SUMPAH PEMUDA 2009 : “SATU PENDERITAAN, PENDERITAAN INDONESIA”..!!!


Oleh : Candiki Repantu

Telah disepakati bahwa kebangkitan hanya mungkin di dapat jika kita bersatu. Masalahnya, apa yang menjadi landasan persatuan. Teori umum menyebutkan bahwa persatuan bisa diwujudkan melalui landasan nasionalisme yang disatukan dalam satu tanah air, satu suku, satu ras, satu bangsa, satu bahasa, atau satu agama. Dan beberapa unsur itu pernah dijadikan sumpah oleh Pemuda Indonesia 81 tahun yang lalu (Sumpah Pemuda 28 oktober 1928).

Ada juga yang mengusulkan bahwa sebuah perubahan dan kebangkitan suatu bangsa akan tercapai jika muncul para pahlawan (orang-orang besar) atau gagasan-gagasan besar. Orang-orang besar (para intelektual, cendekiawan, atau pemimpin) akan menyadarkan manusia dan membawa mereka untuk melakukan gerakan pembebasan dan kebangkitan yang terarah. Orang-orang besar ini, akan memicu masyarakat untuk melakukan perlawanan atas segala jenis penjajahan baik fisik, politik, kebudayaan maupun ideologis. Begitu pula, gagasan-gagasan besar akan membentuk kesadaran bersama untuk bangkit dan melakukan perlawanan atas segala tekanan.

Namun, tanpa menafikan peran intelektual dan gagasannya, peran kesatuan bahasa, kesatuan tanah air, kesatuan bangsa, atau kesatuan agama, sesungguhnya kebangkitan dan perlawanan lebih di dasarkan pada rasa kemanusiaan yang sama. Dan rasa itu, tidaklah di dapatkan melalui unsur-unsur tersebut, melainkan timbul dari rasa KESATUAN PENDERITAAN. Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno menegaskan bahwa para intelektual hanyalah menunjukkan jalan untuk menyalurkan arus aspirasi bangsa sehingga mencapai lautan keselamatan dan kebebasan. Baginya, pergerakan rakyat muncul dari kesengsaraan rakyat, dan pengaruh kaum intelektual (pemimpin) atas jiwa rakyat pada dasarnya juga muncul dari kesengsaraan rakyat tersebut.

Begitu pula dengan cita-cita kebangkitan yang digagas 101 tahun yang lalu oleh para pendiri Budi Utomo, semua itu didasarkan pada kesadaran akan penderitaan bersama. Perhatikan salah satu isi pidato Soetomo saat pembentukan Budi Utomo yang menginspirasikan cita-cita kebangkitan bangsa :

“Kami akan bekerja dengan bangsa kita dari segala lapisan dan segala tingkat kehidupan, supaya tanah dan rakyat boleh menempuh kemajuan dengan aman dan damai di dalam pergaulan hidup sendiri. Sifat serta fi’il kita, tabiat pekerti kita, ilmu kitab kita, pengetahuan kita atas bunyi-bunyian, suka duka kita, harapan dan cita-cita kita, segala sesuatu hendaklah mendapat jalan buat dilahirkan serta diperkatakan di dalam bond itu. Baik perihal pelajaran sekolah anak-anak Bumiputera, baikpun tentang urusan mengusahakan tanah akan sama-sama dipentingkan oleh bond kami. Begitu pula baik tentang keselamatan diri dan harta benda rakyat, maupun tentang cara pemerintah negeri dilakukan akan jadi perhatian bond kami.” (Pidato Soetomo, 1908)

Dengan demikian, untuk mewujudkan kebangkitan nasional, kita membutuhkan sekelompok orang yang memahami dialektika zamannya, sehingga tidak terkejut oleh tekanan zaman yang melingkupinya. Dan ternyata, bangsa ini belum mengerti tentang situasi zamannya, sehingga terkejut, saat tiba-tiba mendapati bangsa ini dalam masalah serius. Bayangkan, para pakar ekonomi di negara ini, sejak dari jajaran para menteri hingga Tim ekonomi, tidak mampu menganalisa hatta soal minyak di pasaran dunia, sehingga harus kelabakan menanggapinya dan lagi-lagi harus mengorbankan rakyat banyak atas nama keselamatan bangsa—yang sebenarnya lebih untuk menyelamatkan para pejabat dan pengusaha. Inilah mengapa Imam Ja’far Shadiq pernah berkata, “Barangsiapa yang memahami zamannya, maka tidak akan dikejutkan oleh segala serbuan yang membingungkannya.”

Sekali lagi, kita belum mengenal zaman sehingga kita bingung menghadapinya. Kita bingung akan harga BBM dan gas bumi, bingung persoalan investor, bingung soal privatisasi, bingung soal liberalisasi, bingung soal arah pembangunan, bingung masalah kemiskinan, bingung masalah pengangguran, bingung masalah hutan, bingung masalah pendidikan, bingung..bingung..dan bingung. Begitulah, sehingga kita pun akhirnya mengeluarkan kebijakan dari hasil kebingungan.

Kebijakan hasil kebingungan ini melahirkan jumlah penduduk miskin mencapai 39,1 juta, penduduk hampir miskin 28,6 juta, dan penduduk di bawah kemiskinan mencapai 67,7 juta. Sedangkan, pengangguran 11,1 juta dan setengah menganggur 29,9 juta. Jadi, total pengangguran mencapai 41 juta (38,6 %) dari angkatan kerja atau 18,5 % jumlah penduduk. Meskipun begitu, kita patut ‘optimis dan bangga’ kata Presiden dalam pidatonya di Istana Negara, karena kita mengalami kemajuan perekonomian dan pertanian kita surplus pangan. Mudah-mudahan surplus pangan itu, bisa ‘dieksport’ ke daerah-daerah kantong kemiskinan di negeri ini. Dan kita ‘lebih bangga’ lagi, karena salah satu majalah asia melansir orang-orang Indonesia yang hidup di atas garis kekayaan. Fakta yang berlawanan ini lagi-lagi membingungkan kita, mestikah kita menangis atau tersenyum manis? Yang pasti, ini sungguh ironis!

Jadi, kesadaran untuk ‘kebangkitan nasional’ ini kembali menemukan momentumnya saat ini. Dengan semangat reformasi, para pemuda bersatu membentuk kesadaran bersama akan keterpurukan bangsa ini, dengan menggelar aksi “100 tahun kebangkitan nasional”. Dengan memahami kondisi dan situasi yang dihadapi saat ini, dan dengan cita-citanya yang mulia para kaum terpelajar bangsa ini bersatu dalam usaha mewujudkan kebangkitan nasional. Sebab, kebangkitan dapat diraih jika kita menyadari bahwa kita sedang terpuruk. Sebab, jika kita merasa besar dan lupa diri, maka dirinya tidak akan terpacu untuk mewujudkan ‘kebangkitan’, malah keterpurukan itu akan dianggap sebagai lahan untuk mengais keuntungan.

Semangat ‘kebangkitan nasional’ ini, membuat pikiran kita menerawang kembali pada semangat yang dikobarkan oleh Soekarno dalam “Indonesia Menggugat” : “Rakyat Indonesia sejak 1908 sudah bangkit; nafsu menyelamatkan diri sejak 1908 sudah menitis juga. Imperialisme-modern yang mengaut-ngaut di Indonesia itu,—yang menyebarkan kesengsaraan di mana-mana—sudah menyinggung dan membangkitkan musuh-musuhnya sendiri. Raksasa Indonesia yang tadinya pingsan seolah tak bernyawa, sekarang sudah berdiri tegak dan memasang tenaga! Setiap kali ia mendapat hantaman dan rubuh, ia tegak kembali! Seperti mempunyai kekuatan rahasia, kekuatan penghidup, aji-pancasona dan aji-candrabirawa, ia tidak bisa dibunuh dan malah makin lama makin tak terbilang pengikutnya!” (Soekarno, Indonesia Menggugat, 1956)

Jadi, untuk melakukan revolusi sosail di Indonesia dlm milenium baru maka, ‘SUMPAH PEMUDA 2009’, bukan saja satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia, tetapi harus di tambah satu lagi yakni : ‘SATU PENDERITAAN, PENDERITAAN INDONESIA ….!!!! mari kita teriakan bersama

Terakhir, ‘hari kebangkitan nasional’ tahun ini 28 oktober 2009, mudah2an dapat menjadi gejala perbaikan bangsa ini untuk menuju kemandirian yang lebih bermartabat. Semoga!..wallahu a’lam

Kawan2 lagi aksi di Konjen Amerika Medan…. pd hari al-Quds … semoga tetap semangat menumbangkan para tiran di setiap zaman….
%d blogger menyukai ini: