ADAKAH MASA DEPAN WANITA?


Oleh : Candiki Repantu

semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—

hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing,

namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.”

(Danielle Crittenden, 2002: 238)

 

Wanita dijajah pria sejak dulu”, begitu salah satu bait syair lagu yang popular di Indonesia. Syair ini menyadarkan kita bahwa eksploitasi wanita telah berjalan sistematis dari masa ke masa. Uniknya eksploitasi ini muncul dalam beragam bentuk yang terkadang tidak disadari oleh wanita itu sendiri. Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga dirinya kepada Belanda, wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang sekian juta. Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita dari kebodohan dan penjajahan, maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita bahwa dirinya lebih mulai daripada uang sekian juta.

Jika dahulu kala, wanita disimpan sebagai untuk memuaskan pria, kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, bahkan tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Bukankah mobil mulus akan terlihat lebih indah jika diduduki wanita mulus? Bukankah rokok akan lebih laris jika dijajakan oleh wanita yang menantang? Tidakkah minuman akan lebih menarik jika memperlihatkan sedotan wanita? Begitulah, dengan kemasan yang apik, para pencipta citra dan pelaku bisnis memanfaatkannya dan mempublikasikan sederetan istilah untuk mempengaruhi persepsi manusia, khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘gokil’, dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan, sehingga, kita seolah terasing jika tidak ikut dalam arus itu. Hasilnya, jiwa materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Secara cermat, kita melihat bahwa eksploitasi terhadap wanita diterapkan secara dalam dan sitematis baik dengan kajian teoritis maupun budaya yang praktis. Secara teoritis, doktrin-doktrin agama ditafsirkan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk mendudukan posisi wanita di bawah kendali laki-laki. Sederet teks-teks sakral dikumpulkan untuk membuktikan bahwa pesan-pesan Tuhan memang memihak laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus diwaspadai, dimarahi, dan dijadikan abdi laki-laki. Adapun secara ilmiah, para ilmuwan menciptakan sekumpulan teori yang mendukung mitos-mitos tentang perempuan, seperti perempuan itu rendah akalnya, misterius sifatnya, ditakdirkan untuk mengabdi pada laki-laki, dan tidak kuat fisiknya.

Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Tak urung, sebagai realisasi ide tersebut telah terbentuk gerakan sejagat untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang sepanjang hayat keberadaanya selalu tertindas sebagai makhluk setengah jadi  dan warga kelas dua di bumi ini.

Terlebih lagi, abad modern belakangan ini dianggap sebagai abad kesadaran untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pria dan wanita. Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku Megatrend 2000 tampaknya benar, bahwa wanita akan mengambil semua peran dalam berbagai lini kehidupan. Karenanya perbincangan tentang wanita telah menjadi bagian dari kajian filsafat, sains, bahkan agama. Corak pandangan berkembang, mulai dari yang menghinakan hingga yang memuliakan.

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa pria dan wanita adalah berbeda. Banyak penelitian dan buku ditulis untuk membuktikannya. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut jenis kelamin saja, tetapi juga faktor-faktor lain yang melekat pada keduanya. Namun, perbedaan tersebut bukanlah ingin menunjukkan kekurangan dan ketidaksempurnaan pada salah satunya, tetapi sebaliknya, itu merupakan hikmah penciptaan dan karya utama alam dalam menjaga keseimbangan dan hubungan timbal balik antara pria dan wanita, yang dalam ungkapan Danielle Crittenden, ‘semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing, namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.” (Crittenden, 2002: 238)

Tidak ada manusia yang meminta dirinya menjadi pria atau wanita. Jenis kelamin, merupakan ketetapan ilahiah yang bekerja dengan sistem keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Karenanya, Tuhan Sang Pencipta, tidak mempersoalkan manusia dari sisi fisikal ini, melainkan lebih melihat inti keberadaan manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki sisi ruhaniah yang suci. Kesempurnaan manusia, tidaklah dipandang dari sudut biologis dan anatomi tubuhnya, melainkan dari psikologis dan konstruksi ruhaninya.

Dengan demikian, wanita memiliki andil setara dengan pria dalam menggapai kesempurnaan diri dari seluruh aspeknya, karena ruhani manusia tidak memiliki label jenis kelamin. Artinya, hakikat kemanusiaan bukanlah pria dan bukan pula wanita. Melainkan, sejauh mana aktualisasi potensi kemanusiaanlah yang menjadi ukuran derajat manusia di sisi Sang Pencipta. Sudah mafhum secara umum, bahwa secara normative Kitab Suci  banyak membicarakan wanita-wanita mulia yang melebihi kaum Adam. Kita mengenal Maryam Ibunda Nabi Isa as, Asiyah istri Firaun, Ratu Bilqis, Ibunda Nabi Musa as, Khadijah istri Rasulullah saaw, dan Fatimah al-Zahra ummu abiha.

Jika kita memahami secara jeli, kemuliaan mereka bukan hanya karena ritual agama yang istiqamah (terus menerus), tetapi juga karena peran mereka di ranah publik dalam memperbaiki masyarakat, melawan kekuasaan zalim, mendidik, serta partisipasi sosial- politik dan keagamaan.

Karena itu, sebagai upaya untuk kembali mengaktualkan peran wanita, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, diantaranya: Pertama, melakukan berbagai kajian sistematis dengan mengaktifkan perempuan untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Kedua, menentang segala bentuk usaha diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan baik yang dilakukan dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pekerjaan. Ketiga, melakukan redefenisi dan rekonstruksi pandangan manusia tentang kemuliaan wanita. Keempat, reinterpretasi (menafsirkan kembali) doktrin keagamaan mengenai perempuan secara kritis dan objektif. Dengan usaha dan kerja keras, mudah-mudahan kita dapat merubah tangisan Kartini menjadi seyuman bahagia. Semoga!

%d blogger menyukai ini: