TAUHID SIFAT


MAKNA TAUHID SIFAT

Tauhid sifat adalah meyakini bahwa sifat-sifat yang ada pada Allah seperti ilmu, kuasa, hidup, dan sebagainya adalah merupakan hakikat Dzat-Nya, bahkan adalah Dzat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk, yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Hanya saja, untuk menyelami hakikat satunya Dzat dan sifat ini memerlukan argumentasi dan alasan-alasan yang rasional.

Jadi, zat dan sifat Allah adalah sama atau identik. Zat adalah sifat dan sifat adalah zat (zat = sifat). Namun demikian, ada juga yang menyatakan bahwa sifat itu ada dan berbeda dengan hakikat zat. Untuk mengkajinya akan dijabarkan beberapa hal di bawah ini :

  1. Jika zat dan sifat berbeda, maka Tuhan akan terdiri dari rangkapan, sedangkan kita mengetahui bahwa setiap yang memiliki rangkapan berarti keberadaanya merupakan akibat dari rangkapan, dengan demikian akan menjadi terbatas, dan yang terbatas berarti berawal dan diadakan (dijadikan/diciptakan). Adapun yang terbatas, berawal, diciptakan sudah jelas bukanlah Tuhan.
  2. Jika Zat dan sifat berbeda, maka akan terjadi saling membutuhkan, yakni zat membutuhkan sifat dan sifat membutuhkan zat, dengan demikian maka keduanya saling membutuhkan. Adapun kebutuhan adalah sifatnya makhluk bukan sifatnya khalik, dengan demikian wujud yang membutuhkan sudah jelas bukanlah Tuhan.
  3. Jika zat dan sifat berbeda, dan keduanya adalah mandiri, maka kita telah meyakini dua  wujud yang mandiri dan tidak tercipta, ini berarti ada dua Tuhan, dan jika kita meyakini pula bahwa sifat yang satu berbeda dengan sifat yang lainnya—misalnya ada 99 sifat Tuhan dan semuanya mandiri—ini berarti kita meyakini 99 wujud mandiri ditambah satu (zat) maka akan ada 100 wujud yang mandiri, hal ini akan berakibat kita meyakini 100 Tuhan (politeis/syirk).

Dengan penjelasan ini maka jelaslah bahwa ke-Esaan Tuhan adalah ke-Esaan hakiki dari segala seginya. Adapun sifat, maka ia hanya ada dalam pemahaman akal manusia sedangkan pada hakikat wujud Tuhan ia tidak memiliki eksistensi/keberadaan. Perbedaan antara sifat Tuhan yang satu dengan yang lainnya merupakan hasil dari pemahaman dan konsepsi akal manusia dalam memandang hakikat Zat Tuhan.

MENETAPKAN SIFAT TUHAN :

SIFAT ZAT DAN SIFAT PERBUATAN

Jika kita melakukan konsepsi dan afirmasi tentang Tuhan, maka bisa dipandang dari dua sisi. Pertama, mencermati Wujud Tuhan dari sisi wujud itu sendiri secara mandiri; dan kedua, mencermati wujud Tuhan dari sisi menghubungkannya dengan makhluknya. Kedua hal ini dilakukan untuk menetapkan sifat-sifat Tuhan. Hasilnya, dari sudut pandang pertama berguna untuk menetapkan sifat zat (sifat zat), sedangkan sisi kedua dapat menetapkan sifat perbuatan (sifat fi’liyah).

Dengan demikian, Sifat Zat adalah sifat yang dapat diterapkan pada Tuhan cukup dengan memahami zat-Nya saja secara mandiri tanpa dihubungkan dengan makhluk-Nya. Seperti sifat Wujud (ada), qadim (azali), baqa (abadi), hayat (hidup), ‘alim (ilmu), qudrah (kuasa), dan iradah (kehendak). Sifat-sifat ini dapat kita terapkan langsung kepada Allah tanpa diperlukan keterkaitannya dengan makhluk, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan Ada, Tuhan Yang Azali, Tuhan Yang Abadi, Tuhan Yang Kuasa, Tuhan Yang Hidup, Tuhan Yang Mengetahui, Tuhan Yang Berkehendak.

Sedangkan Sifat Perbuatan adalah sifat yang dapat diterapkan pada Tuhan dengan memahami keterkaitan hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya. Contohnya sifat Pencipta, Pemberi rezeki, Pengasih, dan sebagainya, yang mana sifat ini hanya dapat diterapkan dan dipahami jika ada ciptaan (yakni Makhluk), ada yang diberi rezeki, dan ada yang dikasihi. Jika tidak ada hubungan ini maka sifat tersebut tidak dapat diterapkan secara mandiri melainkan mesti disandarkan kepada sifat zat, misalnya kepada sifat Kuasa (qudrah), sehingga dapat disebut—sebagai pemisalan— bahwa Tuhan Maha Kuasa Mencipta, atau Kuasa Memberi Rezeki. Dengan begitu, sifat perbuatan pada hakikatnya akan kembali kepada sifat zat yang pada dasarnya adalah zat itu sendiri.

Perlu diperhatikan bahwa, jika tauhid zat menekankan keesaan Tuhan dari sisi zat, di mana zatnya tidaklah terbatas dan tidak tersusun dari bagian-bagian; dan tauhid sifat menegaskan bahwa sifat adalah identik dengan zat dan bukan sesuatu lain yang ditambahkan kepada-Nya, maka tauhid perbuatan menekankan pada keesaan Tuhan dalam berbuat. Artinya, Tuhan secara mandiri dan sendiri dalam melakukan berbagai perbuatan serta tidak memerlukan pertolongan ataupun penolong, meskipun Ia melakukannya secara langsung maupun dengan menggunakan perantaraan.[1]

Adapun menisbatkan suatu sifat kepada Tuhan, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. Secara langsung, yaitu menetapkan prinsip-prinsip positif dalam memahami hakikat wujud dan menisbahkan kepada-Nya sifat-sifat positif (tsubutiyah) sebagai tanda kesempurnaan wujud dan menolak sifat-sifat negative dan kekurangan (salbiyah) yang membatasi wujud. Misalnya, Tuhan sebagai wajib wujud yang sempurna tentunya mesti azali dan abadi (tidak diadakan dan tidak akan musnah), berilmu (tidak bodoh), berkuasa (tidak lemah), hidup (tidak mati), mendengar (tidak tuli), melihat (tidak buta), dan sebagainya.
  2. Secara tidak langsung, yakni dengan melihat diri dan sifat-sifat manusia yang baik kemudian kita menisbahkan sifat tersebut kepada Tuhan dengan kesempurnaan dan menolak kekurangan-kekurangan. Misalnya, pertama-tama kita menemukan bahwa diri kita memiliki sifat-sifat positif seperti hidup, berilmu, berkemampuan, dan lainnya, kemudian dengan melenyapkan kekurangan dan batasan yang kita miliki, selanjutnya kita menetapkan sifat tersebut pada Tuhan secara sempurna (tsubutiyah). Begitu pula kita menemukan sifat-sifat negatif pada diri kita, seperti diwujudkan oleh yang lain,  mati dan lenyap, capek, sakit, dan sebagainya. Kemudian dengan cermat akal kita menyatakan bahwa Tuhan mesti bebas dari kekurangan, batasan, atau sifat-sifat negatif (salbiyah) seperti itu, karenanya kita menetapkan sifat mustahil pada Tuhan dan menetapkan kebalikannya sebagai sifat positif, seperti Tuhan tidak diadakan dan tidak akan lenyap yang berarti mesti azali dan abadi; Tuhan tidak bodoh yang berarti berilmu; Tuhan tidak mati yang berarti Hidup; Tuhan tidak capek yang berarti senantiasa kuat; tidak buta berarti melihat, dan sebagainya.[2]

Jadi, sifat-sfat Tuhan adalah zat-Nya sendiri yang sederhana (basith), yang kemudian pikiran menarik konsep-konsep yang berbeda dari zat Tuhan, dan menisbahkannya kepada Tuhan dengan segala kesempurnaan dan ketidakterbatasan-Nya.

SIFAT ILMU (‘ALIM)

Tuhan mengetahui diri-Nya. Ini adalah kepastian, kelaziman dan secara langsung yang tidak membuat keterbatasan diri-Nya. Akan tetapi pengetahuan Tuhan terhadap selain diri-Nya, tidaklah secara langsung karena akan terdapat banyak objek ilmu pada diri Tuhan, dan setiap objek ilmu akan membatasi dari objek ilmu yang lain, dengan demikian hal ini akan mengakibatkan keterbatasan ilmu Tuhan.

Beberapa alasan yang diajukan para filosof untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak mengetahui selainnya secara langsung adalah :

  1. Bila Tuhan mengetahui secara langsung, maka pada diri Tuhan akan terdapat banyak objek-objek ilmu. Karena objek-objek ilmu tersebut adalah terbatas, maka ilmu Tuhan juga akan menjadi terbatas, karena gabungan keterbatasan hanya akan mengahsilkan keterbatasan pula.
  2. Tuhan sebagai sebab sedangkan selainnya merupakan akibat. Maka jika Tuhan mengetahui selain-Nya secara langsung, berarti ia mengetahui sebatas akibat, hal ini menjadikan ilmu Tuhan tidak sempurna.
  3. Alam materi senantiasa berproses, maka jika Allah mengetahui secara langsung, maka ia akan berproses dan setiap yang berproses adalah terbatas.
  4. Alam materi terdiri dari bentuk-bentuk, maka jika Tuhan mengetahui secara langsung maka ilmu Tuhan akan berbentuk-bentuk dan itu akan menunjukkan keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Dengan demikian, Tuhan mengetahui selain diri-Nya, adalah dengan hakikat sesuatu itu tanpa ada bentuk-bentuk di dalamnya. Ini berarti karena ia merupakan sebab dari segala sesuatu maka pengetahuan-Nya terhadap diri-Nya sudah mencakup pengetahuan tentang selain-Nya yang merupakan akibat. Hal ini sesuai dengan prinsip aksiomatik “ilmu bi illat yulazimu ilmu bi al-ma’lulihi” (Ilmu terhadap sebab menjadi sebab bagi ilmu terhadap akibat-akibatnya).

Namun, pengetahuan Tuhan juga dapat dijelaskan sebagai pengetahuan langsung, hanya saja hal ini memerlukan premis-premis filosofis. Dan buku ini di tulis bukan untuk sasaran kajian yang terlalu mendalam dari sudut pandang filosofis, tetapi sebagai pemahaman awal dapat dijelaskan dengan ringkas di bawah ini.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa Wujud selain Tuhan memiliki dua hal yaitu : eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah). Esensi merupakan hakikat khusus sesuatu maka jika hilang kekhususannya, maka hakikat dirinya akan hilang. Apakah dalam esensi ada makna wujud? Jika ada, maka wujud merupakan bagian esensi sehingga tidak akan pernah bisa berpisah dari wujud, maka ia akan menjadi wajib wujud (Tuhan). Ini adalah kesalahan. Dengan demikian perbedaan wujud yang satu dengan yang lainnya adalah dikarenakan oleh wujud itu sendiri, bukan karena esensinya (tasykik al-wujud).

Tuhan mengetahui diri-Nya dan selain diri-Nya melalui diri-Nya sendiri. Kemudian Wujud adalah satu (wahdat al-wujud) dan memiliki kesamaan makna, disisi lain wujud itu sendiri menjadi pembeda melalui tasykik al-wujud, yang bermakna perbedaan kembali pada persamaanya, yaitu wujud itu sendiri.

Karena Tuhan tidak terbatas maka tidak ada wilayah yang kosong untuk apapun selain Tuhan, jadi segala keberadaan yang kita nisbatkan ada selain Tuhan, sebenarnya dari sisi wujud adalah Tuhan, tetapi dari sisi esensi bukanlah Tuhan. Karena esensi bergantung pada eksistensi, maka esensi tidak dapat mempengaruhi eksistensi. Dengan demikian, maka seluruh keberadaan selain Tuhan pada dasarnya adalah esensi yang bergantung pada eksistensi Tuhan, karena hakikat ketergantungan, maka Tuhan mengetahui segala yang “menempel” (bergantung) pada eksistensi-Nya secara terperinci tanpa harus mempengaruhi diri-Nya, karena esensi tidak dapat mempengaruhi eksistensi (akibat tidak dapat mempengaruhi sebab).

Dengan demikian, pengetahuan Allah atas segala sesuatu meliputi objek yang universal (umum/kulli) maupun particular (terperinci/ juz’i). Bukti bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang universal maupun yang partikular, adalah kehadiran segala sesuatu di sisi-Nya (ilmu hudhuri). Bahkan, eksistensi segala sesuatu itu sepenuhnya bergantung kepada-Nya, sehingga pastilah Dia mengetahui semua yang bergantung kepada-Nya itu.[3]

TAUHID PENCIPTAAN

Tauhid penciptaan berarti meyakini dengan sungguh bahwa semua alam ini merupakan ciptaan Allah baik secara langsung ataupun dengan perantara.[4] Dalam memahami tauhid penciptaan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

A. Tidak Tertundanya Ciptaan

Allah tidak pernah menunda ciptaan karena hal itu adalah kebaikan dan menunda hal yang baik adalah kebakhilan (pelit) dan kebakhilan adalah sifat yang tercela dan buruk, maka hal itu tidak mungkin ada pada diri Tuhan. Sedangkan bila itu bukan hal yang baik maka berarti Allah telah “melebihkan sesuatu tanpa nilai lebih” (tarjih bila murajjah) dan itu juga hal yang mustahil dan buruk.

Prinsip bahwa “segala sesuatu mencintai dirinya sendiri”, maka Allah juga mencintai dirinya sendiri dan mencintai kekuasaanya dan diantara kuasanya adalah mencipta, karena itu ia tidak akan menunda ciptaan karena berarti ia menunda cinta terhadap diri-Nya.

Kemudian, prinsip sebab-akibat menyatakan bahwasebab yang telah lengkap maka akan menimbulkan akibat”, dan “Akibat adalah ketergantungan hakikat zatnya pada sebab”. Karena Allah adalah sebab tunggal dan lengkap—jika  tidak berarti Allah terbatas dan berangkap—maka secara otomatis niscaya (wajibun ‘anhu) akan timbul akibat (makhluk) tanpa ada penundaan sedikitpun, karena panundaan menunjukkan belum lengkapnya sebab dan itu mustahil bagi Allah swt. Maha benar Allah dengan firman-Nya, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata padanya, ‘jadilah! Maka jadilah ia” (Q.S. Yasin: 82).

  1. B. Kebajikan, Tujuan dan Hikmah Penciptaan

Alam yang ada sekarang adalah merupakan ciptaan dan sistem yang terbaik, di mana Allah telah menciptakan ala mini dengan cara sedemikian rupa, yang kebaikannya menguasai keburukan, sistemnya membawa pada kesempurnaan, dan mendapatkan keridhaan-Nya. Hal ini karena, jika sistem di alam ini bukanlah sistem yang terbaik, maka berarti Allah adalah bakhil (pelit) dan bakhil itu adalah keburukan yang mustahil ada pada diri Tuhan. Adapun mengenai kekurangan, kesalahan, kelemahan, dan keterbatasan, pada dasarnya bukanlah diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Semua itu merupakan permulaan yang diperlukan bagi perkembangan makhluk lainnya. Ketidaksempurnaan yang terlihat di alam disebut dengan ‘tujuan korolarial’, yaitu tujuan yang merupakan akibat wajar. Artinya, karena tujuan utama tidak akan dapat tercapai kecuali melalui keperluan lain yang tidak dimaksudkan, maka kita harus menyetujui dan menerimanya, meskipun mereka tidak diinginkan bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan tujuan korolarial, kita memandang dunia secara keseluruhan dan interaksi di dunia ini, semuanya berada dalam suatu sistem yang membimbing dan mengarahkan munculnya kesempurnaan.[5] Inilah yang dikenal dengan kebajikan Allah.

Allah dalam mencipta memiliki tujuan, karena jika tidak berarti ia melakukan perbuatan yang tidak bijaksana dan sia-sia.[6] Hal ini tidak sesuai dengan sifat Allah yang sempurna. Namun, “tujuan penciptaan” Allah adalah diri-Nya sendiri, dan bukan untuk memperoleh manfaat bagi diri-Nya.[7] Inilah yang disingkat dengan prinsip bahwa “pelaku dan tujuan adalah sama, yaitu Tuhan”. Sedangkan kebaikan dan kesempurnaan hamba adalah “hikmah penciptaan,” karena kemaslahatan hanya ada pada makhluk yang telah tercipta.[8]

Segala sesuatu yang tercipta itu memiliki setidaknya dua syarat penting yaitu : 1). mungkin al-wujud dan   2). memiliki nilai lebih. Hal ini karena  sesuatu yang secara zat dan esensi adalah mustahil (mumtani al-wujud) maka tidak mungkin diciptakan (mustahil tercipta). Di pihak lain, jika tidak ‘memiliki nilai lebih’ juga tidak mungkin tercipta karena hal itu menunjukkan kesia-siaan, kekurangan, keburukan dan keterbatasan. Sebab dalam melakukan sesuatu yang bersifat mungkin, ada lima alternatif nilai yakni :

  1. Memiliki nilai baik keseluruhannya.
  2. Memiliki nilai baik lebih banyak.
  3. Memiliki nilai baik dan buruk secara sama.
  4. Memiliki nilai buruk lebih besar.
  5. Memiliki nilai buruk keseluruhan.[9]

Menurut hikmah ilahiah, untuk nilai pertama dan kedua (baik keseluruhan dan baik lebih banyak), maka Tuhan mesti mencipta, karena jika tidak mencipta berarti Tuhan meninggalkan perbuatan baik dan melakukan perbuatan buruk. Hal ini menunjukkan kekurangan dan keterbatasan.

Adapun nilai yang ketiga, keempat dan kelima (nilai buruknya sama, lebih besar atau keseluruhannya buruk), maka sesuai hikmah, Tuhan tidak akan menciptakannya, karena hal itu akan menunjukkan perbuatan buruk, kekurangan, kesia-siaan, dan keterbatasan. Tuhan Maha Suci dari semua itu. [10]

Dengan demikian, segala sesuatu yang ‘mungkin’ dan memiliki ‘nilai lebih’ maka sesuai hikmah mestilah diciptakan. Jadi proses penciptaan adalah keharusan dan kewajiban dengan alasan untuk melakukan hikmah, meninggalkan kesia-siaan, dan meninggalkan keburukan.[11]

C.   Tahapan Penciptaan dan Susunan Alam

Proses penciptaan alam melewati tahap-tahap penciptaan baik secara langsung maupun dengan perantara. Salah satu teori penting dalam filsafat Islam adalah teori huduts dahri yang dikemukakan oleh Mir Damad (1543-1631 M/950-1041 H) dari Isfahan, yang merupakan guru Mulla Shadra.

Teori huduts dahri merupakan konsepsi tentang munculnya wujud-wujud baharu (mumkin al-wujud) dari potensialitas menjadi aktualitas dan realitas yang riil. Teori ini, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut[12] :

Secara rasional wujud-wujud dapat diklassifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu : wajib al-wujud (pasti wujud), mumkin al-wujud (mungkin wujud), dan mumtani al-wujud (mustahil wujud). Dari ketiga klassifikasi tersebut, huduts dahri berhubungan dengan wujud mungkin, karena mustahil wujud secara mutlak tidak dapat menerima wujud, sedangkan wajib wujud merupakan wujud itu sendiri sehingga tidak perlu diberikan wujud.

Kemudian dapat dipahami bahwa sesuatu yang mungkin wujud pastilah memiliki kemungkinan esensial (imkan dzati) dan kemungkinan untuk mewujud (imkan) sehingga dengan struktur yang sistematis terciptalah wujud baharu. Hal ini karena, struktur alam wujud bersifat raisonal, teratur, tidak absurd, dan tidak acak-acakan, sehingga mustahil ‘sesuatu’ yang tidak niscaya wujud (wajib al-wujud) tiba-tiba mewujud tanpa adanya keniscayaan rasional (ijab al-wujub) untuk kehadirannya.

Menurut Mir Damad, keadaan sesuatu pernah tidak mewujud (masbuqiyah bi adam al-wujub) bukanlah bukti bahwa esensi sesuatu itu pernah tiada (masbuqiyah bi adam dzat), lantaran tiada dan wujud dalam kerangka ini sama-sama terkait dengan esensi sesuatu (al-zat). Singkatnya, esensi ‘sesuatu’ yang terwujud pernah melalui esensi ‘sesuatu’ yang tiada. Jadi, huduts dahri menjelaskan bahwa wujud segala sesuatu—selain wujud wajib—mengalami ‘kepernahan’ (masbuqiyah) melewati sejenis ketiadaan dalam esensi mereka. Dan ketiadaan tersebut, bukanlah ketiadaan dalam hal waktu (adam zaman), melainkan ketiadaan esensi sesuatu pada dirinya sendiri.[13]

Dengan begitu, untuk mewujud ke realitas eksternal, suatu wujud mungkin, mesti melewati beberapa tingkatan atau tahapan-tahapan tertentu sebagai berikut :

  1. Tahapan pernyataan esensi atau teresensi (taqarrur mahawi).
  2. Tahapan kemungkinan esensial (imkan dzati).
  3. Tahapan kemungkinan-untuk-mewujud (imkan).
  4. Tahapan kebutuhan-untuk mewujud (ihtiyaz).
  5. Tahapan peniscayaan-untuk mewujud oleh sebab di atasnya (ijab al-illah), yaitu sebab di atasnya akan meniscayakan keberadaan akibat yang telah termungkinkan untuk mewujud dan membutuhkan wujud.
  6. Tahapan keniscayaan wujud akibat (wujub al-ma’lul).
  7. Tahapan pengadaan atau pemberian wujud (ijad), yakni tersambungnya keniscayaan-mewujud si akibat kepada wujud sebab (intiab al-syai ila al-illah).
  8. Tahapan mewujud (wujud) atau keberadaan yaitu tersambungnya sesuatu pada wujud.
  9. Tahapan huduts, yaitu tahapan wujud sesuatu secara riil.

Dengan demikian, ‘sesuatu’ yang ingin mewujud secara eksternal (riil), haruslah melalui sembilan tahapan tersebut di atas. Perlu diperhatikan bahwa prioritas (qabliyah) dan kelebihdahuluan (sabaq/precedence) dalam urutan-urtan di atas bukanlah dalam waktu, melainkan dalam esensi, dikarenakan sesuatu yang mungkin mewujud (mumkin al-wujud) tidak akan pernah mewujud dengan esensi dan dirinya sendiri, sebab, esensi sesuatu yang mungkin mewujud tidak lebih daripada kemungkinan-untuk-mewujud, dan kemungkinan-untuk-mewujud adalah ketiadaan secara esensi. Dan segala yang pernah tiada secara esensial, pastilah hadits (baru terjadi) secara esensial.

Sedangkan alam yang diciptakan Tuhan bukan saja alam material tetapi juga alam non-material, bahkan alam non-material labih tinggi derajatnya dan lebih dahulu diciptakan Tuhan. Untuk lebih jelasnya, tingkatan wujud tersebut dan proses penciptaannya dapat dijelaskan secara sederhana, sebagai berikut :

  1. Allah merupakan wujud tak terbatas dan sederhana (tunggal). Sesuai dengan kaedah bahwa “sebab memiliki relevansi (sinkhiyah) dengan akibat” maka diturunkan pula kaedah “Satu hanya menghasilkan satu (al-wahid la yashduru minhu illa wahid)”. Dengan demikian, maka satu sebab hakiki akan menghasilkan satu akibat hakiki pula, sehingga dari Allah yang tak terbatas terpancarlah secara langsung hanya satu wujud yang dalam filsafat disebut akal 1(nur Muhammad).
  2. Kemudian dari akal 1 terpancarlah akal 2, selanjutnya dari akal 2 terpancarlah akal 3, dari akal  3 terpancarlah akal 4, dan akal-akal selanjutnya hingga akal terakhir.[14] Inilah yang disebut dengan alam akal, yang merupakan wujud non materi mutlak yang memiliki keterbatasan secara esensi, tetapi tidak terikat dengan ruang, massa, bentuk, waktu, perubahan dan sifat-sifat  materi lainnya.
  3. Dari Akal Terakhir[15] ini kemudian terciptalah alam mitsal[16] (alam barzakh) yaitu wujud non materi yang tidak terikat pada massa, ruang, waktu, dan perubahan. Alam mitsal inilah yang menciptakan wujud materi.
  4. Dari alam mitsal terpancarlah alam materi yang sangat terbatas dan terikat pada massa, ruang, waktu, dan perubahan. Karena itu, ia merupakan wujud yang paling banyak susunan atau rangkapannya, sehingga memiliki ketergantungan lebih besar. Alam materi merupakan alam paling rendah yang diciptakan Allah swt.

Dari penjelasan di atas, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Karena semua alam baik materi maupun non materi terdiri dari rangkapan maka ia pasti terbatas, karena kaedahnya “kumpulan jumlah keterbatasan sebesar apapun, akan tetap terbatas.
  2. Allah hanya menciptakan secara langsung akal 1 sedangkan yang lainnya melalui perantara. Perwujudan melalui perantara bukanlah keterbatasan kuasa Tuhan, akan tetapi terbatasnya wujud makhluk (akibat) untuk menerima penciptaan langsung oleh Allah.
  3. Wujud non materi adalah wujud yang tidak terikat pada ruang dan waktu karenanya penciptaannya adalah seketika. Namun karena ia merupakan rangkapan dan terbatas secara esensi maka ia memiliki awal dan akhir dalam tingkatan sebab dan zat, bukan dalam tingkatan waktu.

Kesimpulannya, hanya Tuhanlah satu-satunya Pencipta dari seluruh alam semesta, baik makhluk itu diciptakan secara langsung maupun dengan perantara, dengan persiapan maupun tanpa persiapan.

TAUHID HUKUM (HAKIMIYYAH)

Tauhid hukum menyatakan bahwa tidak ada yang layak membuat hukum-hukum kecuali Allah swt. Untuk itu, dalam Islam, diyakini bahwa tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Allah swt. Menurut Imam Khumaini, kekuasaan legislative dan wewenang untuk menegakkan hukum secara eksklusif adalah milik Allah swt. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk membuat undang-undang lain dan tidak ada hukum yang harus dilaksanakan kecuali hukum dari Pembuat Undang-undang (Allah swt).[17]

Mengapa hanya Tuhan yang berhak membuat hukum? Karena untuk membuat hukum, ada syarat mutlak yang mesti dikuasai, yaitu “mengetahui dengan akurat subjek dan objek hukum”. Dan menurut hemat penulis, secara jujur kita akan menjawab, bahwa Tuhanlah yang lebih mengetahui diri dan hakikat manusia serta alam semesta, sebab Dia-lah yang menciptakannya. Karena itu, maka dengan pasti pula bahwa Tuhanlah yang berhak membuat hukum.[18] Secara silogisme, hal ini dapat disusun sebagai berikut :

– Untuk membuat hukum harus mengetahui objek dan subjek hukum.

– Tuhan yang mengetahui tentang subjek dan objek hukum.

– Maka Tuhanlah yang berhak membuat hukum.

Lebih terinci, Ibrahim Amini mengemukakan empat kriteria yang harus dimiliki oleh undang-undang untuk menjamin kebahagiaan manusia :

  1. Undang-undang tersebut harus ditetapkan dan disusun berdasarkan kemaslahatan manusia, bukan hanya kecenderungan hewani semata.
  2. Undang-undang tersebut harus mempertimbangkan semua manusia dengan seluruh kelas sosialnya, tidak ada diskriminatif dan fanatisme, serta ditujukan untuk membela kaum lemah dan tertindas.
  3. Undang-undang tersebut di buat sedemikian rupa sehingga tidak merugikan kehidupan batin atau ruhani manusia, melainkan harus bertujuan membersihkan lingkungan social dari kerusakan moral dan mempersiapkan landasan bagi pembinaan jiwa yang berakhlak hasanah dan berorientasikan spiritual.
  4. Undang-undang itu mesti memenuhi kebutuhan mendasar manusia yang berkaitan dengan kehidupan ruhani dan akhirat (abadi).[19]

Keempat kriteria di atas menjadi rujukan bagi pembuat undang-undang. Manusia dengan segala kelemahannya, tidak akan mampu menyusun undang-undang sempurna dan lengkap yang memberikan empat jaminan di atas. Sebab, bagaimanapun pintar dan hebatnya manusia untuk menyusun undang-undang yang mengatur masyarakat, tetap tidak akan luput dari cacat dan kekurangan. Hal itu dikarenakan dua sebab : pertama, tidak ada jaminan bahwa manusia yang membuat UU bebas dari kepentingan kelompoknya sehingga mengabaikan kelompok lainnya; dan kedua, manusia tidak mengetahui secara sempurna dan mendalam hubungan antara kehidupan badani dan ruhani, duniawi dan ukhrawi, sehingga memiliki peluang besar untuk keliru.[20]

Jadi, karena disepakati bahwa Tuhan merupakan satu-satunya Pencipta, maka, sebagai Pencipta, hanya Dialah  yang mengetahui segala rahasia yang terkandung dalam ciptaan-Nya.[21] Sesuai dengan premis-premis di atas, maka Dia pulalah yang membuat seluruh hukum yang menjadi aturan di jagat raya semesta ini.

Secara global, hukum itu ada dua jenis yaitu hukum takwiniyyah (genetik) dan hukum tasyri’iyyah (legislative). Hukum takwiniyyah adalah aturan umum Allah swt, yang mengatur seluruh alam ciptaan yang terlaksana sesuai dengan kehendak Allah swt. Adapun hukum tasyri’iyyah adalah hukum-hukum syariat yang diturunkan oleh Allah swt untuk dilaksanakan oleh manusia agar mendapat ridha-Nya. Akan tetapi, tidak ada paksaan dalam pelaksanaan hukum ini. Hukum-hukum seperti ini disebut dengan risalah atau agama yang diturunkan oleh Allah swt, melalui utusan-Nya yang disebut Nabi atau Rasul. Jadi, agama berarti seluruh aturan atau hukum kehidupan yang sesuai dengan kehendak dan ridha Allah swt.

Dengan demikian, dalam tauhid hukum, peran hukum Tuhan sangat nyata, dimana mengindikasikan tidak ada yang berhak mengeliminasi ataupun membuat hukum selain Allah, dan al-Quran serta sunnah, pada dasarnya merupakan sarana penyampaian titah dan hukum-hukum ilahi.[22] Adapun peran dari para ahli hukum (ulama) adalah mengeluarkan, menginterpretasikan, dan mengimplementasikan hukum-hukum Tuhan tersebut melalui ijtihad yang sungguh-sungguh.

TAUHID IBADAH (PENYEMBAHAN)

Tauhid ibadah adalah meyakini dengan pasti bahwa tidak ada satu pun yang layak disembah kecuali Allah swt.[23] Hal ini karena kataatan atau penyembahan total dan sempurna hanya berlaku pada wujud yang berkuasa dan tidak membutuhkan apa pun. Selain itu, kita sudah menyadari bahwa kita merupakan ciptaan-Nya yang tidak memiliki apa pun, tetapi dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya, Tuhan menciptakan kita dan memberikan keberadaan serta berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Secara rasional, kita mengakui bahwa sudah menjadi keharusan untuk berterima kasih atas pemberian dan pertolongan pihak lain. Karenanya, layak pula kita berterima kasih pada Tuhan atas semua pemberian-Nya kepada kita. Ungkapan terima kasih inilah yang diaktualkan menjadi ibadah.

Secara sederhana dapat kita uraikan bahwa sebaik-baik penyembahan adalah sesuai dengan keinginan Subjek yang disembah. Karenanya, sesuai dengan tauhid hukum yang menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi sumber dan berhak membuat hukum, maka tatacara penyembahan juga, mestilah berasal dari diri-Nya.

Meskipun begitu, Ibadah dapat dibagi pada dua jenis yaitu ibadah khusus (mahdhah) dan ibadah umu (ghairu mahdhah). Ibadah khusus adalah ibadah yang ketentuan dan tatacaranya telah ditentukan dengan baku oleh Allah dan Rasul-Nya seperti salat, puasa, dan haji. Sedangkan ibadah umum adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah, akan tetapi tatacaranya tidak ditentukan secara baku, melainkan diserahkan kepada umat untuk melaksanankannya, dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum umum Tuhan lainnya. Dan kedua bentuk ibadah ini hanya patut ditujukan kepada Allah SWT semata (ikhlas).

Tauhid ibadah akan semakin dalam jika ia menempuh tahapan-tahapan perjalanan kesempurnaan akhlak dan irfan sehingga ia akan mencapai suatu kedudukan atau maqam di mana hatinya hanya terpaut pada Allah swt semata, selalu mencari-Nya kapan dan di manapun, tidak memikirkan apa-apa kecuali Dia, dan selalu sibuk dengan-Nya.


[1] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 99-102.

[2] Perlu diperhatikan bahwa pada dasarnya kedua cara di atas disimpulkan dari pemahaman akal yang diperoleh secara tidak langsung dari santiran wujud, karena, kita tidak mungkin secara langsung dapat mengetahui hakikat ketuhanan.

[3] Perhatikan ayat-ayat berikut : “Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak” (Q.S. al-Ra’d: 9); “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Q.S. Fathir: 38), “Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”. (Q.S. al-Fushilat: 53).

[4] Perhatikan ayat-ayat berikut ini: “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu” (Q.S. al-An’am: 102); “Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S. ar-Ra’d: 16).

[5] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 208.

[6] Tujuan adalah sasaran yang dipilih secara bebas oleh pelaku untuk perbuatannya. Tujuan memiliki tingkatan-tingkatan sebagai tujuan awal, tujuan pertengahan da tujuan akhir. Tujuan awal dan pertengahan pada dasarnya dijadikan perantara untuk mencapai tujuan akhir, yang tujuan tersebut secar intrinsik menyatu keadaan keadaan pelaku. Perbuatan tanpa tujuan adalah perbuatan sia-sia dan buruk. Lihat Misbah Yazdi. Filsafat, h. 211-216.

[7] Di sini ada perbedaan antara ‘untuk diri-Nya sendiri’ dengan ‘untuk mengambil manfaat bagi-Nya’. Yang pertama mengindikasikan kesempurnaan Tuhan, sedangkan yang kedua menunjukkan pada ketidaksempurnaan, kekurangan, dan kebutuhan Tuhan. Karena, dengan mengambil manfaat dari sesuatu atau menuju pada tujuan yang lain selain dirinya, maka itu kebutuhan diri-Nya atau menunjukkan ada yang lebih sempurna dari diri-Nya.

[8] Perhatikan ayat berikut ini : “Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kamu”. (Q.S. al-Baqarah: 29); “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q.S. al-Kahfi: 7); Dan Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Q.S. al-Dzariyat: 56); Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Q.S. al-Insan: 2-3).

[9] Yayasan Mulla Shadra. Buletin Tanya Jawab dan Diskusi al-Mursalat, Jakarta, edisi 9, juli 2000, h. 11.

[10] Yayasan Mulla Shadra. Buletin Tanya-Jawab dan Diskusi al-Mursalat, Jakarta, edisi 9, juli 2000, h. 11.

[11] Perhatikan ayat-ayat berikut ini: “Allah tidak menjadikan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu ditentukan” (Q.S. al-Rum: 8); “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan kebenaran.” (Q.S. al-Dukhan: 38-39); “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”. (Q.S. al-Anbiya: 16).

[12] Huduts adalah sesuatu yang di dahului dengan ketiadaan, sedangkan dahri adalah wadah untuk maujud-maujud non-material yang dilawankan dengan zaman (waktu) sebagai wadah untuk benda-benda material. Jadi huduts dahri merupakan konsepsi tentang penciptaan wujud-wujud baharu. Teori ini dikemukakan oleh Mir Damad (1543-1631 M/950-1041 H) dari Isfahan. Lihat uraian teori huduts dahri dalam Murtadha Muthahhari. Filsafat Hikmah: Pengantar ke Filsafat Shadra. (Bandung: Mizan, 2002), h. 153-159.

[13] Ketiadaan (adam) secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis : ketiadaan dalam esensi (zat) dan ketiadaan dalam waktu (zaman). Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Segenap maujud memiliki dua garis pandang yaitu : bidang horizontal (aradhi) dan bidang vertikal (thuli). Secara horizontal, satu maujud bersebelahan dengan maujud lainnya dalam satu rangkaian waktu. Sebaliknya, rangkaian maujud secara vertikal mempunyai tingkatan dan derajat kemaujudan yang berbeda-beda, lantaran ia menggambarkan tingkatan sebab-sebab eksistensial yang menjelmakan akibat-akibat eksistensial, karena sesuai dengan kaidah bahwa yang di atas (sebab) lebih sempurna dari yang di bawahnya (akibat). Rangkaian tegak itu tidak berada dalam ranah waktu (zamani), tetapi berada dalam ranah dahri, maka kebaru-jadian ‘sesuatu’ dalam perspektif ini dinamakan dengan huduts dahri. Contonya : Candiki, dari sudut pandang horizontal berada setelah Bapak, kakek, dan seterusnya. Jadi, dalam tingkatan ini, wujud Candiki, Bapak, dan Kakek, dan seterusnya adalah sama-sama berada dalam tingkatan wujud kemanusiaan yang indentik di semua zaman. Adapun secara vertikal, Candiki dari sisi eksistensial di dahului oleh ‘alam misal’, alam akal, dan tingkatannya, sampai berakhir pada sebab pertama yaitu Zat Maha Pencipta. Lihat Murtadha Muthahhari. Filsafat, h. 156.

[14] Makhluk akal ini memiliki banyak wujud dan tingkatan, ada yang mengatakannya memiliki sepuluh tingkatan seperti kalangan parepatetik (al-Farabi, Ibnu Sina). Tetapi ada juga yang menyebutkan lebih dan tidak bisa diketahui berapa jumlahnya. Alam akal dalam peristilahan agama disebut dengan malaikat al-a’la (malaikat tinggi) atau malaikatul muqarrabin (malaikat yang didekatkan).

[15] Akal Terakhir ini juga disebut Akal Pelaku, Akal Aktif, lauh al-mahfuuzh, atau Ruh al-A’zhom.

[16] Alam mitsal disebut juga dengan alam ide, alam barzakh, the lord of species, tuhan-tuhan esensi, robbun-nau’, Makhluk Khayal, mudabbirati amr (malaikat pengatur). Alam mitsal ini merupakan wujud non materi tidak mutlak yang terbatas secara esensi dan memiliki sifat materi seperti bentuk-bentuk, tetapi tidak terikat dengan ruang, massa, waktu, dan perubahan. Contohnya seperti wujud-wujud yang ada dalam khayalan atau mimpi sewaktu tidur. Alam mitsal ini disebut dengan Malaikat Pengatur, karena dengan izin Allah, ia mengatur segala urusan di alam materi, seperti mewujudkannya, mencabut nyawa, memberi hidayah, rejeki, musibah, dan sebagainya yang merupakan peristiwa-peristiwa di alam materi (alam dunia).

[17] Imam Khumaini. Pemerintahan Islam (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), h. 48.

[18] Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Tiada hukum kecuali hukum Allah” (Q.S. Yusuf: 67); “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia tergolong orang-orang kafir”. (Q.S. al-Maidah: 44).

[19] Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 23-24.

[20] Ibrahim Amini. Para, h. 24-25.

[21]Perhatikan ayat-ayat berikut ini : “Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak” (Q.S. al-Ra’d: 9); “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Q.S. Fathir: 38).

[22] Allah berfirman : “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu”. (Q.S. an-Nahl: 89; al-An-am: 38)

[23] Allah berfirman: “Sesungguhnya mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, semata-mata taat kepada-Nya, hanif, lurus dan bersih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5). “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan.” (Q.S. al-Fatihah: 5)

%d blogger menyukai ini: