ILMU KENABIAN

MAKNA ILMU

Pengetahuan (ilmu) merupakan salah satu konsep paling jelas dan swanyata (badihi/self evident). Bukan saja tidak membutuhkan defenisi, pengetahuan tidak mungkin didefenisikan, lantaran tidak ada kata atau istilah lain yang lebih jelas untuk kita pakai mendefenisikannya. Pemaknaan yang selalu digunakan dalam filsafat dan logika untuk mendefenisikan pengetahuan bukanlah sebagai defenisi dalam arti yang sesungguhnya. Melainkan hanya sekedar pemaknaan untuk memberikan pemahaman atau memberikan contoh-contoh (mishdaq atan instance) atau jenis-jenis ilmu pengetahuan yang ada dalam bidang kajian tertentu.[1]

Dalam konteks seperti di ataslah para filosof mendefenisikan pengetahuan sebagai berikut :

  • Al-Ilmu ibaratan hudhuru shuratu syai’ li al-mudrik (pengetahuan adalah hadirnya gambaran sesuatu pada pencerap).
  • Al-Ilmu hudhuru shurat al-syai’ inda al-aql (Pengetahuan adalah hadirnya gambaran sesuatu pada akal).[2]

Kedua defenisi ini pada hakikatnya sama. Defenisi ini sendiri sebenarnya hanya menunjukkan salah satu pembagian pengetahuan yaitu pengetahuan perolehan (ilmu hushuli) bukan pengetahuan kehadiran (ilmu hudhuri). Karena itu, dalam makna yang lebih luas, pengetahuan merupakan hadirnya non-materi (objek) pada wujud non-materi lainnya (yakni akal atau subjek).[3] Defenisi ini mencakup keseluruhan jenis pengetahuan manusia.

SISI ONTOLOGIS SUBJEK DAN OBJEK ILMU

Dalam analisis tentang teori pengetahuan, istilah ‘subjek’ berarti pikiran yang melaksanakan tindak pengetahuan melalui mengetahui sesuatu, sedangkan ‘objek’ mengacu pada benda atau proposisi yang diketahui oleh subjek tersebut. Istilah ‘subjek’ dan ‘objek’ adalah dua esensialis dari kesatuan pengetahuan.[4]

Para filosof Muslim, pada umumnya mengklassifikasikan wujud pada tiga jenis. Pertama, materi mutlak yaitu benda-benda yang dapat kita indera di alam semesta ini seperti pohon, hewan, rumah, dll. Kedua, non-materi tidak mutlak yaitu wujud yang pada dirinya sendiri bersifat non-materi, tetapi dalam aktivitasnya memerlukan dan berhubungan dengan materi. Misalnya, alam barzakh, ruh yang yang pada dirinya sendiri bersifat non-materi, tetapi untuk melihat, merasa, mengecap, mendengar, dan sebagainya, memerlukan sarana-sarana material tubuh manusia. Ketiga, non-materi mutlak yaitu wujud yang secara dirinya sendiri dan juga aktivitasnya tidak berhubungan sama sekali dengan alam materi secara langsung. Misalnya, Tuhan dan akal. [5]

Sesuai dengan defenisi pengetahuan yang bersifat ‘kehadiran’ maka dari sudut pandang ontologis, subjek dan objek pengetahuan bersifat non-material. Kenon-materialan subjek sangatlah jelas, karena dalam pengetahuan dituntut adanya kesadaran, dan kesadaran itu jelas tidak dimiliki oleh materi. Sedangkan non-materi memiliki kesadaran dan dapat mengetahui wujud non-materi lainnya yang berada dalam derajat yang sama (longitudinal), serta dapat mengetahui wujud non-materi lain yang berada di atas atau di bawah derajat dirinya (latitudinal). Karena subjek pengetahuan adalah non-materi, maka objek pengetahuan juga bersifat non-material. Dan berdasarkan pada hierarki wujud di atas, maka ada dua jenis non-materi yang menjadi objek pengetahuan yakni non-materi mutlak dan non-materi tidak mutlak.

Pada dasarnya kenon-meterialan subjek, objek, dan pengetahuan adalah hal yang sangat jelas. Sebagai misal, kita setiap hari saling mengajarkan pengetahuan dari seseorang ke orang lain atau dari guru ke murid. Akan tetapi, kita pasti juga mengetahui bahwa orang yang mengajar dan memberikan pengetahuannya kepada orang lain (guru), tidak akan mengalami kehilangan atau pengurangan pada pengetahuannya, meskipun pengetahuan itu telah ditransferkan atau diterima oleh murid-muridnya. Jika, pengetahuan itu adalah material, maka seorang pengajar akan mengalami kehilangan atau berkurangnya pengetahuannya karena diberikan kepada orang lain. Namun, hal itu tidak terjadi, karenanya terbuktilah bahwa pengetahuan itu bersifat non-material.

Diantara alasan penting bagi non-materialnya subjek dan objek pengetahuan adalah mustahilnya materi hadir ke dalam subjek yang mengetahui sehingga melanggar hukum mustahilnya yang besar masuk kedalam yang kecil”. Artinya, jika pengetahuan bersifat material, maka bagaimana bisa terjadi, bumi yang besar ini masuk atau hadir ke dalam otak manusia yang kecil? Selain itu beberapa premis di bawah ini dapat menjadi argumentasi bagi non-materialnya pengetahuan :

  1. Materi dapat di bagi, sedangkan pengetahuan tidak.
  2. Meteri terikat pada ruang dan waktu, sedangkan pengetahuan tidak.
  3. Materi mengalami transformasi dan perubahan, sedangkan pengetahuan tidak.

JENIS ILMU KENABIAN

Ilmu, sesuai makna di atas adalah kehadiran objek pada subjek. Jika diselidiki secara deduktif-rasional berdasarkan kehadiran eksistensi objek pada subjek, maka ada dua jenis kehadiran. Pertama, kehadiran objek secara tidak langsung pada subjek, yaitu hadirnya gambaran (shurah) objek pada subjek. Ilmu ini disebut korespondensi atau ilmu hushuli (representational knowledge). Kedua, kehadiran objek secara langsung pada subjek. Ilmu ini disebut dengan Ilmu hudhuri (prentational knowledge; atau knowledge by presence).

Dari kedua jenis ilmu tersebut, ilmu kenabian termasuk jenis yang kedua yaitu ilmu hudhuri, yang memiliki beberapa ciri penting, yaitu :

  • Hadir secara eksistensial di dalam diri subjek. Ini berarti tidak ada perantara antara subjek dan objek pengetahuan.
  • Bukan merupakan konsepsi yang dibentuk dari silogisme yang terjadi pada mental. Atinya, ilmu hudhuri bukan dihasilkan dari proses berpikir, karena ia merupakan keadaan esensial jiwa. Jika keadaan ini dikomunikasikan atau dipikirkan, maka ia akan menjadi ilmu hushuli.
  • Bebas dari dualisme kebenaran dan kesalahan. Artinya, ilmu hudhuri senantiasa benar dan tidak akan mengalami kesalahan. Hal ini dikarenakan ilmu hudhuri tidak diperantarai oleh apa pun sehingga tidak ada proses korenpondensi dengan objek eksternal, yang mana proses korespondensi itulah yang menjadi sebab bagi kesalahan pengetahuan manusia. Karena kebenaran adalah kesesuaian subjek dengan objek, maka ilmu hudhuri yang kehadiran objek pada subjek secara langsung dan menyatu, maka ia mengimplementasikan kebenaran secara nyata.
  • Bersifat spiritual, artinya subjek yang terlatih secara spiritual akan mendapatkan ilmu hudhuri tersebut.[6]

SUMBER ILMU NABI

Perlu diketahui bahwa Allah menurunkan dua hujjah bagi manusia. Pertama, yang berada di dalam diri manusia yaitu akal; kedua, yang berasal dari luar diri manusia yaitu wahyu dan kenabian.

Ini berarti, manusia meskipun belum datang padanya wahyu, syariat, atau agama, maka akal menjadi hujjah, pembimbing dan dalil Tuhan bagi manusia untuk memahami dan melaksanakan keyakinan serta amalan-amalannya. Akal yang ada pada diri manusia senantiasa mengalami proses dari potensi sampai aktualisasi, dari tidak mengetahui hingga memiliki pengetahuan, sejak bayi hingga menuju mati.

Karena dalam filsafat Islam (epistemologi) bahwa subjek yang mengetahui (alim), objek yang diketahui (ma’lum), dan pengetahuan (ilmu) adalah wujud immateri, maka ruh akal yang ada pada manusia jika senantiasa dilatih dan diaktualisasikan akan mendapatkan pengetahuan dari sumbernya yakni wujud yang lebih tinggi darinya (alam malakuti) yang merupakan sebab keberadaannya, dan alam malakut ini, mendapat ilmu dari wujud yang lebih tinggi darinya, dan begitu seterusnya, hingga berhenti pada wujud Allah swt yang memancarkan ilmu-Nya kepada wujud di bawah-Nya.

Dengan demikian jelaslah bahwa manusia dalam menggapai pengetahuan pada dasarnya senantiasa berhubungan dan dibimbing oleh alam gaib (malaikat dan Allah) setiap saat baik dengan mudah atau sulit, sadar atau tidak, sedangkan aktivitas di alam materi seperti membaca, berdiskusi, belajar, dan sebagainya hanya merupakan sebab-sebab perantara saja untuk mendapatkan ilmu.

Imam Khumaini menjelaskan bahwa selaras dengan pandangan para ahli, premis-premis memiliki hubungan persiapan dengan kesimpulan-kesimpulannya dan mempersiapkan jiwa untuk menerima pengetahuan melalui inspirasi dari sumber-sumber gaibnya yang tinggi (mabadi-ye ‘aliyeh-ye ghaibiyyeh). Ini berarti, pengetahuan dan makrifat itu dipancarkan dari alam gaib melalui hubungan—dan  pencerapan—jiwa dengan alam tersebut, sebagaimana disebutkan Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberimu ilmu…” (Q.S. al-Baqarah: 282) dan disabdakan hadits : “pengetahuan itu (diperoleh) bukan melalui banyaknya pengajaran, tetapi melalui cahaya yang Allah pancarkan kepada hati hamba yang dikehendaki-Nya.[7]

Jadi, setiap jiwa yang berhubungan dengan alam malakuti yang tinggi—yakni alam para malaikat yang suci—bakal menerima inspirasi yang berwatak malaikat (suci), dan pengetahuan yang dipancarkan ke dalam jiwa manusia yang demikian adalah pengetahuan sejati yang berasal dari alam malaikat. Oleh karena itu, kaum arif yang berpengetahuan hakiki memandang penyucian jiwa, pengikhlasan niat, dan pelurusan tujuan sebagai langkah awal dalam menuntut ilmu pengetahuan, khususnya ilmu ilahi dan ilmu syariat, lantaran hubungan dengan sumber-sumber yang tinggi akan menguat apabila jiwa telah tersucikan. Ketakwaan seseorang dapat menyucikan jiwa dan menghubungkannya dengan alam gaib yang kudus, sehingga pengajaran dan pengilhaman ilahi turun kepadanya. Sumber-sumber yang tinggi tidak mengenal kekikiran, sehingga setiap jiwa yang berhubungan dengannya pasti akan mendapat segala yang didambanya. Pancaran dari Sumber Mutlak itu bersifat niscaya (wajib), karena Wajib Al-Wujud bersifat niscaya dalam segala sisi dan aspeknya.[8]

Akan tetapi, setelah diangkat menjadi nabi, maka Ilmu para nabi bersumber dari jalan wahyu yang dipancarkan dari ilmu Tuhan yang tidak terbatas. Wahyu tersebut juga berbentuk syariat yang menunjukkan jalan-jalan kesempurnaan manusia melalui pengenalan atau ma’rifat terhadap Tuhan, alam, manusia, dan dirinya sendiri. Dan semua ilmu tersebut bersifat hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) yang tidak mungkin salah, dan tidak didahului atas pemikiran pribadi.[9]

Dengan demikian ilmu kenabian mencakup diri Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya, baik yang terindera (alam syahadah) maupun yang tidak terindera (alam gaib). Karenaya, status para nabi sebagai hamba-hamba Alah tidak menghalangi mereka untuk mengetahui perkara-perkara masa lalu, sekarang, dan atau yang akan datang, dengan izin Allah. Sehingga tidak ada alasan untuk menolak bahwa para nabi dapat menginformasikan hal-hal ghaib yang diperolehnya dari wahyu dan dengan izin Allah Swt. [10]

Kesimpulannya, Nabi sebelum menjadi Nabi tidak dibimbing oleh wahyu yang merupakan firman Allah (wahyu syariat), akan tetapi sesuai dengan aktualisasi akal, maka Nabi mampu menggapai pengetahuan yang benar dan berakhlak yang benar (pancaran ilmu) sehingga mencapai derajat tinggi yaitu nubuwah dan siap menerima limpahan wahyu Allah.

WAHYU : MODEL KOMUNIKASI TUHAN

Wahyu merupakan salah satu bentuk komunikasi tersembunyi. Berasal dari kata awha, yuhi yang artinya meyampaikan secara tersembunyi, berbisik, atau isyarat.

Wahyu menjadi kemestian dalam kenabian, karena sesuai dengan argumentasi kenabian terdahulu, kita telah menegaskan bahwa akal membutuhkan sarana lain untuk mengungkap rahasia Tuhan dan ciptaan-Nya, sehingga dapat mengantarkan manusia dengan benar, baik dan cermat menuju evolusi kesempurnaan (teleologis). Jika kita kaitkan dengan makna umum wahyu, maka nabi meskipun delum menjadi nabi telah menerima wahyu umum yang berarti ilmu yang benar dan tindakan yang benar. Sedangkan wahyu khusus yang berbentuk syariat diterima setelah ia diangkap menjadi nabi.

Kita juga telah mengetahui bahwa ilmu kenabian senantiasa berhubungan dengan alam yang lebih tinggi dari alam dunia. Begitu pula, ilmu ada dua jenis yaitu ilmu hushuli (pengetahuan dengan perolehan) dan ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), ilmu yang diperoleh melalui perantara dan ilmu yang diperoleh langsung. Dan ilmu nabi adalah bersifat hudhuri.

Sesuai dengan kemaksuman nabi dan sifat ilmu hudhuri, maka ilmu kenabian tidak mungkin dihinggapi kekeliruan, kesalahan, dan penyimpangan. Dengan demikian, perkataan nabi dan perbuatannya menjadi alasan bagi umat untuk meyakini suatu bentuk informasi yang benar, sehingga wahyu bisa dijadikan dalil atau digunakan sebagai landasan argumentasi bagi manusia untuk menjelaskan persoalan-persoalan kehidupan, ilmu pengetahuan, keagamaan, dan sebagainya, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, zahir maupun batin, syahadah ataupun gaib.

Secara asumtif kita bisa merumuskan beberapa alternatif komunikasi dengan Tuhan dengan nabi :

  1. Tuhan menyampaikan langsung kepada nabi, dengan metode nabi ‘mendatangi’ Tuhan. Hal ini mungkin jika seorang nabi telah melakukan tazkiyat al-nafsi sehingga ruhnya naik ke alam yang lebih tinggi hingga sampai ke alam ketuhanan. Dengan posisinya yang tinggi tersebut, maka nabi akan senantiasa menerima limpahan wahyu Tuhan secara langsung. Artinya, karena nabi memiliki ruh suci yang dapat menerawang ke alam ketuhanan hingga mencapai tingkatan makhluk pertama (akal 1), maka dari sisi keruhaniannya, nabi berhubungan langsung dengan Tuhan, akan tetapi dari sisi fisiknya di dunia, nabi tetap berhubungan dengan makhluk-makhluk yang lebih tinggi dari fisiknya sehingga tidak berhubungan lansung dengan Tuhan.
  2. Tuhan menyampaikan wahyu kepada nabi, dalam arti Tuhan ‘mendatangi’ nabi. Hal ini hanya mungkin, jika yang dimaksud adalah secara majazi, artinya Tuhan membisikkan ke dalam hati nabi akan wahyunya. Namun hal ini juga harus diartikan, adanya hierarki wujud yang menjadi perantara bisikan wahyu Tuhan tersebut. Hirarki inilah yang menjadi hijab-hijab bagi manusia.
  3. Tuhan mengirim utusan yang bukan manusia untuk menyampaikan kepada nabi wahyunya. Hal ini juga mungkin dikarenakan Tuhan tidak mungkin secara langsung berhubungan dengan alam materi di mana nabi hidup. Selain itu, sesuai dengan keteraturan hierarki wujud—seperti dijelaskan dalam Tauhid Penciptaan—maka dalam berhubungan dengan makhluk-Nya,—selain dari makhluk pertama yang diciptakan Tuhan secara langsung—Tuhan  senantiasa menggunakan perantara (wasilah). Dalam terminologi agama, perantara ini disebut malaikat.

Ketiga cara di atas dibenarkan oleh al-Quran, “Dan tidak seorang manusia pun yang (diajak) berdialog oleh Allah kecuali melalui wahyu atau dari belakang hijab (tabir), atau dengan jalan (Allah) mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya (nabi) dengan seizin Allah menurut kehendak-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S. al-Syura: 51).


[1] Lihat ulasannya dalam Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Buku Daras Filsafat Islam (Bandung: Mizan, 2003), h. 82-83.

[2] Khalid al-Walid. Tasauf Mulla Shadra. (Bandung: Muthahhari Press, tt), h. 105-106.

[3] Lihat Allamah Thabathabai. Nihayah al-Hikmah. (Qum: Islamic Publications Centre, 1983), h. 24.

[4] Mehdi Hairi Yazdi. Menghadirkan Cahaya Tuhan. (Bandung: Mizan, 2003), h. 75.

[5] Secara sederhana dalam filsafat Islam tingkatan wujud (alam) dibagi pada empat tingkat yaitu alam ketuhanan (alam lahut), alam akal (malakut), alam mitsal (barzakh), dan alam material (alam syahadah). Dari keempat alam tersebut yang dapat diindera adalah alam material sedangkan ketiga alam di atasnya tidak dapat di indera karena bersifat immateri. Sedangkan ilmuwan Muslim lainnya memandang ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah), dan alam hahut (wujud zat ilahi).

[6] Lihat Khalid al-Walid. Tasawuf, h. 113; Mehdi Ha’iri Yazdi, Menghadirkan, h. 103-108; Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 93-99.

[7] Imam Khumaini. 40 Hadits. (Bandung: Mizan, 2004), h. 448-449.

[8] Imam Khumaini. 40 Hadits, h. 449.

[9] Allah berfirman : “Dan tidaklah apa yang dikatakannya itu berdasarkan hawa nafsunya. Sesungguhnya apa yang dikatakannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Q.S. an-Najm: 3-4).

[10] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu.” (Q.S. Ali Imran : 44); Itu adalah berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu.” (QS. Yusuf :102); “Allah Mahamengetahui yang ghaib. Dia tidak akan memberitahukan rahasia keghaiban-Nya kepada siapa pun kecuali kepada rasul yang dipilihnya.” (QS. 72: 26-27). Lihat juga Q.S. Ali Imran : 49 dan 179; al-Jin: 26-27;  al-Takwir: 19-25. Ada juga ayat yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang memiliki pengetahuan ghaib, seperti: “Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak (pula) mengetahui yang ghaib dan tidak pula mengatakan bahwa aku adalah malaikat”. (QS. Al-An’am :50); “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah…” (Q.S. an-Naml: 65) lihat juga Q.S. Yunus: 20; al-An’am: 59; al-A’raf: 188.

Sesuai dengan sifatnya bahwa ayat-ayat al-Quran saling menafsirkan, maka ayat-ayat tersebut  dapat dipahami bahwa pada dasarnya Rasulullah saw memang tidak memiliki pengetahuan ghaib, akan tetapi dia memperolehnya dari Allah Swt.

Iklan

MUKJIZAT KENABIAN

MAKNA DAN CIRI KHAS MUKJIZAT

Pernahkan anda mendengar kisah tentang berubahnya tongkat menjadi ular? Atau kisah tentang kemampuan seseorang menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang buta, atau menciptakan burung dari tanah? Atau anda mungkin juga mendengar cerita tentang seorang yang tidak terbakar api? Ada pula cerita tentang keluarnya unta dari sebuah batu? Dan masih banyak kisah lainnya yang semua itu mendatangkan keheranan dan ketakjuban manusia.

Umumnya kita menyebut hal-hal diatas sebagai aneh, ajaib, hebat, dahsyat, tidak biasa, supranatural, mistik, atau luar  biasa. Namun, dalam terminologi agama, hal-hal tersebut disebut dengan mukjizat (jika dilakukan Nabi) dan keramat (jika dilakukan orang saleh selain nabi).

Dengan keterangan itu, mukjizat dapat dimaknai sebagai kekuatan luar biasa dan tidak dapat ditandingi yang berasal dari para Nabi dengan izin dan kehendak Allah swt. serta selaras dengan hukum sebab-akibat sebagai dalil akan kebenaran pengakuan kenabiannya.

Makna ini mencakup beberapa unsur yang menjadi cirri khas mukjizat kenabian :

  1. Adanya fenomena yang keluar dari kebiasaan manusia yang tidak bisa didapati dengan sebab-sebab yang wajar. Jadi, mukjizat merupakan kejadian yang berawal dari sejumlah faktor yang tidak wajar.
  2. Bahwa perkara yang keluar dari adat kebiasaan itu timbulnya dari para nabi dengan kehendak ilahiah dan izin dari-Nya secara khusus.

Kalau dicermati, kejadian luar biasa itu dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, kejadian yang sebab-sebabnya tidak wajar, tetapi masih dapat diusahakan oleh manusia, misalnya melalui pelatihan seperti para pertapa. Kedua, perbuatan-perbuatan luar biasa yang tidak akan terwujud kecuali dengan izin dan kehendak Allah secara khusus, dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah swt. Berbeda dengan yang pertama, perbuatan kedua ini memiliki dua keistimewaan, yaitu: tidak dapat dipelajari; dan tidak tunduk pada kekuatan lain yang lebih tinggi, bahkan tidak ada faktor apapun yang dapat mengalahkannya. Mukjizat merupakan perbuatan yang kedua, yang merupakan perbuatan ilahi melalui diri nabi.

  1. Mukjizat terjadi—meskipun luar biasa—tetap berdasarkan pada hukum sebab-akibat yang memang telah diciptakan sebagai hukum universal yang mengatur jalannya alam semesta. Akan tetapi, kausalitas dalam peristiwa mukjizat memang berada di luar sebab-sebab umum (alami) yang dikenal manusia. Artinya, kita mengetahui beberapa sebab untuk mewujudkan sesuatu, tetapi, kita tidak dapat membatasi sebab hanya pada segelintir sebab itu saja.
  2. Terjadinya perkara yang keluar dari kebiasaan seperti ini dapat dijadikan dalil atas kebenaran klaim seorang nabi. Perlu diketahui bahwa perbuatan luar biasa itu dapat dilakukan oleh setiap hamba yang dekat dengan Allah swt, baik dia adalah nabi maupun bukan nabi seperti para imam atau  wali Allah. Karenanya, mukjizat hanya berhubungan dengan klaim dan pembuktian kenabian secara langsung, sedangkan untuk orang yang bukan nabi disebut dengan karamah.[1]

TUJUAN DAN FUNGSI MUKJIZAT

Ditampakkanya mukjizat oleh para Nabi terkadang terjadi demi memenuhi tuntutan permintaan manusia (seperti peristiwa unta Nabi Saleh as) atau terjadi tanpa permintaan mereka (seperti mukjizat Nabi Isa as) dengan tujuan untuk memperkenalkan para Nabi dan menyempurnakan hujjah Allah Swt atas manusia, bukan untuk memaksa mereka agar menerima dakwah, tunduk dan taat secara terpaksa kepada para Nabi, juga bukan untuk menghibur mereka mereka dengan mempermainkan tata hukum kausalitas. [2]

Dengan demikian, mukjizat kenabian berfungsi diantaranya untuk :

  1. Membuktikan dan mengukuhkan kebenaran kenabian. Hal ini sesuai dengan defenisi di atas, di mana setiap pengakuan kenabian mestilah disertai dengan kemampuan melakukan mukjizat. Artinya, jika seseorang menyatakan dirinya Nabi, maka jika ia diminta—dengan sungguh-sungguh—oleh umat untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia umumnya, maka ia harus siap dan mampu melakukannya.[3]
  2. Melemahkan musuh-musuh nabi, Jadi, mukjizat sangat penting dimiliki oleh seorang Nabi karena, misalnya, salah satu fungsi mukjizat adalah melemahkan musuh-musuh Nabi yang ingin menyesatkan umat. Maksudnya, jika ada seorang yang bukan Nabi tetapi memiliki kekuatan luar biasa (mungkin berasal dari setan) yang digunakan untuk menyesatkan manusia, maka sesuai dengan rahmat dan kebijaksanaan Allah, maka Dia mesti mengutus seorang Nabi untuk melemahkan kemampuan orang tersebut, sehingga kejahatan tidak akan bisa bertahan selamanya. [4]
  3. Mengatasi kesulitan yang terkadang menghinggapi Nabi dan kaumnya, sehingga untuk mengatasinya Nabi mengeluarkan mukjizat sesuai kebutuhan saat itu.[5]

CARA TERJADINYA MUKJIZAT

Peristiwa luar biasa yang tidak berdasarkan pada sebab-sebab yang lazim dan alamiah dapat bersumber dari empat hal, yaitu :

  1. Ruh, yaitu substansi non-material yang berhubungan dengan jasad. Allamah Thabathabai menyatakan bahwa jika manusia memiliki keyakinan dan kemauan yang kuat maka akan mampu memunculkan suatu kejadian sesuai dengan yang dikehendakinya.
  2. Jin atau setan, yang merupakan makhluk non-material yang diberikan beberapa kemampuan untuk melakukan peristiwa-peristiwa luar biasa, seperti sihir.
  3. Malaikat, yang juga makhluk non-material yang diberikan tugas mengatur tatanan alam semesta.
  4. Iradah Allah (iradah rabbaniyah) yang tidak terbatas dan tidak kondisional. Kekuatan yang lahir dari iradah rabbaniyah mengalahkan segala kekuatan lainnya.[6]

Mukjizat pada hakikatnya merupakan kemampuan Nabi yang dengan kedekatannya pada Allah swt mampu melakukan tindakan luar biasa. Jika melihat keempat sumber di atas, maka kekuatan luar biasa yang dilakukan nabi dapat bersumber dari tiga hal yaitu ruh, malaikat, dan iradah rabbaniyah. Hanya saja, perbuatan yang dilakukan oleh ruh dan malaikat tersebut bersifat terbatas dan pengaruhnya sangat kondisional (mahdudat al-quwwah muqayyad al-atsar), Sedangkan iradah rabbaniyah yang merupakan kehendak suci yang dipenuhi dengan keyakinan kepada Allah dan hanya bergantung pada Allah yang bersifat tidak terbatas dan tidak kondisional. Dan mukjizat lebih berhubungan pada iradah rabbaniyah meskipun pelaksanaannya adakalanya berhubungan dengan para malaikat dan ruh.

Dengan demikian, mukjizat ini bisa terjadi setidaknya melalui beberapa cara diantaranya :

  1. Kerjanya makhluk mitsal (alam ide/alam malakut) atau malaikat yang merupakan sebab bagi peristiwa-peristiwa di alam dunia, sehingga siapa yang bisa berhubungan dengan alam mitsal atau malaikat tersebut akan mendapat bantuan untuk membuat peristiwa-peristiwa yang luar biasa di alam dunia.
  2. Dipercepatnya waktu kejadian untuk terealisasinya mukjizat dikarenakan kondisi yang sangat mendesak sehingga terlihat luar biasa. Seperti berubahnya tongkat Nabi Musa as. menjadi ular, yang sebenarnya hal itu bisa dilakukan dengan kondisi biasa, hanya saja memerlukan waktu yang lama. Dan Nabi Musa as. melakukannya dengan waktu yang sekejap.

Sebagai ilustrasi kita dapat menjelaskan peristiwa mukjizat Nabi Musa as, yang merubah tongkat menjadi ular besar, sebagai berikut :

“Satu fenomena dapat muncul dengan dua jalan: sebab alami dan sebab non alami. Karena itu, berubahnya tongkat menjadi ular besar juga dapat dijelaskan dengan dua jalan tersebut, yaitu :

  1. Melalui sebab-sebab alami, yakni dengan berlalunya masa, jejak dan reaksi-reaksi alami (sepeti membusuk dan kemudian tumbuh tanaman yang dimakan ular), maka tongkat itu mengalami keadaan yang memungkinkan untuk menerima wujud (menjadi) ular. Kemudian Allah swt, menambahkan rupa dan nyawa sehingga menjadi ular secara nyata. Ini bukanlah mukjizat.
  2. Melalui sebab-sebab non-alami, yakni tongkat itu berpotensi menjadi seekor ular, melalui jiwa yang kuat dan kehendak serta keyakinan pasti seorang nabi yang menyebabkan potensi itu teraktual pada tongkat tersebut. Maka pada saat itu, tongkat berubah menjadi ular dengan izin Allah swt. Inilah mukjizat. [7]

Jadi, para nabi dengan ruh yang suci dan keyakinan yang tidak tercemari dengan keraguan mampu melakukan perbuatan luar biasa serta mukjizat dengan izin Allah Swt. Keyakinan ini sama sekali tidak syirik dan tidak pula bertentangan dengan status kehambaan para Nabi itu. Karena, meskipun mukjizat merupakan tindakan dan urusan nabi secara langsung dan dengan kehendaknya, tetapi dalam mewujudkannya kerealitas nyata, nabi tidaklah mandiri, melainkan dengan izin dan kehendak serta pertolongan Allah swt.[8] Nabi Isa as misalnya, sebagaimana diungkapkan dalam al-Quran, dengan tegas mengatakan bahwa atas izin Allah swt, ia dapat menciptakan burung, menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit. [9]


[1] Lihat M.T. Misbah Yazdi. Iman Semesta. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 221-223. M.T. Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 162-172. Nashir Makarim Syirazi. Belajar Mudah Tentang Allah, Kenabian, Keadilan, Imamah, dan Kebangkitan Diakhirat. (Jakarta: Lentera, 2004), h. 67.

[2] M.T. Misbah Yazdi. Iman Semesta. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 228.

[3] Allah berfirman : “Fir’aun menjawab, ‘Jika benar kamu membawa bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya.” (Q.S. al-A’raf: 106-108). Lihat juga Q.S. Ali Imran: 49; al-Maidah: 110.

[4] Allah berfirman : “Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘lemparkanlah tongkatmu!’ Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Q.S. al-A’raf: 117); “Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Q.S. al-Anbiya: 68-69). Lihat juga Q.S. al-Isra: 88; Hud 13-14; al-Baqarah: 23-24.

[5] Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air…” (Q.S. al-Baqarah: 60); “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar…” (Q.S. al-Syu’ara: 63-64)

[6] Allamah Thabathaba’i. Tafsir al-Mizan Jilid I, h.

[7] Lihat Ibrahim Amini. Mengapa Nabi Diutus? (Jakarta: al-Huda, 2006), h. 37.

[8] Allah berfirman : “Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah…” (Q.S. al-Mukmin: 78).

[9] Allah berfirman : “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu akau membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit belang; dan aku menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. (QS. Ali Imran :49). Lihat juga Q.S. al-Maidah: 110.

KEMAKSUMAN NABI

MAKNA ISHMAH

Ishmah secara etimologis artinya imsak (menahan diri), man’u (mencegah), atau juga mulazamah (penetapan/patuh; tidak meninggalkan sesuatu). Al-Raghib dalam al-mufradat-nya menjelaskan bahwa al-ashmu berarti mencegah, berpegang teguh dan memelihara, dan al-isham berarti hal yang dipegang teguh. Jadi, ishmah merupakan penjagaan Allah swt yang secara khusus diberikan kepada para orang-orang yang telah mencapai derajat tertentu seperti para Nabi, dimana mereka tidak akan melakukan dosa bahkan tidak terbetik sedikitpun didalam hati dan peikiran mereka untuk berbuat dosa dan kesalahan.[1]

Al-Quran menggunakan kata ini sekitar tigabelas kali dengan berbagai bentuknya (musytaqat), namun maknanya kembali kepada arti-arti di atas yang secara umum dapat kita pahami sebagai keterjagaan atau pemeliharaan. Allamah Thabathabai menjelaskan Ishmah atau kemaksuman adalah sebuah perkara pada seorang yang maksum yang mencegah dari terjatuh dalam perkara yang tidak boleh dilakukan yaitu kesalahan dan maksiat.[2]

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membahas makna kemaksuman, yaitu :

Pertama, kemaksuman merupakan malakah nafsaniyah (karakter jiwa) yang kuat yang mencegah seseorang dari berbuat dosa dan maksiat, sekalipun dalam kondisi sulit. Malakah ini dicapai dengan pengetahuannya yang sempurna akan keburukan dosa, dan dengan kehendak serta keinginan yang kuat untuk mengendalikan hawa nafsu. Kemaksuman tidak berarti bahwa Allah memaksa mereka untuk meninggalkan dosa dan mencabut kebebasan kehendak dan usaha mereka. Kemaksuman juga bisa dinisbahkan kepada Allah dengan makna yang lain, yaitu bahwa Dia-lah yang menjamin kemaksuman mereka.

Kedua, kemaksuman seseorang itu menuntutnya untuk meninggalkan berbagai perbuatan yang dilarang kepadanya, seperti perbuatan maksiat yang diharamkan dalam seluruh syariat, dan perbuatan yang dilarang dalam syariatnya. Dengan demikian tidak terdapat kontradiksi antara kemaksuman para nabi dengan mengamalkan sebagian perbuatan yang dibolehkan dalam syariatnya untuk pribadi mereka secara khusus, sekali pun itu diharamkan dalam syariat-syariat yang sebelumnya atau diharamkan pada ajaran yang akan datang.

Ketiga, maksud dari maksiat yang seorang maksum tersucikan darinya ialah perbuatan yang ‘haram’ dalam istilah fikih, atau meninggalkan perbuatan yang ‘wajib’ menurut istilah fikih. Adapun kata maksiat dan semacamnya, yaitu adz-zanbu (dosa), terkadang digunakan untuk hal-hal yang lebih luas daripada makna maksiat dan dosa, seperti bisa juga digunakan untuk mengartikan tark al-aula (meninggalkan yang lebih utama). Artinya, meninggalkan yang lebih utama tidaklah menafikan kemaksuman dari diri mereka.[3]

ARGUMENTASI DAN MANFAAT KEMAKSUMAN

Kemaksuman merupakan salah satu pokok bahasan terpenting dari cabang kenabian. Islam meyakini bahwa Nabi mestilah maksum secara mutlak, baik sebelum ataupun sesudah diangkat menjadi Nabi.

Secara sederhana, pembahasan tentang kemaksuman nabi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu: aspek penetapan (itsbath) dan aspek pembuktian (tsubuth). Aspek penetapan bermakna bahwa karena manusia memerlukan Nabi untuk menjadi teladan manusia dan membimbingnya menuju kesempurnaan diri melalui agama, maka ia mesti pula terlebih dahulu memiliki kemaksuman supaya umat berkeyakinan kuat dalam mematuhi dan mengikuti ajarannya. Jadi, kemaksuman Nabi menjadi keniscayaan untuk menyampaikan agama dikarenakan manusia mesti meyakininya. Sebab, jika seorang nabi melakukan maksiat, dosa, dan kesalahan, maka akan hilanglah kepercayaan umat kepadanya dan ajarannya.

Adapun pada aspek pembuktian, bermakna terealisasikannya kemaksuman Nabi secara nyata di dalam hidup dan kehidupannya. Hal ini dapat diketahui melalui penyaksian terhadap kondisi diri dan kehidupan nabi secara langsung melalui pergaulan atau penjelejahan terhadap sejarah hidup Nabi untuk membuktikan bahwa ia benar-benar hidup dalam keadaan bersih tanpa aib, maksiat, dosa dan kesalahan.

Kedua aspek di atas sesuai dengan fungsi (tugas) pengutusan para Nabi yakni untuk membimbing manusia, maka sebagai pembimbing hendaklah para Nabi tidak akan melakukan kesalahan, karena jika mereka masih melakukan kesalahan tidak pantas untuk menjadi pembimbing, melainkan memerlukan bimbingan.

Selain itu, sesuai dengan tugas kenabian, keniscayaan akan kemaksuman menjadi penting, sebab tanpa kemaksuman tersebut, seorang Nabi tidak dapat menjaga dan mengamalkan agama secara sempurna. Hal ini akan menimbulkan keraguan bagi manusia untuk menerima agama tersebut, karena tidak adanya kepastian kebenaran seorang Nabi dalam mebawa agama.

Kemaksuman Nabi memberikan keyakinan kuat kepada kita untuk mengikutinya. Sebab, secara nurani kita juga memiliki kecenderungan kuat untuk mengikuti orang yang kita percayai memiliki kemuliaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, maka dia mesti memiliki kesempurnaan akhlak terlebih dahulu. Demikian pula, Allah mewajibkan kita untuk mentaati Nabi secara mutlak, ”tatatilah Allah dan taatilah Rasul…”(Q.S. An-Nisa: 59) maka ketaatan secara mutlak hanya dapat dilakukan jika dia memiliki kemaksuman mutlak.

JENIS-JENIS KEMAKSUMAN

Kemaksuman secara umum dapat dibagi pada dua jenis, sebagai berikut :

Pertama, kemaksuman dalam ilmu, yaitu bahwa seorang nabi haruslah memiliki ilmu yang benar dan terjaga dari kesalahan. Kemaksuman ilmu ini mencakup empat hal yaitu : 1). kemaksuman dalam akidah; 2). kemaksuman dalam menerima wahyu; 3). kemaksuman dalam menyampaikan dan menjelaskan risalah, kemaksuman dalam penjagaan risalah.

Kedua, kemaksuman dalam amal yaitu bahwa seorang nabi haruslah mengamalkan apa yang menjadi ajarannya dan tidak pernah lalai atau salah dalam mengamalkannya. Pada tahap ini, Nabi maksum dari dosa dan kekhilafan.[4]

Dengan ini menunjukkan bahwa kemaksuman tidaklah menghilangkan potensi dan ikhtiar kemanusiaan. Kemaksuman berarti juga menghendaki agar Nabi menghindarkan dan mengendalikan diri dari hal-hal yang maksiat yang akan meruntuhkan kemaksuman dirinya. Jika kemaksuman dianggap bahwa Nabi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kemaksiatan maka ini berarti keterpaksaan (jabr). Akan tetapi yang benar adalah bahwa Nabi memiliki kemampuan untuk bermaksiat akan tetapi Nabi tidak akan mungkin melaksanakan kemaksiatan dan dosa tersebut (ingat jenis mustahil pelaksanaan yang di jelaskan sebelumnya).

Allamah Thabathabai dalam Tafsir al- Mizan menulis, ‘sesungguhnya kemaksuman tidak membuat tabiat insan yang bebas menjadi keterpaksaan dan kehancuran. Bagaimana kemaksuman menjadi dasar ikhtiar? Coba bayangkan, jika seseorang yang menginginkan keselamatan mengetahui dalam satu gelas terdapat air beracun yang mengakibatkan kematian, tentu ia akan menolak untuk meminum air tersebut dengan ikhtiarnya bukan terpaksa. Ia akan dianggap terpaksa jika ada yang memaksanya untuk meminum air tersebut atau melarangnya.

MUNGKINNYA KEMAKSUMAN

Persoalannya sekarang ini apakah manusia mampu mencapai kemaksuman? Jika kita menyelami hakikat kemanusiaan, maka kita dapati bahwa kecenderungan pada kebaikan dan kebenaran merupakan watak dasar manusia (fitrah). Hanya saja, sebagian besar manusia tidak mampu mengendalikan dirinya untuk tetap berada pada watak dasarnya ini sehingga senantiasa melakukan tindakan baik dan benar. Jadi kemaksuman merupakan potensi awal manusia dan jika terus dijaga serta diaktualisasikan dalam kehidupan ini, maka ia akan terjaga dari kesalahan sepanjang hidupnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kemaksuman itu milik semua manusia, bukan khusus untuk rasul atau nabi, tetapi ia merupakan syarat kerasulan atau kenabian. Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa setiap nabi itu wajib maksum tetapi bukan setiap yang maksum itu rasul. Setiap manusia yang menerima anugerah dan mengikuti hidayah Allah boleh saja ia menjadi maksum tetapi bukan berarti ia menjadi Nabi.

Berdasarkan hal di atas, maka kemaksuman bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai manusia. Ja’far Subhani dalam bukunya Ishmah, telah menjelaskan bahwa kemaksuman setidaknya dapat terjadi dikarenakan tiga hal [5]:

  1. Ketakwaan yang tinggi kepada Allah swt. Kemaksuman merupakan salah satu bagian takwa, dan ketakwaan merupakan kondisi kejiwaanyang dapat memelihara manusia dari berbuat banyak kemaksiatan dan dosa, baik dalam tindakan, perkataan, bahkan pemikirannya.
  2. Ilmu yang sempurna akan akibat perbuatan. Misalkan saja ada wayar listrik yang terbuka, apakah anda akan memegangnya tanpa alat? Pasti jawabannya tidak, karena kita mengetahui bahwa memegang wayar yang berisi aliran listrik akan menyebabkan kecelakaan pada diri kita. Begitu pula dalam persoalan kemaksuman, di mana, Nabi dengan ilmunya yang sempurna mengetahui hakikat perbuatan dan akibat yang ditimbulkannya, dan jika ia mengetahui akibat itu akan mencelakakannya, maka ia tidak akan melakukannya.[6]
  3. Kecintaan yang sempurna kepada Allah swt. Kecintaan kepada Allah akan membuat seseorang senantiasa menjaga agar Allah tetap mencintainya juga, sehingga akan tumbuh perasaan mengagungkan Allah yang membawanya pada kekuatan untuk senantiasa menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Allah swt, karena akan menghancurkannya. [7]

Dengan demikian jika kita menemui riwayat-riwayat tentang kesalahan para Nabi, maka diperlukan penelitian yang mendalam akan kebenaran riwayat tersebut dan penakwilan yang benar akan maknanya. Begitu pula, adanya sejumlah ayat yang mengesankan seolah-olah sejumlah nabi pernah berbuat dosa, hendaknya tidak dipahami dalam pengertian telah betul-betul melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi, hal itu hanyalah semacam tark al-awla atau perbuatan meninggalkan yang utama. Maksudnya, di antara dua perbuatan baik, nabi bersangkutan justru memilih yang utama, padahal ia sepantasnya memilih yang lebih utama. Atau dengan kata lain, termasuk dalam kategori ungkapan : “Perbuatan baik untuk tingkatan abrar (orang-orang baik), adalah buruk untuk tingkatan muqarrabin (orang-orang dekat).” Karenanya setiap orang dituntut melakukan perbuatan sesuai dengan tingkatan ilmu dan kemampuannya.


[1] Lihat Ja’far Subhani. Ishmah al-Anbiya fi al-Quran al-Karim, h. 8.

[2] Allamah Thabathaba’i. Tafsir Mizan Jilid 2, h. 136.

[3] M.T. Misbah Yazdi. Iman Semesta. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 196-197. Lebih jauh tentang ‘Ismah, dapat di baca dalam Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah al-Imamiyah fi ‘Aqaidihim. (Mu’awiniyatu Syu’uni al-Ta’lim wa al-Buhuts al-Islamiyah, 1413), h. 56-70; Ja’far Subhani. Ishmah Keterpeliharaan Nabi dari Dosa. (Yayasan As-Sajjad, 1991). Sayid Kamal Haydari. Ishmah. (Huquq al-Thab’i Mahfuzhah, 1997).

[4] Mujtaba Musawi Lari. Aqidah Alternatif. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 91.

[5] Lihat Ja’far Subhani. Ishmah al-Anbiya fi al-Quran al-Karim, h. 21-27.

[6] Allah berfirman : “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan ilmu yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahannam.” (Q.S. at-Takatsur: 5-6).

[7] Allah berfirman : “Jika kau mempersekutukan Allah, maka akan binasalah amalanmu” (Q.S. Az- Zumar: 65): “Kami pilih mereka dan kami tunjukan jalan yang lurus, demikian itulah petunjuk Allah, Dia tunjuki dengan petunjuk itu sesiapa yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan jika mereka meyekutukan Allah niscaya akan terhapuslah dari mereka segala apa yang telah mereka lakukan.” (Q.S. Al An’am :    );

MENGENAL KENABIAN

MAKNA DAN KEDUDUKAN KENABIAN

Dalam pembahasan ketuhanan kita sudah mengidentifikasi kewajiban mengenal Tuhan, mengesakannya, dan beribadah kepadanya. Terlebih, kita telah mengetahui bahwa Dialah yang telah menciptakan kita. Namun, bagaimana cara Tuhan menginformasikan berbagai hukum, keinginan, dan petunjuk kepada manusia. Secara asumtif kita bisa menyebutkan beberapa Scara, yaitu :

  1. Tuhan berbicara langsung kepada setiap orang.
  2. Tuhan mengutus malaikat untuk mendatangi setiap orang.
  3. Tuhan mengirimkan kitab kepada setiap orang.
  4. Tuhan mengutus manusia untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya.

Dari keempat alternatif di atas, yang paling memungkinkan adalah alternatif keempat yaitu memilih seorang manusia yang terbaik untuk diutus menerima dan menyampaikan dan menyebarkan ajaran-ajaran Tuhan. Orang yang dipilih sebagai utusan itulah yang di sebut dengan Rasul (utusan/pembawa risalah) atau Nabi (pembawa berita).[1] Dengan demikian An-Nubuwah (kenabian) adalah keyakinan bahwa Allah swt telah mengutus manusia-manusia pilihan untuk menjadi pembimbing umat manusia mencapai kesempurnaan dengan membawa agama Allah swt.

Kedudukan an-Nubuwah (kenabian) merupakan salah satu ushuluddin yang menjadi dasar bagi kita untuk mengamalkan agama dan meyakininya sepenuh jiwa. Hal ini karena, tanpa kenabian kita tidak mengenal syariat agama yang suci. Begitu pula, agar manusia tidak memiliki alasan bahwa Allah membiarkan manusia untuk sesat tanpa memberikan pertolongan untuk mengenal diri-Nya dan hukum-hukum-Nya.[2]

KEHARUSAN ADANYA NABI

Tauhid penciptaan, telah ditegaskan bahwa Tuhan merupakan pencipta seluruh alam, termasuk manusia. Sebagai pencipta, sudah pasti Allah swt mengetahui seluruh seluk beluk ciptaannya. Ciptaan merupakan sistem terbaik yang dengan segala pernak-perniknya diatur sedemikian rupa untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Tetapi alam ciptaan ini demikian luas dan tersembunyinya sehingga tidak semua manusia mampu mengetahui rahasianya, sehingga dapat menempuh jalan terbaik menuju kesempurnaan. Bahkan, tidak semua manusia mampu mengenal dirinya, kebutuhan, dan tujuannya, sehingga berusaha dan senantiasa menempuh jalan yang baik dan benar.[3] Dan sesuai dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayangnya, Tuhan memberikan pertolongan kepada manusia dengan menyediakan berbagai sarana bagi manusia untuk mengetahui rahasia-rahasia dirinya dan jagad raya, serta jalan-jalan menuju kesempurnaannya.

Karena ternyata dari beragam sumber dan sarana manusia untuk mengenal Tuhan dan alam seperti indera, akal, dan hati (intuisi), belum cukup untuk mengantarkan manusia untuk mengenal seluruh rahasia ciptaan Tuhan, maka sesuai dengan kebijaksanaannya Tuhan mesti menyediakan perangkat lainnya untuk mengenalkan dan mengantarkan menusia menuju-Nya. Sebab, alangkah naifnya, jika seseorang mengundang orang lain ke rumahnya namun tidak memberikan alamat dan menunjukkan jalannya. Sebab itu berarti bermain-main dan ajakan sia-sia. Hal itu tidak mungkin terjadi pada diri Tuhan. [4] Perangkat lain tersebut adalah pengutusan orang-orang pilihan (Nabi atau Rasul) yang memiliki pengetahuan sempurna akan wujud Tuhan dan rahasia ciptaan-Nya.[5]

Sederhananya, proposisi di atas ingin menunjukkan bahwa manusia pada umumnya tidak mengenal diri dan alam sekitarnya. Karena ketidaktahuannya itu, maka dia juga tidak mengetahui tujuannya. Untuk itu diperlukan pemberitahuan dari penciptanya agar ia dapat hidup sesuai dengan tujuan dan aturan penciptaan. Dengan demikian, diperlukan pengutusan para Nabi yang membawa agama Allah swt agar manusia dapat hidup sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan. Inilah mengapa dikatakan bahwa penutusan para Nabi bersifat niscaya (wajib).

ARGUMENTASI PENTINGNYA KENABIAN

Gambaran di atas sebenarnya telah membuktikan kepada kita bahwa kenabian adalah hal yang penting bahkan niscaya. Akan tetapi untuk melengkapi pembuktian, di bawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa argumentasi akan pentingnya atau keharusan diutusnya para Nabi, yaitu sebagai berikut :

  1. 1. Argumentasi Kebijaksanaan (Hikmah). Kita ketahui bahwa Allah adalah Maha Bijaksana, karenanya Dia tidak akan membiarkan manusia tanpa pembimbing dalam mengarungi kehidupan ini. Sesuai dengan tauhid hukum bahwa Allah telah menurunkan hukum-hukumnya, maka mesti adalah yang mengajarkan hukum-hukum tersebut agar terlaksana dengan baik. Karena Allah tidak mungkin berhubungan secara langsung di alam materi, maka Ia akan mengutus seseorang yang telah mencapai derajat tertentu untuk menjadi penyampai, pembimbing dan penjaga hukum-hukumnya (syariat/agama). Orang yang diutus tersebut dikenal dengan Nabi atau Rasul.

  1. 2. Argumentasi Rahmat. Allah senantiasa Maha Pengasih dan Penyayang, maka sesuai dengan kasih sayang-Nya tersebut, Dia tidak akan membiarkan makhluknya dalam kebingungan tanpa adanya pembimbing untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Karena dengan mengamalkan hukum-hukum-Nya manusia dapat meningkatkan dirinya menuju derajat insan kamil (manusia sempurna). Karena itu Dia akan mengutus seseorang untuk manjadi pembimbing, inilah yang dikenal dengan Rasul atau Nabi.

  1. 3. Argumentasi Kesempurnaan. Sesuai dengan hikmah penciptaan bahwa manusia mestilah mencapai kesempurnaan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki. Karena manusia diharapkan untuk mencapai kesempurnaan, dan kesempurnaan akan tercapai jika sesuai atau mengikuti jalan-jalan yang digariskan Allah, maka untuk memberitahukan dan membimbing manusia ke jalan yang sempurna itu, Allah mengutus Nabi atau Rasul.

  1. 4. Argumentasi Keadilan. Allah Maha Adil, artinya tidak menzhalimi hamba-Nya dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adalah suatu kezhaliman membiarkan ciptaan-Nya dalam keadaan bingung dan tidak mengetahui aturan-aturan kehidupan, karenanya berdasarkan keadilan tersebut, ia mesti mengutus seseorang untuk menjadi pembimbing umat manusia.

Argimentasi-argumentasi di atas menunjukkan dengan jelas akan pentingnya posisi kenabian dalam hidup dan kehidupan manusia. Dan argumentasi-argumentasi rasional diatas, juga didukung banyak ayat-ayat al-Quran, yang menegaskan bahwa Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk membimbing umat manusia dan menuntun mereka mencapai kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi. Seandainya para nabi itu tidak diutus maka tujuan penciptaan manusia tidak akan tercapai dan manusia akan tenggelam dalam kesesatan. [6]

DERAJAT DAN PENETAPAN KENABIAN

Kenabian merupakan ikhtiar dua arah, yakni ikhtiar manusia sebagai utusan dan ikhtiar Allah swt sebagai pengutus. Inilah yang dikenal dengan istilah ‘derajat kenabian’ dan ‘gelar kenabian’.

Derajat kenabian adalah kondisi tertentu yang dimiliki oleh seseorang sehingga memenuhi syarat untuk menjadi Nabi, sedangkan gelar kenabian merupakan pelantikan dari Tuhan terhadap seseorang yang pantas – dengan pilihan Tuhan— untuk menjadi Nabi yang diutus kepada umat manusia. Dengan demikian derajat kenabian merupakan ikhtiar manusia sedangkan pangkat kenabian merupakan pelantikan yang sepenuhnya hak Allah swt untuk mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya.

Dengan penjelasan ini, maka jelaslah bahwa Nabi dapat menjadi teladan karena dengan ikhtiarnya sehingga mampu untuk mengendalikan diri (maksum) dan mencapai derajat kenabian. Disisi lain tidak semua orang berhak menjadi Nabi, karena gelar kenabian sepenuhnya hak Allah swt yang lebih mengetahui kemaslahatan manusia dan kebutuhan akan pengutusan kenabian, “Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Q.S. al-An’am: 124). Karenanya ada saja orang yang mencapai derajat kenabian akan tetapi, Allah tidak mengangkatnya menjadi Nabi, seperti para Imam. Namun, bagaimana derajat itu bisa didapatkan oleh manusia atau Nabi sebelum menjadi Nabi, padahal ia belum dibimbing oleh wahyu?

Perlu diperhatikan bahwa, pada awalnya seorang nabi dalam meningkatkan kesempurnaan diri dan pengetahuannya berpegang pada kemampuan akalnya. Dalam filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan yang diperoleh akal manusia (termasuk yang diperoleh nabi sebelum menjadi nabi) berasal dari alam yang lebih tinggi dari alam dunia, yaitu alam malakuti (alam mitsal, alam akal, dan alam ketuhanan). Adapun, belajar dan penyucian diri, berfungsi sebagai penyiap bagi jiwa untuk menangkap pancaran ilmu ilahi tersebut.[7]

Imam Khumaini menjelaskan bahwa premis-premis memiliki hubungan persiapan dengan kesimpulan-kesimpulannya dan mempersiapkan jiwa untuk menerima pengetahuan melalui inspirasi dari sumber-sumber gaibnya yang tinggi (mabadi-ye ‘aliyeh-ye ghaibiyyeh). Ini berarti, pengetahuan dan makrifat itu dipancarkan dari alam gaib melalui hubungan—dan  pencerapan—jiwa dengan alam tersebut, sebagaimana disebutkan Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberimu ilmu…” (Q.S. al-Baqarah: 282) dan disabdakan hadits : “pengetahuan itu (diperoleh) bukan melalui banyaknya pengajaran, tetapi melalui cahaya yang Allah pancarkan kepada hati hamba yang dikehendaki-Nya.[8]

TUGAS KENABIAN

Nabi di utus oleh Allah swt sebagai pembimbing umat manusia. Ini merupakan fungsi dan tugas utama para Nabi dan Rasul. Akan tetapi, secara umum tugas bimbingan ini akan mencakup tugas-tugas di bawah ini :

  1. Memahami agama
  2. Mengamalkan agama
  3. Menyebarkan agama
  4. Mengajak umat kepada agama
  5. Memberi contoh dan membimbing umat
  6. Menjaga agama dari kebatilan, penyelewengan dan kesalah pahaman.

CIRI-CIRI UMUM KENABIAN

Untuk menjaga kemaslahatan dakwah kenabian maka seseorang yang menjadi Nabi mesti memiliki ciri-ciri tertentu. Secara umum ciri-ciri tersebut adalah :

  1. Menjaga kesucian diri (maksum), karena ia merupakan pembimbing umat menuju kesucian diri, maka sudah selayaknya dirinya terlebih dahulu memiliki kesucian tersebut.
  2. Memiliki ilmu yang sempurna. Hal ini karena para nabi membimbing manusia untuk mengenal dirinya dan alam sekitarnya sehingga dapat menjalani evolusi diri menuju kesempurnaan.
  3. Keturunan orang baik. Hal ini penting sebagai kebaikan bagi dakwah rasul (maslahat al-dakwah), karena silsilah para Nabi dan hubungan orang tuanya (perkawinan) menjadi penting bagi para nabi yang juga hidup dalam keluarga layaknya manusia umumnya.
  4. Memiliki fisik yang bagus, karena nabi diutus untuk mendekati manusia, karenanya hal-hal yang membuat dirinya secara fisik dijauhi dan dihina oleh manusia tidaklah layak ada pada diri nabi, seperti penyakit fisik yang parah, cacat, dan lainnya.
  5. Membawa syariat (wahyu), karena kenabian di utus untuk mengajak manusia kepada bimbingan ilahi, dan bimbingan ilahi tersebut dalam bentuk wahyu.
  6. Membawa bukti kenabian seperti mukjizat. Hal ini penting karena tidak semua orang senang dan mengikuti dakwah para Nabi, sehingga terkadang menolak dan menyerang Nabi. Begitu pula ada kalanya, hal-hal yang luar biasa menjadi bukti bagi masyarakat akan diri seorang Nabi, untuk itu mukjizat menjadi penting dalam pengutusan nabi.[9]

CARA MENGETAHUI KENABIAN

Klaim kenabian senantiasa mewarnai kehidupan manusia, karenanya salah satu persoalan mendasar adalah bagaimana umat manusia dapat mengakui klaim kenabian yang benar dan membedakannya dengan klaim kenabian yang palsu? Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu[10] :

  1. Dengan mengenal kehidupannya baik dengan adanya bukti-bukti yang membuat masyarakat percaya seperti kemaksuman (tidak melakukan kesalahan), kejujuran, amanah, istikamah, dan adil sepanjang hdiupnya. Selain itu, orang tersebut dalam silsilahnya juga merupakan keturunan orang yang baik-baik. Cara ini dapat dilakukan dengan melihat kehidupan nabi tersebut secara langsung atau mempelajari sejarah hidupnya. [11]
  2. Berdasarkan kabar atau pemberitahuan dari Nabi sebelumnya atau Nabi yang lain yang sezaman dengannya. Cara ini hanya bisa jika masyarakat telah mengenal dan mengakui kenabian. [12]
  3. Menampakkan mukjizat yang pengaruhnya lebih kuat dan lebih luas.[13]
  4. Dengan menelaah ajaran-ajarannya untuk menilai kesempurnaan atau kebenaran serta kesesuaiannya dengan fitrah, kebutuhan dan standar akal manusia. Namun, tugas ini hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki kemampuan secara jasmani dan ruhani, memerlukan kepintaran dan keahlian.[14]


[1] Perhatikan ayat-ayat berikut ini: “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Q.S. al-Furqan: 236); “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.” (Q.S. al-Mukminun: 33); “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu…” (Q.S. al-Kahfi: 110).

[2] Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk; dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. al-A’raf: 157); Lihat juga Q.S. al-An’am: 91.

[3] Manusia umumnya dikatakan tidak mengenal dirinya. Misalnya, tentang kulitnya saja, tidak ada satupun ahli di dunia ini mengaku bahwa ia mengetahui dengan sempurna semua karakteristik kulit manusia, begitu juga dengan bagian tubuh lainnya. Ini untuk wilayah jasadi. Adapun bagian ruhani manusia, maka semakin sedikitlah pengetahuan manusia tentangnya. Maha benar Allah swt dengan firmannya, “mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ruh itu dari amr Tuhanku, dan kamu tidak diberikan ilmu kecuali sedikit” (Q.S. al-Isra:  ).

[4] Lihat M.T. Misbah Yazdi. Iman Semesta. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 172-176.

[5] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Allah tidak akan menampakkan hal gaib kepada kalian, tetapi Ia memilih utusan-utusan-Nya dengan kehendak-Nya. (Q.S. Ali Imran: 179); “Allah Maha Mengetahui hal yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan hal gaib kepada siapa pun kecuali rasul yang diridhai-Nya.” (Q.S. al-Jin: 26).

[6] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Tidaklah Kami akan mengazab siapapun sebelum kami mengutus seorang Rasul” (Q.S. al-Isra/17 : 15); “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (Q.S. al-Jumuah: 2); “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa kabar gembira dan peringatan supaya manusia tidak punya alasan (atas penyimpangan-penyimpangannya) terhadap Allah sesudah diutusnya para rasul” (QS. Al-Nisa/4: 165); Lihat juga Q.S. al-Hadid: 25.

[7] Allah Berfirman : “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberimu ilmu…” (Q.S. al-Baqarah: 282).

[8] Imam Khumaini. 40 Hadits. (Bandung: Mizan, 2004), h. 448-449.

[9] Allah berfirman : “Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah.” (Q.S. al-Mukmin: 78). Lihat juga Q.S. al-Isra: 90-93.

[10] Lihat M.T. Misbah Yazdi. Iman, h. 219-220. Muhsin Qiraati. Membangun Agama. (Bogor: Cahaya, 2004), h. 213-234.

[11] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (Q.S. al-Jumuah: 2). “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.” (Q.S. al-Mukminun: 33); “Maka  disebabkan rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S. Ali Imran: 159); “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (Q.S. al-Qalam: 4).

[12] Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (Q.S. al-A’raf: 157).

[13] Allah berfirman : “Dan kami tidak menutus sebelum kamu, kecuali orang-orang yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.” (Q.S. an-Nahl: 43); “Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Q.S. al-Isra: 88).

[14] Allah berfirman : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. an-Nisa: 82).

TAUHID SIFAT

MAKNA TAUHID SIFAT

Tauhid sifat adalah meyakini bahwa sifat-sifat yang ada pada Allah seperti ilmu, kuasa, hidup, dan sebagainya adalah merupakan hakikat Dzat-Nya, bahkan adalah Dzat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk, yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Hanya saja, untuk menyelami hakikat satunya Dzat dan sifat ini memerlukan argumentasi dan alasan-alasan yang rasional.

Jadi, zat dan sifat Allah adalah sama atau identik. Zat adalah sifat dan sifat adalah zat (zat = sifat). Namun demikian, ada juga yang menyatakan bahwa sifat itu ada dan berbeda dengan hakikat zat. Untuk mengkajinya akan dijabarkan beberapa hal di bawah ini :

  1. Jika zat dan sifat berbeda, maka Tuhan akan terdiri dari rangkapan, sedangkan kita mengetahui bahwa setiap yang memiliki rangkapan berarti keberadaanya merupakan akibat dari rangkapan, dengan demikian akan menjadi terbatas, dan yang terbatas berarti berawal dan diadakan (dijadikan/diciptakan). Adapun yang terbatas, berawal, diciptakan sudah jelas bukanlah Tuhan.
  2. Jika Zat dan sifat berbeda, maka akan terjadi saling membutuhkan, yakni zat membutuhkan sifat dan sifat membutuhkan zat, dengan demikian maka keduanya saling membutuhkan. Adapun kebutuhan adalah sifatnya makhluk bukan sifatnya khalik, dengan demikian wujud yang membutuhkan sudah jelas bukanlah Tuhan.
  3. Jika zat dan sifat berbeda, dan keduanya adalah mandiri, maka kita telah meyakini dua  wujud yang mandiri dan tidak tercipta, ini berarti ada dua Tuhan, dan jika kita meyakini pula bahwa sifat yang satu berbeda dengan sifat yang lainnya—misalnya ada 99 sifat Tuhan dan semuanya mandiri—ini berarti kita meyakini 99 wujud mandiri ditambah satu (zat) maka akan ada 100 wujud yang mandiri, hal ini akan berakibat kita meyakini 100 Tuhan (politeis/syirk).

Dengan penjelasan ini maka jelaslah bahwa ke-Esaan Tuhan adalah ke-Esaan hakiki dari segala seginya. Adapun sifat, maka ia hanya ada dalam pemahaman akal manusia sedangkan pada hakikat wujud Tuhan ia tidak memiliki eksistensi/keberadaan. Perbedaan antara sifat Tuhan yang satu dengan yang lainnya merupakan hasil dari pemahaman dan konsepsi akal manusia dalam memandang hakikat Zat Tuhan.

MENETAPKAN SIFAT TUHAN :

SIFAT ZAT DAN SIFAT PERBUATAN

Jika kita melakukan konsepsi dan afirmasi tentang Tuhan, maka bisa dipandang dari dua sisi. Pertama, mencermati Wujud Tuhan dari sisi wujud itu sendiri secara mandiri; dan kedua, mencermati wujud Tuhan dari sisi menghubungkannya dengan makhluknya. Kedua hal ini dilakukan untuk menetapkan sifat-sifat Tuhan. Hasilnya, dari sudut pandang pertama berguna untuk menetapkan sifat zat (sifat zat), sedangkan sisi kedua dapat menetapkan sifat perbuatan (sifat fi’liyah).

Dengan demikian, Sifat Zat adalah sifat yang dapat diterapkan pada Tuhan cukup dengan memahami zat-Nya saja secara mandiri tanpa dihubungkan dengan makhluk-Nya. Seperti sifat Wujud (ada), qadim (azali), baqa (abadi), hayat (hidup), ‘alim (ilmu), qudrah (kuasa), dan iradah (kehendak). Sifat-sifat ini dapat kita terapkan langsung kepada Allah tanpa diperlukan keterkaitannya dengan makhluk, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan Ada, Tuhan Yang Azali, Tuhan Yang Abadi, Tuhan Yang Kuasa, Tuhan Yang Hidup, Tuhan Yang Mengetahui, Tuhan Yang Berkehendak.

Sedangkan Sifat Perbuatan adalah sifat yang dapat diterapkan pada Tuhan dengan memahami keterkaitan hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya. Contohnya sifat Pencipta, Pemberi rezeki, Pengasih, dan sebagainya, yang mana sifat ini hanya dapat diterapkan dan dipahami jika ada ciptaan (yakni Makhluk), ada yang diberi rezeki, dan ada yang dikasihi. Jika tidak ada hubungan ini maka sifat tersebut tidak dapat diterapkan secara mandiri melainkan mesti disandarkan kepada sifat zat, misalnya kepada sifat Kuasa (qudrah), sehingga dapat disebut—sebagai pemisalan— bahwa Tuhan Maha Kuasa Mencipta, atau Kuasa Memberi Rezeki. Dengan begitu, sifat perbuatan pada hakikatnya akan kembali kepada sifat zat yang pada dasarnya adalah zat itu sendiri.

Perlu diperhatikan bahwa, jika tauhid zat menekankan keesaan Tuhan dari sisi zat, di mana zatnya tidaklah terbatas dan tidak tersusun dari bagian-bagian; dan tauhid sifat menegaskan bahwa sifat adalah identik dengan zat dan bukan sesuatu lain yang ditambahkan kepada-Nya, maka tauhid perbuatan menekankan pada keesaan Tuhan dalam berbuat. Artinya, Tuhan secara mandiri dan sendiri dalam melakukan berbagai perbuatan serta tidak memerlukan pertolongan ataupun penolong, meskipun Ia melakukannya secara langsung maupun dengan menggunakan perantaraan.[1]

Adapun menisbatkan suatu sifat kepada Tuhan, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. Secara langsung, yaitu menetapkan prinsip-prinsip positif dalam memahami hakikat wujud dan menisbahkan kepada-Nya sifat-sifat positif (tsubutiyah) sebagai tanda kesempurnaan wujud dan menolak sifat-sifat negative dan kekurangan (salbiyah) yang membatasi wujud. Misalnya, Tuhan sebagai wajib wujud yang sempurna tentunya mesti azali dan abadi (tidak diadakan dan tidak akan musnah), berilmu (tidak bodoh), berkuasa (tidak lemah), hidup (tidak mati), mendengar (tidak tuli), melihat (tidak buta), dan sebagainya.
  2. Secara tidak langsung, yakni dengan melihat diri dan sifat-sifat manusia yang baik kemudian kita menisbahkan sifat tersebut kepada Tuhan dengan kesempurnaan dan menolak kekurangan-kekurangan. Misalnya, pertama-tama kita menemukan bahwa diri kita memiliki sifat-sifat positif seperti hidup, berilmu, berkemampuan, dan lainnya, kemudian dengan melenyapkan kekurangan dan batasan yang kita miliki, selanjutnya kita menetapkan sifat tersebut pada Tuhan secara sempurna (tsubutiyah). Begitu pula kita menemukan sifat-sifat negatif pada diri kita, seperti diwujudkan oleh yang lain,  mati dan lenyap, capek, sakit, dan sebagainya. Kemudian dengan cermat akal kita menyatakan bahwa Tuhan mesti bebas dari kekurangan, batasan, atau sifat-sifat negatif (salbiyah) seperti itu, karenanya kita menetapkan sifat mustahil pada Tuhan dan menetapkan kebalikannya sebagai sifat positif, seperti Tuhan tidak diadakan dan tidak akan lenyap yang berarti mesti azali dan abadi; Tuhan tidak bodoh yang berarti berilmu; Tuhan tidak mati yang berarti Hidup; Tuhan tidak capek yang berarti senantiasa kuat; tidak buta berarti melihat, dan sebagainya.[2]

Jadi, sifat-sfat Tuhan adalah zat-Nya sendiri yang sederhana (basith), yang kemudian pikiran menarik konsep-konsep yang berbeda dari zat Tuhan, dan menisbahkannya kepada Tuhan dengan segala kesempurnaan dan ketidakterbatasan-Nya.

SIFAT ILMU (‘ALIM)

Tuhan mengetahui diri-Nya. Ini adalah kepastian, kelaziman dan secara langsung yang tidak membuat keterbatasan diri-Nya. Akan tetapi pengetahuan Tuhan terhadap selain diri-Nya, tidaklah secara langsung karena akan terdapat banyak objek ilmu pada diri Tuhan, dan setiap objek ilmu akan membatasi dari objek ilmu yang lain, dengan demikian hal ini akan mengakibatkan keterbatasan ilmu Tuhan.

Beberapa alasan yang diajukan para filosof untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak mengetahui selainnya secara langsung adalah :

  1. Bila Tuhan mengetahui secara langsung, maka pada diri Tuhan akan terdapat banyak objek-objek ilmu. Karena objek-objek ilmu tersebut adalah terbatas, maka ilmu Tuhan juga akan menjadi terbatas, karena gabungan keterbatasan hanya akan mengahsilkan keterbatasan pula.
  2. Tuhan sebagai sebab sedangkan selainnya merupakan akibat. Maka jika Tuhan mengetahui selain-Nya secara langsung, berarti ia mengetahui sebatas akibat, hal ini menjadikan ilmu Tuhan tidak sempurna.
  3. Alam materi senantiasa berproses, maka jika Allah mengetahui secara langsung, maka ia akan berproses dan setiap yang berproses adalah terbatas.
  4. Alam materi terdiri dari bentuk-bentuk, maka jika Tuhan mengetahui secara langsung maka ilmu Tuhan akan berbentuk-bentuk dan itu akan menunjukkan keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Dengan demikian, Tuhan mengetahui selain diri-Nya, adalah dengan hakikat sesuatu itu tanpa ada bentuk-bentuk di dalamnya. Ini berarti karena ia merupakan sebab dari segala sesuatu maka pengetahuan-Nya terhadap diri-Nya sudah mencakup pengetahuan tentang selain-Nya yang merupakan akibat. Hal ini sesuai dengan prinsip aksiomatik “ilmu bi illat yulazimu ilmu bi al-ma’lulihi” (Ilmu terhadap sebab menjadi sebab bagi ilmu terhadap akibat-akibatnya).

Namun, pengetahuan Tuhan juga dapat dijelaskan sebagai pengetahuan langsung, hanya saja hal ini memerlukan premis-premis filosofis. Dan buku ini di tulis bukan untuk sasaran kajian yang terlalu mendalam dari sudut pandang filosofis, tetapi sebagai pemahaman awal dapat dijelaskan dengan ringkas di bawah ini.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa Wujud selain Tuhan memiliki dua hal yaitu : eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah). Esensi merupakan hakikat khusus sesuatu maka jika hilang kekhususannya, maka hakikat dirinya akan hilang. Apakah dalam esensi ada makna wujud? Jika ada, maka wujud merupakan bagian esensi sehingga tidak akan pernah bisa berpisah dari wujud, maka ia akan menjadi wajib wujud (Tuhan). Ini adalah kesalahan. Dengan demikian perbedaan wujud yang satu dengan yang lainnya adalah dikarenakan oleh wujud itu sendiri, bukan karena esensinya (tasykik al-wujud).

Tuhan mengetahui diri-Nya dan selain diri-Nya melalui diri-Nya sendiri. Kemudian Wujud adalah satu (wahdat al-wujud) dan memiliki kesamaan makna, disisi lain wujud itu sendiri menjadi pembeda melalui tasykik al-wujud, yang bermakna perbedaan kembali pada persamaanya, yaitu wujud itu sendiri.

Karena Tuhan tidak terbatas maka tidak ada wilayah yang kosong untuk apapun selain Tuhan, jadi segala keberadaan yang kita nisbatkan ada selain Tuhan, sebenarnya dari sisi wujud adalah Tuhan, tetapi dari sisi esensi bukanlah Tuhan. Karena esensi bergantung pada eksistensi, maka esensi tidak dapat mempengaruhi eksistensi. Dengan demikian, maka seluruh keberadaan selain Tuhan pada dasarnya adalah esensi yang bergantung pada eksistensi Tuhan, karena hakikat ketergantungan, maka Tuhan mengetahui segala yang “menempel” (bergantung) pada eksistensi-Nya secara terperinci tanpa harus mempengaruhi diri-Nya, karena esensi tidak dapat mempengaruhi eksistensi (akibat tidak dapat mempengaruhi sebab).

Dengan demikian, pengetahuan Allah atas segala sesuatu meliputi objek yang universal (umum/kulli) maupun particular (terperinci/ juz’i). Bukti bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang universal maupun yang partikular, adalah kehadiran segala sesuatu di sisi-Nya (ilmu hudhuri). Bahkan, eksistensi segala sesuatu itu sepenuhnya bergantung kepada-Nya, sehingga pastilah Dia mengetahui semua yang bergantung kepada-Nya itu.[3]

TAUHID PENCIPTAAN

Tauhid penciptaan berarti meyakini dengan sungguh bahwa semua alam ini merupakan ciptaan Allah baik secara langsung ataupun dengan perantara.[4] Dalam memahami tauhid penciptaan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

A. Tidak Tertundanya Ciptaan

Allah tidak pernah menunda ciptaan karena hal itu adalah kebaikan dan menunda hal yang baik adalah kebakhilan (pelit) dan kebakhilan adalah sifat yang tercela dan buruk, maka hal itu tidak mungkin ada pada diri Tuhan. Sedangkan bila itu bukan hal yang baik maka berarti Allah telah “melebihkan sesuatu tanpa nilai lebih” (tarjih bila murajjah) dan itu juga hal yang mustahil dan buruk.

Prinsip bahwa “segala sesuatu mencintai dirinya sendiri”, maka Allah juga mencintai dirinya sendiri dan mencintai kekuasaanya dan diantara kuasanya adalah mencipta, karena itu ia tidak akan menunda ciptaan karena berarti ia menunda cinta terhadap diri-Nya.

Kemudian, prinsip sebab-akibat menyatakan bahwasebab yang telah lengkap maka akan menimbulkan akibat”, dan “Akibat adalah ketergantungan hakikat zatnya pada sebab”. Karena Allah adalah sebab tunggal dan lengkap—jika  tidak berarti Allah terbatas dan berangkap—maka secara otomatis niscaya (wajibun ‘anhu) akan timbul akibat (makhluk) tanpa ada penundaan sedikitpun, karena panundaan menunjukkan belum lengkapnya sebab dan itu mustahil bagi Allah swt. Maha benar Allah dengan firman-Nya, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata padanya, ‘jadilah! Maka jadilah ia” (Q.S. Yasin: 82).

  1. B. Kebajikan, Tujuan dan Hikmah Penciptaan

Alam yang ada sekarang adalah merupakan ciptaan dan sistem yang terbaik, di mana Allah telah menciptakan ala mini dengan cara sedemikian rupa, yang kebaikannya menguasai keburukan, sistemnya membawa pada kesempurnaan, dan mendapatkan keridhaan-Nya. Hal ini karena, jika sistem di alam ini bukanlah sistem yang terbaik, maka berarti Allah adalah bakhil (pelit) dan bakhil itu adalah keburukan yang mustahil ada pada diri Tuhan. Adapun mengenai kekurangan, kesalahan, kelemahan, dan keterbatasan, pada dasarnya bukanlah diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Semua itu merupakan permulaan yang diperlukan bagi perkembangan makhluk lainnya. Ketidaksempurnaan yang terlihat di alam disebut dengan ‘tujuan korolarial’, yaitu tujuan yang merupakan akibat wajar. Artinya, karena tujuan utama tidak akan dapat tercapai kecuali melalui keperluan lain yang tidak dimaksudkan, maka kita harus menyetujui dan menerimanya, meskipun mereka tidak diinginkan bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan tujuan korolarial, kita memandang dunia secara keseluruhan dan interaksi di dunia ini, semuanya berada dalam suatu sistem yang membimbing dan mengarahkan munculnya kesempurnaan.[5] Inilah yang dikenal dengan kebajikan Allah.

Allah dalam mencipta memiliki tujuan, karena jika tidak berarti ia melakukan perbuatan yang tidak bijaksana dan sia-sia.[6] Hal ini tidak sesuai dengan sifat Allah yang sempurna. Namun, “tujuan penciptaan” Allah adalah diri-Nya sendiri, dan bukan untuk memperoleh manfaat bagi diri-Nya.[7] Inilah yang disingkat dengan prinsip bahwa “pelaku dan tujuan adalah sama, yaitu Tuhan”. Sedangkan kebaikan dan kesempurnaan hamba adalah “hikmah penciptaan,” karena kemaslahatan hanya ada pada makhluk yang telah tercipta.[8]

Segala sesuatu yang tercipta itu memiliki setidaknya dua syarat penting yaitu : 1). mungkin al-wujud dan   2). memiliki nilai lebih. Hal ini karena  sesuatu yang secara zat dan esensi adalah mustahil (mumtani al-wujud) maka tidak mungkin diciptakan (mustahil tercipta). Di pihak lain, jika tidak ‘memiliki nilai lebih’ juga tidak mungkin tercipta karena hal itu menunjukkan kesia-siaan, kekurangan, keburukan dan keterbatasan. Sebab dalam melakukan sesuatu yang bersifat mungkin, ada lima alternatif nilai yakni :

  1. Memiliki nilai baik keseluruhannya.
  2. Memiliki nilai baik lebih banyak.
  3. Memiliki nilai baik dan buruk secara sama.
  4. Memiliki nilai buruk lebih besar.
  5. Memiliki nilai buruk keseluruhan.[9]

Menurut hikmah ilahiah, untuk nilai pertama dan kedua (baik keseluruhan dan baik lebih banyak), maka Tuhan mesti mencipta, karena jika tidak mencipta berarti Tuhan meninggalkan perbuatan baik dan melakukan perbuatan buruk. Hal ini menunjukkan kekurangan dan keterbatasan.

Adapun nilai yang ketiga, keempat dan kelima (nilai buruknya sama, lebih besar atau keseluruhannya buruk), maka sesuai hikmah, Tuhan tidak akan menciptakannya, karena hal itu akan menunjukkan perbuatan buruk, kekurangan, kesia-siaan, dan keterbatasan. Tuhan Maha Suci dari semua itu. [10]

Dengan demikian, segala sesuatu yang ‘mungkin’ dan memiliki ‘nilai lebih’ maka sesuai hikmah mestilah diciptakan. Jadi proses penciptaan adalah keharusan dan kewajiban dengan alasan untuk melakukan hikmah, meninggalkan kesia-siaan, dan meninggalkan keburukan.[11]

C.   Tahapan Penciptaan dan Susunan Alam

Proses penciptaan alam melewati tahap-tahap penciptaan baik secara langsung maupun dengan perantara. Salah satu teori penting dalam filsafat Islam adalah teori huduts dahri yang dikemukakan oleh Mir Damad (1543-1631 M/950-1041 H) dari Isfahan, yang merupakan guru Mulla Shadra.

Teori huduts dahri merupakan konsepsi tentang munculnya wujud-wujud baharu (mumkin al-wujud) dari potensialitas menjadi aktualitas dan realitas yang riil. Teori ini, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut[12] :

Secara rasional wujud-wujud dapat diklassifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu : wajib al-wujud (pasti wujud), mumkin al-wujud (mungkin wujud), dan mumtani al-wujud (mustahil wujud). Dari ketiga klassifikasi tersebut, huduts dahri berhubungan dengan wujud mungkin, karena mustahil wujud secara mutlak tidak dapat menerima wujud, sedangkan wajib wujud merupakan wujud itu sendiri sehingga tidak perlu diberikan wujud.

Kemudian dapat dipahami bahwa sesuatu yang mungkin wujud pastilah memiliki kemungkinan esensial (imkan dzati) dan kemungkinan untuk mewujud (imkan) sehingga dengan struktur yang sistematis terciptalah wujud baharu. Hal ini karena, struktur alam wujud bersifat raisonal, teratur, tidak absurd, dan tidak acak-acakan, sehingga mustahil ‘sesuatu’ yang tidak niscaya wujud (wajib al-wujud) tiba-tiba mewujud tanpa adanya keniscayaan rasional (ijab al-wujub) untuk kehadirannya.

Menurut Mir Damad, keadaan sesuatu pernah tidak mewujud (masbuqiyah bi adam al-wujub) bukanlah bukti bahwa esensi sesuatu itu pernah tiada (masbuqiyah bi adam dzat), lantaran tiada dan wujud dalam kerangka ini sama-sama terkait dengan esensi sesuatu (al-zat). Singkatnya, esensi ‘sesuatu’ yang terwujud pernah melalui esensi ‘sesuatu’ yang tiada. Jadi, huduts dahri menjelaskan bahwa wujud segala sesuatu—selain wujud wajib—mengalami ‘kepernahan’ (masbuqiyah) melewati sejenis ketiadaan dalam esensi mereka. Dan ketiadaan tersebut, bukanlah ketiadaan dalam hal waktu (adam zaman), melainkan ketiadaan esensi sesuatu pada dirinya sendiri.[13]

Dengan begitu, untuk mewujud ke realitas eksternal, suatu wujud mungkin, mesti melewati beberapa tingkatan atau tahapan-tahapan tertentu sebagai berikut :

  1. Tahapan pernyataan esensi atau teresensi (taqarrur mahawi).
  2. Tahapan kemungkinan esensial (imkan dzati).
  3. Tahapan kemungkinan-untuk-mewujud (imkan).
  4. Tahapan kebutuhan-untuk mewujud (ihtiyaz).
  5. Tahapan peniscayaan-untuk mewujud oleh sebab di atasnya (ijab al-illah), yaitu sebab di atasnya akan meniscayakan keberadaan akibat yang telah termungkinkan untuk mewujud dan membutuhkan wujud.
  6. Tahapan keniscayaan wujud akibat (wujub al-ma’lul).
  7. Tahapan pengadaan atau pemberian wujud (ijad), yakni tersambungnya keniscayaan-mewujud si akibat kepada wujud sebab (intiab al-syai ila al-illah).
  8. Tahapan mewujud (wujud) atau keberadaan yaitu tersambungnya sesuatu pada wujud.
  9. Tahapan huduts, yaitu tahapan wujud sesuatu secara riil.

Dengan demikian, ‘sesuatu’ yang ingin mewujud secara eksternal (riil), haruslah melalui sembilan tahapan tersebut di atas. Perlu diperhatikan bahwa prioritas (qabliyah) dan kelebihdahuluan (sabaq/precedence) dalam urutan-urtan di atas bukanlah dalam waktu, melainkan dalam esensi, dikarenakan sesuatu yang mungkin mewujud (mumkin al-wujud) tidak akan pernah mewujud dengan esensi dan dirinya sendiri, sebab, esensi sesuatu yang mungkin mewujud tidak lebih daripada kemungkinan-untuk-mewujud, dan kemungkinan-untuk-mewujud adalah ketiadaan secara esensi. Dan segala yang pernah tiada secara esensial, pastilah hadits (baru terjadi) secara esensial.

Sedangkan alam yang diciptakan Tuhan bukan saja alam material tetapi juga alam non-material, bahkan alam non-material labih tinggi derajatnya dan lebih dahulu diciptakan Tuhan. Untuk lebih jelasnya, tingkatan wujud tersebut dan proses penciptaannya dapat dijelaskan secara sederhana, sebagai berikut :

  1. Allah merupakan wujud tak terbatas dan sederhana (tunggal). Sesuai dengan kaedah bahwa “sebab memiliki relevansi (sinkhiyah) dengan akibat” maka diturunkan pula kaedah “Satu hanya menghasilkan satu (al-wahid la yashduru minhu illa wahid)”. Dengan demikian, maka satu sebab hakiki akan menghasilkan satu akibat hakiki pula, sehingga dari Allah yang tak terbatas terpancarlah secara langsung hanya satu wujud yang dalam filsafat disebut akal 1(nur Muhammad).
  2. Kemudian dari akal 1 terpancarlah akal 2, selanjutnya dari akal 2 terpancarlah akal 3, dari akal  3 terpancarlah akal 4, dan akal-akal selanjutnya hingga akal terakhir.[14] Inilah yang disebut dengan alam akal, yang merupakan wujud non materi mutlak yang memiliki keterbatasan secara esensi, tetapi tidak terikat dengan ruang, massa, bentuk, waktu, perubahan dan sifat-sifat  materi lainnya.
  3. Dari Akal Terakhir[15] ini kemudian terciptalah alam mitsal[16] (alam barzakh) yaitu wujud non materi yang tidak terikat pada massa, ruang, waktu, dan perubahan. Alam mitsal inilah yang menciptakan wujud materi.
  4. Dari alam mitsal terpancarlah alam materi yang sangat terbatas dan terikat pada massa, ruang, waktu, dan perubahan. Karena itu, ia merupakan wujud yang paling banyak susunan atau rangkapannya, sehingga memiliki ketergantungan lebih besar. Alam materi merupakan alam paling rendah yang diciptakan Allah swt.

Dari penjelasan di atas, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Karena semua alam baik materi maupun non materi terdiri dari rangkapan maka ia pasti terbatas, karena kaedahnya “kumpulan jumlah keterbatasan sebesar apapun, akan tetap terbatas.
  2. Allah hanya menciptakan secara langsung akal 1 sedangkan yang lainnya melalui perantara. Perwujudan melalui perantara bukanlah keterbatasan kuasa Tuhan, akan tetapi terbatasnya wujud makhluk (akibat) untuk menerima penciptaan langsung oleh Allah.
  3. Wujud non materi adalah wujud yang tidak terikat pada ruang dan waktu karenanya penciptaannya adalah seketika. Namun karena ia merupakan rangkapan dan terbatas secara esensi maka ia memiliki awal dan akhir dalam tingkatan sebab dan zat, bukan dalam tingkatan waktu.

Kesimpulannya, hanya Tuhanlah satu-satunya Pencipta dari seluruh alam semesta, baik makhluk itu diciptakan secara langsung maupun dengan perantara, dengan persiapan maupun tanpa persiapan.

TAUHID HUKUM (HAKIMIYYAH)

Tauhid hukum menyatakan bahwa tidak ada yang layak membuat hukum-hukum kecuali Allah swt. Untuk itu, dalam Islam, diyakini bahwa tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Allah swt. Menurut Imam Khumaini, kekuasaan legislative dan wewenang untuk menegakkan hukum secara eksklusif adalah milik Allah swt. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk membuat undang-undang lain dan tidak ada hukum yang harus dilaksanakan kecuali hukum dari Pembuat Undang-undang (Allah swt).[17]

Mengapa hanya Tuhan yang berhak membuat hukum? Karena untuk membuat hukum, ada syarat mutlak yang mesti dikuasai, yaitu “mengetahui dengan akurat subjek dan objek hukum”. Dan menurut hemat penulis, secara jujur kita akan menjawab, bahwa Tuhanlah yang lebih mengetahui diri dan hakikat manusia serta alam semesta, sebab Dia-lah yang menciptakannya. Karena itu, maka dengan pasti pula bahwa Tuhanlah yang berhak membuat hukum.[18] Secara silogisme, hal ini dapat disusun sebagai berikut :

– Untuk membuat hukum harus mengetahui objek dan subjek hukum.

– Tuhan yang mengetahui tentang subjek dan objek hukum.

– Maka Tuhanlah yang berhak membuat hukum.

Lebih terinci, Ibrahim Amini mengemukakan empat kriteria yang harus dimiliki oleh undang-undang untuk menjamin kebahagiaan manusia :

  1. Undang-undang tersebut harus ditetapkan dan disusun berdasarkan kemaslahatan manusia, bukan hanya kecenderungan hewani semata.
  2. Undang-undang tersebut harus mempertimbangkan semua manusia dengan seluruh kelas sosialnya, tidak ada diskriminatif dan fanatisme, serta ditujukan untuk membela kaum lemah dan tertindas.
  3. Undang-undang tersebut di buat sedemikian rupa sehingga tidak merugikan kehidupan batin atau ruhani manusia, melainkan harus bertujuan membersihkan lingkungan social dari kerusakan moral dan mempersiapkan landasan bagi pembinaan jiwa yang berakhlak hasanah dan berorientasikan spiritual.
  4. Undang-undang itu mesti memenuhi kebutuhan mendasar manusia yang berkaitan dengan kehidupan ruhani dan akhirat (abadi).[19]

Keempat kriteria di atas menjadi rujukan bagi pembuat undang-undang. Manusia dengan segala kelemahannya, tidak akan mampu menyusun undang-undang sempurna dan lengkap yang memberikan empat jaminan di atas. Sebab, bagaimanapun pintar dan hebatnya manusia untuk menyusun undang-undang yang mengatur masyarakat, tetap tidak akan luput dari cacat dan kekurangan. Hal itu dikarenakan dua sebab : pertama, tidak ada jaminan bahwa manusia yang membuat UU bebas dari kepentingan kelompoknya sehingga mengabaikan kelompok lainnya; dan kedua, manusia tidak mengetahui secara sempurna dan mendalam hubungan antara kehidupan badani dan ruhani, duniawi dan ukhrawi, sehingga memiliki peluang besar untuk keliru.[20]

Jadi, karena disepakati bahwa Tuhan merupakan satu-satunya Pencipta, maka, sebagai Pencipta, hanya Dialah  yang mengetahui segala rahasia yang terkandung dalam ciptaan-Nya.[21] Sesuai dengan premis-premis di atas, maka Dia pulalah yang membuat seluruh hukum yang menjadi aturan di jagat raya semesta ini.

Secara global, hukum itu ada dua jenis yaitu hukum takwiniyyah (genetik) dan hukum tasyri’iyyah (legislative). Hukum takwiniyyah adalah aturan umum Allah swt, yang mengatur seluruh alam ciptaan yang terlaksana sesuai dengan kehendak Allah swt. Adapun hukum tasyri’iyyah adalah hukum-hukum syariat yang diturunkan oleh Allah swt untuk dilaksanakan oleh manusia agar mendapat ridha-Nya. Akan tetapi, tidak ada paksaan dalam pelaksanaan hukum ini. Hukum-hukum seperti ini disebut dengan risalah atau agama yang diturunkan oleh Allah swt, melalui utusan-Nya yang disebut Nabi atau Rasul. Jadi, agama berarti seluruh aturan atau hukum kehidupan yang sesuai dengan kehendak dan ridha Allah swt.

Dengan demikian, dalam tauhid hukum, peran hukum Tuhan sangat nyata, dimana mengindikasikan tidak ada yang berhak mengeliminasi ataupun membuat hukum selain Allah, dan al-Quran serta sunnah, pada dasarnya merupakan sarana penyampaian titah dan hukum-hukum ilahi.[22] Adapun peran dari para ahli hukum (ulama) adalah mengeluarkan, menginterpretasikan, dan mengimplementasikan hukum-hukum Tuhan tersebut melalui ijtihad yang sungguh-sungguh.

TAUHID IBADAH (PENYEMBAHAN)

Tauhid ibadah adalah meyakini dengan pasti bahwa tidak ada satu pun yang layak disembah kecuali Allah swt.[23] Hal ini karena kataatan atau penyembahan total dan sempurna hanya berlaku pada wujud yang berkuasa dan tidak membutuhkan apa pun. Selain itu, kita sudah menyadari bahwa kita merupakan ciptaan-Nya yang tidak memiliki apa pun, tetapi dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya, Tuhan menciptakan kita dan memberikan keberadaan serta berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Secara rasional, kita mengakui bahwa sudah menjadi keharusan untuk berterima kasih atas pemberian dan pertolongan pihak lain. Karenanya, layak pula kita berterima kasih pada Tuhan atas semua pemberian-Nya kepada kita. Ungkapan terima kasih inilah yang diaktualkan menjadi ibadah.

Secara sederhana dapat kita uraikan bahwa sebaik-baik penyembahan adalah sesuai dengan keinginan Subjek yang disembah. Karenanya, sesuai dengan tauhid hukum yang menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi sumber dan berhak membuat hukum, maka tatacara penyembahan juga, mestilah berasal dari diri-Nya.

Meskipun begitu, Ibadah dapat dibagi pada dua jenis yaitu ibadah khusus (mahdhah) dan ibadah umu (ghairu mahdhah). Ibadah khusus adalah ibadah yang ketentuan dan tatacaranya telah ditentukan dengan baku oleh Allah dan Rasul-Nya seperti salat, puasa, dan haji. Sedangkan ibadah umum adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah, akan tetapi tatacaranya tidak ditentukan secara baku, melainkan diserahkan kepada umat untuk melaksanankannya, dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum umum Tuhan lainnya. Dan kedua bentuk ibadah ini hanya patut ditujukan kepada Allah SWT semata (ikhlas).

Tauhid ibadah akan semakin dalam jika ia menempuh tahapan-tahapan perjalanan kesempurnaan akhlak dan irfan sehingga ia akan mencapai suatu kedudukan atau maqam di mana hatinya hanya terpaut pada Allah swt semata, selalu mencari-Nya kapan dan di manapun, tidak memikirkan apa-apa kecuali Dia, dan selalu sibuk dengan-Nya.


[1] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 99-102.

[2] Perlu diperhatikan bahwa pada dasarnya kedua cara di atas disimpulkan dari pemahaman akal yang diperoleh secara tidak langsung dari santiran wujud, karena, kita tidak mungkin secara langsung dapat mengetahui hakikat ketuhanan.

[3] Perhatikan ayat-ayat berikut : “Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak” (Q.S. al-Ra’d: 9); “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Q.S. Fathir: 38), “Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”. (Q.S. al-Fushilat: 53).

[4] Perhatikan ayat-ayat berikut ini: “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu” (Q.S. al-An’am: 102); “Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S. ar-Ra’d: 16).

[5] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 208.

[6] Tujuan adalah sasaran yang dipilih secara bebas oleh pelaku untuk perbuatannya. Tujuan memiliki tingkatan-tingkatan sebagai tujuan awal, tujuan pertengahan da tujuan akhir. Tujuan awal dan pertengahan pada dasarnya dijadikan perantara untuk mencapai tujuan akhir, yang tujuan tersebut secar intrinsik menyatu keadaan keadaan pelaku. Perbuatan tanpa tujuan adalah perbuatan sia-sia dan buruk. Lihat Misbah Yazdi. Filsafat, h. 211-216.

[7] Di sini ada perbedaan antara ‘untuk diri-Nya sendiri’ dengan ‘untuk mengambil manfaat bagi-Nya’. Yang pertama mengindikasikan kesempurnaan Tuhan, sedangkan yang kedua menunjukkan pada ketidaksempurnaan, kekurangan, dan kebutuhan Tuhan. Karena, dengan mengambil manfaat dari sesuatu atau menuju pada tujuan yang lain selain dirinya, maka itu kebutuhan diri-Nya atau menunjukkan ada yang lebih sempurna dari diri-Nya.

[8] Perhatikan ayat berikut ini : “Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kamu”. (Q.S. al-Baqarah: 29); “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q.S. al-Kahfi: 7); Dan Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Q.S. al-Dzariyat: 56); Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Q.S. al-Insan: 2-3).

[9] Yayasan Mulla Shadra. Buletin Tanya Jawab dan Diskusi al-Mursalat, Jakarta, edisi 9, juli 2000, h. 11.

[10] Yayasan Mulla Shadra. Buletin Tanya-Jawab dan Diskusi al-Mursalat, Jakarta, edisi 9, juli 2000, h. 11.

[11] Perhatikan ayat-ayat berikut ini: “Allah tidak menjadikan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu ditentukan” (Q.S. al-Rum: 8); “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan kebenaran.” (Q.S. al-Dukhan: 38-39); “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”. (Q.S. al-Anbiya: 16).

[12] Huduts adalah sesuatu yang di dahului dengan ketiadaan, sedangkan dahri adalah wadah untuk maujud-maujud non-material yang dilawankan dengan zaman (waktu) sebagai wadah untuk benda-benda material. Jadi huduts dahri merupakan konsepsi tentang penciptaan wujud-wujud baharu. Teori ini dikemukakan oleh Mir Damad (1543-1631 M/950-1041 H) dari Isfahan. Lihat uraian teori huduts dahri dalam Murtadha Muthahhari. Filsafat Hikmah: Pengantar ke Filsafat Shadra. (Bandung: Mizan, 2002), h. 153-159.

[13] Ketiadaan (adam) secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis : ketiadaan dalam esensi (zat) dan ketiadaan dalam waktu (zaman). Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Segenap maujud memiliki dua garis pandang yaitu : bidang horizontal (aradhi) dan bidang vertikal (thuli). Secara horizontal, satu maujud bersebelahan dengan maujud lainnya dalam satu rangkaian waktu. Sebaliknya, rangkaian maujud secara vertikal mempunyai tingkatan dan derajat kemaujudan yang berbeda-beda, lantaran ia menggambarkan tingkatan sebab-sebab eksistensial yang menjelmakan akibat-akibat eksistensial, karena sesuai dengan kaidah bahwa yang di atas (sebab) lebih sempurna dari yang di bawahnya (akibat). Rangkaian tegak itu tidak berada dalam ranah waktu (zamani), tetapi berada dalam ranah dahri, maka kebaru-jadian ‘sesuatu’ dalam perspektif ini dinamakan dengan huduts dahri. Contonya : Candiki, dari sudut pandang horizontal berada setelah Bapak, kakek, dan seterusnya. Jadi, dalam tingkatan ini, wujud Candiki, Bapak, dan Kakek, dan seterusnya adalah sama-sama berada dalam tingkatan wujud kemanusiaan yang indentik di semua zaman. Adapun secara vertikal, Candiki dari sisi eksistensial di dahului oleh ‘alam misal’, alam akal, dan tingkatannya, sampai berakhir pada sebab pertama yaitu Zat Maha Pencipta. Lihat Murtadha Muthahhari. Filsafat, h. 156.

[14] Makhluk akal ini memiliki banyak wujud dan tingkatan, ada yang mengatakannya memiliki sepuluh tingkatan seperti kalangan parepatetik (al-Farabi, Ibnu Sina). Tetapi ada juga yang menyebutkan lebih dan tidak bisa diketahui berapa jumlahnya. Alam akal dalam peristilahan agama disebut dengan malaikat al-a’la (malaikat tinggi) atau malaikatul muqarrabin (malaikat yang didekatkan).

[15] Akal Terakhir ini juga disebut Akal Pelaku, Akal Aktif, lauh al-mahfuuzh, atau Ruh al-A’zhom.

[16] Alam mitsal disebut juga dengan alam ide, alam barzakh, the lord of species, tuhan-tuhan esensi, robbun-nau’, Makhluk Khayal, mudabbirati amr (malaikat pengatur). Alam mitsal ini merupakan wujud non materi tidak mutlak yang terbatas secara esensi dan memiliki sifat materi seperti bentuk-bentuk, tetapi tidak terikat dengan ruang, massa, waktu, dan perubahan. Contohnya seperti wujud-wujud yang ada dalam khayalan atau mimpi sewaktu tidur. Alam mitsal ini disebut dengan Malaikat Pengatur, karena dengan izin Allah, ia mengatur segala urusan di alam materi, seperti mewujudkannya, mencabut nyawa, memberi hidayah, rejeki, musibah, dan sebagainya yang merupakan peristiwa-peristiwa di alam materi (alam dunia).

[17] Imam Khumaini. Pemerintahan Islam (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), h. 48.

[18] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Tiada hukum kecuali hukum Allah” (Q.S. Yusuf: 67); “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia tergolong orang-orang kafir”. (Q.S. al-Maidah: 44).

[19] Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 23-24.

[20] Ibrahim Amini. Para, h. 24-25.

[21]Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak” (Q.S. al-Ra’d: 9); “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Q.S. Fathir: 38).

[22] Allah berfirman : “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu”. (Q.S. an-Nahl: 89; al-An-am: 38)

[23] Allah berfirman: “Sesungguhnya mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, semata-mata taat kepada-Nya, hanif, lurus dan bersih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5). “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan.” (Q.S. al-Fatihah: 5)

EKSISTENSI TUHAN

MAKNA DAN KEDUDUKAN TAUHID

Tauhid adalah dasar akidah terpenting yang membahas masalah keberadaan (wujud) dan ke-Esaan Allah. Hal ini memiliki hikmah agar kita dapat dengan benar untuk berterima kasih dan melakukan penyembahan, sebab secara rasional kita memiliki kewajiban untuk berterima kasih atas pemberian pihak lain.

Karena kita dituntut secara akal untuk berterima kasih atas pemberian pihak lain, maka kita dituntut pula untuk mengetahui pihak lain yang telah memberikan itu. Dengan keharusan untuk mengetahui si Pemberi agar dapat berterima kasih (menyembah) secara tepat maka mempelajari Tauhid yang intinya membahas masalah keberadaan dan ke-Esaan si Pemberi jelaslah sebagai keharusan pula.

Tauhid merupakan masalah terpenting dalam ajaran Islam. Dia bukan hanya merupakan salah satu dasar agama, akan tetapi satu-satunya prinsip yang menjiwai seluruh ajaran dan amalan agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu’ (cabang). Inilah sentral atau pusat yang semua elemen mengkristal dititik fokus keesaan-Nya. Esa dalam Dzat-Nya, Esa dalam sifat, dan Esa dalam perbuatan-Nya. Setiap pelanggaran akan ke-Esan Allah adalah sebuah kezhaliman dan dosa yang besar yang dikenal dengan syirik.[1]

Karena itu pengenalan tentang Tuhan adalah kondisi tertinggi kemanusiaan dan kesempurnaan spiritual tertinggi yang mampu membawa manusia kepada hakekat di sisi-Nya. Murtadha Mutahhari dalam konteks ini menuturkan,

“Kemanusiaan manusia terletak pada pengetahuannya tentang Tuhan, karena pengetahuan manusia tidak bisa terpisah dari-Nya, bahkan pengetahuan tersebut merupakan hal termulia dan termurni dalam eksistensi-Nya. Sejauh mana manusia mengetahui eksistensi, sistem, awal dan sumber eksistensi itu, maka terbentuklah kemanusiaannya yang separuh dari substansinya adalah ilmu pengetahuan. Menurut perspektif Islam… tanpa memandang efek praktis dan sosial yang ditimbulkan, mengenal Tuhan merupakan tujuan dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri”.

Untuk itulah kita semua dituntut untuk mengenal akidah Islam ini secara jelas dan gamblang serta tidak diperkenankan ikut-ikutan dalam urusan akidah. Artinya untuk menentukan akidah yang dipegang teguh haruslah berdasarkan dalil dan argumentasi yang kokoh secara akal dan didukung oleh wahyu sebagai tambahan.

ARGUMENTASI KEBERADAAN TUHAN

Allah sebagai wujud mutlak yang tidak terbatas, maka hakikat dirinya tidak akan pernah dicapai, namun pemahaman tentang-Nya dapat dijangkau sehingga kita mengenal-Nya dengan pengenalan yang secara umum dapat diperoleh, malalui jejak dan tanda-tanda yang tak terhingga. Imam `Ali as dalam hal ini menjelaskan bahwa: “Allah tidak memberitahu akal bagaimana cara menjangkau sifat-sifat-Nya, tapi pada saat yang sama tidak menghalangi akal untuk mengetahui-Nya.[2]

Selain itu, jika kita menyelami diri kita sendiri, maka secara fitrah manusia memiliki rasa berketuhanan. Fitrah ini tidak dapat dihilangkan, hanya saja dapat ditekan dan disembunyikan, dengan berbagai tekanan kebudayaan, ilmu dan lainnya, sehingga terkadang muncul pada saat-saat tertentu seperti pada saat tertimpa musibah atau dalam kesulitan yang benar-benar tidak mampu ia mengatasinya. Pada kondisi ini, kita secara fitriah mengharapkan adanya sosok lain yang memiliki kemampuan lebih dari kita untuk datang dan memberikan pertolongan kepada kita.[3]

Dalil fitrah ini merupakan perasaan berketuhanan secara langsung yang tertanam pada diri manusia. Ia menjadi model sekaligus modal khusus manusia. Akan tetapi untuk memperkuat fitrah itu kita memerlukan dalil-dalil yang argumentatif yang bersandar pada akal dan kemudian wahyu sebagai tambahan dan penguat argumentasi. Untuk itu di bawah ini akan dijabarkan secara singkat dan sederhana beberapa argumentasi tentang keberadaan dan ke-Esaan Allah swt.[4]

  1. 1. Argumentasi Kesempurnaan. Semua manusia mendambakan kesempurnaan dirinya. Saat manusia melihat kesekelilingnya, maka ia menemukan tingkat-tingkat kesempurnaan, dan merasa bahwa dirinyalah yang paling sempurna dari sekelilingnya. Akan tetapi, ia melihat dirinya memiliki banyak kekurangan. Hal ini menghasilkan kesimpulan bahwa ada suatu wujud yang lebih sempurna dari manusia, yang tidak memiliki kekurangan apapun. Wujud itulah yang kita sebut dengan Tuhan.

  1. 2. Argumentasi Keteraturan (nizham). Keteraturan adalah berkumpulnya bagian-bagian beragam dalam sebuah tatanan dengan kualitas dan kuantitas khusus, yang berjalan seiring menuju sebuah tujuan tertentu. Secara jelas kita dapat menyaksikan adanya sebuah sistem harmonis dan teratur di dunia ini. Setiap sesuatu yang harmonis dan teratur pasti memiliki pengatur. Dengan demikian, keteraturan dan keharmonisan alam pasti memiliki pengatur. Pengatur tersebut mestilah memiliki kemampuan dan kebijaksanaan agar sistem yang mengatur alam tersebut berjalan dengan baik.[5]
  2. 3. Argumentasi Keterbatasan atau Kebermulaan (huduts). Jika kita melihat diri dan sekeliling kita maka kita menemukan berbagai keterbatasan. Ada yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti wujud-wujud material (benda-benda), atau keterbatasan dalam esensinya (hakikat) seperti manusia bukanlah kambing, bukan kuda, bukan batu. Kita ketahui bahwa secara prinsipil setiap yang terbatas mempunyai batasan, dan setiap yang mempunyai batasan berarti memiliki rangkapan, dan setiap yang mempunyai rangkapan berarti keberadaanya adalah akibat dari bersatunya bagian-bagian, dan setiap akibat pasti membutuhkan sebab untuk menjadi ada. Dengan demikian, setiap yang terbatas berarti membutuhkan sebab. Artinya, setiap yang terbatas adalah berawal, dan sesuatu yang berawal maka ia diadakan— karena sebelum awal dia tidak ada— dan setiap yang diadakan berarti ada yang mengadakan.[6] Persoalannya, bagaimanakah wujud yang mengadakan itu, terbatas atau tidak terbatas?

Jika dijawab yang mengadakan adalah wujud terbatas, maka argumen di atas akan terulang lagi yaitu bahwa yang terbatas adalah berawal, dan yang berawal berarti diadakan oleh sesuatu yang lain. Karena hanya ada dua jenis wujud, maka selain wujud terbatas adalah wujud tidak terbatas, dengan demikian maka yang mengadakan segala wujud yang terbatas pastilah wujud yang tidak terbatas yang selalu ada dan tidak pernah tidak ada. Wujud seperti ini kita sebut dengan Allah swt.

  1. 4. Argumentasi Kemungkinan (Imkan). Dalil ini membicarakan posisi keberadaan (wujud). Keberadaan sesuatu (wujud) itu dapat kita bagi pada dua: 1). Sesuatu yang selalu ada dan tidak pernah tidak ada yang disebut dengan wajib al-wujud; 2) Sesuatu yang bisa diandaikan ada dan bisa diandaikan tidak ada yang disebut mungkin wujud (mumkin al-wujud). Karena mungkin wujud bersifat netral, yaitu menempati posisi ada dan tidak ada secara seimbang, maka, keberadaan wujud mungkin disebabkan oleh wujud lain. Dan wujud lain yang menyebabkan keberadaan wujud mungkin tersebut pasti bukanlah bersifat wujud mungkin juga, karena hal ini akan menghasilkan tasalsul (rentetan tiada akhir) yang menurut hukum akal adalah mustahil. Artinya, seandainya yang menciptakan alam yang ‘mungkin’ ini adalah sesuatu yang ‘mungkin’ juga, maka berarti Pencipta tersebut juga butuh kepada selainnya, dan begitulah seterusnya, akan terjadi saling membutuhkan jika yang menciptakan masih bersifat ‘wujud mungkin’. Karena selain wujud mungkin adalah wujud wajib, maka, mau tidak mau, kita harus menghentikan rentetan sebab tersebut pada wajib al-wujud dan pasti dialah yang menjadi penyebab keberadaan wujud mungkin tersebut. Dan wajib wujud merupakan suatu wujud yang senantiasa ada, yang keberadaan tidak membutuhkan dan tidak disebabkan oleh apa pun. Wajib wujud inilah yang disebut dengan Tuhan.

  1. 5. Argumentasi Wujud. wujud memiliki satu makna yaitu wujud (ada adalah ada) dan menjadi lawan dari adam atau ketiadaan (ada bukanlah tiada). Karena ada memiliki satu makna, maka ia tidak bisa diandaikan tidak ada, serta tidak bisa pula dikatakan bercampur dengan ketiadaan, sebab ketiadaan adalah tidak ada, maka tidak mungkin bisa bercampur dengan ada (ada tidak bercampur dengan tiada). Dengan demikian ada adalah sebuah keniscayaan. Ada yang senantiasa murni dari ketiadaan inilah yang dikenal dengan Tuhan.

Maksudnya : Wujud (ada) itu tunggal dan berlaku pada semua realitas. Selain itu, ‘wujud’ juga bersifat murni, makanya mustahil untuk dikatakan tidak ada. Sebab, hal itu akan menghasilkan kontradiksi yakni “ada adalah tidak ada”, dan sesuai dengan hukum akal, kontradiksi tersebut tidak dapat dibenarkan. Oleh karenanya, Tuhan (sebagai ada murni) haruslah ada secara niscaya (wajib al-wujud) dan tidak mungkin untuk dikatakan tidak ada.

Argumentasi di atas telah mengukuhkan prinsip ketuhanan (teisme) sekaligus meruntuhkan pandangan anti Tuhan (ateisme).

KARAKTERISTIK TUHAN

Ada beberapa karakter yang harus dikenali dari wajib al-wujud (Tuhan) sehingga dapat dibedakan dengan mumkin al-wujud (makhluk). Diantara karakter pentingnya adalah :

  1. Sederhana. Wujudnya merupakan wujud murni yang tidak meiliki rangkapan apapun secara esensi. Tidak merupakan susunan, dan tidak merupakan bagian, karena semua itu merupakan karakter wujud mungkin.
  2. Tidak mengalami perubahan dalam semua kondisi, karena perubahan meniscayakan ketersusunan.
  3. Keberadaannya tidak bergantung dengan apapun selain diri-Nya, karena ketergantungan meniscayakan kebutuhan dan kebutuhan berarti kelemahan, sedangkan kelemahan menunjukkan karakter wujud mungkin.

Amirul Mukminin al-Imam Ali bin Abi Thalib dengan indah melukiskan karakteristik Tuhan dengan sempurna dalam lembaran-lembaran Nahj al-Balaghah sebagai berikut:

Dia adalah satu, tapi bukan dalam arti jumlah. Dia tidak dibatasi oleh batasan-batasan ataupun tidak di hitung oleh angka-angka. siapa yang menunjuk-Nya berarti mengakui batas-batas-Nya, dan yang mengakui batas-batas-Nya berarti telah menghitung-Nya. Siapa yang menggambarkan-Nya, berarti membatasi-Nya, memberikan jumlah kepada-Nya, menolak keazalian-Nya. Segala sesuatu yang disebut satu adalah kurang, kecuali Dia.

KE-ESAAN TUHAN

Jika kita melihat perkembangan agama-agama di dunia maka berbagai pandangan tentang jumlah Tuhan ini sangat beragam, mulai dari yang monoteis (satu Tuhan), diteis atau dualisme (dua Tuhan), triteis atau tirinitas (tiga tuhan), hingga politeis (banyak Tuhan) dalam berbagai bentuknya. Untuk itu, kita perlu menentukan pilihan kita dari berbagai pandangan tersebut dengan argumentasi yang kokoh dan utuh. Kajian ini akan difokuskan untuk membuktikan kebenaran pandangan keesaan Tuhan di antara pandangan-pandangan lainnya.

Islam meyakini bahwa Allah swt adalah Esa secara mutlak, tidak berbilang dan tidak bersekutu dalam hal apapun. Siapa saja yang meyakini sebaliknya,maka ia telah jatuh pada kezhaliman dan dosa yang besar (syirk). Dimensi terpenting dari persoalan tauhid adalah masalah keesaan Allah ini, karena itu ushuluddin pertama ini di sebut at-tauhid yang berakar kata dari ahad berarti esa (tunggal).

Jika kita memahami dalil-dalil pembuktian keberadaan Tuhan sebelumnya, seperti dalil kesempurnaan, keterbatasan, keteraturan, kemungkinan, bahkan argumentasi ontologis (wujud), maka jelas bahwa tidak mungkin Tuhan lebih dari satu. Hal ini karena, kesempurnaan, ketidakterbatasan, kepengaturan, kepastian, dan keberadaan puncak, hanyalah satu (esa). Di bawah ini, akan diuraikan argumentasi pembuktian keesaan Tuhan berdasarkan pada lima argumentasi keberadaan Tuhan sebelumnya, sebagai berikut :

  1. 1. Argumentasi Kesempurnaan menyebutkan bahwa wujud tertinggi mestilah sempurna dari segala sisinya. Wujud seperti ini mestilah tunggal, karena jika tidak, maka akan menghasilkan kekurangan pada tiap wujud. Misalnya, jika ada dua wujud yang sempurna yaitu : wujud sempurna A dan wujud sempurna B. Ini berarti, kedua wujud itu menjadi saling berkekurangan, karena wujud sempurna A tidak memiliki kesempurnaan B, dan sebaliknya pula, wujud sempurna B, tidak memiliki kesempurnaan A. Dan wujud yang tidak sempurna tidak layak menjadi Tuhan. Jika dikatakan bahwa wujud sempurna A dan B masing-masing memiliki kesempurnaan yang sama, maka itu berarti, wujud A dan B sebenarnya adalah satu dalam realitasnya. Ini berarti, wujud sempurna hanyalah satu.

  1. 2. Pada Argumentasi keteratutan menegaskan bahwa alam ini dikuasai oleh sistem yang harmois dan teratur bersumber dari wujud yang berkemampuan dan bijaksana. Wujud yang mengatur semesta tidak mungkin lebih dari satu, karena, akan mengakibatkan sistem yang bekerja pada semesta juga menjadi lebih dari satu, dan hal ini mustahil. Artinya, jika ada dua pengatur, yaitu Pengatur A dan Pengatur B, maka ini berarti Pengatur A dan seluruh sistemnya tidak diatur oleh Pengatur B, dan sebaliknya juga, Pengatur B dengan seluruh sistemnya tidak diatur oleh Pengatur A. Jika demikian, berarti Pengatur A dan Pengatur B, tidak layak disebut sebagai Pengatur Sempurna, karena ia masih lemah dan tidak memiliki kemampuan, sebab masih ada yang tidak diaturnya. Wujud yang lemah tidak layak menjadi Tuhan.

  1. 3. Pada argumentasi keterbatasan dan kebermulaan (huduts) ditegaskan bahwa wujud terbatas berasal dari wujud yang tak terbatas dalam hal apapun, maka membuktikan ke-Esaan Tuhan adalah hal yang mudah. Yaitu bahwa sesuatu yang tidak terbatas tidak mungkin lebih dari satu, karena jika lebih dari satu maka akan terjadi keterbatasan. Misalnya ada dua wujud tidak terbatas yaitu : wujud tidak terbatas A dan wujud tidak terbatas B. Jika kita cermati maka keduanya akan menjadi terbatas, karena, ‘wujud tidak terbatas’ A akan dibatasi oleh ‘wujud tidak terbatas’ B. Dan begitu pula sebaliknya, wujud tidak terbatas B akan dibatasi wujud tidak terbatas A. Oleh karena itu wujud yang tidak terbatas dari segala seginya mestilah satu (Esa).

  1. 4. Argumentasi kemungkinan telah menyatakan bahwa wajib al-wujud merupakan wujud menjadi sebab bagi semua keberadaan yang keberadaan dirinya tidak disebabkan oleh apapun. Statemen ini dengan jelas menekankan bahwa wajib al-wujud hanyalah satu, sebab jika lebih dari satu, maka semua wujud akan menjadi wujud mungkin. Misalnya, kita asumsikan ada dua wujud wajib yaitu Wujud Wajib A dan Wujud Wajib B, jika demikian, maka wujud wajib A bukan merupakan wujud wajib yang mutlak karena ada wujud yang tidak disebabkan darinya yaitu wujud wajib B dengan semua akibat-akibatnya. Begitu pula, wujud wajib B juga bukan wujud wajib (yang mutlak) karena ada wujud lain yang tidak berasal darinya yaitu wujud wajib A dengan semua akibat-akibatnya. Dengn demikian, wujud wajib A dan wujud wajib B memiliki kekurangan, keterbatasan, rangkapan dan kelemahan, dan wujud yang seperti itu adalah karakter wujud mungkin yang tidak layak menjadi Tuhan. Jadi, wujud wajib haruslah satu.

  1. 5. Dalam argumentasi ontologis (wujud), secara tegas dinyatakan bahwa wujud murni hanyalah satu, karena jika tidak diakui, berarti ada wujud selain wujud atau ada wujud yang bukan wujud. Artinya, jika wujud lebih dari satu, maka akan menghasilkan kesimpulan kontradiksi, yaitu wujud adalah bukan wujud (ada = tidak ada), dan hal itu adalah mustahil. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa wujud hanya satu dan selain wujud adalah katiadaan.

Dengan kelima argumentasi di atas, maka dapat dengan kokoh dan utuh kita menerima keyakinan bahwa Tuhan mestilah Esa (tauhid). Maha benar Allah yang mengabarkan melalui firman-Nya “Katakan, Dia (Allah) Maha Esa” (Q.S. Al-Ikhlas: 1).


[1] Allah berfirman : “Sesungguhrrya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, tapi mengampuni selain itu, bagi yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menyekutukan Allah sungguh telah melakukan dasa besar. (QS. Al-Nisa: 48).

[2] Syarif Radhi, Nahjul Balaghah khutbah ke-49

[3] Tentang hal ini al-Quran menggambarkan dengan sangat baik: “Apabila kamu ditimpa marabahaya di lautan, hilanglah segala yang kamu puja-puja itu dari ingatanmu, kecuali Dia. Akan tetapi setelah kamu diselamatkan-Nya ke daratan, lalu kamu berpaling lagi. Dan sesungguhnya manusia itu tidak tahu berterima kasih” (Q.S. Al-Israa: 67); “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. Ar-Rum: 30).

[4] Lihat Bab Pendahuluan pada pembahasan Sumber Jiwa Beragama.

[5] Allah berfirman: “Sesungguhnya di dalam Penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi orang-orang yang berakal”. (Q.S. Ali Imran: 190).

[6] Argumen ini juga disebut a novitiate mundi, yaitu argumen yang menegaskan bahwa setiap yang tersusun dari rangkapan pastilah terdiri dari beberapa bagian yang menjadi sebab bagi keberadaan ‘wujud yang tersusun tersebut’. Karena keberadaan ‘wujud tersusun’ bermula dari sesuatu yang lain (yaitu bagian-bagiannya), maka kesimpulannya, setiap ‘wujud yang tersusun’ pastilah sesuatu yang bermula (hadits).

MANUSIA DAN AGAMA

MAKNA AGAMA

Agama dalam bahasa Arab disebut al-din yang menunjukkan arti balasan atau ketaatan. Sedangkan secara teknis, al-din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut.[1] Dari defenisi ini ada dua hal penting dalam susunan agama yaitu sisi teoritis (kepercayaan, keyakinan) yang lebih populer di kenal dengan akidah, dan sisi praktis (perbuatan, amal saleh) yang lebih sering disebut dengan syariah. Dan dalam tertib keagamaan, sisi teoritis mendahului yang praktis, keyakinan mendahului perbuatan, atau akidah mendahului syariah. Artinya, yakin dulu akan keberadaan Tuhan, baru kita buisa menyembahnya. Karna tertib ini, maka akidah menjadi ushul al-din (pokok agama), sedangkan syariah menjadi furu’ al-din (cabang agama). Dan pada kesempatan ini, penulis hanya akan mengulas persoalan ushul al-din.

SUMBER JIWA BERAGAMA

Beragam pandangan telah diutarakan oleh para ahli tentang sumber jiwa keberagamaan pada mansuia. Ada yang meninjaunya dari sisi sosiologi, filosofis, dan juga psikologi. Pada dasarnya, secara umum pandangan ini bermuara pada dua pendapat. Pertama, pendapat yang meyakini bahwa agama bersumber dari sistem eksternal (luar diri) manusia. Artinya, manusia bukanlah makhluk yang pada dasarnya beragama. Kedua, pendapat yang meyakini bahwa manusia adalah makhluk religius yang mana agama sebenarnya bersumber dari sistem internal diri manusia itu sendiri. Kedua pandangan ini akan diuraikan di bawah ini.

Pendapat Pertama:

Manusia Makhluk Non Religius

Bagi sebagian ahli, anak diibaratkan sebagai kertas kosong (tabularasa) yang tidak memiliki pembawaan apapun termasuk jiwa religius. Mereka memandang manusia sebagai bentuk, bukan secara kejiwaan,[2] dan kalangan ilmuan ini menganggap bahwa manusia pada awalnya tidaklah beragama. Keberagamaan timbul dikarenakan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya di dunia ini. Nico Syukur Dister menjelaskan empat motif yang menjadi penyebab kelakuan beragama manusia, yaitu :

  1. Untuk mengatasi frustrasi
  2. Untuk menjaga kesusilaan serta tata tertib masyarakat
  3. Untuk memuaskan intelek yang ingin tahu
  4. Untuk mengatasi ketakutan.[3]

Keempat motif ini menunjukkan bahwa agama bukanlah hal yang asasi dalam diri dan kehidupan manusia, tetapi hanya merupakan suatu yang fungsional dan pragmatis, yang menekankan segi egoistis (ananiyah) manusia yang ingin menjadikan agama sebagai alat bagi kepentingannya sendiri.[4]

Adapun bahan dasar bagi keberagamaan individu adalah pengalaman beragama dan keinginan beragama. Pengalaman beragama merupakan pengalaman mengenai hal-hal yang di dunia ini sebagai tanda yang mengarahkan pada wujud Yang Maha Lain, Yang Transenden, atau yang lebih dikenal dengan Tuhan. Ini adalah pengalaman yang elementer dan fundamental, serta sebagiannya bersifat intuisi, afeksi dan emosi.

Sedangkan keinginan beragama merupakan bahan yang perlu disusun dan diintegrasikan ke dalam kepribadian manusia, agar orang yang bersangkutan mampu bersikap religius. Ini merupakan wujud dari motivasi psikologis untuk beragama. Proses-proses psikologis macam ini ada sangkut pautnya dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu yang ditimbulkan dalam diri manusia oleh situasi dan kondisi tertentu, baik situasi religius maupun tidak. Hanya saja situasi dan kondisi yang tidak religius itu, tetap ditanggapi manusia secara religius. Misalnya  keempat motif di atas (situasi frustrasi, menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat, pemuasan intelektual, ketakutan) yang secara esensial tidak berhubungan dengan situasi dan kondisi religius, namun dianggap melahirkan sikap beragama.[5] Pandangan-pandangan seperti ini dapat kita lihat dari tulisan-tulisan yang diajukan oleh Sigmund Frued, Karl Marx, Emile Durkheim, Williem James, dan lainnya.

Bagi Sigmund Freud (1856-1939), agama dipandangnya sebagai gangguan pikiran atau obsesi (obsession), sebagai pemenuhan keinginan masa kanak-kanak yang terhambat (fiksasi), dan juga sebagai khayalan (illusion).[6] Sebagai bentuk penyaluran keinginan, agama tak lebih hanya sekedar pemuasan dari libido (nafsu) yang terhambat. Libido merupakan energi seksual yang mesti disalurkan agar mendatangkan apa yang disebut Freud dengan istilah lust (kenikmatan). Ketegangan libido dan penyalurannya berlangsung secara terus menerus yang disebut dengan istilah lustprinzip (asas kelezatan atau mencari nikmat), yang mana jika tidak tersalurkan atau terhambat pemuasan penyalurannya, maka akan mendatangkan ketidaksenangan, kekecewaan dan frustrasi pada diri individu.[7] Teori ini diperkuat Freud dengan mengedepankan kasus Oedipus Complex yang menyukai ibunya, namun terhambat karena keberadaan ayahnya, akhirnya ia membunuh ayahnya demi menyalurkan libidonya yang terpendam. Namun perbuatan itu mendatangkan penyesalan yang pada puncaknya terjadi penyembahan kepada ayahnya itu. Inilah awal dari munculnya agama.[8]

Keadaan frustrasi inilah yang mengarahkan manusia pada sublimasi yaitu merubah energi seksualnya kepada dimensi lain yang bisa memuaskan atau mengurangi tingkat frustrasinya. Perubahan energi seksual ini dapat mengarah pada dimensi atau energi rasional dan rohani yang kemudian menjadi dasar munculnya agama.

Adapun Emile Durkheim, ia lebih menekankan agama sebagai sistem sosial yang diciptakan masyarakat. Dengan tegas ia menulis :

“ …agama merupakan sesuatu yang benar-benar bersifat sosial. Representasi-representasi religius adalah representasi-representasi kolektif yang mengungkapkan realitas-realitas kolektif; ritus-ritus merupakan bentuk tindakan (a way of acting) yang hanya lahir di tengah-tengah kelompok-kelompok manusia dan tujuannya adalah untuk melahirkan, mempertahankan atau menciptakan kembali keadaan-keadaan mental (mental states) tertentu dari kelompok-kelompok itu. Tapi jika kategori-kategori merupakan asal mula religius, maka mereka harus terdapat dan ikut serta di dalam apa-apa yang menjadi umum bagi setiap agama. Kategori-kategori ini juga harus menjadi sesuatu yang bersifat sosial, menjadi produk dari pemikiran-pemikiran kolektif.”[9]

Untaian kalimat di atas dengan jelas menjadikan agama sebagai ciptaan manusia yang berkoloni. Agama yang mereka ciptakan itu sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan kehidupan yang mereka alami bersama dalam kelompok atau masyarakatnya.

Jika kita cermati dengan seksama, motif dan teori munculnya agama tersebut di atas jelas tidak memiliki kekukuhan dan keutuhan argumentasi. Secara sederhana kita dapat mengajukan pertanyaan, jika motif-motif tersebutlah sebagai penyebab munculnya jiwa keberagamaan, namun mengapa setelah motif-motif tersebut hilang atau dapat terlaksana, jiwa keberagamaan masih tetap bersinar di dalam diri manusia dan bertahan hingga kini?

Sejarah telah membuktikan bahwa para pejuang agama awalnya bukanlah orang-orang frustrasi, bodoh dan pengecut, akan tetapi mereka adalah utusan-utusan Tuhan yang sukses, cerdas, dan pemberani. Jika agama produk kebodohan, mengapa banyak para ilmuwan yang sangat religius? Sebaliknya, banyak ditemukan manusia-manusia penakut dan bodoh yang hidup tanpa agama dan tidak meyakini Tuhan. Selain itu saat ini, dalam kondisi yang nyaman, masyarakat yang tertata, canggih dan hidup dalam tingkat pengetahuan tertinggi, namun agama tetap menjadi kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan. Bahkan, ditemukan kasus-kasus serius di Negara yang maju dan berperadaban, orang-orang yang menjauh dari agama akan merasa teralienasi (asing).

Pendapat Kedua :

Manusia Makhluk Religius

Jika sebelumnya diuraikan bahwa agama bersumber dari luar diri manusia yang diperoleh dari lingkungan dan kondisi serta situasi yang melingkupinya. Maka pada pembahasan ini akan menguraikan bahwa jiwa keberagamaan secara asasi, instinktif dan intrinsik telah tertanam dalam diri manusia.

Banyak ahli yang menyatakan bahwa anak dilahirkan telah membawa jiwa keagamaan, dan baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya. Will Durant dengan tegas menyatakan bahwa agama merupakan suatu perkara yang alamiah, lahir secara lansung dari kebutuhan dan perasaan instinktif kita (Religion is a natural matter, born directly of our instinctive needs and feelings).[10] Adapun Alexis Carrel menulis, ‘perasaan beragama (mistic) terpancar dalam diri manusia sebagai insting dasar. Manusia, lanjutnya, sebagaimana ia membutuhkan air bagi kehidupan, begitu pula ia membutuhkan Tuhan (The mistic sense is the stirring deep within us of a basic instinct. Man, just as he needs water, solikewise needs God).[11]

Pandangan bahwa jiwa keberagamaan pada manusia telah tertanam sejak awal didukung oleh banyak penelitian ilmiah mutakhir. Penelitian-penelitian ini banyak mengedepankan otak sebagai objek yang diteliti dengan menggunakan analisa ilmu nuorologi. R. Josep mengemukakan hal ini sebagai berikut :

“Pernah dikemukakan bahwa Tuhan sudah mati dan bahwa spiritualitas adalah candu bagi rakyat. Tetapi, sekarang sudah ditemukan dasar ilmiah, neurologis, dan genetik untuk kepercayaan agama, spiritualitas dan gejala paranormal, termasuk pengalaman tentang dewa, setan, arwah, nyawa, dan kehidupan setelah kematian. Ada bagian tertentu dari otak yang menjadi sangat aktif ketika bermimpi selama dalam keadaan trans (trance), meditasi, sembahyang atau karena pengaruh LSD, dan yang memungkinkan kita untuk mengalami wilayah realitas Tuhan, arwah, jin, dan kehidupan setelah kematian.”[12]

Perkembangan psikologi belakangan ini, telah mengembangkan suatu bentuk penelitian tentang otak dan kecerdasan manusia. Danah Zohar dan Ian Marshal, telah mengemukakan berbagai penelitian para neorolog yang konsentrasi pada penelitian secara empirik dimensi otak manusia. Dari studi ilmiah mereka, kecerdasan tidak lagi hanya sebatas intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (EQ), serta kecerdasan spiritual (SQ). Untuk kecerdasan yang terakhir, para ilmuan telah mengajukan bukti-bukti ilmiah yang valid, dengan kajian dan penelitian neurologi bahwa dalam struktur otak dan syaraf manusia ada tempat tersendiri yang unik dan permanen sebagai wilayah ekspresi spiritual, agama, dan Tuhan. Mereka bahkan menyebut wilayah ini sebagai “titik Tuhan” (God Spot), dan berkesimpulan bahwa memang ada mesin syaraf di dalam lobus temporal yang dirancang untuk berhubungan dengan agama dan “terpatri” (hard-wired) di dalam otak manusia.[13]

Jadi, kesadaran beragama sudah mendapat format khusus dalam sisi intrinsik individu dan bersifat universal yang semua manusia membutuhkannya.[14] Bahkan bagi Abraham Maslow, pengalaman keagamaan merupakan pengalaman puncak (peak experience), kedamaian dan kebahagiaan yang berlangsung terus menerus (plateau), dan sisi terdalam dari tabiat manusia (farthest reaches of human nature).[15] Menariknya, kata Maslow, pengalaman puncak dalam keagamaan (disebut juga pengalaman mistik) dilukiskan dengan kata-kata yang nyaris sama oleh setiap penganut agama, disetiap zaman dan di setiap peradaban.[16]

Islam dan para ilmuan Muslim juga mengemukakan pendapat yang nyaris seragam dengan menganggap anak telah memiliki potensi keberagamaan sejak lahir yang dikenal dengan istilah fitrah.[17]

Fitrah berasal dari kata fathara yang salah satu maknanya adalah penciptaan (al-khilqah), sedangkan secara linguistik bermakna sistem khusus penciptaan. Dengan demikian, fitrah manusia berarti sebuah sistem ciptaan khusus bagi manusia.[18]

Manusia dengan bentuk ciptaannya memiliki format khusus. Ia juga memiliki pengetahuan-pengetahuan serta kecenderungan-kecenderungan khusus yang muncul dari dalam wujudnya, bukan dari luar fisiknya. Dengan kata lain, manusia bukanlah kain putih nan polos dan tak bertulis sebelumnya (kosong dari segalanya). Akan tetapi, dalam lubuk hati setiap manusia sudah tersimpan sejumlah potensi-potensi khusus.

Kecenderungan dan berbagai potensi pengetahuan yang berada dalam diri manusia itu sebagiannya berhubungan dengan sifat hewani seperti makan dan seksualitas, dan sebagian lagi berhubungan dengan sifat kemanusiaannya. Fitrah Ilahi manusia hanya bertalian dengan kecenderungan manusiawi. Inilah yang menjadi faktor pembeda dan kelebihan manusia dari binatang. Oleh karena itu, siapapun yang kehilangan kecenderungan kemanusiaan yang ilahiah tersebut, ia tak ubahnya seperti hewan dalam bentuk manusia.

Kecenderungan ini adalah milik spesies manusia. Artinya, bukan terbatas pada segelintir orang saja atau khusus dimiliki kelompok masyarakat dalam masa tertentu. Melainkan dimiliki oleh semua manusia di setiap waktu dan tempat serta dalam kondisi bagaimanapun. Di sisi lain, kecenderungan ini juga potensial sifatnya. Ia dimiliki oleh setiap manusia, tetapi, tumbuh dan berkembangnya bergantung pada upaya dan usaha masing-masing individu manusia. Jika manusia mampu memelihara dan memupuk kecenderungan ini, ia akan menjadi makhluk terbaik, bahkan lebih baik dari para malaikat sekalipun, dan ia akan sampai pada kesempurnaannya. Sebaliknya, jika kecenderungan itu mati, secara otomatis kecenderungan hewani akan menguat dan unggul, orang semacam ini akan lebih rendah dari setiap binatang dan terjerembab ke dasar neraka yang paling dalam. Firman Allah swt, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. al-A’raf: 179)

Dengan demikian, secara sederhana, fitrah manusia dibagi kepada dua bagian:

  1. Fitrah akal (aqliah) yang merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tanpa dipelajari (badihiyât awwaliyah)
  2. Fitrah iman, kecenderungan dan keinginan untuk beribadah dan menyembah Tuhan.

Secara naqliyah, menurut al-Quran, mengenal dan menyembah Tuhan adalah hal yang fitri, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum: 30).

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini senyatanya menunjukkan secara intrinsik dan instinktif seluruh manusia memiliki jiwa keberagamaan yang terpatri dalam dan tidak bisa hilang.[19] Maksud dari dîn dalam ayat ini bisa berarti sekumpulan ajaran-ajaran dan hukum-hukum pokok Islam, atau kondisi penyerahan diri dan tunduk secara total di hadapan Allah. Alhasil, dari ayat di atas dapat dipahami bahwa mengenal Tuhan dan meyembahnya adalah hal yang bersifat fitri dan telah dibawa sejak lahir. Ringkasnya, manusia adalah makhluk religius. [20]

Rasulullah saw pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai yahudi atau nasrani.”[21]

Imam Ja’far Shadiq a.s. ketika ditanya tentang makna ayat 30 surat al-Rum di atas menjelaskan bahwa fitrah itu berarti tauhid, Islam, dan juga ma’rifah[22]. Imam Khumaini saat mengomentari perkataan Imam Ja’far Shadiq a.s. ini mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah yang semua manusia tercipta dengannya adalah kondisi dan kualitas penciptaan manusia. Semua manusia, tanpa terkecuali, tercipta dalam pola fitrah itu sebagai konsekuensi logis dari keberadaannya. Fitrah ini telah berjalin kelindan dengan esensi wujudnya. Fitrah adalah salah satu rahmat Allah Swt. yang khusus dianugerahkan kepada manusia. Makhluk-makhluk selain manusia tidak memiliki fitrah semacam ini, atau mereka memilikinya dengan kadar yang lebih rendah daripadanya.[23]

Bahkan lebih jauh Imam Khomeini menyebutkan beberapa fitrah pemberian Allah yaitu, pertama, keyakinan kepada Wujud Awal segala sesuatu Yang Maha Agung dan Maha Tinggi; kedua, keyakinan akan keesaan-Nya; ketiga, keyakinan kepada wujud suci itu meliputi segala kesempurnaan; keempat, keyakinan pada hari kebangkitan; kelima, keyakinan fitri kepada kenabian; keenam, keyakinan kepada keberadaan malaikat-malaikat, ruh-ruh suci, penurunan kitab-kitab suci, dan pengumandangan jalan kebenaran. [24]

Selain ayat 30 surat al-Rum di atas, masih banyak ayat-ayat al-Quran yang mengarahkan dan menguatkan teori fitrah ini diantaranya surat al-A’raf: 172-173, al-Baqarah: 138, Yasin: 60-61, dan Luqman: 25.

Dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Dan (ingatlah) Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’ (Q.S. al-A’raf: 172).

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ke alam materi, mereka terlebih dahulu dikumpulkan di alam malakuti (alam gaib) untuk memberikan kesaksian atas keberadaan dan keesaan Allah swt. Kesaksian mereka menjadi mitsaq (perjanjian) yang mengikat sejak dari alam malakuti hingga alam akhirat nanti. Ini mengindikasikan bahwa setiap individu secara genetik telah cenderung berketuhanan. Para mufassir melihat ayat ini sebagai pengumpulan penting, yang meskipun berdimensi malakuti tetapi tetap memiliki pertanggungjawaban serius hingga ke hari kiamat kelak, yang mana manusia tidak dapat ingkar dan berpaling darinya dengan mengemukakan berbagai hujjah dan alasan, karena ia telah terikat dengan perjanjian terhadap dirinya sendiri dengan Tuhan secara langsung dalam suatu acara “tatap muka”, sehingga tidak memberi peluang bagi mereka untuk mengikuti politeisme dan jejak nenek moyang mereka yang salah kaprah, sebab pengetahuan intuitif ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya.[25] Bahkan kecenderungan terhadap ketuhanan (agama), bagi Sayid Baheshti, bersemayam kuat dalam setiap jiwa manusia baik secara sadar maupun tidak, sekalipun pada individu-individu yang mengaku ateis.[26]

Sayid Mujtaba Musawi Lari menyebutkan ada empat pembawan dasar manusia yang salah satunya adalah perasaan beragama (religious sense) disamping kebenaran (truth), kebaikan (goodness), dan keindahan (beauty).[27] Tentang perasaan beragama ini, Mujtaba Lari dengan sangat baik menguraikan bahwa fitrah merupakan prinsip yang tak bisa diubah dan dihilangkan, walaupun ia dapat ditekan dan disembunyikan. Bahkan pengutusan para Nabi ke dunia ini, tidak lain sebagai penopang luar yang memperkuat keberadaan fitrah manusia. Beliau menulis :

“Dakwah para Nabi didasarkan pada kecenderungan bawaan manusia kepada keesaan dan akhlak yang melekat secara alami. Prinsip-prinsip alamiah ini beserta rasio menjadi basis yang fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan. Tugas utama para Nabi Allah, yang mereka sampaikan melalui misi dan pengajaran, adalah membangkitkan kekuatan-kekuatan bawaan yang tersembunyi di dalam fitrahnya. Pancaran cahaya fitrah dapat saja menjadi lemah pada kondisi-kondisi tertentu, pengaruh lingkungan, dan beragam faktor lainnya yang berhubungan dengan manusia, tetapi fitrah tersebut tidak akan pernah bisa dihilangkan. Fondasi-fondasi dari fitrah ini tetap akan terjamin kokoh dan stabil walaupun menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan dan rintangan-rintangan yang muncul dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah. Akhirnya, penyimpangan-penyimpangan dari jalan fitrah tidak berhubungan dengan pembawaan dan realitas manusia.” [28]

Jika kita cermati penjelasan di atas, maka dengan jelas menunjukkan fitrah tersebut mengarah pada dimensi akidah (ketuhanan dan turunannya) yang umumnya bersifat gaib.

Dengan uraian-uraian di atas, fitrah dapat dikenali dengan beberapa ciri penting, yaitu :

  1. Fitrah merupakan pemberian Allah dan format penciptaan.
  2. Fitrah bersifat universal yakni terdapat pada setiap wujud manusia.
  3. Fitrah tidak dapat dilenyapkan (meskipun sering disembunyikan) dan akan senantiasa ada selama manusia hidup.
  4. Fitrah tidak diperoleh dari proses belajar, meskipun untuk memperkuat dan mengarahkannya proses pendidikan sangat diperlukan.

Perlu diketahui bahwa setiap manusia mempunyai ilmu hudhuri[29] (ilmu kehadiran) yang jelas dan gamblang dan menjadi dalil akal yang kokoh. Misalnya, setiap manusia tidak dapat menyangkal keberadaan dirinya sendiri, karena dia mengetahui secara langsung bahwa dirinya ada. Dengan ilmu hudhuri ini manusia memiliki dasar-dasar pengetahuan yang diantaranya dapat digunakan  untuk mengenal dan meyakini keberadaan Tuhan. Dari pengetahuan ini akan berkembang sedemikian banyak melalui pengetahuan yang bersifat hushuli[30] dalam memperjelas argumentasi keberadaan Tuhan.

Dengan demikian, fitrah mengenal Tuhan telah terdapat dalam diri manusia secara langsung yang menjadi model sekaligus modal khusus bagi dirinya. Terdapat ruang di dalam hati manusia untuk mengenal Tuhan secara sadar dan mempunyai potensi untuk dikembangkan dengan menggunakan dalil-dalil akal yang argumentatif. Jika akal menemukan Tuhan dengan keteraturan dan pemikiran, maka rasa keberagamaan (religious sense) menemukan-Nya dengan cinta.[31] Intinya, keberagamaan adalah cetak biru yang telah tertanam kuat pada diri manusia, bukan hasil rekayasa budaya dan ilmu, seperti dikatakan Taqi Falsafi, ”Cahaya keimanan terus membara dalam kalbu umat manusia, karena sumber cahaya yang membara ini adalah fitrah manusia. Selama di muka bumi masih terdapat manusia, selama masih terdapat fitrah, niscaya cahaya tersebut tak akan pernah padam.”[32]

MAKNA USHULUDDIN

Agama terdiri dari keimanan dan pengamalan. Keimanan yang disebut dengan akidah merupakan unsur dasar yang menjadikan manusia mengamalkan agama, yang tanpanya seluruh tindakan praktis manusia tidak berdimensi ilahiah.

Karena nilai pentingnya tersebut, akidah atau keimanan dijadikan sebagai dasar agama yang semua prinsipnya menjadi landasan bagi pengamalan agama. Akidah inilah yang dalam terminologi teologi disebut dengan ushuluddin, sedangkan amal-amal praktis agama disebut cabang agama (furu’uddin).

Secara etimologi, ushuluddin berasal dari bahasa Arab yang digabungkan dari dua kata: ushul dan al-din. Ushul berarti dasar, fondasi, prinsip, atau pokok, sedangkan al-din berarti balasan, ketaatan, atau agama. Jadi ushuluddin sederhananya adalah dasar atau prinsip agama. Mahmud Syaltut menyatakan bahwa akidah merupakan segi teoritis yang pertama-tama dituntut dan mendahului segala sesuatu untuk dipercayai dengan keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keraguan.[33]

METODE MENENTUKAN USHULUDDIN

Seperti telah dijelaskan, agama memiliki dua unsur penting yaitu seperangkat keyakinan (teoritis) dan seperangkat amalan (tindakan praktis). Secara urutan akal, keyakinan lebih dahulu sebelum lahirnya tindakan (amal) praktis manusia, meskipun, keduanya merupakan satu kesatuan yang saling dukung. Karena itu, penentuan keyakinan mendapatkan posisi pertama dan utama dalam struktur agama yang mesti dikaji, dibahas, dan ditemukan dengan sungguh-sungguh dengan seluruh perangkat potensi yang dimiliki manusia. Dan secara asumtif kita bisa menetapkan empat sumber dan sarana pengetahuan manusia, yaitu : a). Melalui indera; b). Melalui akal; c). Melalui hati (intuisi); dan d). Melalui wahyu.

Melalui analisis yang mendalam kita dapat menyimpulkan bahwa, satu-satunya jalan yang mungkin digunakan manusia untuk menentukan ushuluddin adalah melalui jalan rasional (akal). Hal ini karena ketiga jalan lainnya tidak akan menghasilkan analisis teoritis.[34]

Misalnya, melalui indera. Sumber dan alat inderawi sangatlah terbatas pada benda-benda fisik, sedangkan pada benda-benda non-material, ia tidak dapat memberikan kajian teoritis apapun. Bahkan, pada benda-benda material sekalipun, indera hanyalah berfungsi secara sekunder yaitu menangkap kesan untuk menghasilkan persepsi inderawi yang kemudian di kirim ke akal agar dapat menghasilkan serangkaian pengetahuan korespondensi. Jika kita cermati, ushuluddin bukan hanya berhubungan dengan benda-benda material, tetapi juga dengan wujud non-material, bahkan wujud non-material inilah yang menjadi fondasi terpenting ushuluddin. Selain itu, persoalan ushul al-din adalah persoalan teoritis yang bersifat abstrak, yang berhubungan dengan konsepsi (tashawwur) dan afirmasi/pembukltian (tashdiq), dan kedua hal ini merupakan kerja akal.

Begitu pula dengan jalan intuisi dan penyaksian (syuhudi), di mana jalan ini diperoleh dengan didahului seperangkat pengetahuan teoritis dan tindakan praktis agar tidak terjadi kekeliruan yang fatal. Seseorang harus meyakini terlebih dahulu keberadaan Tuhan, baru menyatakan ingin menyaksikannya. Bahkan seseorang harus beramal baik, baru Tuhan berkenan menemuinya. Dan cara beramal yang baik harus dirumuskan secara teoritis terlebih dahulu, baru bisa dilaksanakan secara praktis. Seperangkat pengetahuan teoritis itu tidak mungkin diperoleh melalui jalan intuisi, sebab intuisi hanyalah berurusan dengan penyingkapan (kasyaf) bukan dalam kajian teoritis. Selain itu, kehujjahan dalil kasyaf hanya dapat dijadikan hujah oleh pemilik dalil tersebut (subjektif), itupun setelah ditemukan adanya kesesuaian dalil tersebut dengan neraca al-Quran dan hadits, serta akal.

Adapun melalui jalan wahyu semakin tidak mungkin, sebab akan mengakibatkan posisi terbalik dalam menentukan ushuluddin. Hal ini karena, ushuluddin merupakan kajian teoritis awal untuk menghantarkan manusia pada keyakinan agama dan meletakkan fondasi serta kebenaran agama, sedangkan wahyu, jelas akan berlaku setelah adanya keyakinan manusia terhadap agama bahkan terhadap pembawa agama (nabi atau rasul). Artinya, sebelum meyakini sumber dan pembawa wahyu (Tuhan dan Nabi), maka kita tidak mungkin mengakui dan menggunakan wahyu. Muungkinkah orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan Nabi, akan mempercayai bahwa al-Quran adalah wahyu?

Dengan demikian, maka terbuktilah bahwa akal menjadi jalan utama dan pertama dalam metode keyakinan, membentuk dan menentukan ushuluddin. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hukum akal, diantaranya:

  1. Hukum tanaqudh, yaitu “mustahilnya bergabung dua hal yang kontradiksi/bertentangan”, yaitu jika ada dua hal yang bertentangan maka salah satunya pasti benar sedangkan yang lainnya salah, dan tidak mungkin keduanya benar atau keduanya salah. Misalnya, tidak mungkin sesuatu itu ada sekaligus tidak ada pada saat yang bersamaan.
  2. Hukum “mustahilnya tasalsul”, yaitu ‘Ketergantungan sesuatu kepada sesuatu yang lain, dimana sesuatu yang lainnya itu juga tergantung pada selain dirinya, begitu seterusnya secara tidak terbatas’. Misalnya, A disebabkan oleh B, B disebabkan oleg C, C disebabkan oleh D, dan begitu seterusnya hingga tidak ada akhirnya. Ini berarti tidak ada yang mengawali keberadaan, jika demikian darimana keberadaan itu datang? Jadi, tasalsul akan menghasilkan ketiadaan.
  3. Hukum ‘mustahilnya daur (pemikiran berputar)’, yaitu ‘Ketergantungan adanya sesuatu kepada sesuatu yang lain yang dalam keberadaannya tergantung pada yang pertama.’ Misalnya, A disebabkan oleh B, dan B disebabkan oleh C, dan C disebabkan pula oleh A. Ini berarti semuanya saling membutuhkan dan menghasilkan ketiadaan.

JENIS-JENIS USHULUDDIN

Keimanan atau keyakinan itu sendiri pada dasarnya dapat dibagi kepada dua hal, yaitu ushuluddin dan furu’uddin. Ushuluddin merupakan landasan utama dalam bangunan keyakinan teoritis agama, sedangkan furu’uddin merupakan keyakinan cabang yang terbentuk atau telah inklud di dalam ushuluddin. Artinya, ushuluddin merupakan prinsip yang mesti ada dalam agama dan tanpanya, agama akan kehilangan fungsinya. Misalnya, percaya adanya Tuhan merupakan ushul al-din dan dari keyakinan ini dihasilkan kepercayaan lainnya seperti Esa-Nya Tuhan, sifat-sifat Tuhan, karakteritik Tuhan, dan sebagainya, yang merupakan keyakinan parsial atau cabang keyakinan (furu al-din) yang bersifat teoritis.

Dengan analisis yang cermat, ditetapkanlah tiga ushuluddin yang lintas agama, artinya harus dimiliki oleh struktur agama apapun, yaitu : Ketuhanan, Kenabian, dan Kebangkitan (Hari Akhir).  Adapun dalam Islam, maka ushuluddin biasanya akan terbagi sesuai dengan mazhab-mazhab yang diikuti (ushul al-mazhab). Dalam mazhab sunni, misalnya, rukun iman disebutkan ada enam macam yaitu : Iman Kepada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab-Kitab, Hari Akhir, serta Qada dan Qadar. Adapun dalam syiah, ada lima macam ushuluddin yakni : Tauhid, Keadilan (al-adl), Kenabian (an-Nubuah), kepemimpinan (al-imamah), dan Kebangkitan (al-Maad). Insya Allah kita akan mengulas semua keyakinan tersebut sesuai kebutuhan dan konteks yang memungkinkan untuk pengajaran dasar-dasar agama.


[1] M.T. Misbah Yazdi. Iman Semesta. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 1.

[2] Jalaluddin dan Ramayulis. Pengantar Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 1993), h. 32.

[3] Nico Syukur Dister. Pengalaman dan Motivasi Beragama (Yogyakarta: Kanisius, 1988), h. 74.

[4] Nico Syukur Dister. Pengalaman, h. 74.

[5] Nico Syukur Dister. Psikologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1989), h. 10-11.

[6] Robert W. Crapps. Dialog Psikologi dan Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1989), h. 66.

[7] Nico Syukur Dister. Pengalaman, h. 76.

[8] Sigmund Freud. Psikoanalisis Sigmund Freud. (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002) h. 219-220 dan 361-368. Lihat juga analisi pemikiran Frued ini oleh Eric From. Psychoanalysis and Reliigion. (New Haven& London: Yale University Press, 1950); Calvin S. Hall. A Primer of Fruedian Psychology. (New York: A Mentor Books, 1957).

[9] Emile Durkheim. Sejarah Agama. (Yogyakarta: Ircisod, 2003), h. 29-30.

[10] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Knowing God. (Qum: Foundation of Islamic Cultur Propagation in the World, 2006), h. 21.

[11] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Knowing, h. 21.

[12] Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. (Bandung: Mizan, 2003), h. 205.

[13] Tentang berbagai penelitian masalah SQ ini banyak diungkapkan oleh Danah Zohar dan Ian Marsahal. Salah satunya adalah peneltian Michael Pessinger seorang neuro-psikolog asal Kanada pada awal 1990-an. Dalam Laboratoriumnya di Laurentian, Pessinger menghubungkan kepalanya dengan stimulator magnet transcranial, suatu piranti yang mengeluarkan medan magnetic kuat dan berubah-ubah dengan cepat di area kecil jaringan otak. Dalam percobaan ini, Pessinger merancang piranti tersebut untuk merangsang jaringan di lobus temporal, bagian otak yang berada tepat di bawah pelipis, dan saat itu dia melihat “Tuhan”. Peneliti lain V.S. Ramachandran pada 1997 dan koleganya lebih dalam melanjutkan studi Pessinger tentang lobus temporal dan mengaitkannya dengan pengalaman spiritual. Elektroda-elektroda EEG (electroencephalograph) dihubungkan dengan pelipis dan ketika diberi nasihat religius atau spiritual yang menyentuh, aktivitas lobus temporal mereka meningkat. Lihat Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan (Bandung: Mizan, 2000), h.80-83.

[14] Erich Fromm. Psychoanalysis and Religion. (New Haven: Yale University Press, 1976), h. 25.

[15] Jalaluddin Rakhmat. SQ: Psikologi dan Agama, kata Pengantar dalam Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ, h. xxvi.

[16] Frank G. Goble. Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow. (Yogyakarta: kanisius, 1994), h. 101.

[17] Lihat misalnya Quraish Shihab. Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1996), h. 210; Murtadha Muthahhari. Fitrah. (Jakarta: Lentera, 1998); dan juga Murtadha Muthahhari. Perspektif al-Quran Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1998).

[18] Murtadha Muthahhari. Fitrah, h. 8.

[19] Lihat misalnya, Allamah Sayid Muhammad Husain Thabthabai, al-Mizan fi Tafsir al-Quran Jilid 16. (Beirut: Muassasah al-a’lami, 1991M/1413 H), h. 182-186; Syeikh Nashir Makarim Syirazi. al-Amtsal fi Tafsir Kitabillah al-Munzil Jilid 12. (Beirut: Muassasah al-Bi’sah, 1992 M/1413 H), h. 471-473.

[20] Mulla Sadra dalam bukunya al-Mabda wa al-Maad menulis: “pemahaman tentang Allah (Sang Maha Pemberi) itu adlah seuatu fitrah yang dibawa sejak lahir, karena ketika manusia itu lahir dan ia harus menghadapi suatu yang menakutkan dan menyulitkan dirinya, maka ia secara naluriah akan bersandar kepada sesuatu yang Maha Pemberi pertolongan dan secara otomatis ia akan berpaling kepada-Nya” Dengan nada yang hampir sama Sayid Husayni Baheshti menegaskan bahwa setiap manusia telah dibekali fitrah sejak lahir yang menyiratkan akan keesaan Allah dan pernyataan tak tertulis agar manusia sadar bahwa politeisme itu tidak mempunyai dasar sama sekali kecuali bagi orang-orang yang bodoh dan dungu.  Lihat Sayyid Muhammad Husayni Baheshti. Selangkah Menuju Allah: Penjelasan Al-Quran Tentang Tuhan. (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), h. 52.

[21] Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 3. (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1992), h. 178.

[22] .Lihat Al-Kulaini, Al-Kafi Jilid 2, h. 12-13 Pada Bab Fitrat al-Khalq ‘ala al-Tauhid menyebutkan empat hadis tentang makna fitrah yang ada pada ayat 30 surat al-Rum; Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 3. (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1992), h. 175-178.

[23] Imam Khomeini. 40 Hadis: Telaah Atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak. (Bandung: Mizan, 2004), h. 207.

[24] Imam Khomeini, 40 Hadis, h. 210.

[25] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Filsafat Tauhid: Mengenal Tuhan Melalui Nalar dan Firman. (Bandung: Mizan, 2003), h. 45-47. Penjelaan panjang lebar ayat ini dapat dilihat dalam Allamah Thabathabai. al-Mizan jilid 8, h. 311-330; Syeikh Nashir Makarim Syirazi, al-Amtsal jilid 5, h. 262-267  ; Fakhr al-Razi, Tafsir al-Kabir jilid 15, h. 40-49; Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Quran jilid 3, h. 670.

[26] Muhammad Husayni Baheshti. Selangkah, h. 62.

[27] Sayid Mujtaba Musawi Lari, Knowing, h. 20. Lihat juga Sayid Mujtaba Musawi Lari. Ushul al-Aqaid fi al-Islam Juz I. (Qum: Foundation of Islamic C.P.W, 1424 H), h. 28-29.

[28] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Ethics and Spiritual Growth. (Qum: Foundation of Islamic C.P.W, 2005), h. 36.

[29] Ilmu hudhuri adalah ilmu kehadiran yaitu hadirnya secara langsung objek yang diketahui pada diri subjek yang mengetahui. Misalnya, pengetahuan kita tentang diri kita sendiri.  Penjelasan lebih detail tentang hal ini dapat dilihat pada pembahasan epistemology (diktat epistemology).

[30] Ilmu hushuli adalah ilmu perolehan yaitu hadirnya gambaran objek yang diketahui pada diri subjek yang mengetahui. Misalnya, pengetahuan kita tentang berbagai benda-benda di alam  ini. Penjelasan lebih detail tentang hal ini dapat dilihat pada pembahasan epistemology (diktat epistemology).

[31] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Knowing, h. 21.

[32] Muhammad Taqi Falsafi. Anak Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan. (Bogor: Cahaya, 2003), h. 254.

[33] Mahmud Syaltut. Islam Akidah dan Syariah. (Jakarta: Pustaka Amani, 1986), h. 4.

[34] Lihat pembahasannya dalam M.T. Misbah Yazdi. Iman,h. 24-27.