PENGANTAR EPISTEMOLOGI


Kuliah 3 : EPISTEMOLOGI SEBAGAI LANDASAN PENGETAHUAN


MAKNA EPISTEMOLOGI

Teori pengetahuan, begitulah sederhananya epistemologi diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sedangkan dalam tradisi filsafat Islam disebut dengan nazhariah al-ma’rifah. Berasal dari bahasa Yunani, episteme dan logos, yang keduanya berarti pengetahuan atau ilmu. Ini berarti epistemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan atau ilmu tentang ilmu. Menurut kamus-kamus filsafat, umumnya epistemologi dipandang sebagi teori mengenai pengetahuan (the theory of kenowledge). Epistemologi merupakan bagian dari kajian filsafat yang spesialisasi membidani kajian mengenai segala hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan, seperti tabiat, landasan, sifat, jenisnya, asal mula, objek, struktur, cara, proses, ukuran atau validitas ilmu.[1]

Proses komunikasi pengetahuan bukanlah hal yang baru dalam peradaban manusia, setidaknya hal ini telah berlangsung sejak manusia awal diciptakan Tuhan. Al-Quran mengisahkan kepada kita bagaimana Sang Pencipta mengajarkan segala inti pengetahuan kepada manusia ciptaannya yang pertama, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya” (Q.S. al-Baqarah: 31).

Namun, perbincangan teori pengetahuan ini secara mencolok dan menjadi diskursus hangat, ditemukan jejaknya pada masa para filosof Yunani kuno, sebelum, sesaat maupun setelah kehidupan Socrates. Terlebih pada masa Socrates, berkembang suatu fenomena yang mengacaukan pengetahuan manusia dan meragukan kemampuan manusia untuk dapat memperoleh pengetahuan. Kelompok ini dikenal dan menyebut dirinya Sophos yang berarti orang-orang pintar, cendekiawan, atau ilmuan.

Jadi, epistemologi adalah bagian ilmu yang membahas pengetahuan manusia dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Karena itu dalam pembahasan epistemologi biasanya berhubungan dengan apa itu pengetahuan? Apa yang dapat kita ketahui? Bagaimana cara kita mengetahui sesuatu? Bagaimana relasi pengetahuan dengan kepercayaan, konsepsi, persepsi, intuisi, dan sebagainya? sampai persoalan apa yang menjadi ukuran kebenaran bagi pengetahuan tersebut?

URGENSI DAN MANFAAT EPISTEMOLOGI

Secara umum dipahami bahwa epistemologi menjadi landasan nalar filsafat, untuk memberikan keteguhan dan kekukuhannya bahwa manusia dapat memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Di bawah ini, dapat disebutkan beberapa nilai penting epistemologi, yaitu :

  • Epistemologi memberikan kepercayaan bahwa manusia mampu mencapai pengetahuan. Kita ketahui bahwa pada masa Yunani Kuno, ada kelompok sophis yang menggugat kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dan masa kini kelompok ini lebih dikenal dengan skeptisisme dan agnotisisme. Kelompok ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan, karena tidak ada fondasi yang pasti bagi pengetahuan kita. Untuk itulah, maka kajian epistemologi penting guna mengupas problematika ini sehingga kita dapat menyatakan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan dan mendapatkan kepastian.
  • Epistemologi memberikan manusia keyakinan yang kuat akan pandangan dunia (world view) dan ideologi yang dianutnya. Agama berisi pandangan dunia, pandangan dunia diperoleh melalui penalaran filsafat yang basisnya epistemologi. Karena itu, jika epistemologinya kokoh, maka kajian filsafatnya juga akan kokoh sehingga pandangan dunia dan ideologi, serta agama yang dianut pun akan memiliki kekokohan dan keutuhan.
  • Di dunia ini banyak aliran pemikiran yang berkembang dan terus disosialisasikan oleh para penganutnya. Karena setiap aliran pemikiran didapat dari penyimpulan pengetahuan, ini berarti pemikiran juga berurusan dengan epistemologi. Untuk itu, epistemologi akan memberikan kita kemampuan untuk memilih dan memilah pemikiran yang berkembang dan membanding-bandingkannya sehingga diketahui mana yang benar dan mana yang keliru.
  • Epistemologi mengukuhkan nilai dan kemampuan akal serta kebenaran dan kesahihan metodenya dalam mendapatkan pengetahuan yang benar. Bagi kalangan empirisme, indera merupakan jalan utama memperoleh pengetahuan. Adapun akal, tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang dunia, karena—seperti dikatakan David Hume—semua yang masuk akal tentang dunia adalah bersifat induktif, dan pemikiran induktif tidak menjamin kebenaran hasilnya. Jadi epistemologi akan mengkaji leshahihan metode akal atau pun metode empiris.
  • Salah satu hal yang sering kita lakukan adalah tindakan akumulatif pengetahuan. Artinya, manusia memiliki kemampuan untuk memperbanyak pengetahuan dari berbagai hal yang umumnya telah kita ketahui terlebih dahulu. Untuk itulah, epistemologi memberikan sarana bagi manusia untuk melipatgandakan pengetahuannya dari bahan-bahan dasar yang telah ada dalam mentalnya melalui teknik-teknik yang sistematis dan teratur.

HUBUNGAN EPISTEMOLOGI DENGAN FILSAFAT

Epistemologi memang memiliki nilai penting dalam bangunan pengetahuan manusia, namun demikian, dalam studi filsafat, epistemologi hanya menjadi landasan sekunder. Artinya, pada hakikatnya filsafat pertama hanya ‘membutuhkan’ prinsip-prinsip swabukti (self evident) yang terkandung dalam logika dan epistemologi. Karenanya, ia sebagai penggugah kesadaran pada kebenaran yang diperoleh akal tanpa pembuktian, sehingga keragu-raguan yang menyelimuti manusia menjadi sirna. Hal ini karena, penolakan terhadap argumentasi rasional atau kemampuan akal tidak lain merupakan pembuktian kemampuan argumentasi akal itu sendiri. Begitu pula, baik yang menerima maupun menolak kemampuan akal, yang sadar maupun tidak, pada dasarnya telah menggunakan prinsip-prinsip akal, logika, atau epistemologi untuk berargumentasi dan mengembangkan pengetahuannya.[2]

Seperti diuraikan sebelumnya bahwa filsafat pada dasarnya menyelidiki wujud (eksistensi). Akan tetapi, penyelidikan tersebut tidak akan bernilai sebelum kita mengukuhkan persepsi dan metode intelektual yang digunakan filsafat. Artinya sebelum kita membuktikan bahwa akal yang mejadi prosedur penelitian filsafat bernilai benar dan pasti, maka capaian-capaian filsafat tentang ontologi akan kehilangan nilainya. Dan epistemologi bertugas membuktikan kemampuan akal dan kebenaran metode rasional yang digunakan filsafat tersebut. Oleh karena itu, epistemologi dan filsafat memiliki hubungan erat yang tak terpisahkan. Karena filsafat membutuhkan prinsip-prinsip swabukti yang terkandung dalam epistemologi sebagai penggugah kesadaran dan penghapus keraguan.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan hubungan epistemologi dan filsafat dalam dua hal, sebagai berikut :

  1. Premis-premis yang secara langsung dibutuhkan oleh filsafat sesungguhnya merupakan pernyataan-pernyataan yang terbukti dengan sendirinya (self efident; badihi) yang tidak memerlukan dalil baru. Semua diskusi yang dibicarakan mengenai hal ini, bukanlah sebagai pembuktian melainkan ulasan dan penjelasan saja yang menggugah perhatian kita pada kebenaran, disebabkan banyaknya kesalahpahaman yang terjadi dan keraguan yang disebarkan ditengah-tengah umat manusia.
  2. Kebutuhan filsafat pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi pada dasarnya untuk melipatgandakan pengetahuan, atau secara teknis disebut ‘penerapan pengetahuan untuk menambah pengetahuan’. Maknanya, banyak di antara manusia yang tidak menyadari penggunaan hukum-hukum logika dalam pembicaraan dan kesimpulannya sehari-hari.  Karena itu, pembahasan epistemologi, lebih sebagai kebutuhan untuk melakukan rekonfirmasi atau konfirmasi (kebenaran) hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengatur di atasnya.[3]

Dari kedua hubungan tersebut, terlihat bahwa epistemologi memperkuat eksistensi filsafat. Masalahnya, jika epistemologi, menjadi landasan pengetahuan manusia dan pencapaian nalar filsafat, lantas, apa pula yang mengukuhkan dan menjadi landasan epistemologi itu sendiri? Jawabnya adalah: bahwa epistemologi tidak perlu meminjam aksioma-aksioma luar untuk semua pokok bahasannya, karena semuanya dapat dijelaskan semata-mata dengan landasan-landasan dasar yang terbukti dengan sendirinya (self evident atau al-badihiyyat al-awwaliyah). Artinya, landasan epistemologi adalah epistemologi itu sendiri.

KEMUNGKINAN EPISTEMOLOGI : KRITIK PADA SOPHISME

Untuk membuktikan kemungkinan epistemologi, para filosof Muslim, melakukannya dengan dua tahap. Pertama, membuktikan epistemologi itu sendiri dengan serangkaian argumentasi, dan kedua, mengkritik atau membantah berbagai pandangan yang meragukan atau memustahilkan epistemologi. Kedua hal tersebut akan dideskripsikan di bawah ini.

Secara filosofis, pengetahuan adalah bersifat mungkin artinya manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan benar. Diantara argumentasi yang diajukan adalah :

  1. Pengetahuan bersifat aksiomatik (badihi), karenanya semua orang yang berakal sehat pasti merasakannya. Salah satu alasan atas mungkinnya pengetahuan adalah bahwa ‘semua yang meragukan segala sesuatu tidak akan dapat meragukan keberadaan dirinya sendiri, keberadaan keraguan yang sedang dialami dirinya, maupun keberadaan berbagai kemampuan persepsi, seperti kemampuan melihat, mendengar, keberadaan bentuk-bentuk mental, dan keadaan-keadaan jiwa’.
  2. Pengetahuan secara inheren bersifat positif, karenanya tidak mungkin dinegasikan atau ditolak. Yang mungkin diragukan adalah kebenaran pengetahuan yang diperoleh seseorang.  Sebab, penolakan pada pengetahuan akan kembali pada pengetahuan itu sendiri. Misalnya, klaim “manusia tidak mungkin memperoleh ilmu” yang dilontarkan kalangan sophis adalah klaim yang batil (salah), karena terjadi kontradiksi dalam ungkapanya sendiri. Hal ini karena, statemen “manusia tidak mungkin memperoleh ilmu” adalah bagian daripada ilmu, atau yang membuktikan adanya pengetahuan yang dihasilkan. Jadi, penolakan kaum sophis pada epistemologi, kembali pada pengukuhan epistemologi itu sendiri.

Namun, sebagian kelompok ada yang menolak hal ini yaitu kelompok sophisme, skeptisisme, dan agnostisisme, yang meragukan akan kemungkinan memperoleh pengetahuan karena meragukan alat-alat yang digunakan untuk dapat memperoleh pengetahuan. Tokohnya diantaranya Protagoras dari Abdera, Gorgias, Prodicius, Phirho, dan lainnya. Adapun orang yang secara mutlak mengingkari pengetahuan dapat dikatakan sedang menderita was-was mental yang akut (sejenis penyakit jiwa) karenanya mesti disembuhkan, atau sedang berniat buruk karenanya mesti diingatkan. Orang seperti ini tidak membutuhkan bukti tetapi butuh terapi.

Diceritakan, Ibnu Sina pernah menyarankan untuk memukul orang yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak mungkin diperoleh. Hal itu dilakukan untuk meyakinkan bahwa orang yang dipukul mengetahui akan adanya orang yang memukulnya, adanya dirinya, atau juga adanya rasa sakit yang dirasakannya. Dan semua itu ia ketahui dengan pasti. Allamah Misbah Yazdi meyebutkan :

“semua orang yang berakal percaya dirinya telah atau dapat mengetahui sesuatu. Karenanya, dia berusaha mencari informasi menyangkut kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan hidupnya. Hal ini terbukti dengan munculnya berbagai cabang ilmu dan filsafat. Dengan demikian, orang yang tidak termakan oleh keragu-raguan mustahil dapat menyangkal atau meragukan kemungkinan dan keaktualan ilmu pengetahuan. Hal yang terbuka untuk dikaji dan layak diperselisihkan ialah menyangkut identifikasi medan pengetahuan, penentuan sarana-sarana mencapai pengetahuan pasti (al-ilm al-yaqini), metode untuk membedakan pemikiran yang benar dan yang salah, dan lain-lain”.[4]

Umumnya, kita dapat menemukan tiga bagian kritikan yang diajukan para sophis dan skeptis, baik klasik maupun modern, yaitu :

  • Kritik ontologis yakni kritik yang berhubungan dengan wujud atau eksistensi.
  • Kritik epistemologis yakni kritik yang berhubungan dengan perolehan ilmu pengetahuan.
  • Kritik metodologis atau bahasa yakni kritik yang berhubungan dengan transfer ilmu dan komunikasi.

Ketiga kritik di atas tersimpul dalam satu pernyataan Gorgias, “Tidak ada yang mewujud. Kalaupun ada yang maujud, ia tidak dapat diketahui. Dan kalaupun dapat diketahui, ia tidak dapat dikomunikasikan.”

Secara jeli dan cermat, para filosof muslim telah membantah pandangan-pandangan kaum sophis dan skeptis tersebut sehingga tidak ada peluang baginya untuk mengaburkan pandangan kita dari kebenaran ilmu pengetahuan. Di antara bantahan-bantahan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut :

  1. Keberadaan (eksistensi; wujud) adalah suatu yang terbukti dengan sendirinya dan dapat dengan mudah secara langsung diketahui oleh setiap orang yang berakal.
  2. Pengingkaran terhadap wujud atau eksistensi, secara tidak langsung merupakan pengakuan tersembunyi akan keberadaan eksistensi itu sendiri. Sebab, setiap orang merasakan adanya kebutuhannya pada suatu objek lain dalam hidupnya, seperti saat lapar maka ia membutuhkan makanan. Ini berarti, ia merasa dirinya ada dan objek selainnya juga memiliki keberadaan.
  3. Setiap bantahan yang dilakukan oleh kaum sophis dan skeptis adalah untuk membenarkan pendapat mereka. Dengan demikian mereka sedang merumuskan pengetahuan, penalaran, argumentasi dan kebenaran.
  4. Pendapat kaum sophis yang mengajukan kekeliruan persepsi inderawi dan intelektual merupakan pengetahuan itu sendiri dan pengakuan akan realitas yang keliru dipahami. Maksudnya, tatkala kaum sophis mengatakan bahwa di suatu tempat indera dan akal melakukan kekeliruan, kemudian dengan pasti mereka meyakini bahwa indera atau akal tadi melakukan kekeliruan, maka hal ini sama dengan sebuah pengetahuan, yaitu dapat dirumuskan dengan ungkapan, “Saya (kaum sophis) mengetahui bahwa indera dan akal telah melakukan kekeliruan”. Dengan ungkapan ini berarti, pada dasarnya ia telah mencapai hakikat dan pengetahuan.
  5. Statemen relativisme pada kebenaran yang berbunyi bahwa ‘semua kebenaran itu relatif’ adalah statemen yang kontradiksi pada dirinya sendiri.
  6. Di dalam bahasa juga terdapat aturan-aturan yang harus di jaga oleh penggunanya. Bila aturan itu tidak diindahkan, maka akan terjadi kesalahpahaman.
  7. Para sophis dan skeptis juga menyampaikan pesan-pesan dan pendapat-pendapat mereka melalui bahasa dan komunikasi apapun bentuknya.
  8. Realitas, kenyataan, dan eksistensi tidak dapat dipengaruhi atau di ubah hanya dengan mengubah bahasa.

Jadi, peluang manusia untuk dapat mengetahui sesuatu dan kebenarannya adalah hal yang pasti. Bukankah Anda mengetahui diri Anda, tangan Anda, mata Anda, teman Anda, musuh Anda, dan tulisan yang sedang Anda baca saat ini. Jika bukti-bukti nyata yang sangat jelas seperti ini tidak juga diakui maka seperti disebutkan di atas orang seperti ini secara kejiwaan (psikologis) terganggu. Ia tidak membutuhkan bukti, tetapi ia membutuhkan terapi.

KESIMPULAN

Epistemologi adalah bagian dari kajian filosofis yang membahas pengetahuan manusia dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Pembahasan epistemologi ini penting, dikarenakan menjadi landasan bagi pengkajian isu-isu filsafat yang mendasar dalam ontologi, karena epistemologi memberikan kekukuhan dan keutuhan metode rasional filsafat. Tanpa adanya bagunan keyakinan pada kemampuan pengetahuan manusia, maka semua pembahasan filsafat dianggap tak bermakna, seperti halnya pandangan kaum sophisme, skeptisisme, atau relativisme yang telah meracuni pemikiran manusia.


[1] Dagobert D. Runs, Dictionary of Philosophy (New Jersey: Adam’s & Co, 1971), hlm. 94. Lihat juga Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1976), hlm. 212

[2] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 85-86.

[3] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 85-86.

[4] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 86.

Iklan
%d blogger menyukai ini: