NILAI KEBENARAN


KUliah 8

MAKNA KEBENARAN

Salah satu isu krusial dikalangan para filosof dan pemikir dari dulu hingga saat ini adalah problem kebenaran dalam pengetahuan manusia. Persoalan ini bisa dikatakan sebagai problem utama epistemologi, artinya jika kebenaran tidak dikukuhkan maka seluruh bangunan pengetahuan manusia akan kehilangan maknanya.

Ada kelompok yang memandang kebenaran hanya dari sudut pandang dirinya saja, di sisi lain kita temui pula, sebagian kelompok yang mencoba pula mengeliminir kebenaran menjadi milik semua orang bahkan sampai pada tingkat merelativitaskan kebenaran, atau bahkan menolak kemungkinan benar pada susunan pengetahuan manusia. Kelompok seperti ini dahulu dikenal dengan sophis atau sekarang dengan nama skeptis. Karenanya, diperlukan kajian yang serius untuk menjelaskan nilai kebenaran secara lebih detil. Namun pada kesempatan ini hanya akan menguraikan secara sederhana hal-hal penting tentang kebenaran tersebut.

Jika kita cermati dari uraian-uraian sebelum ini bahwa ilmu hudhuri terjamin kebenaranya, sedangkan ilmu hushuli mengandung dualisme: kebenaran dan kesalahan. Karena itu problem kebenaran hanya berlaku dalam ilmu hushuli. Hal itu karena ilmu hushuli bersifat korespondensi, yang mana pengetahuan subjek didapat melalui gambaran objek dan bukan objek itu sendiri. Persoalannya, apa yang menjamin bahwa gambaran objek itu berkorespondensi dengan objek eksternal sehingga subjek mengetahui objek eksternal dengan sesungguhnya?

Dari persoalan mendasar di atas, kita dapat menurunkan makna kebenaran yang sesungguhnya dalam konteks pengetahuan: Kebenaran adalah kesesuaian proposisi rasional (akal) atau forma mental dengan realitas (objek eksternal).[1]

SISI ONTOLOGIS KEBENARAN

Kebenaran merupakan sifat kemestian bagi pengetahuan baik dari sisi kesesuaiannya dengan realita (kenyataan) dan nafs al-amr[2] dengan kata lain kenyataan yang sebenarnya adalah kebenaran suatu predikat terhadap subjeknya baik kebenaran itu sesuai dengan ukuran keberadaan yang diluar akal (eksternal) atau dalam akal (internal).

Dari penjelasan di atas diketahui ada wujud dalam akal (eksistensi internal) dan ada wujud di luar akal (eksistensi eksternal). Masalahnya, adakah kebenaran itu?

Persoalan ini adalah persoalan yang cukup pelik dan sulit sehingga tak jarang para ahli dan pemikir terjebak dalam permainannya tanpa pernah menyelesaikannya. Karenanya diperlukan kesabaran dan ketenangan dalam memahaminya.

Dalam pandangan filsafat, kebenaran adalah eksis (keberadaan nyata) karena bersumber dari keberadaan (realitas), sedangkan kesalahan adalah tidak eksis (tidak memiliki keberadaan nyata) karena bersumber dari ketiadaan. Artinya, salah satu ciri umum dari ‘yang ada’ ialah bahwa ‘yang ada’ itu benar. Begitu pula ‘yang ada’ dapat dipahami dan merupakan salah satu seginya. Dalam hubungan dengan intelek atau akal, ‘yang ada’ menjelma menjadi kebenaran. Karena itu, kebenaran merupakan atribut atau sifat dari ‘yang ada’ dalam kaitannya dengan pemahaman. Secara ontologis, sesuatu menjadi semakin sempurna kalau sesuatu itu dimungkinkan untuk diketahui. Hanya yang tiada yang tidak mempunyai hubungan dengan kebenaran. Jadi, dasar dari kebenaran ialah ‘yang ada’ atau ‘yang bereksistensi’. Kebenaran hanya mungkin terjadi kalau sesuatu itu ada, jika sesuatu itu tidak ada, kita tidak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu benar.[3]

Salah satu hal yang dapat dijadikan dalil tentang kebenaran itu ada dan dapat diperoleh adalah bahwa tidak mungkinnya klaim “kebenaran itu tidak ada” (relatifitas kebenaran). Sebab klaim ini menentang dirinya sendiri, artinya klaim “tidak adanya kebenaran” menunjukkan “kebenaran itu ada”. Minimal, kebenaran pernyataannya tersebut, karena jika tidak, maka pernyataannya menjadi tak bermakna.

Adapun tentang masalah kemampuan untuk menggapai kebenaran yang nyata dan absolut, maka hal itu bukanlah kemustahilan, melainkan kemestian pengetahuan. Karena itu ungkapan yang menjelaskan bahwa “tidak ada kebenaran” atau “semua kebenaran itu relatif” adalah ungkapan yang tidak valid. Karena ungkapan itu, diterima atau tidak akan tetap menunjukkan adanya kebenaran absolut. Yaitu jika ungkapan itu diterima, berarti telah ada kebenaran mutlak, yakni kebenaran ungkapan itu. Sedangkan jika ditolak dan salah itu berarti menunjukkan pemahaman sebaliknya yakni adanya kebenaran mutlak– sebagai lawan dari kerelatifan.

NERACA KEBENARAN

Berdasarkan alat dan sumber pengetahuan maka nilai kebenaran pengetahuan (neraca kebenaran) juga tergantung pada alat memperoleh pengetahuan tersebut, baik indera, akal, maupun hati (intuisi). Dalam hal inilah, para filosof Muslim menyimpulkan neraca kebanaran dalam satu kaedah ringkas, yakni: ‘neraca kebenaran epistemologi adalah epistemologi itu sendiri’.[4]

Akan tetapi perlu diperhatikan, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu hudhuri menjadi landasan bagi ilmu hushuli. Ini berarti, capaian-capaian pengetahuan manusia melalui ilmu hushuli dapat dibandingkan dengan capaian ilmu hudhuri yang telah terjamin kebenarannya, untuk dijadikan patokan dan standar dalam menilai kebenaran atau hasil korespondensi subjek dengan objek eksternal dalam ilmu hushuli. Dengan demikian, kita memiliki tahapan dalam menentukan kebenaran :

  1. Melalui landasan ilmu hudhuri. Artinya, Ilmu hudhuri yang menjamin kebenaran bersambung dengan proposisi-proposisi swabukti primer, yang kemudian dengan proposisi itu, kita dapat mengenali dan menilai proposisi-proposisi teoritis lainnya, termasuk proposisi-proposisi inderawi dan hasil pengalaman.
  2. Melalui perbandingan antara pelbagai subjek dan predikat dalam proposisi. Hal ini karena konsep predikat dalam proposisi diturunkan dari analisis terhadap konsep subjek. Dalam hal ini, maka proposisi-proposisi yang tidak swabukti mesti dinilai melalui patokan-patokan logika, yaitu: ‘jika suatu proposisi diperoleh lewat aturan-aturan logika tentang penyimpulan (inference), maka ia benar, jika tidak, maka ia salah’.[5]

Dalam hal ini, mungkin ada masalah yang diajukan kalangan empirisme yaitu: karena defenisi kebenaran adalah kesesuaian dengan realitas, maka kekeliruan dan kebenaran hanya berlaku pada proposisi-proposisi yang dapat dibandingkan dengan realitas luaran. Kita ketahui, proposisi-proposisi metafisika, sederhananya, dipandang tidak memiliki realitas eksternal yang bisa dijadikan patokan kesesuaian. Karena tu, seluruh proposisi metafisika tidak bisa dianggap benar ataupun salah, tetapi mesti dianggap absurd dan tak bermakna.

Keraguan seperti ini, menurut Misbah Yazdi berasal dari asumsi bahwa realitas objektif eksternal setara dengan realitas bendawi (yang terindera). Untuk itu, menjawab keraguan ini diajukan dua tesis sebagai berikut: Pertama, realitas objektif eksternal tidaklah terbatas pada realitas bendawi, tetapi juga mencakup realitas mujarrad. Kedua, realitas yang menjadi tumpuan kesesuaian seluruh proposisi adalah acuan mutlak yang diungkapkannya—tidak mesti bersifat bendawi. Yang dimaksud realitas eksternal adalah sesuatu yang melatar belakangi dan berada di balik (pemunculan) konsep, meskipun realitas eksternalnya berada dalam benak atau bersifat kejiwaan, seperti halnya proposisi-proposisi logika. Hubungan antara tingkatan benak yang mewadahi seluruh acuan proposisi ini dan tingkatan benak yang meninjau mereka adalah sama dengan hubungan antara sesuatu di luar benak dan benak itu sendiri. [6] Ketiga, ada perbedaan antara konsep dan bukti. Konsep adalah makna umum yang kita pahami secara mental, seperti konsep tentang manusia, sedangkan bukti adalah hal yang padanya sebuah konsep tertentu dapat diterapkan, misalnya sosok lahir manusia seperti Candiki sebagai bukti. Pada dasarnya, fungsi akal adalah memahami konsep, bukan menunjukkan bukti. Bukti harus ditemukan melalui pengalaman indera atau pengetahuan intuitif (visoner). Karenanya, kesalahan orang yang menolak pengetahuan tentang hal-hal yang metafisik (tidak terindera) seperti malaikat atau Tuhan, disebabkan kekeliruan dalam membedakan konsep dengan bukti. Artinya, Tuhan misalnya, kita mengetahui konsepnya secara benar, meskipun kita tidak dapat menunjukkan buktinya.[7]

Oleh sebab itu, kriteria umum kebenaran dan kesalahan proposisi adalah kesesuaian atau tidak sesuainya dengan apa yang ada di balik konsep-konsepnya. Dengan demikian untuk mengenali kebenaran dan kesalahan pengetahuan-pengetahuan empiris yang menggunakan indera kita mesti membandingkannya dengan realitas bendawi yang terpaut dengannya. Misalnya, untuk menemukan kebenaran proposisi “besi memuai bila dipanaskan”, maka kita mesti memanaskan besi dan mengamati perbedaan ukuran yang terjadi (pemuaian). Akan tetapi, dalam hal proposisi-proposisi akal (logika), maka kita harus menilainya melalui konsep-konsep mental yang terkait dengannya. Untuk mengenali kebenaran dan kesalahan proposisi-proposisi filsafat, kita mesti memperhatikan dan mempertimbangkan hubungan antara konsep dalam benak (akal) dan objeknya. Proposisi-proposisi filsafat dikatakan benar ketika akal bisa sedemikian rupa mengabstraksikan pelbagai konsep dari acuan-acuan objektifnya, baik acuan-acuan objektif itu bersifat bendawi (materi) atau mujarrad (immateri). Proses ini terlaksana secara langsung dalam kasusu proposisi-proposisi yang berasal dari indera batin, dan dalam kasus proposisi-proposisi lainnya, ia terlaksana dengan satu atau dua perantaraan.[8]

Satu hal lagi yang terpenting adalah gagasan nafs al-amr yang dalam nalar filsafat Islam, telah melahirkan banyak uraian-uraian dan anlisis yang teoritis dari para filosof Muslim. Nafs al-amr secara harfiah berarti berarti ‘yang menerangkan kesesuaian perkaranya sendiri’ (the case itself).  Dalam hal kebenaran dan kesalahan proposisi, nafs al-amr bukan saja merujuk pada realitas luaran, tetapi juga pembuktian akal (intellectual demonstration) atas objek-objek yang dirujuk oleh proposisi yang berbeda dalam tiap-tiap kasus. Dalam beberapa kasus, seperti kasus proposisi-proposisi logika, wadah pembuktian itu adalah tingkatan tertentu dalam benak. Dan pada kasus-kasus lain, seperti dalam kasus objek yang dirujuk oleh proposisi ‘kemustahilan bersatunya dua lawan kontradiktif’ (contradictiory), wadah pembuktian itu adalah asumsi pembuktian eksternal.

Begitu pula dengan ‘proposisi-proposisi hakiki’  (al-qadhaya al-haqiqiyah), yaitu proposisi yang seluruh subjeknya tidak memiliki contoh-contoh luaran, tetapi bila subjek itu diasumsikan mewujud, predikat dalam proposisi hakiki itu pastilah berlaku padanya. Kriteria kebenaran dalam ‘proposisi hakiki’ adalah kesesuaiannya dengan perkaranya atau kasusnya sendiri (nafs al-amr), lantaran seluruh subjeknya tidak memiliki contoh-contoh yang mewujud di alam luaran untuk bias kita lihat kesesuaian mereka dengan kandungan proposisi. Demikian pula dengan proposisi-proposisi yang terbuat dari objek-objek kawruhan sekunder, seperti proposisi-proposisi logika atau proposisi-proposisi yang mengandung penetapan hukum bagi hal-ihwal yang tiada atau mustahil. Jadi, kriteria kebenaran dalam dua jenis proposisi tersebut adalah kesesuaiannya dengan ‘hal atau perkaranya sendiri’ (nafs al-amr).[9]

Untuk itu, beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengulas kebenaran, yaitu :

  1. Prinsip-prinsip rasional niscaya (swaobjektif atau badihi) adalah dasar umum bagi semua kebenaran filsafat dan ilmiah.
  2. Nilai teori-teori dan hasil-hasil ilmiah dalam bidang eksperimental itu bergantung pada sejauh mana akurasi teori-teori dan hasil-hasil itu dalam menerapkan prinsip-prinsip niscaya (badihi) tersebut pada totalitas data empirikal yang terhimpun.
  3. Dalam bidang-bidang non-eksperimental, seperti dalam persoalan metafisika, teori filsafat mendasarkan dirinya pada penerapan prinsip-prinsip niscaya (badihi) tersebut pada bidang-bidang itu. Aplikasinya terjadi melalui proses berpikir dan penyimpulan rasional murni yang terlepas dari eksperimen.
  4. Pengetahuan tashdiqi (afirmatif/penilaian) adalah yang mengungkapakan objektivitas konsepsi dan adanya suatu realitas objektif konsep yang ada di dalam benak kita. Pengetahuan tashdiqi itu bersifat pasti karena ia bertumpu pada prinsip-prinsip niscaya.[10]

Demikian pula, perlu ditegaskan bahwa setiap hukum ilmiah yang benar mengandung kebenaran-kebenaran yang sama dengan kasus-kasus yang diterapkan kepadanya. Jika eksperimen menunjukkan kesalahannya dalam beberapa kasus, maka hal itu bukanlah menunjukkan bahwa kebenaran itu nisbi, relatif, atau bersatunya kebenaran dan kesalahan. Akan tetapi, yang seharusnya dikatakan adalah bahwa kandungan hukum itu (kebenaran) sesuai dengan realitas dalam sebagian kasus-kasus tertentu, dan tidak sesuai dengan ralitas pada sebagian kasus lainnya. Artinya, kebenaran memiliki tempat tersendiri dan tempat itu adalah kebenaran mutlak. Karena itu, Pertama, kebenaran adalah mutlak dan tidak progressif meskipun realitas objektif senantiasa berkembang dan bergerak. Kedua, kebenaran itu berbeda total dengan kesalahan, dimana satu proposisi sederhana tidak mungkin benar sekaligus salah. [11]

JENIS-JENIS KEBENARAN

Secara umum dapat dikatakan bahwa, dalam perolehan pengetahuan, nilai kebenarannya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Kebenaran mutlak/absolut merupakan kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh akal kita. Ada 2 jenis yaitu:
    1. Kebenaran absolut Karena dirinya/sumbernya absolut seperti Allah dan orang yang maksum.
    2. Kebenaran absolut yang keluar dari sumber yang tidak absolute (tidak maksum), maka kebenaran seperti ini mesti bersyarat yakni harus didukung oleh argumentasi yang jelas dan akurat serta kuat yang tidak dapat ditolak. Dalam hal yang bertentangan (kontradiksi) misalnya, pasti salah satunya benar secara mutlak, sebab dua hal yang kontradiksi tidak bisa keduanya benar atau keduanya salah.
  2. Kebenaran tidak mutlak (relative) yaitu kebenaran yang belum tentu benar tetapi juga belum tentu salah. Memiliki kemungkinan salah tetapi bukan mesti salah, dan memiliki kemungkinan benar, tetapi tidak mesti benar. Salah dan benar dalam urusan relatif ini bisa diakui setelah adanya argumentasi. Relatif ini ada dua yakni:
    1. Horizontal (sejajar) yakni hal yang saling berlainan (tadhad) yaitu hal yang tidak mesti salah atau benar, akan tetapi tidak bisa semuanya dibenarkan. Yang mungkin terjadi adalah bahwa yang benar adalah satu atau semuanya salah. Dalam hal ini kita dibolehkan untuk mengutarakan pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain dengan argumentasi kita, akan tetapi dilarang memaksakan pendapat kita kepada orang lain dan meghina pendapat orang lain.
    2. Vertikal (ke atas) yaitu ragam kebenaran dengan tingkatan yang berbeda (tadhakhul). Dalam hal ini semua bisa dianggap benar hanya saja memiliki tingkat kedalaman argumentasi yang berbeda (gradasi kebenaran) dengan perbandingan universal dan partikular. Misalnya, kebenaran pengetahuan, filsafat dan irfan.

Untuk lebih jelasnya, kebenaran berhubungan dengan proposisi, karenanya penting untuk merujuk pembahasan logika tentang persoalan ini. Dalam pembahasan logika, proposisi (qadhiyah) yang paling mendasar adalah proposisi kontradiksi (tanaqudh), yaitu hukum yang memustahilkan bertemunya dua hal yang bertentangan (istihalah ijtima’ al-naqidhain). Lebih konkritnya, secara umum, terdapat empat macam hubungan proposisi yang berurusan dengan jenis penentuan kebenaran, yaitu:

  1. 1. Tanaqudh (kontradiktif; bertentangan), yaitu dua proposisi yang subjek dan predikatnya sama, tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda, yakni yang satu kulliyah mujibah (universal afirmatif) dan yang lainnya juz’iyyah salibah (partikular negatif). Misalnya, “Semua manusia hewan” (universal afirmatif) dengan “Sebagian manusia bukan hewan” (partikular negatif).

Hukum dua proposisi yang kontradiktif adalah ‘jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lainnya pasti salah; demikian pula jika yang satu salah, maka yang lainnya pasti benar. Artinya tidak mungkin keduanya benar atau keduanya salah. Inilah yang biasa dikenal dengan kaedah ‘istihalah ijtima’ alnaqidhain’ (mustahilnya bergabung dua hal yang kontradiktif).

  1. 2. Tadhad (kontrariatif; berlainan) adalah dua proposisi yang sama kuantitasnya (keduanya universal), tetapi yang satu afirmatif dan yang lain negatif. Misalnya, “Semua manusia dapat berpikir” (universal afirmatif) dengan “Tidak satupun dari manusia dapat berpikir” (universal negatif).

Hukum dua proposisi kontrariatif adalah ‘jika salah satu dari dua proposisi itu benar, maka yang lain pasti salah, tetapi, jika yang satu salah, maka yang lain belum tentu benar’. Artinya keduanya tidak mungkin benar, tetapi keduanya mungkin untuk salah.

  1. 3. Dukhul tahta tadhad (sub-kontrariatif) adalah dua proposisi yang sama kuantitasnya (keduanya partikular), tetapi yang satu afirmatif dan yang lain negatif. Misalnya: “Sebagian manusia pintar” (partikular afirmatif) dengan “Sebagian manusia tidak pintar” (partikular negatif).

Hukum dua proposisi sub-kontrariatif adalah ‘jika salah satu dari dua qadhiyyah itu salah, maka yang lain pasti benar, tetapi, jika yang satu benar, maka yang lain belum tentu salah’. Dengan kata lain, kedua proposisi itu tidak mungkin salah, tetapi mungkin saja keduanya benar.

  1. 4. Tadakhul adalah dua proposisi yang sama kualitasnya (keduanya sama-sama afirmatif atau sama-sama negatif) tetapi kuantitasnya berbeda (yang satu universal sedang yang lainnya partikular). Misalnya: “Semua manusia akan mati” (universal afirmatif) dengan “Sebagian manusia akan mati” (partikular afirmatif); atau “Tidak satupun dari manusia akan kekal” (universal negatif) dengan “Sebagian manusia tidak kekal” (partikular negatif).

Hukum dua proposisi interferentif adalah ‘jika proposisi universal benar, maka proposisi partikular pasti benar; tetapi, jika proposisi partikular benar, maka proposisi universal belum tentu benar’. Misalnya: jika “setiap A adalah B” (proposisi universal), maka pasti “sebagian A pasti B” (proposisi partikular). Tetapi jika “sebagian A adalah B” (proposisi partikular), maka belum pasti “setiap A adalah B” (proposisi universal).

Dari keempat hubungan di atas, kontradiksi merupakan proposisi yang menjadi dasar semua pembahasan logika dan filsafat. Para ahli logika dan filsafat menyebutkan bahwa agar dua hal dikatakan kontradiksi, maka harus memiliki syarat penting yaitu “adanya kesamaan dalam kedua proposisi yang bertentangan” tersebut. Kesamaan itu terletak pada:

  1. Kesamaan subjek (mawdhu’)
  2. Kesamaan predikat (mahmul)
  3. Kesamaan tempat (makan)
  4. Kesamaan waktu (zaman)
  5. Kesamaan kondisi (syart)
  6. Kesamaan korelasi (idhafah)
  7. Kesamaan pada kuantitas: partikular atau universal (juz’i dan kulli)
  8. Kesamaan dalam potensi dan aktual (quwwah dan fi’li).

Apabila syarat-sayarat di atas tidak ada pada proposisi maka tidak terjadi kontradiksi.

Dengan uraian-uraian di atas maka menjadi jelaslah bahwa epistemologi memiliki kekukuhan argumentasi dan keutuhan kebenaran. Dengannya filsafat menjadi dimensi penting untuk membentuk pandangan dunia dan ideologi yang mapan sebagai basis pemikiran agama.

KRITIK TERHADAP BEBERAPA PANDANGAN TENTANG KEBENARAN

Uraian tentang kebenaran ini, kurang lengkap rasanya jika tidak menguraikan pandangan-pandangan lain yang juga memiliki bobot ilmiah untuk ditelisik sebagai bahan perbandingan. Di bawah ini, penulis berusaha memberikan studi perbandingan atas makna dan neraca kebenaran yang disampaikan oleh beberapa pandangan, dan akan coba mengkritisinya secara sederhana, sesuai kebutuhan. Beberapa pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pragmatisme. Kalangan pragmatis mendefenisikan kebenaran sebagai pemikiran yang berguna bagi kehidupan praktis manusia. Pemaknaan kaum pragmatis ini merupakan pemaknaan yang popular, padahal mengandung kekeliruan yang akut. Makna ini tidak mungkin menyelesaikan problem kebenaran, bahkan menghasilkan problem baru, sebab kemanfaatan atau kegunaan itu sendiri memerlukan bukti kebenaran. Artinya apa yang menjadi jaminan bahwa guna itu adalah benar? Kekeliruan makna dan neraca pragmatis ini karena tidak dapat membedakan antara kajian teoritis mental dengan kegunaan praktis dari aktivitas itu. Ini berarti, pragmatisme tidak berurusan dengan epistemologi dan neraca kebenaran, melainkan lebih pada hasil dari pengetahuan. Dalam doktrin ini terdapat kekacauan yang jelas antara kebenaran itu sendiri dan tujuan pokok usaha mendapatkan kebenaran. Tujuan mendapatkan kebenaran adalah untuk memakainya dalam lapangan praktis dan mendapatkan penerangan dengan kebenaran itu dalam pengalaman-pengalaman kehidupan. Tetapi, ini bukan arti kebenaran itu sendiri. Selain itu ada beberapa tanggapan lainnya. Pertama, memberikan makna praktis murni kepada kebenaran, dan melepaskannya dari kualitas pengungkapan apa yang ada dan yang sebelumnya adalah mengakui mutlak skeptisisme filosofis. Kedua, adakah hak kita untuk mempertanyakan kegunaan praktis ini yang dianggap pragmatisme sebagai kriteria kebenaran dan kepalsuan. Apakah itu kegunaan individu tertentu yang berpikir atau kegunaan kelompok? Apa batas-batasnya? Ketiga, fakta adanya maslahat manusiawi dalam benarnya ide tertentu tidak cukup untuk membenarkan ide ini.[12]

  1. Koherensi. Ada defenisi koherensi yang mengartikan kebenaran adalah kesesuaian pengetahuan yang belakangan dengan pengetahuan sebelumnya. Artinya, pengetahuan yang ada pada seseorang mestilah sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Pemaknaan ini juga tidak dapat dipegang karena tidak menyelesaikan masalah utama kebenaran, yaitu keseuaian dengan realitas. Artinya, pengetahuan yang kita peroleh saat ini mesti disesuaikan dengan pengetahuan lainnya, masalahnya apa yang menjamin kebenaran pengetahuan lain yang sebelumnya itu? Jika dikatakan, yang menjaminnya adalah pengetahuan-pengetahuan lainnya yang sebelumnya dan terus berlangsung dengan tak terhingga (tasalsul), maka hal ini tidak dapat dibenarkan, karena tasalsul adalah kemustahilan. Meskipun begitu, koherensi yang berlandaskan pada epistemologi hudhuri dapat menjadi patokan kebenaran dan memperkaya pengetahuan setelah melalui konsep swabukti.

  1. Konvensi. Ada yang mendefenisikan kebenaran sebagai perkara yang disepakati semua orang. Pemaknaan ini juga mengalami kerancuan yang fatal, karena tetap tidak menyelesaikan problem fundamental kebenaran, yakni menemukan realitas yang sesungguhnya. Jika kebenaran adalah kesepakatan bersama, apa yang menjamin kesepakatan itu sesuai dengan realitas? Terlebih lagi, bagaimana jika terjadi perbedaan dan tidak ditemukan kesepakatan, apa yang menjadi pilihan untuk menentukan kebenaran? Begitu pula, kebenaran tidaklah berhubungan dengan istilah ataupun kesepakatan yang kita buat, karena pengetahuan dan kebenaran, memiliki cirri-ciri yang esensial yang mampu menjelaskan realitas eksternal. Karena iru, jika ada sebuah pendapat yang diterima secara umum selama berabad-abad sehingga dianggap kebenaran, akan tetapi, pada suatu hari dibuktikan dengan akurat bahwa pendapat itu salah, maka bukanlah kebenaran mengalamai perubahan atau adanya dua kebenaran yaitu kebenaran yang lama dan kebenaran yang baru, melainkan bahwa kita telah mengikuti kesalahan selama berabad-abad tanpa kita sadari. [13] Karena itu, pernyataan lainnya bahwa ‘kebenaran adalah kesalahan yang belum terungkap’ juga tidak dapat diterima karena pernyataan ini kontradiksi dan berujung pada relativisme, sophisme, atau skeptisisme.[14]

  1. Empirisme. Kalangan empirisme memaknai kebenaran adalah pengetahuan yang dapat dialami secara inderawi. Pemaknaan ini keliru, karena, pertama, makna ini hanya berlaku pada benda-benda yang kasatmata dan perkara-perkara yang bisa dialami secara inderawi dan praktis. Masalah-masalah logika dan matematika murni tidak akan bisa dinilai dengan tolok ukur ini. Kedua, hasil pengamatan inderawi dan praktis mesti dipahami melalui ilmu hushuli. Seperti dijelaskan sebelumnya, ilmu hushuli merupakan pengetahuan yang relasinya dengan subjek bersifat korespondensi, sehingga pengetahuan manusia tentang objek-objek material tidaklah konkrit dan secara langsung, melainkan dengan perantaraan dan bersifat abstrak. Ini berarti, meskipun objek material kontak dengan indera, tetapi dalam pembentukan ide atau pengetahuan, tidaklah berdasarkan pada objek material itu, melainkan reperesentasi (gambaran) dari objek terebut yang dengan kreatifitas akal diubah menjadi objek internal yang bersifat abstrak. Jika demikian, maka problem awal kebenaran tidaklah terselesaikan, yaitu apa yang menjamin kebenaran korespondensi dalam ilmu hushuli tersebut? Ketiga, prinsip empirisme sendiri bukan merupakan prinsip yang didapat melalui pengalaman empiris, melainkan dari pengetahuan yang swabukti (non-empiris). Dengan demikian ia bertentangan dengan doktrinnya sendiri. Keempat, ada konsep-konsep yang tidak bisa dianalisis melalui empiris, seperti konsep matematika dan logika. Begitu pula dengan hal-hal yang non-material (tak terindera), di mana hal itu tidak bisa ditetapkan atau ditolak keberadaannya.[15]

KESIMPULAN

Nilai kebenaran merupakan problem paling mendasar dalam pengetahuan manusia. Hanya saja, masalah ini berurusan dengan ilmu hushuli, sebab hanya dalam ilmu hushuli persoalan kebenaran dan kesalahan mendapatkan tempatnya, sedangkan dalam ilmu hudhuri, tidak ada dualisme kebenaran dan kesalahan, disebabkan tidak adanya proses korespondensi dalam pengetahuan tersebut.

Secara umum, makna dan neraca kebenaran adalah kesesuaian proposisi atau forma mental dengan realitas eksternal. Pembahasan di atas, telah dengan jelas membuktikan bahwa manusia dapat memperoleh kebenaran secara pasti dan nyata, sehingga sophisme, skeptisisme, dan relativisme tidak mendapatkan tempat dalam sistem pemikiran Islam.


[1] Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam. (Bandung: Mizan, 2003), h. 145.

[2] Nafs al-amr memiliki banyak pemaknaan—selain realitas objektif— adalah alam ketetapan intelektual bagi obyek-obyek yang diungkap oleh proposisi. Ini berarti nafs al-amr adalah proposisi yang benar tetapi tidak memiliki sebagian atau keseluruhan eksistensi subjeknya pada realita, akan tetapi bila ia ada pada realita niscaya predikatnya dapat diterapkan padanya.

[3] Lorens Bagus. Metafisika. (Jakarta: Gramedia, 1991), h. 86-87.

[4] Murtadha Muthahhari, Mengenal Epistemologi. (Jakarta: lentera, 2001), h. 251.

[5] Perlu diketahui, kebenaran sempurna itu secara logis jika memenuhi dua syarat yaitu : benarnya isi premis yang digunakan (bahan silogisme) dan benarnya menggunakan aturan logika (bentuk silogisme), yang sering disebut dengan benarnya dalam bahan dan bentuk. Karena itu, jika sesorang telah dengan benar menerapkan aturan-aturan logika, namun kesimpulannya keliru, maka dapat dipastikan bahwa kesalahan silogisme terletak pada isi premis atau bahan silogisme.

[6] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 150-151.

[7] Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Filsafat Tauhid. (Bandung: Mizan, 2003), h. 116-119.

[8] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 150-151.

[9] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 151-152.

[10] Muhammad Baqir Shadr. Falsafatuna. (Bandung : Mizan, 1995), h. 109.

[11] Muhammad Baqir Shadr. Falsafatuna, h. 134-135.

[12] Lihat Muhammad Baqir Shadr, Falsafatuna, h.126-127.

[13] Murtadha Muthahhari, Mengenal, h. 242.

[14] Yang seharusnya pernyataan tersebut berbunyi ‘kebenaran adalah pengungkapan atas kesalahan. Hal ini karena kebenaran adalah kesesuaian dengan realitas, sedangkan kesalahan berarti ketidaksesuaian dengan realitas. Artinya, dengan mengungkapkan kesalahan, kita dapat menemukan kebenaran. Jadi, kebenaran adalah hasil atau konsekuensi dari pengungkapan atas kesalahan. Sedangkan ungkapan ‘kebenaran adalah kesalahan yang belum terungkap’, tidaklah menunjukkan hasil dari pengungkapan kesalahan, melainkan keterjebakan diri dengan menganggap kesalahan sebagai kebenaran. Inilah mengapa dikatakan bahwa ungkapan tersebut kontradiksi dan menghasilkan sophisme.

[15] Lihat Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 122-126, 130-131, 147; Muhammad Baqir Shadr, Falsafatuna, h. 41-44; Murtadha Muthahhari, Mengenal, h.261-267.

Iklan
%d blogger menyukai ini: