KLASSIFIKASI PENGETAHUAN


Kuliah 5

MAKNA KLASSIFIKASI PENGETAHUAN

Dimasa kuno, seorang ilmuwan atau filosof dipandang menguasai nyaris seluruh bidang keilmuan, baik teoritis maupun praktis. Umumnya hal itu dikarenakan kajian keilmuan yang masih dalam skala kecil yang terbatas. Akan tetapi, jika kita merujuk kondisi hari ini, maka bidang kajian keilmuas demikian luasnya, sehingga nyaris mustahil untuk dikuasai oleh seorang ilmuwan atau filosof. Karena itu diperlukan pemilahan secara sistematis untuk menentukan mana ilmu yang bersifat pengantar, ilmu sarana, dan ilmu yang benar-benar mengkaji suatu objek pengetahuan. Usaha pemilahan sistematis inilah yang dikenal dengan klassifikasi ilmu. Jadi, klassifikasi ilmu adalah pembagian atau pemilahan pengetahuan untuk menentukan jenis atau kelompok pengetahuan dengan berdasarkan pada tolok ukur tertentu.

Secara historis, klassifikasi ilmu bukanlah hal yang baru dalam sejarah pengetahuan manusia. Sejak zaman Yunani Kuno, zaman Kristen, zaman kejayaan Islam, abad pertengahan, ataupun abad modern, klassifikasi ilmu sudah dilakukan sesuai dengan kondisi dan perkembangan pengetahuan dalam setiap babakan zaman tersebut. Akan tetapi kebutuhan itu semakin kentara pada saat ini, sehingga berbagai standar atau tolok ukur ditetapkan untuk memilah pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan oleh olah pikir manusia sepanjang zaman.

URGENSI DAN MANFAAT KLASSIFIKASI ILMU

Pembagian dan klassifikasi ilmu penting dilakukan karena begitu luasnya spektrum pembahasan ilmu, sehingga ada yang saling mendukung dan ada yang saling menolak. Di sisi lain keterbatasan manusia untuk menguasai seluruh cabang ilmu dan ketergantungan pada bakat, hobi dan tendensi pribadi lainnya membuat seseorang ingin melakukan kajian terhadap pembahasan yang satu dan melupakan yang lainnya.

Dengan demikian, kita dapat menurunkan beberapa asumsi bagi pentingnya pengklassifikasian ilmu, yaitu :

  • Fakta umum menunjukkan bahwa memperoleh seluruh ilmu pengetahuan adalah kemustahilan bagi seseorang, dan kalaupun mungkin, tidak semua orang tertarik untuk melakukannya.
  • Bakat dan selera pribadi dalam mencari ilmu berbeda-beda pada setiap orang.
  • Adanya kaitan erat antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya serta bergantungnya perolehan satu ilmu pada ilmu lainnya.

Berdasarkan pada tiga asumsi di atas, maka para ahli memutuskan untuk melakukan pembagian/klassifikasi untuk mensistematisasikan pembahasan-pembahasan yang berkaitan, sehingga dapat ditentukan berbagai tipe ilmu pengetahuan. Manfaat yang diperoleh dari klassifikasi ilmu diantaranya :

  • Seorang yang berbakat dan berselera pada ilmu-ilmu tertentu, dapat menemukan ilmu tersebut dari beragam dan keluasan ilmu yang ada, sehingga jalan mencapai tujuannya lebih mudah.
  • Orang yang mau mengenal dan mengkaji ilmu pada bidang yang lain akan mudah memulai kajiannya dan menentukan awal pembahasan dan metode atau sarana yang dibutuhkan.[1]

Dengan demikian klassifikasi ilmu akan bermanfaat besar untuk mengapresiasi keinginan individual sekaligus sosial dalam upaya mendalami berbagai cabang ilmu yang dibutuhkan.

LANDASAN DAN TOLOK UKUR KLASSIFIKASI ILMU

Umumnya para filosof mengklassifikasikan ilmu seperti halnya klassifikasi filsafat yaitu: ilmu-ilmu teoritis dan ilmu-ilmu praktis. Al-Farabi dalam bukunya ihsa al-ulum telah melakukan klassifikasi ilmu sebagai berikut :

  1. Ilmu ketuhanan yang terdiri dari tiga bagian: yang membahas semua wujud dan yang terkait dengannya, yang membahas tentang prinsip-prinsip argumentasi (seperti ilmu mantik dan matematika), yang membahas semua wujud yang tidak berupa benda-benda ataupun berada dalam benda-benda.
  2. Ilmu-ilmu praktis seperti ilmu politik yang meneliti berbagai bentuk tindakan dan cara hidup, ilmu fiqih yaitu ilmu yang membahas tentang penyimpulan syariat dan pelaksanaanya, ilmu kalam yang menkaji tentang dasar-dasar agama dalam hal teoritis maupun praktisnya.[2]

Begitu pula , Ibnu Khaldun—walaupun sedikit berbeda— yang membagi ilmu secara umum menjadi dua bagian yaitu :

  1. Ilmu-ilmu naqli (al-ulum al-naqliyah). ilmu-ilmu naqli diantaranya ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ushul fiqh, fiqih, ilmu kalam, ilmu-ilmu bahasa (linguistic, gramatika, retorika, sastra).
  2. Ilmu-ilmu aqli (al-ulum al-aqliyah). Ilmu-ilmu aqli adalah ilmu hikmah dan filsafat, yang terdiri dari tujuh yaitu : ilmu mantik (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan (metafisika), matematika (arimatika, geometri, astronomi, dan musik).[3]

Apakah tolok ukur dan standar yang dipakai untuk mengelompokkan dan mengklassifikasikan berbagai pengetahuan? Jawabnya: Tolok ukur pembagian dan klassifikasi ilmu sebenarnya sangat beragam dan disesuaikan dengan kepentingannya, diantaranya: 1). Berdasarkan Konsepsi; 2). Berdasarkan Eksistensi; 3). Berdasarkan Metode dan Prosedur Penelitiannya; 4). Berdasarkan Tujuan dan Sasaranya; 5). Berdasarkan Pokok Masalah (subject matter). Kelima standar tersebut akan diuraikan secara terperinci di bawah ini :

  1. 1. Klassifikasi ilmu berdasarkan konsepsi, terdiri dari :
    1. Tashawwur (konsepsi) yaitu ilmu yang bebas dari penilaian benar-salah. Tashawwur itu sendiri dibagi pada empat bagian yaitu :
      1. Konsepsi yang tidak memiliki relasi dan bersifat independen, seperti konsepsi tentang manusia, hewan, dll.
      2. Konsepsi yang memiliki diferensia (fashl), seperti : hewan rasional.
      3. Konsep yang memiliki relasi perintah, seperti: pukullah, pergilah.
      4. Konsepsi yang memiliki relasi berita, seperti : Zaid berdiri.
      5. Tashdiqi adalah ilmu yang didasarkan pada penilaian benar-salah. Contohnya : Ahmad adalah anak pintar.
      6. Dharuri (keharusan) atau badihi. Dharuri/badihi yaitu ilmu yang didapat tanpa proses berpikir dan mengkonsepsi, melainkan langsung hadir pada mental. Selanjutnya, ilmu dharuri terdiri dari enam bagian :
        1. al-Awwaliah (permulaan) yaitu aksioma yang diperoleh akal dengan selintas pikiran saja tanpa bentuan sesuatu yang eksternal darinya, seperti : satu lebih kecil dari dua, ayah lebih tua dari anaknya.
        2. al-Musyahadah batiniah (penyaksian batin) yaitu aksioma yang didapat tanpa penilaian akal, melainkan dapat dirasakan batin. Contohnya: lapar, haus, sedih, takut.
        3. al-Mahsusat (empirisme) yaitu aksioma yang didapat berdasarkan penilaian akal dengan bantuan indera. Contohnya: api itu panas; madu itu manis.
        4. al-Tajribiah (eksperimental) yaitu aksioma yang didapat karena telah dieksperimen melalui percobaan dan pengalaman. Contohnya: air menguap jika dipanaskan, bodrek dapat menyenbuhkan sakit kepala.
        5. al-Hadsiah (dugaan; speculation) yaitu aksioma yang didapat berdasarkan perkiraan-perkiraan yang cermat, seperti : cahaya rembulan berasal dari cahaya matahari; bumi ini bulat.
        6. al-Fitriah (fitrah) yaitu aksioma yang didapat melalui kehadiran proposisinya dalam mental. Artinya, proposisi yang deduksinya terikut bersamanya atau yang had ausath (middle term) selalu hadir di dalam benak. Hal ini merupakan sejenis proposisi ‘spontan’ yang penelarannya terjadi secara sangat cepat dan setengah sadar. Contohnya: dua setengah dari empat.[4]
        7. Selain enam hal di atas ada juga yang menambahkan mutawatirah yakni sesuatu yang diyakini karena adanya berita yang berulang-ulang dan laporan yang banyak. Contoh: di Mekah ada Ka’bah; Nabi Muhammad itu ada.
        8. Iktisabi (proses) atau nazhari (teoritis) adalah ilmu yang didapat melalui proses berpikir, seperti : rotasi bumi mengelilingi matahari. Iktisabi ini terbagi pada dua bagian, yaitu :
          1. al-tashawwur al-kasbi (konsepsi proses) yaitu konsepsi yang didasarkan pada dua unsur utama yaitu had (batasan substansial) dan rasm (batasan aksidental).
          2. al-Tashdiq al-kasbi yaitu penilaian terhadap konsepsi yang didasarkan pada qiyas (silogisme), intiqra (induktif), dan tamsil (analogi).
          3. Fi’li (actual/aktif) yaitu ilmu yang pada dirinya terdapat sebab sempurna yang eksisten di dalam mental dengan eksistensi akibat eksternal (ilmu yang menghasilkan akibat luaran hanya dengan pikiran). Contohnya : seseorang yang melihat sebuah meja dan membayangkan untuk menggeser meja itu, maka meja itu pun bergeser.
          4. Infi’ali (potensial/pasif) yaitu ilmu yang tidak memiliki sebab sempurna di dalam dirinya sehingga tidak menghasilkan akibat luaran. Contohnya: seorang arsitek yang memiliki gambaran tentang rumah di dalam pikirannya, tetapi tidak terwujud di luaran secara langsung.
          5. Kulli (universal) adalah ilmu yang tidak membatasi terhadap kebenaran generalisasinya pada objek yang plural. Singkatnya, ilmu yang dapat diterapkan pada contoh individual yang tak terbatas. Contohnya: Manusia yang memiliki contoh individual Rusdi, Candiki, Budi, dll.
          6. Juz’i (partikular) adalah ilmu yang membatasi generalisasinya pada objek yang plural. Artinya, penerapannya terbatas hanya pada satu contoh individual saja. Misalnya:: Gambaran Rusdi hanya untuk Rusdi saja.
          7. Tafshili (spesifk) adalah ilmu yang berkaitan dengan objek-objek tertentu yang berbeda satu sama lain dalam spesifikasi perbedaannya.
          8. ijmali (global) yaitu ilmu yang berkaitan tentang objek-objek yang berbeda dalam sebuah kesatuan.
          9. Ilmi (ilmiah) adalah ilmu yang hanya merupakan konsepsi ilmiah semata dan berkaitan serta memberikan kesempurnaan jiwa bagi manusia. Misalnya: Ilmu ketuhanan.
          10. Amali (amaliah) yaitu ilmu yang menuntut aktualisasi dalam tindakan. Misalnya: ilmu akhlak.
          11. Haqiqi (hakiki) adalah ilmu yang berkaitan dengan eksistensi dan derajat-derajatnya.
          12. I’tibari (relative) adalah ilmu yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat relatif dan bergantung pada konsensus.[5]

  1. 2. Klassifikasi ilmu berdasarkan eksistensi, terdiri dari dua bagian :
    1. Ilmu hudhuri (kehadiran) yaitu ilmu yang objeknya langsung hadir pada diri subjek. Pada ilmu hudhuri ini tidak ada keterpisahan antara subjek dan objek ilmu pengetahuan, melainkan terjadi kesatuan eksistensial antara keduanya.
    2. Ilmu hushuli (korespondensi) yaitu ilmu yang didapat melalui proses korespondensi yang terjadi antara subjek dengan objek eksternal yang mana yang hadir adalah gambaran objeknya tersebut, bukan objeknya langsung.[6]

Skema

Pembagian dan Klassifikasi Ilmu

  1. 3. Klassifikasi berdasarkan metode dan prosedur penelitian, terbagi pada :
    1. Ilmu-ilmu rasional yang diselidiki lewat bukti-bukti rasional dalam penyimpulan mental seperti logika dan filsafat ketuhanan.
    2. Ilmu-ilmu empiris yang diverifikasi lewat metode-metode empiris dan eksperimentasi seperti fisika, kimia, dan biologi
    3. Ilmu-ilmu nukilan (narrative science) yang ditilik lewat dokumentasi naratif atau historis seperti sejarah, biografi, dan fiqih.

  1. 4. Klassifikasi berdasarkan tujuan dan sasaran. Artinya didasarkan pada manfaat dan akibatnya. Standar ini terbagi pada material, individual, sosial, dan spiritual. Bersifat material, maka ada ilmu pertanian dan industri; bersifat individual, maka ada ilmu ekonomi; bersifat social, maka ada ilmu politik; atau bersifat spiritual seperti ilmu akhlak dan agama.

  1. 5. Klassifikasi berdasarkan pokok masalah (subject matter) seperti angka bagi aritmatika, tubuh bagi kedokteran, dan sebagainya.[7] Berdasarkan pada standar ini, ilmu diklassifikasikan pada satu topik induk yang membawahi topic-topik lainnya yang lebih parsial.

Dari standar-standar di atas, menurut Misbah Yazdi, pengklassifikasian ilmu berdasarkan pada pokok masalah (subject matter) lebih menjamin tercapainya tujuan dan manfaat klassifikasi ilmu, karena dengan cara ini kaitan-kaitan internal dalam tatanan dan susunan ilmu yang luas tetap terjaga. Umumnya para filosof menggunakan dasar ini sebagai cara pembagian ilmu. Selain itu, cara ini juga dapat memanfaatkan tolok ukur yang lainnya seperti tolok ukur metode dan tolok ukur tujuan/sasaran, dalam membuat pensubdivisian ilmu di tingkatan bawahnya. Misalnya, subject matter suatu ilmu adalah ketuhanan, maka berdasarkan hal itu disusunlah ilmu teologi. Kemudian dengan berdasarkan pada metode/prosedur penelitiannya, maka ilmu teologi ini, disubdivisikan menjadi ilmu teologi filosofis yang mendasarkan diri pada metode rasional; teologi gnosis yang menggunakan metode intuitif dan riyadhah; dan teologi religius (kalam) yang lebih cenderung pada metode kewahyuan.[8]

Kemudian, perlu diperhatikan, topik induk atau pokok masalah yang membawahi berbagai pokok-pokok masalah lainnya mengimplikasikan adanya keterkaitan himpunan masalah-masalah dalam ilmu. Hubungan ini ada dua jenis, yaitu :

  1. Hubungan universal-partikular. Maksudnya, antara pokok masalah utama dengan pokok masalah yang dibawahnya memiliki keterkaitan yang bersifat universal yang mempunyai banyak contoh-contoh bersifat individual/partikular. Contohnya : Manusia yang bersifat universal menjadi pokok utama (subject matter) dan memiliki contoh-contoh individual seperti Rusdi, Budi, Adi, yang menjadi pokok masalah di bawah pokok utama. Namun, meskipun merupakan individual, tetapi pokok utama masalah yaitu manusia dapat diberlakukan pada masing-masing individual secara sama sehingga dapat dikatakan ‘Rusdi adalah mansuia’.

  1. Hubungan keseluruhan-bagian. Maksudnya, antara pokok masalah utama dengan pokok soal lain yang berada di bawahnya memiliki keterkaitan dengan sifat keseluruhan yang memiliki banyak bagian-bagian. Misalnya, tubuh manusia yang bersifat keseluruhan menjadi pokok masalah utama dan memiliki bagian-bagian seperti tangan, kaki, kepala, mata, hidung, telinga, dsb. yang menjadi pokok masalah cabangnya. Namun, berbeda dengan hubungan universal, pada hubungan keseluruhan ini, pokok masalah utama yaitu tubuh manusia tidak dapat diberlakukan pada tiap-tiap bagiannya, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa ‘mata adalah manusia, ‘kepala  adalah manusia”, dst. Yang dapat diberlakukan adalah predikat bagian-bagiannya yakni ‘kepala adalah bagian tubuh manusia, dst. Jadi ilmu kedokteran sebagai ilmu induk menaungi ilmu kedokteran gigi, kedokteran mata, kedokteran jantung, dst.

Kedua jenis di atas seolah sama, padahal sebenarnya sangat berbeda. Perbedaan utama antara kedua jenis hubungan tersebut adalah bahwa ‘dalam hubungan universal-pertikular, pokok masalah utama dapat berlaku pada tiap-tiap pokok masalah ilmu yang di bawahnya secara individual sebagai contoh partikularnya, sedangkan pada hubungan keseluruhan-bagian, pokok masalah utama tidak dapat diberlakukan pada pokok masalah yang di bawahnya secara bagian-bagian, kecuali hanya sekedar predikat saja.[9]

POLA DAN CARA KLASSIFIKASI ILMU

Secara umum, pembuatan atau cara melakukan klassifikasi dan pensubdivisian ilmu pengetahuan kepada yang lebih particular dapat dilakukan dengan empat pola/cara :

  1. Berasal dari bagian-bagian kecil pokok masalah suatu ilmu sebagai keseluruhan, dan setiap bagian kecil pokok masalah itu menjadi cabang baru ilmu pengetahuan seperti genetika, kesehatan gigi, dsb. Pola seperti ini dikhususkan pada ilmu yang subjek ilmu dan pokok utama masalahnya (topik induk) memiliki ‘hubungan keseluruhan-bagian’.
  2. Mengambil tipe-tipe yang lebih partikular dan kelas-kelas yang lebih terbatas dari pokok masalah utama, seperti bakteorologi, entologi, psokologi, dll. Pola ini timbul dalam ilmu-ilmu yang hubungan pokok masalah utama dengan pokok masalah cabangnya bersifat “hubungan universal-partikular”.
  3. Terjadi saat berbagai metode penelitian yang dijadikan ukuran sekunder, menimbulkan cabang-cabang baru dari suatu ilmu induk, meskipun pokok masalah ilmu tersebut tetap terjaga. Pola ini bisa dilakukan pada masalah-masalah yang bisa diteliti dan dipecahkan melalui berbagai cara, seperti dalam teologi filosofis, teologi mistis, dan teologi religius. Jadi, pola ini berlaku pada ilmu yang berdasar pada tolok ukur “metode dan prosedur penelitian”.
  4. Terjadi bila berbagai tujuan dijadikan sebagai subkriteria, dan soal-soal yang sejalan dengan masing-masing tujuan diperkenalkan sebagai cabang tertentu dari ilmu induk. Pola ini bersandar pada tolok ukur “Tujuan dan sasaran”.[10]
  5. Terjadi bila klassifikasi pengetahuan dilakukan secara deduktif rasional dengan melihat sisi ontologis objeknya. Apakah objek tersebut hadir secara langsung pada akal atau hadir secara tidak langsung? Pola ini berlaku pada ilmu yang berdasarkan pada tolok ukur “kehadiran eksistensi”.

Dari penjelasan di atas, maka kita menemukan dengan jelas pentingnya klassifikasi ilmu, karena hubungan-hubungan yang berbeda akan memisahkan satu ilmu dari lainnya, dan hubungan terdekat antara berbagai masalah sebagai standar pemilahan ilmu adalah relevansi subjek-subjeknya. Dengan kata lain, pelbagai masalah yang bersubjek terdiri dai bagian-bagian keseluruhan atau particular-partikular universal akan dapat membentuk satu ilmu. Oleh karena itu, masalah-masalah ilmu terdiri atas proposisi-proposisi yang subjeknya berada di bawah payung topik induk baik dengan hubungan universal-partikular maupun hubungan keseluruhan-bagian.

Kemudian, karena subjek ilmu merupakan topik induk yang mencakup pelbagai masalah, maka, mungkin saja satu topik menjadi subjek dari dua atau lebih ilmu, dan perbedaan ilmu yang satu dengan lainnya terkait dengan metode penelitiannya. Begitu pula, adakalanya suatu topik diletakkan pada subjek mutlak suatu ilmu, padahal ia menjadi subjek ilmu itu secara terikat. Perbedaan ikatan ini kemudian mengakibatkan munculnya beberapa ilmu dan perbedaan di antara mereka. Sebagai contoh di bawah ini :

  • ‘materi’, ditinjau dari segi komposisi internal dan perpaduan serta penguraian unsur-unsurnya menjadi subjek ilmu kimia. Akan tetapi, ditinjau dari segi perubahan-perubahan lahiriah dan ciri-ciri khususnya, ia menjadi subjek ilmu fisika.
  • ‘Kata’, ditinjau dari segi perubahan konstruksinya menjadi subjek morfologi, dan ditinjau dari segi perubahan infleksinya menjadi subjek sintaksis.

Dengan begitu, kita mesti berhati-hati untuk membedakan, apakah pokok masalah itu merupakan subjek suatu ilmu secara mutlak atau dengan batasan tertentu. Sering terjadi, suatu pokok masalah menjadi subjek ilmu secara mutlak, kemudian dengan diberi batasan tertentu ia menjadi subjek ilmu-ilmu lain. Dari sinilah, mengapa filsafat menjadi induk segala ilmu, sebab pokok kajiannya (subject matter) adalah wujud yang bersifat universal dan tidak dapat di batasi.

Bagaimana cara membatasi pokok masalah? Salah satu cara termudahnya adalah dengan ‘menyempitkan kemutlakan’ (qaid al-ithlaq) melaui pencarian ciri khas pokok kajian (subjek matter). Maksudnya, dalam ilmu umum, ditentukan pokok kajian mutlak yang berdasar pada prinsip tetap dalam esensi subjek, tanpa mempertimbangkan ciri-ciri khasnya. Kemudian, dari pokok kajian yang mutlak ini, ditentukan lagi pokok kajian berdasarkan pada ciri tertentu dan dibuatlah cabang ilmu tertentu. Misalnya, ‘benda’ sebagai pokok kajian yang mutlak. Kemudian dicarilah ciri-ciri khas benda, apakah bersifat mineral atau organik, tumbuhan atau binatang (manusia). [11]Selanjutnya, baru setelah itu kita mengkhususkan sekelompok benda tersebut untuk ilmu tertentu, seperti kosmologi (untuk benda kosmik), minerologi (untuk benda tambang), dan biologi (untuk benda hidup). Begitulah seterusnya untuk menghasilkan klassifikasi yang lebih partikular.[12]

KESIMPULAN

Klassifikasi ilmu merupakan pemilahan yang sistematis untuk menentukan jenis dan kelompok pengetahuan dengan berdasarkan pada tolok ukur tertentu. Diantara tolok ukur yang dapat digunakan adalah: berdasarkan pada konsepsi, berdasarkan pada eksistensi, berdasarkan pada metode dan prosedur penelitian, berdasarkan pada sasaran dan tujuan, dan berdasarkan pada pokok masalahnya.


[1] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 34.

[2] Al-Farabi, Perincian Ilmu Pengetahuan, dalam Nurcholish Madjid. Ed. Khazanah Intelektual Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h.121-133.

[3] Ibnu Khaldun, Tentang Ilmu Pengetahuan dan Berbagai Jenisnya, dalam Nurcholish Madjid. Ed. Khazanah Intelektual Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 310-326.

[4] Sebagai catatan, Allamah Misbah Yazdi mengatakan bahwa pada hakikatnya, tidak semua jenis proposisi di atas sebagai swabukti (badihi). Menurutnya, yang dapat benar-benar dianggap sebagai swabukti adalah proposisi-proposisi swabukti primer dan peoposisi sekunder yang berkaitan dengan kesadaran sebagai pantulan-pantulan mental dari pengetahuan yang langsung hadir dalam diri seperti al-awwaliah. Sedangkan al-hadsiah dan al-fitriah, hanya bisa dianggap dekat dengan keswabuktian. Adapun al-musyahadah batiniah, al-tajribiah, dan mahsusat mesti dianggap sebagai teoritis dan perlu dibuktikan.

[5] Lihat pembagian ini yang disederhanakan menjadi tujuh pasangan dalam Khalid al-Walid, Tasauf Mulla Sadra. (Bandung: Muthahhari Press, tt), h. 105-109.

[6] Khalid al-Walid, Tasauf, h. 110. Kedua jenis ilmu ini akan dibahas secara khusus.

[7] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 35.

[8] Misbah Yazdi, Buku daras, h. 36.

[9] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 36.

[10] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 37.

[11] Inilah mengapa dalam buku-buku filsafat ada bab khusus bagian pertama fisika untuk mengulas prinsip-prinsip umum dengan nama al-sama al-thabi’i (fisika umum elementer) dan sama al-kiyan (astronomi umum elementer).

[12] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 39-40.

%d blogger menyukai ini: