AL-MA’AD : KEBANGKITAN DI AKHIRAT


MAKNA DAN KEDUDUKAN AL-MAAD

Jika kita membicarakan tentang ma’ad, maka akan berhubungan dengan peristiwa kiamat. Dalam yaumil qiyamah, yang terbayang dalam benak kita adalah dahsyatnya kehancuran alam semesta ini sebagai akhir dari kehidupan, perhitungan Allah serta keadilan-Nya. Al-ma’ad merupakan penegasan keyakinan akan berakhirnya alam duniawi dan berganti dengan alam akhirat untuk menusia bangkit mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia selama hidup.

Kedudukan iman kepada hari akhir atau hari kebangkitan merupakan bagian ushuluddin yang mesti dimiliki oleh semua agama selain ketuhanan dan kenabian. Artinya, kita meyakini dengan pasti kebenaran terjadinya hari kebangkitan atau hari akhir sebagai tempat untuk menerima segala balasan kehidupan di dunia yang telah dilakukan oleh manusia baik berdasarkan nas-nas wahyu (al-Quran dan hadits)[1] maupun akal.

Hari berbangkit merupakan suatu masa yang pasti akan terjadi. Hanya saja, kita tidak mengetahui secara pasti kapan waktu yang dijanjikan Allah itu akan datang. Hari kiamat merupakan keadilan yang Allah beri bagi hamba-hamba-Nya. Allah tidak bertindak zalim waktu itu, tetapi Allah sedang berlaku adil atas apa yang telah kita lakukan selama kita hidup di dunia. Karena sesungguhnya, setiap amal buruk manusia dan jin adalah bahan bakar neraka sedangkan amal baik manusia menjadi pembentuk surga.

ARGUMENTASI HARI AKHIR

Ada pepatah terkenal yang sering kita dengar, yaitu ‘jika ada pertemuan maka ada perpisahan’, ‘jika ada awal maka ada akhirnya’. Ungkapan ini memiliki nilai pemikiran yang dalam yang mengindikasikan adanya pasangan dalam tatanan alam semesta. Karenanya, setelah kita mengakui tentang adanya asal mula keberadaan (mabda) yang dikaji dalam pembahasan ketuhanan, maka selayaknya pula kita mengakui akhir dari keberadaan (al-ma’ad). Namun, agar keyakinan kita semakin kokoh dan utuh akan terjadinya hari akhir, maka akan diturunkan beberapa argumentasi baik secara akal maupun menurut wahyu. Penggunaan wahyu dalam hal ini, sudah dapat digunakan karena kita telah membuktikan kenabian dan kebenaran wahyu. Argumentasi-argumentasi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. a. Burhan al-Harakah (Argumentasi Gerakan). Gerakan didefenisikan dengan keluarnya suatu potensi yang mungkin menjadi sebuah kenyataan yang dimungkinkan (khuruj min al-quwwati ila al-fi’li). Setiap gerakan punya tujuan, karena alam semesta ini bergerak dan setiap yang bergerak punya tujuan sebagai tempat terakhir atau tempat peristirahatan ketika sampai, maka berarti alam semesta yang selalu bergerak ini punya tempat peristirahatan atau tempat perhentian terakhir. Inilah yang dikenal dengan ma’ad (hari akhir).

  1. b. Burhan al-Haqiqah (Argumentasi kebenaran). Allah adalah Haq, karenanya Dia niscaya menampakkan kebenaran disamping kemunafikan dan kekafiran sebagai tempat berakhir. Jadi munculnya kebenaran secara nyata merupakan tempat berakhir alam fisik maupun metafisik. Perwujudan kebenaran ini disebut dengan hari akhir (ma’ad).

  1. c. Burhan al-Hikmah (argumentasi kebijaksanaan). Allah melakukan perbuatan dengan tujuan dan hikmah karena Dia merupakan wujud kesempurnaan mutlak yang tidak terbatas dan tidak membutuhkan. Karena Dia Maha Bijak maka tidak akan keluar dari-Nya perbuatan tanpa tujuan, sebab itu terjadinya ma’ad dan adanya tujuan bagi alam penciptaan adalah dharuri (keniscayaan). Kehidupan dunia tidak mungkin merupakan tujuan akhir penciptaan manusia, karena keterbatasannya (terikat ruang dan waktu), bahkan dipenuhi berbagai macam persoalan yang menghadangnya, kemudian mati dan berakhirlah segala sesuatu? Tidak mungkin Tuhan berbuat kesia-siaan seperti ini, Karena tujuan mesti berakhir maka alam mempunyai akhir tujuan yaitu ma’ad.[2]

  1. d. Burhan al-Rahmah (argumentasi kasih sayang). Rahmat Allah adalah pemberian kesempurnaan pada setiap yang berpotensi untuk sempurna. Setiap yang berpotensi untuk sempurna, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya, karena yang dimaksud dengan rahmat Allah adalah pelimpahan kesempurnaan-Nya. Adapun prinsip kesempurnaan menghendaki, dengan rahman dan rahim-Nya, Allah swt terus menerus memberikan limpahan anugerah yang tiada henti untuk tercapainya sebuah kesempurnaan diri (al-takamul al-basyari).[3] Kehidupan tanpa tujuan adalah kehidupan yang sia-sia, karena itu Allah mustahil melakukan kesia-siaan, karenanya tujuan utama bagi seluruh makhluk adalah kesempurnaan. Alam semesta inipun akan mengalami penghancuran untuk mencapai kesempurnaanya. Inilah yang disebut hari akhir (al-ma’ad).

  1. e. Burhan al-Adl (Argumentasi Keadilan). Prinsip keadilan menunjukkan bahwa setiap perbuatan mesti mendapatkan balasan yang sesuai, bagi perbuatan yang baik maupun  perbuatan yang buruk. Sedangkan di dunia ini kita sering melihat ketidakadilan berlangsung tanpa henti, maka sudah sewajarnya Allah mempersiapkan suatu masa pembalasan yang seadil-adilnya. Itulah hari akhir, yang disebut juga dengan hari pembalasan.[4]

  1. f. Argumentasi keterbatasan. Setiap yang terbatas pasti berawal dan berakhir. Karena alam ini terbatas maka ia akan berawal dan juga pasti berakhir. Berakhirnya alam dunia ini, akan memasuki alam akhirat, inilah yang disebut ma’ad.

  1. g. Dalil Wahyu. Secara naqliah, ada sekitar 1200 ayat Al-Quran yang berbicara tentang kebangkitan dan hari akhir dalam berbagai bentuknya, yang didukung oleh beragam penjelasan Nabi saww dalam berbagai haditsnya. Di dalam al-Quran Allah berfirman: “Allah, tiada tuhan selain Dia. Ia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan kedatangannya” (Q.S. An-Nisa: 87) banyak lagi ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang peristiwa kiamat seperti yag terdapat dalam surat Al-Qari’ah, Al-Insyiqaaq, Al-Infithaar, At-Takwir, Al-Haqqah, dan sebagainya, bahkan salah satu surat al-Quran dinamakan dengan al-Qiyamah.

Jadi dengan landasan-landasan ini, baik wahyu maupun akal (naqli dan aqli) tidak ada jalan bagi manusia untuk mengingkari adanya hari akhir kecuali karena kekerasan hati dan kepicikan akal.

KERAGUAN TERHADAP HARI AKHIR

Sebagai fondasi agama, keyakinan pada hari akhir bersifat mutlak. Akan tetapi, dalam setiap babakan sejarah, tetap saja ada orang-orang yang meragukannya. Dengan analisa sederhana, pengingkaran terhadap hari akhir didasari pada beberapa jenis keraguan, sebagai berikut[5] :

  1. Keraguan mengembalikan yang telah tiada. Keraguan ini didasari pada prinsip filsafat yang menyatakan ‘mustahilnya mengembalikan yang telah tiada’ (istihalatu I’adatil ma’dum) yang berpijak pada kemustahilan diri secara substansial. Maksudnya, mereka menganggap bahwa manusia hanyalah susunan materi yang kemudian mati dan hancur, sehingga tidak mungkin diadakan kembali, karena jika diadakan itu berarti manusia yang lain, “Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka; “apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” orang-orang itulah yang kafir kepada Allah; orang-orang itulah yang diletakkan belenggu dilehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.( Q.S Ar-Ra’d: 5); “Maka, apakah Kami letih dengan penciptaan pertama? Sungguh mereka dalam keraguan tentang penciptaan yang baru.” (Q.S. Qaf:15).
  2. Keraguan karena ketidakmungkinan tubuh dihidupkan kembali. Hal ini berdasarkan asumsi mengenai kemustahilan terjadinya. Artinya, meskipun mereka tidak memutahilkan secara substansial (kemustahilan diri) seperti pada keraguan pertama, akan kembalinya ruh ke tubuh, akan tetapi mereka meragukan kembalinya ruh tersebut secara aktual (bi al-fi’l) dan kejadian riilnya tergantung pada kondisi tubuh dan syarat-syarat penting (seperti rahim, perkawinan, dll), yang ternyata sudah tidak ada lagi, sehingga tubuh yang telah hancur tersebut kehilangan potensi untuk hidup kembali, Mereka berkata: “Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu…” (QS. Al-Isra : 49-51).
  3. Keraguan terhadap kemampuan pelaku. Artinya, Bagaimana kita tahu bahwa Allah memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal? “Maka mereka akan berkata: “Siapakah yang menghidupkan kami?” Katakan: “Dialah yang telah menciptkan kamu pada kali pertama.” (QS. Al-Isra : 51); “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami tapi lupa dengan penciptaannya sendiri dan berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulung-tulang yang telah kancur-lebur ini?” Katakan: Yang pertama kali menciptakannya, Dialah yang akan menhidupkannya”. (QS. Ya Sin : 78-79)
  4. Kerauan terhadap ilmu pelaku, yaitu bagaimana Allah dapat membedakan sekian banyak jenis makhluk yang telah bersama hancur luluh dan menyatu? Bagaimana Allah mengingat berbagai tindakan makhluk-Nya? Singkatnya apakah Allah memiliki pengetahuan untuk membangkitkan semua makhluk dan membalasnya, “Bagaimana mereka yang hidup pada kurun waktu pertama? Musa menjawab, ‘Sesungguhnya ilmu itu berada pada Tuhanku di dalam satu kitab. Tuhanku tidak sesat dan tidak pernah lupa.” (Q.S. Thaha: 51); “Katakanlah, ‘yang telah menghidupkannya kembali itu adalah yang telah menciptakannya pertama kali dan Dia Maha Tahu akan segala ciptaan-Nya.” (Q.S. Ya Sin : 79).

Kalau kita cermati sanggahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari pembalasan adalah dikarenakan ketidakmampuan mereka mencerna proses kehidupan atau kebangkitan kembali setelah kematian atau setelah kiamat. Permasalahan kebangkitan ini sebenarnya telah lama menjadi perbincangan sains, filsafat, dan juga agama. Islam sebagai agama yang sempurna dengan banyak ahlinya telah menjawab berbagai keberatan mereka, “Apakah mereka tidak memperhatikan sesungguhnya Allah—yang telah menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa lelah dengan menciptakan itu semua—Maha Kuasa untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati. sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ahqaf : 33).


[1] Perlu diperhatikan, dalam kajian Hari Akhir, kita dapat menggunakan dalil wahyu, karena kita telah membuktikan kebenaran nabi dan kebenaran wahyu.

[2] Allah berfirman : “Apakah kamu mengira bahwa Kami ciptakan kamu sia-sia dan kamu tidak kembali kepada Kami? (QS. Al-Mukminun : 115)

[3] Firman Allah : “Dan Allah telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan lagi kedatangannya.” (QS. Al-An’am : 12)

[4] Firman Allah : “Apakah orang-orang yang berbuat maksiat mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan berbuat baik, sama antara hidup dan mati mereka? Sungguh buruk kesimpulan mereka”. (QS. Al-Jasiyah : 21)

[5] Lihat M.T. Misbah Yazdi. Iman, h. 370-374.

%d blogger menyukai ini: