulitan membuat konsepsi yang menggambarkan artikulasi agama Islam secara utuh dan menyeluruh. Tetapi tanpa bermaksud mereduksi pengertian agama Islam (dĭn al-Islăm) penulis sependapat dengan Abdullăh bin Jărullăh[13] yang menyatakan bahwa agama Islam (dĭn al-Islăm) adalah tunduk, patuh, dan beriman dengan rukun iman serta rukun Islam, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah secara menyeluruh sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an dan hadĭś.

Dengan demikian, Islam sebagai agama tidak cukup dipahami lewat makna generiknya, karena ia sebagaimana diuraikan di atas mencakup Rukun Islam yang lima, Rukun Iman yang enam dan ihsan, dan jika dikaitkan dengan hadĭś-hadĭś lain mencakup semua aspek kehidupan manusia sebagai sebuah sistem yang sempurna. Allah swt berfirman dalam surat al-Mă`idah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا

Karenanya, logika yang benar akan menyimpulkan bahwa status Muslim hanya diberikan bagi orang yang meyakini agama Islam (dĭn al-Islăm) secara utuh, baik yang termaktub dalam al-Qur`an maupun dalam hadĭś. Meyakini al-Qur`an tetapi menolak hadĭś, tidak dapat dinyatakan sebagai Muslim, karena hadĭś juga merupakan sumber hukum Islam. Apalagi hanya meyakini makna generik Islam dari  al-Qur`an.

Penggunaan dan pemaknaan istilah yang rancu tetang agama Islam (dĭn al-Islăm) juga dapat dilihat dalam pemikiran Budi Munawwar Rahman saat menggagas universalitas Islam dan mengartikulasikan Islam hanya sebagai sikap pasrah kepada Tuhan dan mengajarkan Islam dalam arti generiknya. Menurutnya, Islam tampil dalam satu rangkaian dengan agama-agama Islam yang lain. Namun dari aspek nama sejalan dengan lingkungan, bahasa, dan mode of thinking-nya.[14]

Sebelum Budi Munawwar Rahman, Nurcholish Madjid telah memperkenalkan makna generik Islam sebagai agama berserah diri, namun menurut Adian Huseini beliau tidak menegaskan lebih jauh, mana saja agama yang mengajarkan sikap pasrah itu. Bagaimana posisi agama-agama selain Islam? Bagaimana cara pasrah kepada Tuhan? Siapa yang dimaksud dengan Tuhan itu? Jika orang Hindu pasrah kepada Tuhan-nya dengan caranya sendiri, apakah bisa disebut Muslim? Nurcholish juga tidak membahas, misalnya, bagaimana posisi kewajiban keimanan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah orang Yahudi dan Kristen yang pasrah kepada Tuhan tetapi tidak beriman kepada kenabian Muhammad saw bisa disebut Muslim? Semua itu tidak ditegaskan oleh Nurcholish.[15]

Pemaknaan seperti ini jelas merupakan pengaburan terhadap hakikat agama Islam (dĭn al-Islăm) yang secara konseptual diilhami dari pemahaman terhadap al-Qur`an dan hadis secara utuh dan menyeluruh. Jika Nurcholish Madjid dan kawan-kawan hanya bertujuan mejelaskan mengenai titik temu ajaran agama-agama? Tentu semua agama memiliki titik temu. Tetapi jika diorientasikan untuk menyatakan semua agama sama, maka hal itu tidak berdasar. Jika semua agama sama kenapa harus mencari titik temunya?

Dengan demikian, agama Islam (dĭn al-Islăm) jelas berbeda dengan agama lain. Barang siapa yang beragama selain Islam setelah turunnya risalah Muhammad saw akan ditolak dan kelak akan masuk ke dalam neraka. Rasulullah saw bersabda:

حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَد مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ[16].

An-Nawawi sewaktu manafsirkan hadĭś ini mengemukakan  bahwa agama selain Islam telah terhapus setelah diutusnya nabi Muhammad saw. Beliau manambahkan, jika agama Yahudi dan Nasrani yang termasuk agama samawi saja telah terhapus setelah turunnya agama Islam, maka agama lain juga  telah terhapus karena keabsahannya masih membutuhkan pengkajian.[17]

Makna hadĭś ini dikuatkan oleh firman Allah swt. pada surat Ali Imran ayat 19 dan 85 yang berbunyi:

إن الدين عند الله الاسلام

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Menurut Ibnu Kaśĭr, ayat di atas menjelaskan bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam. Agama-agama yang diturunkan sebelum Muhammad saw hanya berlaku di masanya dan tidak berlaku setelahnya.[18] Dengan demikian, setelah agama Islam (dĭn al-Islăm) diturunkan, penganut agama lain harus masuk ke dalam agama Islam (dĭn al-Islăm) yang dibawa oleh Nabi penutup. Allah swt. berfirman dalam surat as-Saba` ayat 28 dan surat al-A’raf ayat 158 sebagai berikut:

وما أرسلناك إلا كافة للناس

قل يأيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا

Ayat ini dikuatkan oleh hadĭś yang diriwayatkan oleh Bukhări, Ahmad, dan Nasă`i  dengan lafaz yang sama, hanya Muslim yang meriwayatkan dengan lafaz berbeda. Hadĭś tersebut berbunyi:

وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس عامة [19]

Selain al-Qur`an dan hadĭś di atas, dalam sejarah dijelaskan bahwa nabi Muhammad saw mengrim surat kepada para Kaisar supaya masuk ke dalam agama Islam. Salah satu suratnya terdapat dalam hadĭś yang berbuyi:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا تِجَارًا بِالشَّأْمِ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِي مَجْلِسِهِ وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّي وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لَا قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لَا وَنَحْنُ مِنْهُ فِي مُدَّةٍ لَا نَدْرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا قَالَ وَلَمْ تُمْكِنِّي كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا وَسَأَلْتُكَ هَلْ قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقُلْتُ لَوْ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِي بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ أَمْرُ الْإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الْإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغْدِرُ وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَيَنْهَاكُمْ عَنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } قَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ وَارْتَفَعَتْ الْأَصْوَاتُ وَأُخْرِجْنَا فَقُلْتُ لِأَصْحَابِي حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ فَقَالَ بَعْضُ بَطَارِقَتِهِ قَدْ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلَّا الْيَهُودُ فَلَا يُهِمَّنَّكَ شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ مِنْ الْيَهُودِ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ أُتِيَ هِرَقْلُ بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لَا فَنَظَرُوا إِلَيْهِ فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ وَسَأَلَهُ عَنْ الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ يَخْتَتِنُونَ فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مُلْكُ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ ثُمَّ كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ وَكَانَ نَظِيرَهُ فِي الْعِلْمِ وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى حِمْصَ فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ صَاحِبِهِ يُوَافِقُ رَأْيَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نَبِيٌّ فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِي دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ هَلْ لَكُمْ فِي الْفَلَاحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِيَّ فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الْأَبْوَابِ فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ وَأَيِسَ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَيَّ وَقَالَ إِنِّي قُلْتُ مَقَالَتِي آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ فَقَدْ رَأَيْتُ فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ رَوَاهُ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ وَيُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ[20]

Islam juga tidak bisa disamakan dengan dĭn sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholish Madjid,[21] baik dalam makna generik jika merujuk pada pendapat Yusuf Qardawi,[22] maupun dalam makna terminologis jika merujuk pada kesimpulan Nasiruddin Latif dalam mengkaji makna dĭn.[23] Menurut beliau, tatkala kata dĭn dikonversikan ke dalam ayat-ayat al-Qur`an, maka maknanya tidak bersifat generik, tetapi dalam makna terminologis. Salah satu makna terminologis dĭn menurutnya adalah ketundukan dan ketaatan kepada kekuasaan Allah.[24] Atas dasar ini dĭn bukan saja digunakan untuk agama Islam tetapi juga digunakan untuk agama lain. Mu’jam al-Wasĭth juga mengartikan dĭn sebagai nama bagi seluruh agama yang menyembah Allah dan disamakan dengan millah.[25] Pemaknaan ini sejalan dengan ayat keenam surat al-Kafirun[26] dan berbagai hadĭś yang menyebut agama lain dengan dĭn, salah satu di antaranya berbunyi:[27]

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلَاثٍ[28]

Islam juga tidak bisa disamakan dengan millah. Millah lebih umum dari Islam. Mu’jam al-Wasît mengartikan millah sebagai nama syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi untuk keselamatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Millah digunakan untuk Islam juga digunakan untuk agama lain.[29] Hadĭś nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Bukhari juga menyebut agama Abdul Muthallib sebagai millah. Hadĭś tersebut berbunyi:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ { مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ }[30]

C. Kesimpulan

Pengertian agama Islam (dĭn al-Islăm) menurut hadĭś dan al-Qur`an adalah tunduk, patuh, dan beriman dengan Rukun Iman serta Rukun Islam, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah secara menyeluruh sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an dan hadĭś.

Pengertian Agama Islam (dĭn al-Islăm) tidak cukup dipahami lewat makna generik dengan merujuk kepada al-Qur`an, atau kepada sebagian ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadĭś saja, karena akan melahirkan pandangan yang tidak utuh, keliru dan menyesatkan.

Agama Islam (dĭn al-Islăm) juga tidak sama dengan dĭn atau millah, sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholish Madjid dan Jaringan Islam Liberal (JIL), karena makna dĭn dan millah lebih umum dari agama Islam (dĭn al-Islăm). Hadĭś menggunakan istilah dĭn dan millah bagi Islam juga bagi agama lain, seperti dĭn Kuffãr Quraisy dan millah Abdul Muthalib.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Azdĭ, as-Sijistani, Sulaimăn bin Asy’aś, Abŭ Dăwud, Beirut, al-Maktabah al-‘Aśriyah, ttp.

Al-‘Asqalăni, Hajar, Ibnu, Fath al-Bări li Ibni Hajar, http://www. al-Islam. com, 1995

Al-Bukhări, Abŭ ‘Abdillăh Muhammad bin Ismă’ĭl bin Ibrăhĭm bin Mughĭrah bin Baradzabah, Şahĭh al-Bukhări, Beirut, Libanon, Dăr al-Kutub al-‘Ilmiah, t.t.p

Ad-Duaisy, Ahmad bin Abdurrazzăq, Fatăwă al-Lajnah ad-Dă`imah li al-Buhŭs al-Ilmiyah, Riyad, Ri`ăsah Idărah al-Buhŭś al-Ilmiyah wa al-Iftă, 1417-1996

Al-Qardăwi, Yŭsuf Madkhal li ad-Dirăsah al-Islam, Mesir, Maktabah al-Ma’ărif,  1995

An-Nawăwi, Syarh an-Nawăwĭ ‘Ala al-Muslim, http://www. al-Islam.com, 1995

Hambal, Ahmad, bin, Musnad al-Imăm Ahmad, Mesir, Dar al-Ma’ărif, 1949H/ 1980H.

Husaini, Adian, Sinkretisme Agama, http://swaramuslim.net/more.php?id, 2008

Ibrăhĭm, Abdullăh bin Jărullăh, Ălu Jărillăh, Kamăl al-Dĭn al-Islămi wa hakĭkat mizăyăha, al-Mamlakah as-Su’ŭdiyah al-‘Arabiyah, Wuzărah asy-Syu`ŭn al-Islamiyah wa al-Auqăf, 1418

Kaşĭr, Ibnu, Tafsĭr al-Qur`ăn al-‘Azĭm, Mesir, Maktabah al-Ma’ărif, 1995

Latief, Nasiruddin, Makna Dĭn, Millah dan Nihlah dalam al-Qur’an, http://fadelnas.blogspot.com/2006

Madjid, Nurcholish et.,al., Fikih Lintas Agama, Jakarta, Yayasan Wakaf PARAMADINA Bekerjasama Dengan The Asia Foundation, 2004

Muslim bin al-Hajjăj, Abŭ al-Husein, al-Qurasyi an-Naisabŭri, Şahĭh Muslim, Mesir, Maktabah al-Ma`ărif, 1995

Musthăfă, Ibrăhim at., al., al-Mu’jam al-Wasĭt, www.dorar.net., 2007

Rahman, Munawar, Budhy Islam Pluralis, Jakarta, PARAMADINA, 2001

Taimiyah, Ibnu, As-Siyăsah asy-Syar’iyah, Wuzarăt asy-Syu’ŭn al-Islămiyah wa al-Auqăf wa ad-Da’wah wa Irsyăd, 1418H

Wahid, Abdul, Ramli, Dr., Studi Ilmu Hadĭś, Bandung, Citapustaka Media, 2005


[1]Abŭ al-Husein Muslim bin al-Hajjăj al-Qurasyi an-Naisăbŭrĭ, Şahĭh Muslim, juz I, (Mesir: Maktabah al-Ma`ărif, 1995), h. 7, dan lihat Ahmad bin Hambal asy-Syaibăni, Musnad Ahmad, (http://www. al-Islam.com: 1995), h. 99, dan lihat Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abi Daud, (http://www. al-Islam.com: 1995), h. 306

[2]. Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadĭś, (Bandung: Citapustaka Media, 2005), h. 163

[3]. Ibid.

[4] Ibid.

[5]. Ramli Abdul Wahid berbendapat bahwa Ulama sependapat bahwa hadĭś şahĭh, sekalipun ahad, dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum syariat. Ramli Abdul Wahid, loc., cit., h. 172

[6]. An-Nawăwi, Syarh an- Nawăwi ‘ala al- Muslim, (http://www. al-Islam.com: 1995), h. 70

[7]. Ibnu Hajar al-‘Asqalăni, Fath al-Bări li Ibni Hajar, (http://www. al-Islam.com: 1995), h. 80

[8]. Ibadah yang dimaksud di sini terdiri dari ibadah mahdah dan gair al-mahdah. Ibadah Mahdah adalah ibadah yang tata cara pelaksanaannya diajarkan oleh nabi Muhammad saw, dan ibadah gair al-mahdah adalah seluruh aktifitas yang dilakukan manusia dengan niat ikhlas, dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum Allah.

[9]. Hadĭś ini selain mengatur hubugan manusia dengan Allah, juga terkait dengan hubungan manusia dengan sesamanya, seperti zakat yang ditujukan untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat kurang mampu.

[10]. Abŭ ‘Abdillăh Muhammad bin Ismă’ĭl bin Ibrăhĭm bin Mugĭrah bin Barazdabah al-Bukhări, Şahĭh al-Bukhări,( Beirut, Libanon: Dăr al-Kutub al-‘Ilmiah, t.t.p.), h. 9-10

[11]. Muslim, op., cit., h. 2

[12]. Bukhări, op., cit., h. 427 dan lihat  Muslim, op., cit., h. 177

[13]. Abdullăh bin Jărullăh bin Ibrăhîm Ălu Jărillăh, Kamăl ad-Dĭn al-Islămi wa hakîkat mizăyăhă, (al-Mamlakah as-Su’udiyah al-‘Arabiyah: Wuzărah asy-Syu`un al-Islamiyah wa al-Auqăf, 1418), h. 7. Lihat juga Ahmad bin Abdurrazzăq ad-Duaisy, Fatăwa al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuś al-‘Ilmiyah, (Riyad: Ri`ăsah Idarah al-Buhuś al-‘Ilmiyah wa al-Ifta`, 1417-1996), h. 40. Bandingkan dengan pendapat Ibnu Taimiyah yang menjelaskan bahwa pengertian Islam yang sempurna adalah mengimani dan melaksanakan Rukun Islam yang lima, yaitu mengucap dua kalimat syahădat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah. Ibnu Taimiyah, as-Siyăsah asy-Syar’iyah, (Riyad: Wuzarăt asy-Syu’ûn al-Islamiyah wa al-Auqăf wa ad-Da’wah wa al-Irsyăd, 1418H)., h. 31, dan bandingkan dengan pendapat Mahmŭd Saltut yang menyatakan bahwa Islam adalah agama Allah yang diperintahkan kepada nabi Muhammad saw untuk diajarkan kepada umat manusia. Mahmud Saltut, Islam, Aqidah dan Syari’ah, terjemahan Abdurrahman Zein dan Ridha Maulana Akbar, (Jakarta: Pustaka Amani, 1986), h. 1

[14]. Budhy Munawar-Rahman, Islam Pluralis, (Jakarta: PARAMADINA, 2001), h. 57-62

[15]. Adian Husaini, Sinkretisme Agama, (http://swaramuslim.net/more.php?id, 2008), h. 2

[16]. Muslim, op., cit., h. 365

[17]. An-Nawawi, op., cit., h. 279

[18]. Ibnu Kasîr, Tafsîr al-Qur`an al-‘Azîm, (Mesir: Maktabah al-Ma’ârif, 1995), h. 363

[19]Bukhări, op., cit., h. 218, dan lihat Muslim, op., cit., h. 91

[20]. Bukhări, op. cit., h. 8 dan lihat Muslim, op., cit., h. 93

[21]. Nurcholis Madjid et.al., Fikih Lintas Agama, (Jakarta: Yayasan Wakaf PARAMADIA Bekerjasama Dengan The Asia Foundation, 2004), h. 45

[22]. Agama dalam makna generiknya adalah keyakinan akan adanya satu atau banyak Zat yang gaib dan Maha Tinggi lagi Mandiri dalam mengatur hidup manusia.  Yusuf al-Qardăwi, Madkhal li ad-Dirăsah al-Islăm, (Mesir: Maktabah al-Ma’ărif, 1995), h. 1

[23]. Nasiruddin Latief, Makna Dĭn, Millah dan Nihlah dalam al-Qur’an, (http://fadelnas.blogspot.com/2006), h. 1

[24]. Lihat al-Qur`an surat Ălu ‘Imrăn ayat 83, al-Baqărah ayat 5, an-Nahl ayat 52, dan Găfir ayat 65.

[25]. Ibrăhĭm Musthafă, et. al., al-Mu’jam al-Wasĭth, (www.dorar.net. 2007), h. 451

[26]. لكم دينكم ولى دين

[27]. Al-Bukhări, op. cit., h. 25

[28]. Al-Bukhări, op., cit., h. 146 َ

[29]. Ibrăhĭm Musthafa et. al.,. op., cit., h. 386

[30]. Bukhări, op., cit., h. 146, dan lihat Muslim, Op., Cit., h. 151

@Salam Mbk Prita :

Terima kasih atas tanggapannya…

ada beberapa poin yang ingin sy tanggapi kembali, karena saya melihat kontradiksi jawban anda :

1. Anda mengatakan bahwa “sesuatu yang tidak qadim, maka juga tidak baqa”….hal ini bertentangan dgn pernyataan anda sebelumnya, bahwa jin, surga neraka adalah baqa tetapi tidak qadim…!!!!

Jika anda kaitkan hal ini, dgn waktu, maka ini akan bertentangan dgn jawaban2 anda berikutnya…

2. Perkataan anda yang tidak memastikan hal ini, pada dasarnya anda jawab pd soal no. 1 diatas dan no. 4 dimana anda menyatakan bahwa waktu hanya berhubungan dgn material….., ini berarti bhwa jin, surga, neraka, tidak terikat waktu, karena mereka makhluk immaterial (kecuali anda berpendapat, bahwa surga, jin, nraka, adalah material)…

dan jika jin, surga, dan neraa tidak terikat waktu, maka itu berarti hal2 tersebut adalah qadim dalam waktu dan baqa (tidak akan musnah)…

Jika anda mengatakan bhw mereka diciptakan dalam waktu, ini berarti mereka material, dan yang material anda katakan pd no.1 akan musnah…tetapi mengapa anda mengatakan disini bhw, mereka tetap ada setelah waktu musnah,..ini pernyataan yg kontradiksi…. (menariknya, disini anda berasalan dgn ayat2 al-Quran yg anda baca, maaf mungkin soal ayat kita bicarakan lain waktu, karena berhubungan dgn tafsir dan saya tidak tahu ayat mna yg anda maksud)….

3. Jika anda mengakui bahwa makhluk pertama yang diciptakan Tuhan tidak terkena waktu, maka itu berarti makhluk pertama tersebut adalah Qadim zamani (qadim dalam waktu)….., jadi jelas anda mengakui adanya makhluk yang qadim, dan yang qadim itu pasti juga baqa…

4. Anda mengakui bahwa waktu berhubungan dgn material, ini berarti juga bahwa waktu tidak terikat dgn immaterial (meskipun anda tidak memastikannya)…. terlepas anda memegang prinsip relatifitas waktu Einstein pd kategori cahaya, yang dijabarkan oelh Einstein salah satunya dengan “teori manusia kembar”…

Hany saja, disini yang penting seperti sy katakan pd poin.2 bahwa jika anda mengakui jin, surga, neraka, itu immaterial, maka tidak mungkin jin, surga, neraka, terikat dengan waktu…..dgn demikaian, penciptaan mereka juga semestinya tidak terikat oleh waktu….(perhatikan kembali poin. 2 jawban anda)

5. Betul mbak, bagi saya, memanga terdapat “wujud mungkin” yang bersifat qadim dalam waktu, yang berarti penciptaanya tidak didahului oleh waktu, yang keberadaanya (dari sisi waktu) bersamaan dengan keberadaan Tuhan, meskipun dia bergantung pd Tuhan dari sisi Zatnya …contohnya adalah “makhluk pertama” yang telah anda akui tidak terikat pd waktu…

mohon maaf yg berilmu tinggi
wallahu a’lam.

Iklan
%d blogger menyukai ini: