RU’YATULLAH : ANALISIS ATAS ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM


RU’YATULLAH

ANALISIS ATAS ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM

Oleh: Ja’far Umar , MA

PENDAHULUAN

Dalam tradisi filsafat Islam, para filosof Islam dan kaum teosof telah memberikan pandangan mereka tentang tingkatan-tingkatan keberadaan segala sesuatu (maratib al-wujud/hierarchy of being). Menurut prinsip ini, wujud terbagi ke dalam tingkatan-tingkatan, mulai dari Wujud Puncak yang bersifat Mutlak, yaitu Allah SWT, hingga paling rendah, yakni materi awal.[1] Hal ini bisa dilihat pula pada teori emanasi sebagaimana diuraikan oleh para filosof Muslim semisal al-Farabi, Ibn Sina, Ikhwanushofa, Suhrawardi, dan Mulla Shadra.

Sementara kaum teosof memiliki cara pengungkapan berbeda tentang maratib al-wujud ini. Sebagian teosof memandang bahwa wujud terbagi atas tiga kelompok, yakni pertama, wujud mutlak yang bersifat ruhani (Allah SWT), kedua, wujud khayali (imajinal), dan ketiga, wujud jismani (fisis-material). Wujud pertama dikenal sebagai ‘alam al-amr. Wujud kedua disebut alam barzakh. Sedangkan wujud yang ketiga dikenal sebagai alam syahadah. Sementara sebagian teosof lain menyatakan bahwa wujud terbagi atas beberapa tingkatan, yakni alam ruhani mutlak (hadirat Ilahi), alam barzakh, dan alam dunia. Sementara alam ruhani mutlak terdiri atas sejumlah tingkatan, yakni ghayb al-ghuyub (paling gaib), ahadiyah (ketakberbilangan), wahidiyah (kesatuan). Di pihak lain, sejumlah teosof menjelaskan bahwa wujud terbagi atas sejumlah tingkatan, yakni pertama, alam jabarut, kedua, alam malakut, dan ketiga, alam nasut/malak. Pandangan lain menyebutkan tingkatan wujud adalah pertama, alam hahut (Wujud Mutlak Allah SWT), kedua, alam lahut (Manifestasi Wujud Allah SWT di tingkatan keberbilangan), dan ketiga, alam nasut (alam manusia).[2]

Meskipun banyak versi tentang masalah maratib al-wujud, sebagaimana dipaparkan di atas, jelasnya bahwa semua pandangan tersebut hanyalah berbeda dalam penggunaan bahasa, namun substansi pembahasannya tidak berbeda. Di samping itu, semua wujud yang disebut pertama merupakan wujud tertinggi dalam hierarki wujud, bahkan “Pencipta” wujud-wujud lainnnya, berikut disusul wujud-wujud lainnya, sebagai wujud terendah di bawah wujud pertama tersebut.

Sejalan dengan tingkatan-tingkatan wujud di atas, kaum filosof Islam dan teosof Islam menyatakan bahwa manusia dikaruniai dengan berbagai daya (fakultas) untuk mempersepsi pelbagai wujud-wujud di atas, yakni panca indera, jiwa (nafs), dan fu’ad (qalb/ruh/’aql). Daya panca indra berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam fisis-material. Daya jiwa (nafs) berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam barzakh atau alam khayal atau alam imajinal. Sedangkan fu’ad dapat berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi wujud tertinggi dalam tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud) tersebut, yaitu Wujud Puncak atau ’Alam al-amr atau Hahut atau alam Jabarut atau Wujud Ruhani yang bersifat mutlak.[3] Demikian pandangan para filosof dan teosof Islam tentang tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud).

Berdasarkan keterangan di atas, seorang manusia tidak akan mungkin melihat Allah SWT di alam dunia yang bersifat fisis-material dengan matanya (indera). Sebab, mata manusia hanya berfungsi sebagai alat untuk melihat alam fisis-material semata. Namun Allah SWT dapat dilihat jika seorang manusia memfungsikan sebuah daya lain dalam dirinya, yakni fu’ad. Menurut filosof dan teosof, alat ini mampu mempersepsi alam gaib mutlak, yakni Allah SWT. Untuk melihat alam khayal/alam barzakh, manusia dapat memfungsikan jiwa/nafsnya. Yang jelas, ketika seorang manusia ingin memfungsikan ketiga daya tersebut sehingga dapat mempersepsi wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya itu, maka manusia tersebut harus melatih secara kontinyu ketiga daya tersebut. Ketika manusia itu telah berhasil melatih sejumlah daya tersebut, maka manusia itu dapat memfungsikan daya-daya itu guna melihat wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya-daya tersebut.

Dalam tradisi Kalam di dunia Islam, para Mutakallim berselisih paham tentang masalah ru’yatullah (baca: melihat Allah SWT) ini. Sebagian kalangan menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak sekaligus. Sebagian lain menyatakan pula bahwa Allah SWT hanya dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah SWT sangat tidak mungkin dilihat oleh manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Masing-masing mereka pun mengajukan argumen-argumen tertentu, baik argumen aqliyah maupun argumen naqliyah.

Dalam makalah yang sederhana ini, Penulis akan mencoba menguraikan permasalahan-permasalahan tentang ru’yatullah. Secara khusus, Penulis akan memaparkan pandangan al-Quran dan Hadits tentang ru’yatulllah, pandangan sejumlah aliran Kalam dalam Islam tentang ru’yatullah, konsep ru’yatullah menurut Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni, serta urgensi konsep ru’yatullah tersebut bagi kehidupan manusia modern. Sebagai sebuah makalah yang sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menentukan pandangan paling benar di antara sejumlah pandangan tentang ru’yatullah tersebut. Namun tidak ditutup kemungkinan jika Penulis dan Pembaca memilih satu dari sekian pandangan atau pula melakukan sintesis antar pandangan itu guna menentukan pandangannya sendiri tanpa diiringi sikap menyalahkan apalagi mengkafirkan pandangan lainnya.

AL-QURAN DAN HADITS TENTANG RU’YATULLAH

Di dalam al-Quran al-Karim, Allah SWT memberikan penjelasan-penjelasan tentang permasalahan ru’yatullah. Akan tetapi, sebagian ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya. Sementara sebagian ayat-ayat al-Quran lainnya malah mensinyalir bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Sekelompok aliran kalam menjadikan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya adalah sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebaliknya, sekelompok aliran kalam menyebut ayat-ayat al-Quran tentang kemungkinan manusia melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai konsekuensi, masing-masing aliran menerima secara tegas ayat-ayat muhkamat dan menakwilkan ayat-ayat al-Quran yang dianggap mutasyabihat.[4]

1. Ayat-Ayat Tentang Kemungkinan Melihat Allah

Sejumlah ayat al-Quran yang sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT adalah sebagai berikut:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri; kepada Tuhan-nya mereka Melihat.(Q.S. 75: 22-23)

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Pada hari di mana mereka akan bertemu dengan-Nya dengan penuh kedamaian; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.(Q.S. Al-Ahzab/33: 43-44).

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.(Q.S.Al-Baqarah/2: 55)

Wahai manusia, sesungguhnya apabila kamu bersungguh-sungguh menemui Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.(Q.S. Insyiqaq/84: 6)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami; Atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya; Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.(Q.S. Al-Isra’/17: 90-92)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa (Q.S. 25: 21-22).

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(Q.S. Al-Baqarah/2: 46)

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.(Q.S. Al-Baqarah/2: 223)

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S.Al-Baqarah/2: 249)

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(Q.S. Al-An’am: 31)

Kemudian kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.(Q.S. Al-An’am: 154)

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.(Q.S. At-Taubah: 77)

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. (Q.S. Yunus/10: 7)

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.(Q.S. Yunus/10: 11)

Dan (Ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (Q.S. Yunus/10: 45)

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak Mengetahui”. (Q.S. Hud/11: 29)

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Q.S. Ra’du/13: 2)

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Q.S. Al-Kahfi/18: 105)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi/18: 110)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”. (Q.S. Al-Furqan/25: 21)

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 5)

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 23)

Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Q.S. Rum/30: 8)

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”. Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. (Q.S. As-Sajadah/32: 10)

2. Ayat-Ayat Yang Menunjukkan Kemustahilan Melihat Allah

Sementara sejumlah ayat al-Quran yang secara sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia tidak akan dapat melihat Tuhannya adalah sebagai berikut:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. 6 : 103)

Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah pada hari itu akan menutup diri-Nya dari pandangan mereka. (Q.S. Muthaffifin/83: 15)

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Q.S. 7: 143)

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Asy-Syura/42: 51)

Demikianlah sejumlah ayat al-Quran berkenaan dengan masalah ru’yatullah. Ayat-ayat al-Quran yang tampak menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, dijadikan sejumlah aliran kalam sebagai dalil naqli bagi kemungkinan manusia melihat Tuhan. Mereka menakwilnya ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat melihat. Sebaliknya, ayat-ayat yang tampak menyatakan bahwa manusia tidak dapat melihat Tuhan dijadikan oleh sejumlah aliran sebagai dalil naqli bagi ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Konsekuensinya, mereka menakwilkan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat.

Jika dilihat sepintas tampak bahwa ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan masalah ru’yatullah saling bertentangan. Sebagian ayat menyatakan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sementara sebagian ayat lainnya menyatakan kebalikannya. Untuk masalah ini, harus diperhatikan bahwa sesungguhnya tidak ada pertentangan di dalam al-Quran. Kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Quran saling kontradiksi itu hanya merupakan akibat pemahaman yang keliru semata-mata. Karena itu, para sarjana Islam harus mampu menakwilkan sejumlah ayat al-Quran yang tampak berlawanan itu. Ini pula sebenarnya segi paling menarik dan paling mengagumkan dari susunan al-Quran.[5] Pendeknya, tidak ada pertentangan di dalam al-Quran.

3. Hadits-Hadits Tentang Melihat Allah dalam Kitab Sunni dan Syiah

Di pihak lain, menurut tradisi Sunni (Ahlussunnahwaljama’ah), ada sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW yang membahas permasalahan ru’yatullah ini, sebagaimana tertulis di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam kitab Sahih Bukhari tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, sebagaimana tertulis di bawah ini.

- Dari Aisyah r.a, katanya: “Siapa yang menceritakan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, sesungguhnya orang tersebut berdusta, karena Tuhan mengatakan: “Pandangan tidak sampai kepada-Nya. Dan siapa yang mencerita-kan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui hal yang gaib, sesungguhnya orang itu dusta, karena Tuhan mengatakan “Tiada yang mengetahui hal yang gaib melainkan Allah”.[6]

- Dari Jarir r.a. katanya: “ketika kami sedang duduk dekat Nabi SAW, beliau memperhatikan bulan di malam purnama, beliau bersabda “Sesungguhnya kamu nanti akan melihat Tuhan kamu, sebagaimana kamu melihat bulan ini dan kamu tidak berdesak-desak untuk melihat-Nya. Dan kalau kamu sanggup tidak ketinggalan dalam mengerjakan sembahyang sebelum matahari terbit dan sembahyang yang sebelum matahari terbenam, perbuatlah”.[7]

- Dari Adi bin Hatim r.a. katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu nanti akan berbicara dengan Tuhannya, tanpa perantaraan juru bahasa dan tidak ada pula dinding yang membatasi”. [8]

Sementara dalam kitab Sahih Muslim, tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, yakni sebagai berikut:

- Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. : Rasulullah SAW pernah berdiri di tengah-tengah kami menjelaskan lima pokok pembicaraan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah SWT tidak tidur, dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur; Dia menurunkan dan menaikkan kadar timbangan amal hamba-Nya; kepada-Nyalah diangkat amal hamba-Nya yang malam hari sebelum amal yang siang hari; dan juga amal yang siang hari sebelum amal yang malam harinya; tirai Allah SWT adalah cahaya. Jika Allah SWT menyingkap tirai-Nya, cahaya Zat Allah itu akan menghanguskan semua Makhluq-Nya.[9]

- Diriwayatkan dari Masruq :  Saya pernah duduk bersandar di rumah ‘Aisyah, lalu beliau berkata: “Wahai Abu ‘Aisyah, ada tiga perkara, barang siapa berkata dengan salah satu darinya, berarti dia telah berdusta besar terhadap Allah SWT”. Saya bertanya, “Apa tiga perkara itu?”. Aisyah menjawab: “Mengatakan bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, berarti dia telah melakukan kebohongan yang besar”. Masruq berkata: “Waktu itu saya sedang bersandar, lalu saya duduk dan berkata, “Wahai Ummul Mukminin!, tunggu, jangan tergesa-gesa, bukankah Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Muhammad itu telah melihat Jibril di ufuk yang terang (Q.S. Al-Takwir: 23), dan firman-Nya, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) dalam waktu yang lain? (Q.S. An-Najm: 13). Aisyah menjawab, “Aku adalah orang pertama dari ummat ini yang bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah SAW”. Lalu beliau menjawab, “Dia itu adalah Jibril a.s yang belum pernah aku melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali hanya dua kali itu aku melihatnya turun dari langit. Bentuk kejadian aslinya yang agung itu menutupi ruangan antara langit dan bumi”. Kemudian Aisyah r.a berkata, “Apakah engkau tidak pernah mendengar Allah SWT berfirman: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S. 6: 103). Apakah engkau tidak mengdengar Allah SWT berfirman: Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(Q.S. Asy-Syura/42: 51)……[10]

- Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a : Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kita akan melihat Tuhan kita nanti pada hari kiamat?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Apakah kamu pernah terhalang mendung untuk melihat bulan purnama?”. Mereka menjawab, “Tidak wahai Rasulullah SAW”. Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu pernah terhalang untuk melihat matahari sewaktu tidak ada mendung?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Demikian pula kamu melihat-Nya, Allah akan menghimpun manusia nanti pada hari kiamat, lalu berfirman “Barangsiapa menyembah matahari, dia mengikuti matahari, barangsiapa menyembah bulan, dia mengikuti bulan, dan barangsiapa menyembah berhala, dia mengikuti berhala. Dan tinggallah umat Muhammad ini, termasuk di dalamnya orang munafik, lalu Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang tidak mereka kenali, kemudian Dia berfirman, “Aku Tuhanmu!”. Kemudian mereka menjawab, “kami berlindung kepada Allah SWT darimu, inilah tempat kami sehingga Tuhan yang telah kami kenal itu datang”. Kemudian Allah datang lagi dalam bentuk yang mereka kenali, lalu Dia berfirman, “Aku Tuhanmu”. Lalu mereka berkata, “Engkau Tuhan kami”. Lalu mereka mengikuti-Nya. Setelah itu, dipancangkanlah titian di tengah api Jahannam. Jadi, aku dan umatkulah yang mula-mula melintasinya dan tidak seorang pun yang diperkenankan berbicara waktu itu, kecuali rasul-rasul Allah ……[11]

Berdasarkan penelusuran terhadap tradisi madzhab Syi’ah Imamiyah (Itsna’asyariyah), ditemukan sejumlah hadits-hadits tentang masalah ru’yatullah ini. Di dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini, misalnya, terdapat sejumlah hadits tentang ru’yatullah, salah satunya adalah sebagaimana berikut:

- Muhammad bin Abi Abdillah, dari Ali bin Abi al-Qasim, dari Ya’kub bin Ishaq, berkata: “saya mengajukan pertanyaan kepada Abi Muhammad”, “Bagaimana seorang hamba menyembah Tuhannya sementara hamba tersebut tidak melihat-Nya?”. Maka beliau menjawab: ”Wahai Abu Yusuf, bahwa Allah SWT sebagai pemberi nikmat atasku dan atas ayah-ayahku, dapat dilihat secara nyata. Maka aku bertanya kepadanya: ”Apakah Rasulullah SAW melihat Tuhannya?”, Maka beliau pun menjawab “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbihi) yang bersumber dari cahaya keagungannya dan kecintaannya”.[12]

Dalam berbagai hadits dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini tersebut terdapat banyak sekali hadits tentang permasalahan ru’yatullah ini. Semua hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, namun manusia itu tidak melihat Allah SWT dengan indera matanya, namun manusia akan melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbih). Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah, di mana Rasululllah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah secara nyata telah melihat Allah SWT, bukan dengan indera mata mereka, namun mereka melihat-Nya dengan qalb-nya yang bersih dan suci.[13] Namun ini adalah sumber dari madzhab Syi’ah Imamiyah, dan mereka mendukungnya.

RU’YATULLAH DALAM PEMIKIRAN ALIRAN KALAM

Secara historis, umat Islam telah terbagi-bagi menjadi sejumlah aliran teologi. Aliran-aliran teologi ini muncul ketika Nabi Muhammad SAW telah wafat. Jadi, aliran ini belum muncul ke permukaan pada priode kenabian, kendati pun benih-benihnya mulai tampak secara samar-samar. Perpecahan ini tidak terjadi pada priode kenabian karena ketika itu Nabi Muhammad berfungsi sebagai hakim atau pemutus segala perkara. Sehingga ketika sebuah permasalahan baik permasalahan teologi maupun hukum, maka umat Islam dapat menanyakan langsung kepada nabi, dan jawaban atas pertanyaan itu pun segera diperoleh dan diyakini.

Dalam konteks teologis, sebenarnya Nabi Muhammad SAW telah menanamkan aqidah Islam yang kuat kepada umat Islam. Menurut hemat Penulis, sungguh keliru jika sejumlah pemikir menganggap bahwa permasalahan teologis baru muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama pasca perang Shiffin ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab sebenarnya pelbagai permasalahan telah muncul pada priode kenabian. Hanya saja, bagaimana format baku teologi yang diajarkan Nabi Muhammad kepada umatnya itu jarang dikemukakan. Selama ini, para penulis sejarah Kalam hanya menuliskan pandangan-pandangan teologis dari berbagai aliran kalam dalam Islam.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajarkan aqidah Islam kepada umatnya, maka Nabi Muhammad SAW akan memperhatikan tingkat kemampuan intelektual para ‘muridnya’. Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi Islam secara sangat sederhana kepada sebagian sahabat yang memiliki intelektual rendah. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan jika Nabi Muhammad SAW mengajarkan teologi Islam melalui pendekatan filosofis dan intuitif kepada sebagian sahabat yang memang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi. Hal ini sangat jelas karena ketika Nabi Muhammad SAW hendak menyampaikan risalah, maka terlebih dahulu beliau akan melihat tingkat kemampuan akal para audiensnya.

Pada dasarnya, kemunculan sejumlah pandangan teologis pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat terkait dengan fakta di atas. Hal ini sangat jelas karena, setiap umat Nabi Muhammad SAW pada priode awal memiliki kecerdasan yang tidak sama, sehingga terang saja jika umatnya akan menafsirkan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang teologi tersebut secara berbeda-beda. Di samping itu, Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi secara filosofis kepada segelintir umatnya yang cerdas. Sementara kepada umatnya yang kurang cerdas, maka Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan akidah Islam secara sederhana. Karena Nabi Muhammad SAW mengajarkan akidah Islam dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda, maka sepintas lalu ajaran-ajaran teologi itu akan tampak berbeda, bahkan bertentangan meskipun sebenarnya tidak demikian. Barangkali hal ini pula membuat umat Islam priode awal memiliki perbedaan pandangan yang tajam di bidang teologi, dan selanjutnya masing-masing mereka akan meyakini sepenuh hati ajaran-ajaran nabi yang mereka pahami itu.

Perpecahan umat Islam di berbagai bidang terutama teologi semakin terlihat ketika khalifah ‘Ali bin Ali Thalib menduduki jabatan khalifah. Ketika sepupu dan menantu nabi Muhammad SAW, yakni Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah, pemimpin umat Islam, beliau dihadapkan kepada sejumlah persoalan, terutama pemberontakan sejumlah sahabat kepadanya. Tak pelak, sejumlah peperangan antar sesama umat Islam pun terjadi, antara lain adalah perang Shiffin. Perang ini terjadi antara khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan gubernur Damaskus, yakni Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Sejumlah persoalan internal menjadi faktor pemicu lahirnya perang ini. Namun yang jelas, setelah perang ini berakhir, kondisi umat Islam ditandai oleh lahirnya banyak aliran. Dalam perkembangannya, aliran-aliran teologi dalam Islam antara lain adalah Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain sebagainya. Tak hanya sebatas itu, masing-masing aliran tersebut terpecah pula menjadi sejumlah sekte-sekte yang jumlahnya bisa sangat banyak.

Salah satu masalah ilmu kalam sebagai bahan kajian para Mutakallim adalah masalah Ru’yatullah. Sebagaimana diketahui bahwa umat Islam terpecah menjadi sejumlah aliran teologi. Dalam kasus ru’yatullah, masing-masing aliran teologi ini memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan aliran-aliran Kalam tentang Ru’yatullah terbagi atas dua kelompok.

Pertama. Sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT dapat dilihat. Mengenai alat yang digunakan, sebagian pendapat menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata. Sementara sebagian lain mengungkapkan bahwa Allah SWT hanya bisa dilihat dengan hati. Mengenai tempatnya, sebagian menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat di dunia dan di akhirat sekaligus. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Allah SWT hanya dapat di lihat di akhirat saja. Kelompok-kelompok ini adalah sebagai berikut:

Kaum Syi’ah Rafidhah. Pandangan mereka tentang ru’yatullah berkaitan erat dengan pandangan mereka tentang apakah Allah SWT boleh menampakkan diri-Nya. Sebagian mereka menyatakan bahwa Allah SWT tidak boleh menampakkan diri-Nya ketika Dia menghendaki sesuatu, kecuali jika Dia menghendaki sesuatu yang kemudian tidak menjadikannya, maka Dia boleh menampak-kan diri-Nya. Sebagian lain menyatakan bahwa Allah SWT boleh menampakkan diri-Nya dalam sesuatu yang diketahui-Nya, baik yang akan terjadi atau pun tidak. Begitu pun Allah SWT boleh menampakkan diri-Nya dalam sesuatu, baik yang diperlihatkan kepada hamba-Nya atau pun tidak. Sementara sebagian lagi menyatakan bahwa Allah SWT tidak boleh menampakkan diri-Nya. Mereka pun menolak anggapan-anggapan seperti di atas, karena Allah SWT itu Mahatinggi dab Mahasuci dari anggapan begitu.[14] Berdasarkan ketiga pernyataan mereka tersebut, tampak bahwa sebagian kalangan Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh Allah SWT, sementara sebagian lagi berpandangan sebaliknya. Kesimpulan ini diperoleh karena sebagian mereka meyakini bahwa Allah SWT boleh menampakkan diri-Nya kepada hambanya. Karena Allah SWT boleh menampakkan diri-Nya kepada para hamba-Nya, maka jelas bahwa manusia dapat melihat-Nya sebagai konsekuensi dari penampakan-Nya kepada para hambanya tersebut.

Sebagian pemuka Murji’ah. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui penglihatan matanya di akhirat kelak.[15]

Sebagian pemuka Mu’tazilah. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, tetapi tidak melalui penglihatan matanya, melainkan melalui hati sanubarinya. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan hati manusia sehingga manusia dapat mengetahui-Nya. Pandangan terakhir dianut sebagian besar pengikut aliran Mu’tazilah, terutama Abu al-Hudzail.[16] Sementara itu, Ahmad bin Khabith dan al-Fadhal al-Hadtsi, keduanya pendiri al-Khabithiyyah dan al-Haditsiyah (masih aliran Mu’tazilah), menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia di hari kiamat. Namun manusia melihat Tuhan melalui akal aktif, sebuah akal yang menangkap semua gambaran yang ada. Pada hari kiamat, akal ini mampu membuka hijab akal sehingga akal ini dapat melihat Tuhan. Namun penglihatan akal terhadap Tuhan tidak serupa dengan sesuatu yang diciptakan Tuhan.[17]

Aliran Dhirariyah. Bagi pengikut aliran ini, manusia dapat melihat Allah SWT di akhirat kelak. Karena pada saat itu, Allah SWT akan menciptakan indera keenam bagi orang-orang beriman (baca: mukmin) agar mereka dapat melihat-Nya.[18]

Sekelompok ahli ibadah. Pada masa Klasik, sekelompok ahli ibadah berpandangan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sesuai dengan kadar perbuatan seseorang. Jika seseorang memiliki banyak perbuatan baik, maka orang tersebut bisa melihat–Nya dengan baik. Sebaliknya, jika orang tersebut memiliki perbuatan tidak baik, maka orang tersebut tidak akan dapat melihat Allah SWT dengan baik pula.[19]

Kalangan ahli hadits tentang ru’yatullah ini. Bagi kalangan ahli hadits, seorang mukmin niscaya dapat melihat Allah SWT dengan penglihatannya di hari kiamat kelak, sebagaimana melihat bulan di malam purnama. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya karena terhalang oleh kekafirannya. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “Sekali-kali tidaklah begitu, bahkan sebenarnya mereka pada hari kiamat itu terhalang dari melihat Tuhannya. (Q.S. Al-Muthaffifin: 15). Selain itu, mereka beralasan bahwa menurut kisah al-Quran bahwa Nabi Musa as pun meminta kepada Allah SWT agar menampakkan diri-Nya, kemudian Dia mengabulkan permintaannya tersebut, sehingga menampaklah diri-Nya di atas gunung dan seketika itu nabi Musa as pun pingsang. Berdasarkan cerita ini, para ahli hadits menganggap bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan di dunia ini, tetapi hanya bisa dilihat di hari akhirat semata.[20]

Aliran Mujassimah. Kelompok Mujassimah meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[21]

Aliran Musyabbihah. Menurut aliran ini, manusia dapat melihat Tuhan di dunia ini. Tuhan pun dapat ditemui oleh manusia, dan Tuhan dapat menemui manusia di dunia ini.[22]

Aliran Bakriyyah. Kelompok Bakriyyah meyakini bahwa Allah SWT akan menciptakan suatu bentuk tertentu atas diri-Nya, sehingga dengan bentuk itu Dia pun akan dapat terlihat, bahkan Dia dapat berbicara langsung dengan manusia.[23]

Husein al-Najar. Al-Najar berpandangan bahwa Allah SWT akan menjadikan mata pada hati, sehingga terciptalah daya kekuatan ilmu padanya, di mana dengan daya kekuatan ilmu tersebut, seseorang bisa melihat-Nya atau pun mengetahui-Nya.[24]

Dharar dan Hafs al-Fard. Keduanya beranggapan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan mata, tetapi Dia akan menciptakan indera keenam kepada mereka, sehingga dengan indera keenam itu mereka pun akan bisa melihat Allah SWT.[25]

Sebagian Mutakallimin lain menganggap bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sehingga mereka tidak mengingkari jika seseorang melihat Allah SWT di jalan raya. Sebagian Mutakallimin menyebutkan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT, bahkan orang tersebut dapat menjumpai-Nya, menyentuh-Nya, dan mendekatkan diri dengan-Nya. Tidak hanya itu, mereka meyakini bahwa seseorang yang berbuat baik dapat pula seiring sejalan dengan-Nya, jika Dia menghendaki hal itu. Pandangan ini dianut oleh seorang Mutakallimin yang bernama Mudhar dan Kahmas. Di pihak lain, Mutakallimin lain semacam Abdul Wahid menyatakan bahwa Allah SWT itu sebenarnya bisa dilihat oleh para hamba-Nya, sesuai dengan amal perbuatan yang ada pada hamba-Nya tersebut. Karena itu, jika amal perbuatan hamba-Nya tersebut baik, maka niscaya hamba-Nya itu akan dapat melihat-Nya. Pandangan Mutakallimin lain menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT ketika tidur, sementara ketika manusia tersebut sadar, maka manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Pandangan ini dianut oleh Sulaiman al-Tamimi.[26]

Zuhair al-Atsari dan pengikutnya. Mereka menyatakan bahwa karena Allah SWT itu bersemayang di setiap tempat, maka Allah SWT dapat dilihat dengan penglihatan mata. Namun bagi mereka, seseorang tidak boleh memikirkan tentang cara melihat Allah tersebut. Kendati demikian, Allah SWT bukanlah jisim. Dia tidak terbatas, sehingga Dia tidak bisa dirasa dan diraba. Mereka pun meyakini bahwa Allah akan mendatangi manusia di hari kiamat kelak. Kendati begitu, mereka menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mempersoalkan bagaimana Allah SWT mendatangi manusia tersebut.[27]

Syi’ah Imamiyah. Madzhab Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan pernah dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun akhirat kelak. Bagi mereka meyakini bahwa keyakinan akal (ilmu al-yaqin) bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan hati (ain al-yaqin). Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata. Karena itu kaum Syi’ah Imamiyah meyakinmi bahwa kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata fisik, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang suci dan bersih.[28]

Aliran Thahawiyah. Aliran ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Mereka menekankan bahwa masalah melihat tuhan merupakan rukun iman. Masalah ini mesti diterima oleh umat Islam tanpa keraguan, tanpa interpretasi personal, dan tanpa fikiran anthropomorfis. Setiap upaya umat Islam untuk menginterpretasikan masalah ini melalui fikiran, maka mereka berarti mengingkari rukun iman yang satu ini.[29]

Kedua, sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat baik di dunia maupun di akhirat. Mata dan hati manusia tidak akan pernah mampu melihat Allah SWT.

Sebagian kaum Murji’ah. Mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya.[30] Bahkan sekelompok pemuka aliran Murji’ah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[31]

Aliran Mu’tazilah. Mayoritas kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat dengan penglihatan mata. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[32] Dalam konteks ini, al-Juba’i dan Abu Hasyim Abd Salam, dua orang pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa  manusia tidak akan pernah melihat zat Allah di akhirat kelak, apalagi di dunia.[33]

Aliran Jabbariyah. Menurut Jaham bin Shafwan, tokoh aliran Jabbariyah menyatakan bahwa Tuhan tidak akan dapat dilihat manusia di akhirat, apalagi di dunia.[34]

Aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah. Para pemuka aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[35]

Demikianlah paparan umum tentang sejarah pemikiran Kalam yang berkenaan dengan konsep Ru’yatullah. Keanekaan ragam pemikiran tentang konsep Ru’yatullah ini menjadi indikasi bahwa umat Islam tidak memiliki kesamaan pandangan tentang hal tersebut. Kendati begitu, sebuah sikap toleran dalam menanggapi perbedaan tersebut menjadi keniscayaan demi menggapai persatuan umat Islam.

RU’YATULLAH : ANTARA SYI’I, MU’TAZILI, DAN SUNNI

Pada bagian terdahulu, Penulis telah mengemukakan secara umum tentang sejumlah pandangan mengenai masalah Ru’yatullah tanpa disertai dalil, baik dalil-dalil aqliyah atau pun dalil-dalil naqliyah.  Karena itu, pada bagian ini Penulis akan menjelaskan sejumlah argumen dari aliran Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni tentang masalah Ru’yatullah. Dipilihnya ketiga aliran ini, karena ketiga aliran ini memiliki pandangan yang lebih sistematis dan komprehensif, di samping ketiga aliran ini menjadi aliran terbesar sepanjang sejarah pemikiran Islam. Tidak hanya itu, aliran Syi’i dan Sunni pun masih terus eksis hingga saat ini, sehingga pengkajian tentang pemikiran aliran-aliran ini masih dianggap penting dan aktual. Berikut pandangan-pandangan ketiga aliran teologi Islam ini tentang masalah Ru’yatullah.

1. ALIRAN SYI’AH IMAMIYAH

Aliran Syi’ah Imamiyah merupakan salah satu aliran Syi’ah yang berkembang di dunia Islam. Tidak seperti aliran Syi’ah lainnya, aliran ini meyakini bahwa ada dua belas imam pengganti kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Aliran ini berkembang di negara-negara seperti Iran, Iraq, Suriah, Libanon, Indonesia, Pakistan, dan lainnya. Aliran ini pun memiliki konsep kalam yang sistematis, filosofis, dan mendalam.

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah pun pernah membahas tentang masalah Ru’yatullah. Aliran Syi’ah Imamiyah mempercayai bahwa Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas dan tidak memiliki organ-organ tubuh.[36] Allah SWT bukan suatu bentuk ragawi sehingga Dia tidak menempati ruang dan tidak bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Karena itulah, mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan mata, baik di dunia maupun di akhirat.[37]

Lebih jelasnya, aliran Syi’ah Imamiyah menolak ta’til mutlak dan tasybih mutlak. Ta’til adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Tuhan. Pengetahuan dan kecerdasan manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Allah SWT. Sementara tasbih adalah konsep yang menyatakan bahwa Allah SWT memiliki kesamaan dengan makhluq. Dalam konsep ini, Allah SWT dibuat menyerupai makhluq sehingga Dia memiliki bentuk dan rupa. Perbedaan antara Allah SWT dengan makhluq-Nya tidak lain hanyalah pangkat dan gelar. Bagi Syi’ah Imamiyah, konsep yang benar adalah kedudukan antara keduanya, yakni antara ta’til dan tasbih. Menurut pemuka aliran Syi’ah Imamiyah, memang manusia sebenarnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui Allah SWT sebenar-benarnya. Namun melalui fenomena-fenomena alam dan makhluq-Nya, manusia bisa memperoleh pengetahuan mengenai Allah SWT. Pengetahuan manusia tentang Allah tersebut tidak mutlak dan tidak lengkap. Bagi madzhab Syi’ah, Allah SWT memiliki semua aspek positif dari segala pengetahuan manusia tentang-Nya. Namun pada saat yang bersamaan, Dia tidak terbatasi oleh pengetahuan manusia tersebut. Pengetahuan manusia tidak dapat membatasi-Nya. Di pihak lain, Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas. Dia tidak berada di dalam ruang dan waktu. Allah SWT tidak pantas memiliki tubuh fana, lemah, dan rentan kerusakan. Bagi mereka, Allah SWT itu lebih tinggi dari prasangka manusia terhadap-Nya. Ketika manusia memberikan nama-nama dan sifat-sifat kepada-Nya itu, maka nama-nama dan sifat-sifat yang diberikan kepada-Nya itu tidak melebihi bahkan tidak menyamai keagungan-Nya yang sebenarnya. Dia tidak bisa digambarkan. Setiap penggambaran atas diri-Nya selalu jauh lebih rendah dari kenyataan. Pengetahuan paling tinggi adalah menempatkan-Nya di tempat di mana manusia tidak bisa lagi menggambarkan diri-Nya. Dia lebih sempurna dari pada setiap kesempurnaan. Bagi aliran Syi’ah Imamiyah, Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Namun nama-nama dan sifat-sifat-Nya tersebut tidaklah memadai untuk menyatakan kekekalan dan keberadaan-Nya. Meskipun memiki nama-nama dan sifat-sifat, ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus selalu konsisten dengan keMahasempurnaan dan kekekalan yang dimiliki-Nya. Ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus mengartikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara hati-hati. Orang tersebut tidak boleh memahaminya sebagaimana memahami nama-nama dan sifat-sifat manusia. Nama-nama dan sifat-sifat-Nya memiliki makna lebih luas apabila dibandingkan dengan nama-nama dan sifat-sifat manusia. Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah menghendaki posisi antara ta’til dengan tasybih. Mereka menolak ta’til mutlak dan menolak tasybih mutlak. Karena itu, bagi mereka bukan ta’til dan bukan tasybih, melainkan antara keduanya.[38]

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah mendukung ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, mereka menafsirkan ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Menurut mereka, makna ‘pertemuan dengan Allah SWT di akhirat’ di dalam ayat-ayat al-Quran adalah bahwa Allah SWT pada hari Penghisaban menghilangkan semua keraguan akan eksistensi atau keberadaan diri-Nya dengan memperlihatkan amalan-amalan mereka. Pada hari itu, seluruh keraguan tentang keberadaan Allah SWT akan sirna karena Allah SWT telah memperlihatkan kebesaran Hari Penghisaban tersebut.[39]

Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh mata fisik manusia. Namun bagi mereka, bukan berarti manusia benar-benar tidak dapat melihat Allah SWT. Bagi mereka, manusia dapat melihat manusia namun mereka melihat-Nya tidak melalui mata fisiknya, melainkan melalui hati yang suci dan bersih. Mereka meyakini bahwa keyakinan indra dan keyakinan akal (ilmu al-yaqin) itu bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan keyakinan hati (ain al-yaqin). Keyakinan hati manusia lebih tinggi dari pada keyakinan akal dan indranya. Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata (indra) dan akal. Pendeknya, bagi Syi’ah Imamiyah, kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan indra dan akal, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang bersih dan suci. Hal ini pun selalu ditekankan oleh para Imam Syi’ah Imamiyah.[40]

Tegasnya, bagi Syi’ah Imamiyah, keyakinan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik manusia, baik di dunia maupun di akhirat, sangat bertentangan dengan dalil akal dan naqal. Karena hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki tubuh. Karena jika Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik, sebagai konsekuensi hukum fisik, maka Allah SWT itu harus memiliki fisik. Pada dasarnya, keyakinan ini merupakan keyakinan kaum Yahudi yang menyusup ke dalam keyakinan umat Islam. Walhasil, bagi aliran Syi’ah Imamiyah, keyakinan Islam tidak lain adalah bahwa Allah SWT bisa dilihat bukan melalui indra fisiknya, melainkan melalui penglihatan hati yang suci dan bersih.[41]

2. ALIRAN AHLUSSUNNAH WA AL-JAMA’AH

Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah ini sering diidentikkan dengan aliran Asy’ariyah dan aliran Maturidiyah.[42] Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Ahlussunnahwaljama’ah ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh orang-orang mukmin di akhirat kelak.[43] Para pemuka aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah meyakini hal ini. Mereka semua sepakat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan di akhirat kelak. Hanya saja, masing-masing mereka menggunakan argumentasi-argumentasi yang berbeda, dan sedikit berbeda dalam perincian-perinciannya. Secara khusus, bagian ini akan memaparkan pandangan aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah tentang masalah ru’yatullah.

Aliran Asy’ariyah

Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Asy’ariyah menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka mengajukan sejumlah argumen, tidak saja argumen aqli namun pula argumen naqli. Bagi aliran ini, jika sesuatu menempati ruang dan waktu, maka sesuatu itu bersifat temporal. Bagi mereka, Tuhan tidak menempati ruang dan waktu. Bagi mereka, suatu benda, meskipun benda itu tidak ada di depan orang yang melihatnya, mungkin saja untuk dilihat. Karena itu pula, Tuhan sangat mungkin dilihat, meskipun indra manusia tidak memperoleh kesan obyek yang mengenai indra itu. Selain itu, tidak mustahil Tuhan akan menciptakan di dalam diri manusia sebuah kapasitas untuk melihat-Nya di akhirat kelak.[44]

Menurut al-Asy’ari, segala keberadaan dapat dilihat dan menyebabkan dapat dilihat dari sisi keberadaannya. Karena Allah SWT itu secara niscaya ada, maka Dia mesti dapat dilihat oleh manusia di hari akhirat kelak.[45] Al-Asy’ari memiliki dua pendapat tentang hakikat ru’yat. Pertama, ru’yat itu sebagai pengetahuan khusus, yakni khusus melihat yang ada dan bukan yang tidak ada. Kedua, penglihatan itu adalah temuan di belakang ilmu, bukan refleksi dari yang ditemui dan bukan pula pengaruh dari yang ditemui.[46]

Berkenaan dengan Tuhan, aliran Asy’ariyah berada pada posisi tengah antara golongan Musyabihah dan Mujassimah dengan golongan tanzih (nihil).[47] Pemuka aliran ini menyatakan bahwa Allah itu memiliki wajah, tangan, mata, dan Dia bersemayam di Arsy. Namun demikian, seseorang tidak boleh menanyakan bagaimana wajah, tangan, mata, dan seperti apa bersemayam di Arsy itu. Bersamaan dengan itu, seseorang pun tidak boleh mengingkari semua hal itu.[48] Demikian pandangan mereka tentang hakikat Tuhan.

Dalam bukunya al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, Abul Hasan Al-Asy’ari menguraikan secara luas pandangannya tentang masalah ini. Menurutnya, Allah SWT dapat dilihat oleh penglihatan mata manusia di akhirat kelak. Beliau pun mengajukan argumentasi-argumentasi, baik aqliyah maupun naqliyah. Dalam konteks argumen aqliyah, beliau menyatakan: Pertama. Setiap yang ada, mungkin untuk diperlihatkan Allah kepada kita. Yang tidak mungkin terlihat adalah sesuatu yang tidak ada. Jika Allah termasuk sesuatu yang ada, berarti Dia dapat memeprlihatkan wujud-Nya kepada manusia, dan ini tidak mustahil. Kedua, bahwa Allah melihat segala sesuatu. Jika Allah melihat sesuatu, maka tidak mungkin Dia melihat sesuatu sementara Dia tidak dapat melihat diri-Nya. Jika Dia dapat melihat diri-Nya sendiri, maka bukan suatu kemustahilan jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Dengan kata lain, jika Allah mengetahui sesuatu, maka berarti Dia mengetahui diri-Nya, dan jika Dia dapat melihat diri-Nya berarti tidak mustahil jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Sebagaimana halnya Dia mengetahui tentang diri-Nya, maka tidak mustahil jika Dia memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya.[49]

Berkenaan dengan dalil naqli, Abu Hasan al-Asy’ari menganggap bahwa ayat-ayat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan sebagai ayat-ayat muhkam sehingga mesti diyakini. Sementara ayat-ayat tentang ketidakmungkinan melihat Tuhan sebagai ayat-ayat mutasyabih, sehingga perlu ditakwil. Sedikitnya, beliau mengajukan sejumlah ayat sebagai argumentasi guna membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat tentang matanya, yakni:[50]

  1. Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui mata di akhirat kelak. Kata nazhar dalam ayat ini memiliki 4 kemungkinan makna, yakni berfikir, menunggu, merahmati, dan melihat. Ayat ini membicarakan peristiwa di hari akhirat, karena itu kata Nazhar tidak mungkin berfikir karena akhirat bukan tempat berfikir, bukan pula bermakna menunggu karena kata ini dikaitkan dengan kata wajah, sehingga  maknanya adalah melihat dengan mata yang ada di wajah, dan bukan pula bermakna merahmati, karena makhluk tidak mungkin merahmati Penciptanya. Kata Nazhar tidak mungkin pula bermakna menunggu karena kata ini disertai huruf ila dan sebelumnya terdapat kata wujuh, sehingga maknanya harus melihat dengan mata kepala. Jika kata nazhar dalam ayat ini tidak disertai huruf ila, maka maknanya bisa ‘menunggu’.
  2. Q.S. al-A’raf ayat 143. Dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan bahwa Musa memohon kepada Allah agar ia bisa melihat-Nya. Dalam konteks ini, Musa diangkat Allah sebagai nabi. Allah pun memeliharanya dari kesalahan-kesalahan. Karena itu, tidak mungkin Musa mengajukan sebuah permintaan yang mustahil. Jika hal itu tidak boleh dilakukan Musa, maka nabi Musa tidak akan meminta hal-hal mustahil kepada Tuhannya. Oleh karena Musa meminta kepada Tuhan agar ia bisa melihat-Nya, berarti ia meminta sesuatu yang tidak mustahil,. Jadi, melihat Tuhan adalah sesuatu yang mungkin. Dalam ayat ini pula, sebenarnya Allah berkuasa menjadikan gunung tersebut kokoh. Jika hal itu dilakukan Allah, maka Musa akan mampu melihat-Nya. Sesungguhnya Allah berkuasa menjadikan hamba-Nya mampu melihat-Nya. Benar bahwa mata manusia tidak akan mampu melihat matahari di dunia, maka mata manusia pun tidak akan mampu melihat-Nya di akhirat. Namun kelak, Allah sangat berkuasa untuk memperkuat pandangan mata manusia tersebut, sehingga mata manusia mampu melihat-Nya.
  3. Berdasarkan Q.S. Yunus: 26; Q.S. Qaaf: 35; Q.S. al-Ahzab: 44; dan Q.S. al-Muthaffifin: 15, bahwa melihat Tuhan itu sangat mungkin terjadi. Karena melihat Tuhan itu merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman. Orang-orang beriman akan melihat-Nya, sebagai balasan atas perbuatan kebajikannya di dunia. Sementara orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya, sebagai balasan atas kejahatannya di dunia.
  4. Secara lahiriah, Q.S. al-An’am: 103 menunjukkan ketidakmungkinan melihat Tuhan. Namun bagi al-Asy’ari, maknanya bukan demikian, melainkan ketidakmungkinan melihat-Nya di dunia, sementara melihat-Nya di akhirat sangat mungkin. Bisa pula diartikan sebagai ketidakmungkinan orang-orang kafir melihat-Nya. Di samping itu, kata ru’yah memiliki perbedaan makna dengan kata idrak. Kata idrak dalam ayat ini berarti melihat seutuhnya. Sementara kata ru’yah bermakna sekedar melihat dan/atau melihat tidak seutuhnya. Jadi, kedua kata ini berbeda maknanya. Oleh karena itu, ayat tersebut memiliki makna bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat secara penuh (idrak), namun dapat dilihat tidak seutuhnya dan/atau sekedarnya (ru’yah).[51] Bahwa melihat Allah bukan dalam melihat-Nya secara penuh tidak akan mengurangi kesempurnaan Allah SWT. Benar bahwa manusia tidak dapat mencapai-Nya, namun bukan berarti manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Manusia melihat-Nya dengan mata kepala, bukan berarti manusia itu telah mencapai-Nya.

Pandangan al-‘Asy’ari tentang ru’yatullah ini diikuti oleh para penerusnya. Sebagaimana al-Asy’ari, al-Baqillani menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagaimana alasan al-Asy’ari, al-Baqillani menandaskan bahwa setiap yang ada dapat dilihat. Karena Tuhan itu niscaya ada, maka Tuhan pun dapat dilihat, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam Q.S. al-A’raf: 143 dan Q.S. Al-Qiyamah: 22-23.[52] kemudian, Al-Baghdadi menyatakan bahwa Tuhan pun dapat dilihat. Baginya manusia dapat melihat aksiden, karena manusia dapat membedakan antara hitam dan putih. Kalau aksiden dapat dilihat, maka Tuhan pun dapat dilihat.[53] Sementara itu, al-Juwaini menyatakan pula bahwa manusia dapat melihat Tuhannya di akhirat kelak dengan menggunakan mata kepalanya. Penglihatan itu akan menjadi kenyataan nanti di akhirat, ketika manusia berada di syurga.[54] Muhammad bin Tumart menandaskan pula bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Bahwa manusia wajib meyakini dan membenarkan dalam hati bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Namun melihat ini bukan berarti Tuhan memiliki tubuh (tasybih).[55] Al-Syahrastani pun mendukung bahwa manusia mampu melihat Tuhannya di akhirat kelak. Baginya, setiap hal yang berwujud dapat dilihat oleh manusia, karena Tuhan niscaya memiliki wujud, maka Tuhan pun dapat dilihat oleh manusia. Baginya, setiap umat Islam wajib mengimani masalah ru’yatullah (melihat Tuhan) ini.[56] Demikianlah, ajaran al-Asy’ari tentang ru’yatullah didukung oleh generasi penerusnya. Namun tak dapat disangkal, para generasi penerus al-Asy’ari tersebut terus mengembangan konsep ini, terutama penambahan dan penguatan argumentasi-argumentasi tentang kemungkinan melihat Allah SWT di akhirat kelak.

Aliran Maturidiyah

Menurut pendiri aliran ini, Abu Mansur al-Maturidi bahwa Tuhan itu dapat dilihat. Uniknya, meskipun Dia dapat dilihat oleh manusia, namun Tuhan itu bersifat immateri. Dia tidak bersifat dengan sifat-sifat materil (jasmaniah). Karena itu, jika ada ayat-ayat menggambarkan bahwa Tuhan itu bersifat dengan sifat-sifat materi, maka seseorang harus mengartikan ayat-ayat itu secara metaforis (takwil).[57] Jelasnya, Tuhan tidak berbadan. Karena badan itu suatu yang tersusun dari substansi dan aksiden. Bagi Maturidi, bahwa Tuhan itu tidak merupakan materi karena materi itu sesuatu yang mempunyai arah, mempunyai akhir, dan mempunyai tiga dimensi (ruang, waktu, dan tempat). Karenanya, jisim mutlak tidak boleh dinisbatkan kepada Tuhan. Dengan demikian, jelas bahwa Tuhan itu immateri, tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat, dan tidak terbatas. Meskipun begitu, menurut Maturidi, Tuhan dapat dilihat karena Dia diyakini ada-Nya (wujud-Nya).[58]

Pendeknya, Tuhan itu dapat dilihat oleh manusia. Ru’yah kepada Tuhan itu sesuatu hal yang dapat terjadi. Dalam konteks ini, Abu Mansur Maturidi mendukung ayat-ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, misalnya Q.S. al-Qiyamah: 22-23. Namun begitu, manusia hanya dapat melihat Allah di akhirat kelak saja, sebagaimana tergambar dalam ayat itu. Abu Mansur Maturidi mengajukan sejumlah argumen tentang mengapa Allah dapat dilihat di akhirat kelak. Pertama, Tuhan itu memiliki wujud. Kendati pun Dia tidak memiliki bentuk dan tidak mengambil tempat, serta tidak memerlukan ruang (tidak terbatas). Jika Tuhan itu terbatas, maka Tuhan bersifat materi. Karena jika sesuatu terbatas, maka sesuatu itu berjisim. Padahal Tuhan itu adalah Syai, sesuatu yang pasti adanya dan bukan yang lain. Karena Dia itu ada wujud-Nya, maka sesuatu yang ada pasti bisa dilihat.[59]

Selanjutnya, menurut Abu Mansur Maturidi, bahwa ru’yah kepada Tuhan itu merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat. Sedangkan peristiwa hari kiamat itu hanya diketahui oleh Ilmu Allah SWT. Sedangkan manusia hanya mengetahui ungkapan-ungkapan tentang adanya peristiwa hari kiamat itu, dan manusia tidak mengetahui tentang bagaimana peristiwa hari kiamat itu. Dari sini, Abu Mansur menolak pandangan Mu’tazilah ketika aliran ini menganalogikan melihat Tuhan dengan melihat benda materi, yang berarti menjisimkan Tuhan. Bagi Abu Mansur, analogi itu tidak sempurna dan tertolak. Karena menganalogikan sesuatu bersifat materi dengan sesuatu bersifat immateri. Padahal, semua peristiwa itu bersifat immateri, bukan bersifat materi, maka tidak relevan menganalogikan materi untuk segala hal kejadian di akhirat kelak. Seterusnya, Abu Mansur menyimpulkan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat kelak, dan peristiwa ini merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat, sehingga cara melihat Tuhan hanya diketahui oleh Tuhan saja.[60]

Abu Mansur al-Maturidi menafsirkan sedemikian rupa ayat-ayat yang sepintas menafikan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sebagaimana terlihat pada Q.S. al-An’am: 103. Banyak pihak menyatakan bahwa ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah dapat melihat Tuhannya. Kata idrak dalam ayat tersebut dimaknai sebagai ru’yah, sehingga kata idrak dalam ini bermakna bahwa Tuhan tidak dapat dilihat. Namun Abu Mansur menandaskan bahwa kata idrak itu bermakna menguasai (melihat) yang terbatas. Sementara Tuhan itu Mahasuci dari sifat terbatas, karena sifat terbatas itu berarti titik maksimum dan membatasi yang lebih tinggi. Tuhan menjadikan segala sesuatu dengan batas yang bisa dijangkau. Jadi, baginya kata idrak tidak bisa diartikan sebagai ru’yah. Dengan begitu, maka kata idrak dalam ayat ini hanya berarti melihat pada batas sesuatu sehingga dengan batas itulah sesuatu itu dapat diketahui. Sementara ru’yah tidak menghendaki jika objek penglihatan itu terbatas, bahkan ru’yah dapat terjadi atas sejumlah hal yang tidak dapat diketahui hakikatnya, kecuali dengan mengerti tentangnya.[61]

Kemudian, Abu Mansur menyatakan bahwa jika Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, maka permintaan Musa untuk melihat Tuhannya adalah sia-sia. Seandainya manusia itu mustahil melihat Tuhan, maka niscaya seorang nabi seperti nabi Musa as. tidak akan mengharapkannya, sebagaimana tertera pada Q.S. al-A’raf: 143. Dalam ayat ini, Tuhan menjawab lan tarani (kamu takkan melihat-Ku), bukan lan ura (Aku tak bisa dilihat). Ini menjadi dalil kuat bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia.[62]

Terakhir, bagi Abu Mansur al-Maturidi, bahwa ru’yatullah itu merupakan tambahan anugrah dan pahala dari sisi Tuhan. Adalah melihat Tuhan itu sebagai anugerah terbesar bagi insan beriman di akhirat kelak. Tuhan menjanjikan balasan terbaik bagi manusia, dan manusia beriman tidak hanya mendapatkan surga, namun mereka mendapatkan anugrah terbesar, yakni ru’yatullah.[63] Pada akhirnya, Abu Mansur menandaskan bahwa ru’yah itu hanya melalui pengetahuan hati.[64]

3. ALIRAN MU’TAZILAH

Aliran Mu’tazilah memiliki pandangan berbeda tentang ru’yatullah dengan aliran lainnya. Mereka menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu melihat Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Semua pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat melalui mata fisik. Namun sejumlah kecil pemuka Mu’tazilah seperti Abu Huzail meyakini bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui hatinya[65]. Akan tetapi tidak sedikit pula pemuka kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pandangan terakhir diyakini para pemuka Mu’tazilah seperti al-Fuwathi, Abbad ibn Sulaiman, dan lainnya.[66]

Aliran Mu’tazilah menolak keyakinan antropomorfisme. Mereka tidak meyakini bahwa Allah memiliki wujud materil. Allah SWT bukan wujud materil. Karena itu, Allah tidak membutuhkan tempat. Karena itu, Allah SWT tidak serupa dengan makhluq. Oleh karena Allah seperti itu, maka mereka meyakini bahwa manusia tidak akan dapat melihat Allah SWT di di dunia dan di akhirat kelak. Sejumlah pemuka Mu’tazilah memang meyakini bahwa Allah dapat dilihat oleh manusia melalui hati sanubari, namun pada umumnya pemuka-pemuka aliran ini menolak hal tersebut. Alasan-alasan yang mereka ajukan adalah sebagai berikut:[67]

  1. Dalam Q.S. al-Qiyamah: 22-23, menjelaskan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh manusia. Menurut mereka, kata nazhara tidak berarti ra’a (melihat), karena kata ini jika dikaitkan dengan kata ‘ain (mata) berarti usaha untuk melihat, sebagaimana jika dikaitkan dengan hati (qalb) berarti usaha untuk tahu. Hakikat nazhara adalah mengarahkan mata ke arah sesuatu untuk melihatnya. Jika demikian, mestilah Tuhan yang dilihat itu berada pada satu arah. Jika pendapat ini benar, maka Allah itu berjisim, karena berada pada arah tertentu. Karena itu tidak dapat diterima, maka mestilah kata rabbiha (Tuhannya) ditakwilkan dengan pahala yang diberikan Tuhan.
  2. Kata nazhara biasanya dipakai untuk pengertian menanti (al-intizhar). Terkadang pula dipakai untuk pengertian mengarahkan mata ke suatu objek untuk melihatnya. Bahkan dipakai pula untuk pengertian berfikir dengan hati untuk memperoleh pengetahuan.
  3. Pendapat bahwa kata nazhara jika dikaitkan dengan wajah berarti ‘melihat’ tidak dapat diterima. Karena pengertian ‘melihat’ dengan wajah tidak dikenal dalam bahasa Arab. Yang biasa dikenal adalah pengaitan mata dengan penglihatan.
  4. Dalam Q.S. al-An’am ayat 103 dijelaskan secara tegas bahwa Allah tidak akan dapat dilihat. Bagi kaum Mu’tazilah, Tuhan tidak dapat dilihat karena kata al-idrak disertai penyebutan kata al-bashar, yang dimaksudkan adalah melihat dengan penglihatan mata. Ayat ini bersifat umum tanpa ada pengecualian. Karena itulah, Tuhan tidak akan dilihat oleh manusia.
  5. Kaum Mu’tazilah menolak penafsiran kaum Asy’ariyah terhadap Q.S. al-A’raf ayat 143 bahwa Allah SWT dapat dilihat. Bagi mereka, permintaan Musa kepada Tuhan tidak menunjukkan apakah yang diminta boleh terjadi atau tidak. Terkadang, ada seseorang mengajukan permintaan guna membuktikan bahwa orang tersebut sudah mencurahkan tenaga agar orang tempat ia meminta melakukan sesuatu, walaupun ia tahu orang itu tidak akan melakukannya. Terkadang pula, seseorang mengajukan permintaan untuk meyakinkan orang lain yang mendengarnya bahwa yang diminta itu tidak mungkin dilakukan. Ayat ini dijadikan kaum Mu’tazilah sebagai alasan penolakan melihat Tuhan. Karena jawaban Allah terhadap permintaan nabi Musa adalah bahwa Musa tidak akan melihat-Nya. Musa disuruh-Nya untuk melihat gunung, jika gunung itu masih tetap pada tempatnya, barulah Musa dapat melihat-Nya. Kenyataannya, gunung itu hancur setelah Allah menampakkan diri-Nya kepadanya. Jadi, nabi Musa tidak akan dapat melihat-Nya. Dalam ayat ini pun, kata yang dipakai untuk menafikan adalah kata lan, yang memberikan penafian di masa mendatang. Karena itu, Tuhan tidak akan pernah dilihat selamanya. Pendeknya, Musa mengetahui bahwa melihat Allah itu suatu hal yang mustahil. Namun Musa tetap memohon kepada Allah  ketika kaumnya memaksa untuk dapat melihat Allah, agar mereka dapat membuktikan Musa sebagai seorang Nabi. Musa meminta untuk dapat melihat Tuhan dengan maksud meredam tuntutan kaumnya yang ingin melihat Tuhan.
  6. Dalam Q.S. 4: 152; Q.S. 2: 52; dan Q.S. 7: 155 dijelaskan bagaimana kaum nabi Musa disambar petir karena mereka ingin melihat Tuhan. Karena mereka memaksa Musa agar Musa memperlihatkan Tuhan kepada mereka, maka mereka disambar petir. Hal ini terjadi karena kaum nabi Musa meminta sesuatu yang tidak dibenarkan, yakni ingin melihat Tuhan dengan mata kepala.
  7. Q.S. 42: 51 menjelaskan pula tentang ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa hubungan Allah dengan para hambanya yang terpilih melalui dialog terbagi tiga macam. Namun akal dapat menerima adanya bentuk dialog lain. Bentuk lain adalah Allah berdialog kepada hamba-Nya yang dikehendakinya seraya dapat melihat Allah. Namun bentuk keempat ini disanggah oleh al-Quran, meskipun akal mampu membayangkannya. Ayat tersebut disusun dalam bentuk pengecualian secara tegas.

URGENSI KONSEP RU’YATULLAH BAGI KEHIDUPAN MODERN

Sebagaimana penjelasan di atas, para teolog Muslim Klasik telah merumuskan konsep ru’yatullah. Masing-masing teolog berbeda pendapat tentang hal ini. Harus diakui bahwa diskusi-diskusi mengenai materi konsep ru’yatullah ini dan konsep kalam lainnya cukup penting dilakukan, namun diskusi mengenai relevansi dan urgensi konsep-konsep ini bagi kehidupan manusia modern juga menjadi tidak kalah penting. Sebab manusia di zaman modern membutuhkan pemahaman mendalam tentang nilai guna konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupannya di dunia ini. Umat Islam pun sebenarnya harus mampu menjelaskan urgensi konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupan kekinian. Hal ini penting agar setiap umat manusia menemukan bahwa agama Islam ini sebagai agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern serta agama yang membumi. Berikut ini akan diuraikan secara umum urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern.

Harus dipahami bahwa manusia Modern masih cenderung bersifat individualistik. Sikap-sikap individualistik telah mendominasi kehidupan manusia Modern. Akibatnya mereka dihadapi oleh krisis moral dan nilai. Banyak manusia melakukan sesuatu tidak atas dasar moral dan nilai-nilai. Masing-masing manusia lebih mengutamakan ego pribadi dari pada mengutamakan kebaikan komunitas masyarakatnya. Sebab itulah, mereka pun menghadapi krisis moral dan nilai.

Di samping itu, kehidupan manusia modern lebih cenderung bersifat pragmatis-materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan keuntungan material, bukan spiritual. Pemikiran pragmatis demikian telah membuat manusia modern hanya mencari keuntungan-keuntungan material. Bahkan tidak jarang mereka menempuhnya dengan cara apapun. Hal ini pula membuat krisis moral dan nilai semakin subur.

Bila dikaji secara mendalam, bahwa konsep ru’yatullah ini memiliki relevansi dengan kehidupan manusia modern, sebagaimana konsep-konsep kalam lainnya. Menurut hemat Penulis, sesungguhnya konsep ru’yatullah menjadi penting bagi kehidupan manusia modern karena selain dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi manusia modern, konsep ini pun dipandang mampu menumbuhkan sikap terpuji seraya menghilangkan sifat tercela, serta menumbuhkan pola hidup idealis. Konsep ini dapat membangun sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Jelasnya, konsep ini memiliki banyak nilai guna bagi kehidupan manusia modern yang tidak mungkin satu persatu disebutkan makalah ini.

Terlepas dari perdebatan tentang kemungkinan atau ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan, namun yang jelas bahwa: Pertama, Tuhan itu dapat melihat kita. Hal ini karena Allah SWT Mahamelihat. Al-Quran dan hadits telah menegaskan tentang kebenaran hal ini. Kedua, jika benar bahwa manusia dapat melihat Tuhan, maka hal ini menjadi sebuah anugerah paling besar dari Tuhan untuk umat Islam. Jika demikian, maka setiap Muslim harus berharap agar mereka dapat melihat-Nya. Seandainya Tuhan tidak dapat di lihat, kembali pada poin pertama, namun Dia Mahamelihat, termasuk melihat hamba-Nya (Muslim tersebut). Kedua premis ini dapat dijadikan analisis guna mengetahui nilai guna pemahaman atas konsep ru’yatullah ini bagi kehidupan manusia pada era modern.

Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa pemahaman atas konsep ru’yatullah sebenarnya dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi seorang Muslim. Ketika seseorang memahami bahwa Tuhan senantiasa melihat hamba-hamba-Nya, maka hal ini akan memberi motivasi kepada orang tersebut untuk berbuat kebaikan dan menjauhi tindakan keburukan. Orang tersebut akan memiliki semangat juang yang tinggi untuk melakukan perbuatan baik dan menolak perbuatan buruk. Tidak hanya itu, jika orang tersebut mengetahui bahwa dirinya akan dapat melihat Tuhannya, maka secara otomatis dirinya akan termotivasi melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, karena manusia yang akan melihat-Nya hanyalah orang-orang beriman, yakni orang-orang yang berbuat kebajikan. Allah SWT hanya memberikan anugerah terbesar itu, yakni melihat-Nya, bagi orang-orang beriman atau orang-orang berbuat kebajikan. Sementara pelaku tindakan keburukan tidak akan mampu melihat-Nya, karena Tuhan tidak akan memberikan anugrah itu kepadanya. Kemudian, Orang tersebut pun akan memiliki semangat juang tinggi untuk berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan ketidak-kebajikan, agar Tuhan segera memberikan anugerah itu kepadanya.

Di pihak lain, jika konsep ru’yatullah ini dipahami secara benar, maka hal ini dipandang ampuh dalam menumbuhkan sifat-sifat terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela. Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan dapat melihatnya, atau pun kelak orang tersebut dapat melihat-Nya, maka orang tersebut pasti akan cenderung berbuat kebaikan dan tidak melakukan keburukan, sehingga orang tersebut akan selalu berbuat baik. Hal ini lumrah karena orang tersebut pasti takut berbuat buruk karena Tuhan melihatnya; dan orang tersebut akan cenderung berbuat baik agar dapat melihat Tuhannya kelak. Jika hal ini terus dilakukan, maka konsekuensinya, akan lahir sifat-sifat mulia dalam dirinya sementara sifat-sifat buruk akan segera terkikis dari dalam dirinya. Jika ini terlaksana dengan baik, maka masalah krisis moral manusia modern dapat segera diatasi.

Selain kedua nilai guna di atas, sebenarnya pemahaman atas masalah ru’yatullah ini akan menumbuhkan pola hidup idealis bagi seorang Muslim. Pola hidup idealis antara lain sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Ketika seseorang meyakini bahwa kelak ia akan melihat Tuhannya, sementara hal ini merupakan anugerah terbesar dari Tuhan, maka orang tersebut akan dapat memiliki sikap militan. Orang tersebut akan rela mengorbankan jiwa dan raganya demi sebuah kebaikan, agama, dan bangsanya. Karena orang itu yakin, jika ia mati, maka ia akan segera melihat Tuhannya sebagai suatu kenikmatan terbesar. Orang tersebut pun akan lebih optimis dalam menjalani hidupnya, karena ia yakini bahwa hidup ini sebagai sarana utama bagi perjumpaan dirinya dengan Tuhannya. Orang tersebut akan menjadi lebih progresif, karena ia yakin bahwa segala usahanya dapat menjadi sarana meraih kenikmatan terbesar, yakni melihat Tuhannya. Orang itu akan menjadi lebih disiplin dalam melaksanakan perintah-perintah agama dan pekerjaan-pekerjaan duniawi, karena jika tidak demikian, maka ia akan berdosa sehingga ia tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan terbesar itu. Orang itu pun akan menjadi lebih bertanggung jawab, mawas diri, telaten, dan waspada dalam melakukan sebuah perbuatan dan pekerjaan, karena jika demikian, maka ia tidak telah melanggar amanah, baik dari Tuhannya maupun orang lain. Hal ini akan membuatnya berdosa, sehingga ia pun tidak akan memperoleh kenikmatan terbesar di akhirat kelak. Jika semua hal ini telah tercapai, maka segala masalah kehidupan manusia Modern, terutama krisis moral dan nilai akan dapat diselesaikan.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu Penulis telah mendeskripsikan sejumlah pandangan pelbagai aliran teologi Islam tentang konsep ru’yatullah. Berdasarkan paparan di atas, tampak bahwa masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang saling berbeda tentang ru’yatullah. Sebagian aliran menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia dan atau di akhirat dengan mata kepala. Sebagian lagi menyatakan bahwa manusia hanya dapat melihat Allah SWT di akhirat saja. Sementara sebagian lainnya malah menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat dengan mata kepala. Pada bagian terdahulu, Penulis pun telah memaparkan urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern. Berdasarkan paparan itu, jelas bahwa konsep-konsep kalam, terutama konsep ru’yatullah memiliki nilai guna bagi dunia kekinian. Dari sini terbukti bahwa agama Islam merupakan agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern dan agama yang membumi.

Demikianlah sebuah permasalahan teologis dalam Islam di mana para Teolog Muslim telah berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut, meskipun pada akhirnya mereka tidak meraih kesimpulan yang sama dari masalah yang sama. Kendati demikian, hendaknya generasi Islam sekarang menghargai kerja intelektual para Mutakallim priode klasik di atas. Penghargaan itu dapat berupa menghormati kesimpulan yang mereka peroleh tanpa diiring sikap klaim sesat menyesatkan atas diri mereka. Wallaahu A’lam bi al-Shawab.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abul Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt.

________, Al-Ibanah; Buku Putih Imam al-Asy’ari, Terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Solo: Tibyan, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Juz 1, Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Araby, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Terj. A. Nasir Yusuf & Karsidi Diningrat, Jakarta: Pustaka Setia, 1998.

Abu Ya’kub Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, Beirut: Alaalami Library, 2005.

Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.

Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, Surabaya: Bina Ilmu, 2005.

A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

________, Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, Jakarta: Al-Huda, 2005.

Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-Majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt.

A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975.

Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Bandung: Arasy, 2006.

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, Semarang: Wijaya Jakarta, 1992.

Imam Muslim, Sahih Muslim, Berut: Al Maktab Al Islami, tt.

Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002)

Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998.

Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991.

Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003.

________, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002.

M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001.

Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1996.

Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, Jakarta: Pustaka Zahra, 2002.

Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, Jakarta: Erlangga, 2005.

Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003.

Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990.


[1]Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung: Arasy, 2006), hlm 119-123.

[2]Bagir, Buku Saku, hlm 123.

[3]Bagir, Buku Saku, hlm 123-124.

[4]Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991), hlm 51-52.

[5]Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003), hlm 10.

[6]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, (Semarang: Wijaya Jakarta, 1992), hlm 187.

[7]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[8]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[9]Imam Muslim, Sahih Muslim, (Berut: Al Maktab Al Islami, tt), hlm 58-59

[10]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 56-57.

[11]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 58-62.

[12]Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57

[13]Lihat sejumlah hadits tentang ru’yatullah dalam Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57-59. Semua hadits di dalam kitab tersebut menunjukkam bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia khususnya para nabi dan Imam a.s, namun mereka melihat-Nya tidak dengan indera mata, melainkan dengan hati yang suci. Lihat, Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[14]Abul Hasan Isma’il Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Juz 1, (Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Araby, tt), hlm 99-100.

[15]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[16]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[17]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, (Surabaya: Bina Ilmu, 2005), hlm 53-54.

[18]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 355.

[19]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 361.

[20]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 367-368.

[21]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[22]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 90, 95.

[23]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[24]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289; Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 74.

[25]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[26]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 286.

[27]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 373.

[28]Murtadha Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002), hlm 94-95. Bandingkan, Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 204-211.

[29]A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), hlm 142-143.

[30]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[31]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[32]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[33]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 66.

[34]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 73.

[35]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[36]Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, (Jakarta: Al-Huda, 2005), hlm 643-647.

[37]Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2003), hlm 252-253.

[38]Lihat: Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 157-171; Bandingkan, Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

[39]Behesti, Selangkah Menuju Allah, hlm 211.

[40]Lihat: Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, h 204-211; Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[41]Al-Bahbahani, Ru’yatullah, h 110

[42]Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h 358.

[43]Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, (Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt), h 359.

[44]Lihat: M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h 77-80.

[45]A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, (Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975), h 66-69.

[46]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, h 84.

[47]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54.

[48]Abul Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, (Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt), h 51-53. Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54-72.

[49]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 26.

[50]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 21-30.

[51]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 74-76.

[52]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 102.

[53]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 124-129.

[54]Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), h 105-106; Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 158-159.

[55]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 231.

[56]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 250-251.

[57]A.K.M. Ayyub Ali,  Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h119.

[58]Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001), h 30-31; Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), h 38-42.

[59]Al-Barsany, Pemikiran Kalam, h 42-43.

[60]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 44.

[61]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 45.

[62]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 46.

[63]Ali, Aliran Maturidiyah, h 121.

[64]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 47.

[65]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 222.

[66]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 288.

[67]Lihat: Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1996), h 232—277. Bandingkan: Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, (Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990), h 87-90; Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h 132-145; Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), h 100-109.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: