JALAN KESELAMATAN


Oleh : Sudi Utama Tumangger

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan. Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya. Amin

%d blogger menyukai ini: