AGAMA DAN TERAPI KEJIWAAN


Oleh : Sudi Utama Tumangger

Ciri-ciri penyakit jiwa yang telah menghantui masyarakat modern adalah penyakit yang dideritanya adalah bukanlah penyakit sejati, secara tradisional disebut penyakit mental, dan sekarang orang menyebutnya psikosomatis. Ia bukanlah penyakit dalam pengertian bahwa penderita harus menganggap dirinya mengidap sakit, akan tetapi penyakit yang dialami sipenderita adalah sebagai akibat tekanan dari alam sekitar mereka atau bisa juga ‘sesama manusia saling bermusuhan hanya karena persoalan yang tidak begitu penting dalam kaca mata agama, yakni kebutuhan akan materi dan kebutuhan-kebutuhan yang lain untuk sementara waktu.

Konskuensi dari cara pandang masyarakat yang materialistik ini  sangat erat kaitannya dengan perkembangan pengamalan ajaran agama sebagai pembimbing keselamatan hidup. Peraturan agama bukan dianggap hal sakral dan penting untuk menyelami makna batinnya sehingga mampu membimbing manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, jangan sampai ajaran agama hanya sebatas kulit luar belaka selebihnya tidak ada, agama hanya dikenal  pada hari-hari perayaan besar belaka, sementara dalam kehidupan kesehariannya tetap saja melanggar ajaran mulia yang terdapat agama.

Jika penyakit ini telah menghinggapi masyarakat modern, maka tugas para ahli agamalah untuk menyadarkan masyarakat kembali agar pandangan yang dulunya materialistik berubah kepada cara pandangan ilahiah atau ketuhanan. Disaat para dokter kesehatan tubuh tidak mampu maka saat itu para dokter spritual yang tercerahkan turun tangan ambil bagian untuk menyelamatkan masyarakat yang sedang sekarat ini.

Sekedar untuk mengingatkan bahwa masyarakat kita mulai berperilaku yang tidak diinginkan agama mulia kita. Sebahagian perilaku masyarakat sekarang tidak lebih baik sebagaimana manusia primitif berperilaku. Sigmund Freud mengingatkan kita “Manusia primitif memenuhi kebutuhan hasratnya lebih baik daripada manusia yang telah berperadaban” hidup mereka bebas dari penyakit kecemasan yang tidak realistik, mereka tidak menderita penyakit kejiwaan sebagaimana yang telah banyak memakan korban. Akan tetapi sejak munculnya dunia peradaban yang di agung-agungkan oleh para pendukungnya, kehidupan manusia yang dulunya sederhana tapi bersahaja berubah menjadi kehidupan yang canggih akan tetapi penuh dengan persoalan mutakhir. Menurut para ahli bahwa tidak semua persoalan manusia modern kali ini mampu dipecahkan menurut cara pandang ilmu yang empirik, para ahli itu rupanya telah sadar yang selama ini sedikit mengabaikan agama atau malah menjauhkan agama dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan manusia di zaman medern ini mengalami gangguan kejiwaan adalah rasa kecemasan dan keinginan yang telah mendominasi akal pikirannya untuk mengumpulkan materi dan menaklukkannya alam sebisa mungkin, falsafahnya‘ cara pandangnya’ seperti ini ‘hidup harus mengikuti keinginan nafsu sepuas-puasnya, bukan hidup sesuai dengan kebutuhan, sebab jika kita hidup berdasarkan atas kebutuhan maka kemungkinan besar akan berakhir pada kecukupan dan kesederhanaan, sebab dalam pandangan para arif semakin mencintai alam materi maka semakin jauh pula diri kita dari alam immaterial yang lebih mulia dari segala-galanya.

Ketahuilah, sesungguhnya cinta dunia adalah  pokok segala kesalahan (Imam Ali kw). Buah dari kecintaan kepada dunia yang berlebih akan berakibat pelanggaran terhadap sendi-sendi agama, bukan hanya itu saja, kecintaan terhadap dunia telah banyak menguasai manusia dan menderitanya lagi mampu membutakan dan menjadikan  tuli pendengaran manusia dari mendengar pesan-pesan mulia keselamatan bagi dirinya.

Pahamilah. Bahwa penyakit kejiwaan atau psikosomatis bukanlah diakibatkan oleh bakteri semacam virus atau pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak sempurna, melainkan sesuatu yang diakibatkan  oleh kondisi kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat kita tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ples ketenteraman persi para monitor yang memberikan impian menggiurkan lewat corongnya yakni media massa televisi dan lainnya, maka semakin tertekanlah batin dan semakin buruk pula pandangan mereka terhadap ajaran agama, sebab bisa jadi mereka berpaling dari Tuhan, karena Tuhan persi mereka  tidak mampu melakukan dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan masyarakat modern.

Masyarakat modern perlu terapi khusus dari para arif yang mulia sebab mereka satu-satunya yang mampu membimbing masyarakat agar tidak membenci agama atau lari dari agama dan membuat ajaran baru yang lebih berbahaya lagi. Para pencinta keabadian selalu mengirimpan pesannya ”Biasakan dirimu untuk berpikir dan merenung, sebab hal itu akan mampu menyelamatkanmu dari kesesatan  dan memperbaiki sifat dan perilakumu kebnatangannmu, kembangkan potensi malaikatmu agar engkau sampai pada keabadian.

Agama yang mulia ini selalu mengingatkan kita akan kedudukan manusia yang lebih mulia disi Allah swt dari alam meteri ini. Alasan rasionalnya adalah bahwa di dalam setiap diri manusia ada sesuatu yang tersimpan dan jika sesuatu itu dapat dihidupkan dan dibangkitkan dengan cara latihan keagamaan, maka terangkatlah dirimu yang semula segumpal daging belaka menjadi lebih berharga dari seluruh ini alam ini. Bukankah kita telah tahu bahwa Allah swt telah menciptakan manusia yang paling mendekati diri-Nya, di dalam diri manusia ada tempat bagi Allah jika tempat itu tidak tercemari oleh materi-materi yang kerap menyelimuti pandangan kita kepada cahaya kebenaran.

Kecintaan kita kepada alam materi dan seisinya yang lebih rendah posisinya dari diri kita membuat kita menjadi orang yang kikir bahkan menbuat diri kita lupa akan kematian yang setiap pergesesan waktu telah mendekati kepada kita. Abu Turab telah berpesan kepada manusia “Wahai makluk Allah! Aku sarankan kalian untuk menjaga jarak dengan dunia yang segera akan meninggalkan kalian semuanya sekalipun kalian tidak mau meninggalkannya. Maka dari itu, jangan bernafsu mendapatkan kehormatan duniawi dan kebanggaannya, dan jangan merasa senang dengan keindahan dan kekayaannya, juga jangan meratapi berbagai kejadian yang tidak menyenangkan di dunia ini, karena kemulian dan kekayaan di dunia ini cepat atau lambat akan binasa. Di dunia ini setiap waktu ada akhirnya, dan setiap kehidupan di dalamnya akan ada matinya, dan anda juga akan mati, mari menyimpan kebajikan di bank-Nya Allah dengan cara melaksanakan kebajikan dan perintah-perintah lainnya.

Waspadalah! Saat-saat kita berbuat dosa kepada Allah dan kepada sesama kita. Pandanglah isi dunia ini sebagaimana pandangan orang zuhud, dan palingkan wajah kita dari keindahannya, sebab umur dunia ini pada hakikatnya telah tua renta yang sebentar lagi sampai azalnya. Dunia akan segera mematikan semua isinya dan menggantikannya dengan isi yang lain lagi. Semoga Allah swt mencurahkan rahmat-Nya  kepada kita dan kepada orang-orang yang selalu merenung tentang eksistensi ‘wujud’ dirinya dan alam semesta. Kita seharusnya mengingat dan jangan sampai melupakannya yakni kelak akan ada suatu masa ketika hanya seorang beriman yang dapat hidup bahagia sebagaimana kehidupan yang ada di dunia ini. Semoga saja kita yang mulai tercerahkan ini tidak terdaftar sebagai manusia yang sakit jiwa hanya karena mengumpulkan dan menguasai dunia padahal kita tidak mampu menguasainya, sebab kita tahu sebagaimana kata para para pendahulu ‘semakin kencang lari anda untuk berlari mengumpulkan materi, maka semakin kencang pula larinya, hanya ada satu cara yang harus dipirkan yakni biarkan dunia mengejar kita, sementara kita sedang berkontemplasi ‘merenung’ dan mendapatkan cucuran dari hidayah yang Mahasempurna yakni Allah swt. Amin

%d blogger menyukai ini: